Kenapa Suka Mendaki Gunung? “Ingin Mencari Masa Kecil Saya”

steveelu.com

Ini catatan tentang keputusan bertahun silam. Tapatnya 2008, saat saya mau menjalani hobi baru. Mendaki gunung. Sebelumnya, tak berminat. Jadi ini semacam coba-coba. Lalu jatuh cinta.

Gunung Salak, Sukabumi, Jawa Barat. Itu gunung pertama yang coba saya jajal. Saya ingat betul, saya dan teman-teman ‘Jeladri’ (Jelajah Alam Driyarkara-STF Driyarkara Jakarta) mendaki di hari terakhir menuju lebaran.

Malam harinya, ketika kami menginap di tengah perjalanan karena diguyur hujan tiada henti, nun jauh di bawah sana, lampu kota Sukabumi gemerlap gempita. Malam takbiran menuju Hari Kemenangan – Idul Fitri 2008 membahana di seantero kota.

Meski baru pertama kali nanjak, saya bisa sampai ke puncak Salak. Rasanya menyenangkan. Gunung Salak, yang terkenal angker itu, berhasil saja pijakkan kaki di puncaknya.

Setelah itu, hampir setiap tahun saya menyempatkan diri ‘berlibur’ ke puncak gunung. Kecuali 2010 hingga 2016. Enam tahun saya rehat. Awal 2017, saya kembali.

Setelah berulang kali mendaki, rasa senangnya masih sama. Tapi kalau ditanya, apa senangnya mendaki gunung? Ya…. hanya senang. Cukup. Jangan tanya lagi.

Baru sekarang saya cobta ingat-ingat, apa yang saya cari di puncak gunung?

Saya menghabiskan masa kecil di desa yang sangat udik. Saking udiknya kampung saya, atau lebih tepatnya terisolasi di masa itu, di peta Indonesia tidak tercantum. Kampung saya adalah sebuah kampung kecil di ujung bagian utara Kabupaten Kupang. Namanya, Oepoli.

Tapi karena keterisolasiannya itulah saya bisa merasakan seperti apa menghbiskan malam di tengah sawah. Suasana malam, tatkala tak ada suara manusia, selain suara kodok sawah atau jangkrik. Dan, sesekali lolongan anjing dari kejauhan.

Atau, suara ombak yang menepuk pantai berulang kali. Sesekali kapal berukuran besar melintas. Lampu-lampunya bersinar terang. Kalau sempat melihat, itu membuat saya bangga sekali.

Atau, betapa sukacitanya bila pulang sekolah bisa pergi fiti burung (istilah untuk menembak burung dengan menggunakan katapel). Atau, memasang jerat di antara padi untuk mendapatkan burung, yang bakal jadi lauk buat makan malam.

Atau, membawa obor dari bambu melintasi pesisir pantai untuk mencari ikan pada malam hari. Ini ritual saat hari pertama bulan purnama, ketika air laut surut hingga kurang lebih satu kilometer.

Rasanya sedang berada di sebuah negeri. Entah…

Itulah masa keheningan, masa terasing yang membuat saya luput dari hiruk pikuk bunyi knalpot motor dan mobil. Masa di mana saya jauh dari gaya hidup yang serba instan dan mengejar waktu tiada henti.

Maka, dengan menekuni hobi baru yaitu mendaki gunung, saya marasa kembali menemukan citarasa masa kecil itu. Dan ketika kamu tanya mengapa saya suka mendaki gunung, saya jawab ‘ingin mencari masa kecil saya’.
Kenapa Suka Mendaki Gunung? “Ingin Mencari Masa Kecil Saya” Kenapa Suka Mendaki Gunung? “Ingin Mencari Masa Kecil Saya” Reviewed by Travel Blogger on 01:11:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.