Memasuki Cinta Sejati ala Anjar


renjana. Yang Sejati Tersimpan di dalam Rasa. Begitulah judul buku yang ditulis Anjar. Buku ini berkisah tetang cinta. Dari mana cinta itu datang, bagaimana menjalani cinta, dan akhirnya berujung pada mengarahkan diri pada cinta yang sebenarnya, cinta sejati. Ketika Anda merasakah cinta, yang Anda lihat hanya sisi cahanya. Sisi gelapnya sering terlupakan.

Membaca halaman-halaman awal novel ini, sudah terasa bahwa sebenarnya novel ini mempunyai potongan sebelumnya. Atau paling tidak, memiliki kesinambungan cerita dari sebuah kisah (novel) yang dibangun sebelumnya. Di sana-sini tersirat bahwa Anjar, atau pemilik nama lengkap Anastasia Ganjar Ayu Setiansih sudah punya novel sebelumnya yakni beraja.

Saya harus mengakui bahwa sebetulnya saya merasa sungkan untuk menulis resensi ini karena saya belum membaca potongan novel ini sebelumnya, yang berujudul Beraja: Biarkan Ku Mencinta. Namun, bukanlahlah sebuah kesalahan fatal jika saya mengemukakan hasil pembacaan saya atas novel “renjana” ini.

Kesan pertama yang muncul dalam hati saya adalah penulis mempunyai pembendaharaan kata yang sangat memadai. Maka, tidak heran kalau dalam setiap halamannya kita menemukan ungkapan-ungapan yang jauh dari klise dan mengulang-ulang.
Kesan kedua saya adalah bahwa penulis menguasai betuk teknik narasi dan deskripsi. Ia sangat terampil mengolah dua model ini, sambil bersyukur bahwa dia berhasil mengawinkannya dengan sempurna. Sembari itu, kehadiran potongan-potongan puisi dan ungkupan bahasa puitika yang bisa ditemukan di segala sisi seolah hadir sebagai interupsi kala merasa sudah lelah saat membaca.

Kesan lain, yang tidak kalah seru adalah bahwa penulis benar menguasai ranah garapan novelnya sehingga setiap beralih latar cerita, pembaca selalu terbawa untuk memasuki ranah itu dengan pasti. Hal ini, dalam hemat saya, sangat membantu dan memancing pembaca untuk tahu bagaimana ia harus menelusuri imajinasi yang hendak dibangun penulis.

Bersamaan dengan segala keunggulan ini, saya sempat berpikir, saat menyudahi pembacaan saya akan novel ini, tokoh-tokoh yang ada dalam novel ini mendapat porsi cerita yang relatif seimbang (sama banyak). Saya menduga, penulis hendak mengangkat Romo Firdaus sebagai tokoh utama dalam cerita. Sementara Ola adalah sosok perempuan yang hadir sebagai interupsi, koreksi, dan juga penyemangat Romo Firdaus.

Akan tetapi, tokoh lain, Tra Laksmi, Raka, Wie, ibu Romo Daus, bapanya Ola, dan beberapa tokoh lain cukup menoncol dalam penceritaan. Hal ini, setidaknya bagi saya, cukup mengganggu saya untuk secara pasti mengarahkan imajinasi saya kepada Firdaus sebagai tokoh utama novel. Apalagi tokoh-tokoh lain itu terkadang hadir dengan kisahnya sendiri dan terpisah sama sekali dari kisah yang sedang dibangun Daus dan Ola.

Akan tetapi, meskipun kesan ini muncul, sekali lagi ingin saya tegaskan bahwa narasi dan deskripsi penulis sangat kuat sehingga bagaimanapun cerita tetap mengalir dengan penuh dan kita bisa menangkap pesan yang cukup jelas di akhir novel. Ini keunggulan yang luar biasa.

Maka, bagi saya, novel ini dapat menjadi referensi untuk memahami cinta sejati dan marilah kita berenang dalam telaganya, sekaligus kita dapat belajar bagaimana mengawinkan narasi dan deskripsi secara seimbang. Saya yakin, setelah membaca novel ini Anda akan ketagihan untuk mencari novel pertama Anjar “Beraja” seperti yang saya rasakan saat ini. Selamat menikmati “renjana“; sebuah petualangan mencari cinta sejati.

Steve Elu
Memasuki Cinta Sejati ala Anjar Memasuki Cinta Sejati ala Anjar Reviewed by Travel Blogger on 18:30:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.