Dua Puisi di Buku "Kepada Toean Dekker" Tandai 2018


steveelu.com - Selama kurang lebih dua tahun belakangan, saya sempat rehat dari dunia puisi. Entah menulis atau terlibat dalam kegiatan-kegiatan bertema sastra lainnya. Bukan karena ingin berhenti, tapi rasanya perlu menarik diri sebentar untuk kembali mengumpulkan tenaga.

Sejak awal 2018, dua orang yang selama ini sangat dekat dengan saya mencoba kembali menyemangati supaya saya kembali menulis puisi. Kata mereka, apa yang sudah dimulai dengan susah payah jangan sampai hilang begitu saja.

Ketika saya bangun di suatu pagi, seorang teman membangikan ke dinding facebook saya tentang kesempatan "nulis bareng" puisi untuk ajang Festival Multatuli. Acara tersebut dipusatkan di Museum Multatuli yang terletak di Rangkasbitung, Lebak, Banten.

Setelah mengumpulkan sedikit bahan, saya mulai menulis. Ada tiga puisi yang saya hasilkan untuk saya ikut sertakan dalam seleksi puisi Festival Multatuli.

Saya pun mengirimkan puisi-puisi tersebut kepada panitia untuk dikurasi. Dua minggu berselang saya mendapat kabar kalau dua puisi saya lolos seleksi.

Ada rasa syukur dan senang. Tapi selebihnya biasa saja. Lima tahun lalu, ketika baru mulai belajar menulis, ada rasa gembira super kalau puisi saya lolos seleksi seperti ini. Tapi sekarang saya merasa biasa saja.

Dalam hati saya masih menyimpan keinginan lebih setelah dua buku puisi saya terbit: "Sajak Terakhir" (2014) dan "Parinseja" (2015). Sebenarnya buku ketiga pun sudah diproses setengah jalan dengan calon judul "Di Meja Makan".

Saya bilang calon judul karena saya sendiri belum terlalu yakin bahwa buku kumpulan puisi saya yang berikut berjudul demikian. Ya seperti biasa, semua tulisan saya masih bisa saya utak-atik bahkan menjelang terbit sekalipun.

Tapi proses itu sementara terhenti karena berbagai alasan. Salah satunya ya kalian tahu, kebutuhan ekonomi terkadang tidak berbanding lurus dengan kebutuhan intelektual. Jadi selalu butuh usaha ekstra untuk menjaga keseimbangannya.
Meski demikian, saya ingin menempatkan puisi yang lolos seleksi ini sebagai penanda untuk jalan pulang; memulai kembali, 2018

Ok... cukup sampai di ini. Daripada saya melebar ke mana-mana, langsung saya ini dua puisi saya yang lolos kurasi buku Multatuli, berjudul "Kepada Toean Dekker".

suara-suara: Rangkasbitung

kereta terakhir menahan laju
perlahan memasuki stasiun
gerimis di luar baru saja berlalu
tapak-tapak basah menjelang pensiun

suara-suara: Rangkasbitung gemuruh
ketika pintu kereta terbuka
dan turunlah ia dari kereta
melangkahi masa yang membentang

jaman lalu, di tanah yang ia tapaki itu
ain honi memeras darah
dari sarung yang menutupi auratnya;
saban petang

petang demi petang, awan demi awan
sudah ain honi lingkupi
dalam gerai matanya

dan suara-suara: Rankasbitung
di malam yang tak berujung itu
berubah jadi bekas kaki usang
para tukang ojek di stasiun ingatan

*ain honi: ibu kandung

karnaval ingatan

ini tentang sebuah pesta pada suatu masa
yang ingin kami catat dengan tinta
pada baju belah dada binon amasat
tempat air susu tersembunyi

bahwa di masa kolonial ia terjajah
di masa millennial ia menjajah
bahwa di masa tanam paksa ia perkasa
di masa gerai instan ia nelangsa

sungguh, kami tak ingin ngotot apalagi melotot
pada binon amasat penawan ingatan
biarkan pesta ini bersunyi-sunyi
dengan kawan atau lawan

dan kau binon amasat
sahajalah sepanjang karsa
di waktu pasang maut atau surut kalut
kaulah sunyi-sunyi dalam karnaval ingatan

*binon amasat: gadis cantik
Dua Puisi di Buku "Kepada Toean Dekker" Tandai 2018 Dua Puisi di Buku "Kepada Toean Dekker" Tandai 2018 Reviewed by Travel Blogger on 21:57:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.