Sejumlah Gunung yang Ingin Saya Catat setelah Periode Pertama Belajar Muncak, 2008-2010


Tahun 2008, setahun setelah menduduki bangku kuliah, saya memutuskan untuk bergabung ke kelompok pencinta alam di kampus. Kampus tempat saya kuliah hanya berstatus sekolah tinggi. Sudah begitu jurusannya paling langka yaitu filsafat. Jadilah jumlah mahasiswa sangat sedikit.

Tahun pertama kuliah, saya tidak bergabung ke kegiatan 'ekskul' manapun karena masih ingin mengukur kemampuan, apakah saya bisa kuliah di kampus itu atau tidak.

Setelah tahun kedua dan merasa sedikit lebih percaya diri, saya mengambil 'ekskul' pencinta alam. Kalau di kampus lain komunitas ini diberi nama "mahasiswa pencinta alam" (mapala), di kampus saya, sejak berdiri, komunitas pencinta alamnya sepakat memakai label 'jelajah alam'.

Kata para senior, lewat kegiatan menjelajah tumbuh rasa cinta. Lalu disebut pencitan alam. Dugaan saya, para pendiri komunitas ini selalu yakin bahwa 'cinta tanpa perbuatan adalah mati'. Maka perbuatan adalah halaman pembuka untuk mencintai. Hehehehe, tafsir bebas.

Gunung pertama yang saya sambangi usai bergabung di komunitas ini adalah Gunung Salak. Saya ingat betul, pendakian pertama saya hanya selang sehari sebelum lebaran hari pertama, bulan September 2008.

Peristiwa itu terekam dalam benak lantaran malam hari ketika kami kedinginan oleh hujan yang mengguyur sepanjang sore, dari dalam tenda tempat kami menginap gempita malam takbiran terdengar jelas di bawah sana. Gemerlap kota Sukabumi dan sekitarnya masih terlihat jelas.

Artinya perjalanan kami belum begitu jauh. Tapi sudah tak mungkin kami lanjutkan karena kondisi jalan dan tubuh tak lagi bisa diajak bekerjasama.

Esok hari, tepat lebaran hari pertama, saya menjejakkan kaki di puncak Gunung Salak, di ketinggian 2.211 mdpl. Itu pengalaman pertama menjalani aktivitas baru sebagai penjelajah alam, lebih khusus jelajah gunung.

Pengalaman kehujanan, kedinginan, dan juga sedikit tersesat jadi cerita-cerita lucu yang boleh saya alami dan kenang dari perjalanan ini. Sayang sekali bahwa di masa itu saya belum kepikiran untuk menuliskan kisah perjalanan saya itu.

Di kemudian hari, orang yang suka mendokumentasikan perjalanan mereka berupa tulisan dan foto atau video, menamakan diri travel-blogger. Maka setahun silam, 2017, ketika travel-blogger makin menjamur di Indonesia, saya pun mencoba untuk memulainya.

Teman-teman bisa membaca kisah perjalanan saya, dan dua sahabat yang tergabung dalam Tim Satutenda, di website kami, Satutenda.com. Juga, kalau kalian tidak keberatan, bisa juga tuh nonton visualnya di Satutenda Channel.

Jangan lupa tinggalkah SUBSCRIBE, LIKE, dan juga KOMEN ya. Pesan sponsor nih, alias sponsorin diri sendiri.

Oke kita kembali. Juni 2009, saya bersama teman-teman jelajah alam kampus yang diberi mana "Jeladri" (Jelajah Alam Driyarkara), kembali mendaki Gunung Merbabu. Seperti biasa, pendakian ke gunung dengan tinggi 3.145 mdpl itu saya daki bersama sekitar 15 teman.

Di masa-masa itu, perjalanan jauh merupakan momen yang paling menyenangkan. Dengan jumlah kami yang banyak, biasanya kami akan seru-seruan di sepanjang perjalanan.

Misalnya, ketika balik dari Yogyakarta ke Jakarta, dengan hampir menguasai satu gerbong kereta ekonomi, kami bebas bercerita, bercanda, dan terbahak sepanjang perjalanan. Pokoknya, prinsip yang kami pegang ketika itu adalah senang-senang di perjalanan.

Seperti hidup yang harus diguyur sukacita karena ia adalah sebuah perjalanan. Sebuah lintasan panjang untuk pulang ke rumah.

Hanya sekitar empat bulan setelahnya, Oktober 2009, kami mendatangi Gunung Papandayan. Saya ingat betul, ketika itu saya dipercaya oleh teman-teman untuk menjadi ketua di komunitas kecil kami itu.

Dari tiga gunung yang saya daki sebelumnya, hanya Gunung Papandayan yang membuat saya bersama teman-teman tidak bisa menggapai puncak. Ya iyalah, wong kami nyasar sampai kemana-mana.

Di kemudian hari baru saya tahu bahwa kebanyakan para pendaki Gunung Papandayan tidak menargetkan puncak. Kalau mau sampai ke puncak harus menggunakan jasa guide atau minimal teman pendaki yang sudah berulang kali muncak ke gunung ini dan hafal betul jalan menuju puncak.

Oke, saya tahu kamu pasti bertanya-tanya kenapa kami nggak sampai puncak? Udah. Nggak usah banyak nanya. Singkatnya adalah kami nyasar oleh sebuah suara yang sangat mencurigakan dan membuat kami kocar-kacir saat sedang mencari-cari puncak. Singkatnya gitu dulu. Detailnya nanti saya ceritakan di lain kesempatan.

Sampai saat ini saya juga belum berniat untuk mencari hingga mendapatkan jawaban atau setidaknya meyakinkan diri sendiri bahwa mendaki Gunung Papandayan tidak harus ke puncak. Saya tidak menyumpahi gunung yang satu ini tapi saya ingin mendaki gunung lain saja dulu.

Gunung Papandayan nanti saja, saat saya sudah punya cukup keberanian. Toh kan masih banyak banget gunung yang belum saya daki.

Sebelum memulai tahun ajaran skripsi, awal Juni 2010, kami berangkat ke Gunung Sumbing. Pendakian kali itu lebih ramping, kami sekitar bersepuluh. Tapi tetap saja, semangat yang kami bawa berpuluh-puluh.

Niat awal, pendakian ini diramu sedikit berbeda dari pendakian-pendakian sebelumnya. Kami akan melakukan Misa gunung. Satu pastor kami ajak untuk mendaki bareng kami. Tapi karena kehujanan sepanjang jalan dan tempat kami untuk nge-camp juga sangat tidak kondusif, batalah rencana itu.

Pagi hari kami hanya melanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Sumbing yang memiliki ketinggian 3.371 mdpl. Kami tiba di puncak sekitar pukul 11.00 WIB. Hanya menikmati puncak sejenak lalu turun.

Ketika tida di basecamp pendakian Gunung Sumbing, kami bertemu dengan dua pendaki lain. Mereka baru turun dari puncak Sumbing dan sedang istirahat untuk menuju puncak Sindoro keesokan harinya.

Waktu itu saya kaget sekaligus kagum. Gila juga ya. Daki satu gunung, turun, rehat semalam lalu muncak lagi. Tenaga mereka sekuat apa ya?

Ternyata, Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro berhadapan. Karena itu, banyak pendaki yang menargetkan untuk mendaki dua gunung ini sekaligus. Hitung-hitung hemat ongkos karena nggak harus bolak-balik. Mudah-mudahan saya punya cukup tenaga untuk melakukannya suatu hari nanti.

Setelah empat gunung ini, saya memasuki tahun skripsi kemudian lanjut bekerja. Kegemaran mendaki gunung jadi terhenti sama sekali karena sibuk mengumpulkan uang. Meski sampai sekarang ya nggak terkumpul-kumpul juga. Cuman numpang lewat ke kamar belakang.

Baru pada April 2017 saya kembali mendaki gunung. Saya coba menyulut kembali semangat muncak yang terhenti selama tujuh tahun. Pun, bersama dua sahabat, kami memutuskan membuat website Satutenda.com untuk mendokumentasikan perjalanan kami. Sejak itu, saya semakin yakin akan hobi lama ini.

Kisah tentang kepulangan ini bisa teman-teman baca di sini dalam bentuk kisah-kisah singkat. Sementara detailnya teman-teman bisa dapatkan di website bersama tadi. Semoga kita bisa bertemu nanti di perjalanan!
Sejumlah Gunung yang Ingin Saya Catat setelah Periode Pertama Belajar Muncak, 2008-2010 Sejumlah Gunung yang Ingin Saya Catat setelah Periode Pertama Belajar Muncak, 2008-2010 Reviewed by Travel Blogger on 17:01:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.