Shynta

Lalu ia memperkenalkan diri. Suaranya tidak kalah lantang dari rasa dingin yang menggetarkan tubuhku. Aku memandang matanya. Mata yang bersinar tajam. Sambil mengulurkan tangan, keluarlah ucapan. “Aku dari masa lalu,” lanjutnya.

Di sekitar kami tidak ada siapa-siapa. Orang-orang sibuk menjauh. Menghidari hujan yang baru saja tiba dari petualangan jauhnya selama tujuh bulan. Ini bulan kesebelas, bulan hujan. Aku benar-benar girang atas kedatangan hujan. Sepuluh meter dari kami ada lampu taman. Cahayanya redup dimakan usia.

Aku menyambut uluran tangannya, tanpa mengatakan apa-apa. Aku yakin, ia sudah mengenalku. Kami berkenalan lima tahun yang lalu. Di sebuah caffee saat acara baca puisi. Malam puisi lebih tepatnya. Ketika itu aku baru selesai membaca sebuah puisi Jokpin berjudul “Kebun Hujan” (2001). Aku tak tahu persis, mengapa aku mau baca puisi itu di malam yang tak ada hujan. Sementara ia membacakan puisi Sapardi “Tiga Sajak Kecil”.

“Ini adalah tiga puisi dalam novel Sapardi, Hujan Bulan Juni.” Ujarnya memberi pengantar. Aku pikir pengantar singkat itu tidak sangat dibutuhkan. Ia hanya ingin menghalau gerogi. Karena matanya terperangah ketika pandangan kami beradu. Aku memang tidak terlalu yakin dengan kata orang-orang, cinta datang dari pandangan pertama.

Tapi kali ini mudah-mudahan terbukti. Saking membayangkan bahwa ia akan jatuh cinta, sampai aku lupa mendengar kata-kata yang ia bacakan. Padahal aku sangat suka puisi-puisi Sapardi. Kata-katanya tenang, basah, dan menggemaskan. Persis.

“Kau terpencil dalam diriku,” katanya dengan lembut, lalu diam. Aku memberi tepuk tangan. Sudah kubayangkan, Sapardi selalu membuat para pembaca dan pendengar puisi basah-gemas oleh sajak-sajaknya. Semua orang di caffee itu ikut bertepuk tangan. Malam yang dahsyat.

Kemudian ia duduk di kursi, di ujung meja. Aku menggeser kursiku agar lebih dekat. Ia menoleh. Kami tertawa. Aku semakin debar. Sementara matanya mulai ayu. Aku sadar, kami sedang berduel dalam rasa yang bara.

“Syntha,” ujarnya singkat. Aku menjabat tangannya erat.
“Hamba Jokpin.”
“Jangan main-main. Siapa namamu?”
“Aku sosok yang dipermainkan Jokpin dalam sajak-sajaknya. Dan rasanya aku lebih bernyawa setelah sekian lama dipermainkan olehnya. Masa depanku kembang dalam kata-kata.” Lalu kami berenang dalam diam masing-masing.

Malam itu usai tanpa percakapan lanjut. Aku pulang dengan sedikit cemas kalau-kalau kami tak pernah berjumpa lagi. Karena aku tak punya kebiasaan meminta nomor handphone atau pin BB kepada seseorang yang baru kujumpai. Termasuk seorang perempuan yang kukagumi sekalipun. Karena yang selalu mengirim SMS atua BBM belum tentu menurutkan inti kalbunya. Ia bisa mengetik SMS atau BBM kapan saja dan sementara dengan siapa pun. Aku takut terperangkap dalam kata-kata manipulatif.

Banyak orang menyimpan ratusan kontak di handphone-nya, meski ia sendiri tidak tahu apa benar ia membutuhkan kontak-kotak itu. Kalau pun sesekali mengotak, paling-paling hanya untuk membicarakan hal-hal remeh-temeh. Mninimal bisa buat mereka tersenyum saat mengarungi kemacetan jalanan Jakarta dan desak-desakan di commuter line.

Dua pekan kemudian, kami bertemu lagi di sebuah diskusi di Taman Ismail Marzuki. Kala itu tidak ada pembacaan puisi. Lagi pula aku datang ke situ sebagai orang asing. Rasanya aku tak mengenal seorang pun dalam diskusi itu. Aku nekat saja mampir. Kebetulan aku melintas dan melihat poster besar tentang acara itu di depan papan iklan.

Aku duduk paling belakang. Rasanya, acara sudah dimulai beberapa jam yang lalu. Orang-orang membicarakan perkembangan sastra Indonesia. Waduh, ini tema pembicaraan mereka sangat berat. Membicarakan kata sastra saja sudah tak temu batasannya. Apalagi membicarakan Indonesia.

Lebih gawat lagi, kedua kata yang maha luas itu dipersatukan. Sungguh, orang-orang di sini punya daya imajinasi yang hebat. Sastra diimajinasikan, Indonesia difantasikan.

Orang-orang di negeri ini suka fantasi. Sampai masa depan Indonesia pun terus difantasikan. Mungkin juga, demam fantasi ini adalah efek samping dari kegemaran para penyair. Mereka selalu menarasikan Indonesia sebagai negeri yang indah lewat sajak-sajaknya. Alih-alih membantu generasi Indonesia untuk kagum akan negerinya, malah menjerumuskan mereka dalam mimpi indah tak bekesudahan.

Aku bersiap hendak meninggalkan ruangan itu. Tiba-tiba mataku menangkap sosok di ujung ruangan. Nah, itu dia. Shynta, perempuan yang kujumpai beberapa waktu lalu. Ia memandangku, aku memandangnya. Kami bersitegang dalam binar mata masing-masing.

Niat untuk pulang aku tunda. Berharap diskusi ini lekas selesai. Sekali lagi pandangan kami jumpa. Aku semakin tersiksa olehnya. Kubayangkan, hatinya sedang terbelalak padaku. Demikian pun aku. Seperti sekarang. Terkadang cinta membuat seseorang terseret ke hal-hal menggelikan.

Acara usai. Kami bertemu, berbasa-basi seputar sapaan klasik, ‘apa kabar?’ Meski dalam hati aku tidak benar-benar ingin menanyakan kabarnya. Aku hanya ingin melihat matanya bercahaya. Pun, kalau mungkin, aku ingin merasakan jantungnya yang gagap mengatur kecamuk hati kami masing-masing. Apakah ini yang namnya jatuh cinta?

Basa-basi itu selesai dan aku pulang. Syntha masih ingin pergi bersama seorang temannya. Katanya ingin mencari buku di Galeri Buku Bengkel Deklamasi, di ujung kanan Gedung Graha Bakti Budaya.

 Aku langsung pulang. Sepanjang jalan aku girang bukan kepalang. Aku baru saja bertemu dengan perempuan yang selalu menjadi dalang dari kegembiraanku akhir-akhir ini. Tiap menjelang tidur, aku membayangkan diriku adalah puisi dan ada beribu perempuan yang terkesima oleh kata-katanya.

Aku bayakan diriku adalah wujud dari imajinasi pusi dan beribu perempuan dari yang paling cantik sampai yang paling jelek melafalkannya di tiap acara pementasan puisi. Betapa nikmatnya aku berada di antara ribuan jepitan bibir.

HP berdering. Aku membukanya. “Sudah berapa lama kamu suka puisi-puisinya?” Begitu isi SMS dari Shynta.

Ya, kami sudah bertukar nomor. Ia meminta, aku beri. Katanya buat berbagi informasi jika ada acara-acara sastra.

“Sejak dalam kandungan ibu,” jawabku.

“Kamu selalu memberi jawaban yang penuh taka-teki.” Suaranya begitu halus. Sudah kuduga. Puisi telah membuat kami lebur satu sama lain. Dan ia tak tahan untuk menelpon.

“Ya. Karena ibuku sangat suka puisi. Bahkan, ia berhasil menikahi ayahku bersama puisi-puisinya,” jawabku tak kalah mengesankan.

“Suatu saat aku ingin jadi puisi dalam kata-katamu. Karena kau adalah binar dalam imajinasiku,” ujarnya. Lalu panggilan terputus.

Signal memang pintar. Ia memberi koma saat kami sedang berada di puncak percakapan yang menguras imajinasi. Lalu ia akan semakin penasaran dan meneponku lagi, atau aku yang semakin penasaran dan balas menelpon. Dengan demikian banyak ongkos yang harus kami keluarkan untuk membiayai cinta. Kadang-kadang, pulsa dan cinta kompak untuk membuat kita melarat.

Aku menelpon. Kami mengobrol panjang lebar tentang puisi yang kadang susah untuk diuraikan kata-kata dari pada dirindukan dengan rasa yang maha. Ia bercerita tantang keseharian mengambil kuliah Sastra Indonesia dan aku berkisah tentang kemalanganku menulis puisi.

Sudah ratusan kali mengirim puisi ke koran, tak satu pun dimuat. Terkadang aku hendak menyerah. Tapi aku sadar, aku adalah kata dalam sajak-sajak. Ketika sajak nangkring di korang, aku ikut gempita. Aku segera dibaca orang-orang.

Obrolan kami berakhir ketika petir di luar keras sekali. Hujan sedang basah-basahnya. Dan aku dapat jawaban. Kami sepakat menjelma puisi dalam diri masing-masing. Tergenang dalam malam yang basah kuyup.

Aku tertidur. Lebih lelap dari hari-hari setelah perjumpaan kami. Kini aku tak kuatir lagi kapan dan di mana kami bisa jumpa. Karena ia akan selalu mengalir dalam diriku. Ia adalah puisi yang datang ke pikiran saat aku di jalan, atau mampir ke bayangan ketika sedang merindu.
Shynta Shynta Reviewed by Travel Blogger on 17:26:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.