Puisi dan Kerumunan


“Cepat atau lambat ia akan lenyap dari kerumunan.” Begitu kata seorang teman yang saya temui lima hari yang lalu. Pernyataan itu ia alamatkan kepada seorang kenalan baik, yang juga sangat populer saat ini di dunia sastra angkatan muda, khususnya puisi. (Tidak perlu saya sebutkan namanya di sini).

Apapun atensi yang ia sertakan dalam komentar itu, bagi saya tidak penting. Yang maha penting adalah ungkapan ‘lenyap dari kerumuman’ yang dilekatkan pada konteks perpuisian, atau lebih luas ke ‘sastra’. Dengan demikian, saya ingin sekali menjangkau apa yang ia maksud dengan ‘kerumuman’ dan ‘puisi’.

Pertengahan 2014, ketika saya baru dua tahun melangkahkan kaki secara penuh ke dalam dunia perpuisian saya mendatangi Joko Pinurbo di rumahnya. Maksud kedatangan saya kala itu dalam rangka ingin menulis sesuatu tentang rekam perjalanan Jokpin dalam berpuisi.

Hanya dalam beberapa usai saya menulis profilnya, Jokpin menerima penghargaan SEA Award 2014. Rasanya luar biasa, menulis sesuatu tentang Jokpin sebelum ia menerima penghargaan.

Sejak melahirkan buku kumpulan puisi pertamanya, Celana pada 1999 sampai Surat Kopi dan Bulu Matamu: Padang Ilalang pada 2014, puisi-puisi Jokpin selalu dikagumi. Kumpulan puisinya Baju Bulan (2013) adalah buku pertama perkenalan saya dengan puisi-puisi Jokpin.

Lantas, apa hubungan Jokpin dengan ‘Sastra Kerumunan’ yang saya maksud di awal tulisan ini? Sejak ‘anak pertamanya’ Celana, Jokpin sudah mendapat tempat khusus di hati para penikmat puisi. Gaya berpuisinya yang mengawinkan usur naratif dan humor banyak disukai dan diperbincangkan dari kalangan para pemula penyuka puisi hingga kalangan maestro puisi.

Dari lajur ini, saya tidak ragu untuk mengatakan bahwa gaya berpuisi dan puisi-puisi Jokpin selalu dikerumuni oleh para pembacanya. Setiap kali mencuat isu buku kumpulan Jokpin akan terbit, sebagian besar mata penikmat puisi tertuju padanya.

Bersama Jokpin lahir juga beberapa penyair lain yang tak kalah memancing kerumunan. Sebut saja, Aan Mansyur, Adimas Imanuel, Esha Tegar Putra, Krisna Pambicara, Mario F. Lawi adalah beberapa nama dari sekian penyair muda yang kerap namanya disebut-sebut oleh para penyuka puisi. Sementara penyair yang seangkatan Jokpin atau lebih dulu dari padanya, semisal Sapardi, Gunawan Muhammad, dan Sutarji adalah nama-nama besar yang tidak perlu diragukan lagi popularitasnya. Dan tentu saja masuk dalam kategori yang dikerumuni.

Setiap tahun, sekiranya dalam jangkauan pengamatan saya, lewat even internasional semisal Makassar International Writers Festival dan Ubud Writers and Readers Festival, semua mata tertuju pada nama penyair-penyair pendatang baru yang akan diundang ke even itu.

Setidaknya, mereka yang lolos kurasi ke perhelatan sastra tersebut rangkingnya di jalur sastra menanjak drastis. Sekali lagi, mata akan tertuju kepada orang-orang yang lolos kurasi. Sorotan mata dan perbincangan seputar inilah pula boleh disebut sebagai kerumunan. Langsung atau tidak langsung, kita mesti mengakui bahwa mereka yang diundang ke even ini punya rekam jejak dan kualitas yang bagus.

Tapi baik pula jika kita tidak berhenti di situ. Tinjauan mesti diteruskan kepada apa yang terjadi selama kerumuman dan pasca kerumunan. Semasa kerumunan, orang patut bangga atas karya yang ia hasilkan. Tetapi seperti bangkai dan lalat, kerumunan akan cenderung menurun bila si pemancing kerumuman tidak lagi berdaya pikat. Konkritnya adalah dari semua penyair muda dan pegiat sastra yang sudah manggung di even internasional itu, berapa penyair yang konsisten meneruskan karya di dunia perpuisian?

Saya hampir yakin bahwa tidak semua mereka yang sudah ikut even itu kemudian setia di jalur yang telah mengantarnya ke Makassar atau ke Ubud. Perjalanan hidup kadang berubah arah dan taat pada waktu dan situasi. Mereka yang tidak melanjutkan di jalur sastra, kerumunan pun hilang.

Saya tidak sedang memaksa orang yang memilih jalur sastra (puisi) sebagai sarana ekspresi untuk konsisten di situ dan tidak boleh memilih yang lain. Tetapi bahwa dunia sastra akan kehilangan kontinuitasnya bila para pencipta kerumunan cenderung lenyap pasca even ‘perkenalan’.

Lebih luas dalam kaca mata saya, penyair yang menelurkan puisi dan selanjutnya disatukan dalam bentuk buku adalah proses mengenalkan diri kepada para pembaca dan dunia sastra itu sendiri. Bila tidak, ia akan hilang dan kerumunan pun usai.

Dalam konteks ini, sekiranya pernyataan dari rekan saya di pembuka tulisan ini, mesti dipertimbangkan secara serius. Jangan sampai sastra (perpuisian) Indonesia cenderung berkerumun sesaat kemudian hilang ditelan waktu. Konsisten dalam berkarya, terutama karya sastra yang tidak sepopuler sinetron, bagai sebuah perjudian. Bersediakah kita bersastra dalam keadaan lapar?

Lantas, apa solusinya? Bercermin pada Jokpin yang konsisten berkarya dari 90-an hingga sekarang, salah satu cara membuat kerumunan itu haus dan selalu menemukan jalan pulang untuk berkumpul adalah dengan konsisten berkarya, terus mengasah kemampuan, dan laku hidup.

Gaya berpuisi Jokpin yang tenang mengalun dan tidak meledak-ledak bisa jadi kompas siapa sosok dan karya-karyanya. ‘Barkarya dalam diam’. Mungkin itu ungkapan yang bisa mewakili. Sementara kerumunan akan terbentuk dengan sendirinya.
Puisi dan Kerumunan Puisi dan Kerumunan Reviewed by Travel Blogger on 18:16:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.