Kisah Asmara Gitanyali

Pertama kali melihat novel ini di toko Gramedia, saya langsung menaruh minat. Angka 65 selalu meninggalkan cerita yang tak pernah bosan untuk digali. Angka 65 meninggalkan catatan penting bagi perjalanan Bangsa Indonesia. Banyak orang, bahkan petinggi negara (ABRI) meregang nyawa di tahun ’65.

Sebelum membaca nevel ini, kita sudah bisa membayangkan cerita-cerita yang akan kita dapatkan dari angka 65. Benar! Di awal-awal penulis menjelaskan bahwa dia adalah anak dari seorang tokoh PKI. Pada masa Orde Baru, ia bersama keluarga dikejar-kejar karena keterlibatan sikap politik ayahnya pada sebuah partai yang berusaha ditumpas oleh Kekuasan Orde Baru. Tidak hanya itu. Keluarga dari orang-orang yang bersentuhan dengan PKI mendapat catatan serius dari pemerintah. Akses mereka sebagai warga negara yang bebas benar-benar dibatasi.

Kisah-kisah semacam ini sungguh kita temukan dalam novel ini. Dengan cerita yang mengalir, bahasa yang komunikatif, novel ini mampu menghantar kita untuk masuk ke dalam latar dan alur yang ingin dibangun melalui novel ini. Apalagi, dilihat dari kesesuaian nama antara penulis novel dan tokoh utama dalam novel, kita bisa dengan pasti mengatakan bahwa penulis menceritakan sendiri pengalaman dan pergulatan hidupnya sebagai seorang anak dari orangtua yang pernah bersentuhan dengan PKI.

Akan tetapi, jika novel ini diletakan sebagai novel sejarah, sesuai dengan asumsi saya ketika membaca judul buku ini “65”, saya dengan tegas mengatakan bahwa novel ini gagal. Memang harus saya akui bahwa saya belum membaca buku pertamanya. Karena, di halaman depan novel ini ditulis “Lanjutan Blues Merbabu”. Itu artinya, buku ini adalah lanjutan dari kisah dalam novel sebelumnya.

Mengapa saya katakan bahwa pengkategorian novel sejarah sesuai angka yang tertera di judul “65” adalah gagal total? Karena hampir semua kisah yang terceritakan di dalam novel ini adalah soal percintaan dan hubungan seks. Seks memang mempunyai daya pikat yang tak pernah habis untuk digali dan area yang pernah bosan untuk dinikmati oleh pembaca. Bahkan, dalam beberapa kesempatan orang berkomentar, novel yang memuat aroma seks-lah yang banyak diminati masyarakat.
Saya melihat bahwa penulis berusaha menjelaskan secara detil dan panjang lebar mengenai hubungan seksnya dengan tante Rosa, dan sejumlah perempuan lain, yang dalam hemat saya tidak menjadi unsur penopang judul “65”. Peristiwa 65 hanya ditemui di halaman-halaman awal, dan tersebar di beberapa halaman berikut, meski itu ditempatkan hanya sebagai pengantar. Substansi persoalan 65 atau efek psikologis tokoh cerita terhadap angka 65 hanya disentuh sepintas saja.

Bahkan, di dua sampai tiga bab terkahir yang banyak diumbar oleh penulis adalah frekuensi hubungan seks dengan dua perempuan Indonesia dan satu perempuan asing saat ia menjalani studi di Inggris. Seks begitu dieksplorasi habis-habisan sampai keangkeran angka 65 tak mendapat tempat sama sekali. Lebih parah dari itu, dua perempuan yang akhirnya menjalin hubungan intim, bahkan berkali-kali ke ranjang bersama sosok dalam novel ini, digambarkan begitu mudah dipakai. Hanya dalam perjumpaan sekali, perempuan itu merasa jatuh cinta dan pertemuan kedua kali obrolan berkahir di ranjang.

Hal ini menjadi celaka karena para pembaca novel ini, termasuk saya, jatuh pada pandangan bahwa perempuan mudah dirayu. Lagi, istri orang bisa dipakai. Kalau kita pandai merayu apapun bisa dilakukan untuk bisa tidur dengan perempuan muda dan istri orang.

Atas dasar kisah semacam ini saya ingin mengatakan bahwa novel ini gagal sebagai novel sejarah dan tak patut memberi angka 65 sebagai judulnya. Berilah judul “Kisah Asmara Gitanyali” seperti yang saya tulis di judul resensi ini akan lebih tepat dengan bangunan cerita dalam novel ini. Silakan menikamti novel yang gagal ini.

Steve Elu
Kisah Asmara Gitanyali Kisah Asmara Gitanyali Reviewed by Steve Elu on 16:13:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.