Yang Masa Lalu dalam Pikiran Damhuri



STEVEELU.com - Sastrawan besar Indonesia, Sitor Situmorang, pernah menulis sebuah puisi pendek, hanya satu baris, berjudul “Malam Lebaran” (isi: Bulan di atas kuburan). Meski puisi ini sangat singkat, ‘sudah banyak penelaah yang mencoba mengurai puisi ini, bahkan lebih ruwet dari puisi Sitor sendiri’ – begitu kata Joko Pinurbo saat mendiskusikan jejak kepenyairan Sitor Situmorang dan Charil Anwar dalam acara Asean Literary Festival 2015, dengan moderator Damhuri Muhammad.

Saya sendiri tidak tahu persis, mengapa saya ingin mengawali ulasan singkat ini dengan mengutip puisi Sitor Situmorang. Tapi paling tidak, jika mau dihubung-hubungkan, saya menulis ulasan singkat ini persis di malam takbiran, malam menuju hari kemenangan – Ramadhan – 2015. Kemudian, justru di acara Asean Literary Festival 2015 itulah saya merasakan langsung aura gaya bicara Damhuri Muhammad, yang buku kumpulan cerpennya akan segera saya kupas di sini.

Sebetulnya, saya sudah mengenal Damhuri dan beberapa karyanya jauh sebelum acara itu, dengan catatan bahwa ia belum mengenal saya. Kami baru bertatap muka langsung di acara Asean Literary Festival 2015, sempat berbasa-basi sejenak tapi saya tidak yakin apakah ia masih mengingat saya. Sebab, waktu itu beberapa orang yang sudah jauh lebih terkenal sebagai penulis dan sastrawan juga ada di situ. Di antaranya, Joko Pinurbo, Krisna Pambicara, Okky Madasari, Didik Siswantono, dan beberapa orang lainnya.

Sebagai orang yang mengagumi gaya bicaranya ketika memoderasi diskusi itu, tentulah tertinggal kesan tersendiri dalam diri saya. Maka ketika ia mempublikasikan buku kumpulan cerpen, “Anak-anak Masa Lalu” di akun facebook-nya, dengan sigap segera saya berkomentar dan mengirim pesan untuk membelinya. Syukurlah bahwa Damhuri, dengan segala keramahan supernya, rela mengirimkan buku kumpulan ini, yang baru saya bayar beberapa hari kemudian.

Baiklah. Saya pikir ini sedikit basa-basi sebagai awal tulisan, yang saya percayai akan sangat bermanfaat bagi saya sendiri di suatu waktu nanti. Juga bagi siapa pun pembaca tulisan singkat ini, untuk mengerti konteks apa pasal saya sangat ingin membuat ulasan ini, meski dalam riwayat kepengarangan, saya bukanlah siapa-siapa untuk mengulas buku seorang pengarang sekaliber Damhuri Muhammad.

Seperti cara membaca pada umumnya, saya membaca kumpulan cerpen ini dari halaman paling depan hingga ke belakang. Banyak cerita tersaji dengan aneka corak, tokoh, alur, dan gaya tutur. Yang pasti, gaya penuturan yang saya dengar dalam diskusi Asean Literary Festival 2015 itu saya temukan lagi dalam kumpulan ini.

Akan tetapi, setelah mencapai bagian belakang, Epilog, yang diberi judul “Fosil-fosil Bernyawa Di Kepala Saya”, saya jadi menyesal karena saya tidak terlebih dahulu membaca epilog barulah membaca cerpen-cerpen Damhiri. Mengapa? Karena di epilog inilah pembaca akan menemukan latar belakang atau alasan kemunculan setiap cerpen dalam kumpulan ini. Ia menjadi basis sekaligus konteks setiap cerpen yang ada dalam kumpulan ini. Dengan demikian, saya juga ingin mengulas buku ini dimulai dari epilog.

Makna ‘Kampung’

Hati saya terketuk ketika membaca halaman awal epilog (hal. 111). Di paragaf kedua, Damhuri menulis begini. ‘Saya tidak pernah sanggup melarikan diri dari kepungan kenangan masa kecil di tanah kelahiran. Kampung yang sebenarnya sudah lama hendak saya lupakan. Kampung yang lebih banyak menyisakan derita dan nestapa ketimbang keriangan, apalagi kerinduan yang menyala-nyala, sebagai kerinduan para perantau di musim lebaran. Betapa tidak nestapa? Di sanalah masa kanak-kanak saya terintimidasi oleh hardikan yang disertai suara gigi bergemeretuk dan makian dengan mata membelalak, hanya karena saya sangat terobsesi hendak melihat-lihat sedan mengkilat yang sedang terparkir di halaman rumah saya.’

Kisah kekelaman masa kecil Damhuri di kampung halamannya masih terceritakan di paragraf-paragraf berikut, tapi saya kira paragraf yang saya tulis ulang di atas cukup untuk dijadikan konteks telaahan saya. Kampung, sekiranya menurut saya, harusnya menjadi tempat paling menggembiarakan karena di sana seorang anak bisa mengeksplorasi dirinya untuk mendekati, bersahabat, bahkan membiarkan dirinya merasuk ke dalam permainan-permainan alam. Alam jadi sahabat karib yang mengajari bagaimana harus bertindak, berperilaku, atau menalar sesuatu.

Saya adalah salah satu dari sekian banyak anak yang seluruh masa kecil hingga remaja awal dilalui di kampung. Kampung saya yang terletak di ujung Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, sangat udik dan masih seperti itu hingga sekarang, jika tidak mau dikata terisolasi. Tapi saya sangat bangga bahwa dalam keudikan itulah saya menghabiskan masa-masa kecil saya dengan sangat berkualitas. Saya bisa berkawan dengan binatang peliharaan, berburu dengan mengandalkan isyarat alam, dan berlari secepat jatuhnya butir hujan.

Tapi situasi inilah yang tidak dialami oleh Damhuri, setidaknya berdasar pada epilog ini. Ia mengalami masa kecilnya sebagai sebuah masa yang menyedihkan. Larangan disertai suara hardikan, “Hoiiii, jangan kau pegang, Buyung! Itu mobil mahal. Lecet sedikit saja bisa tergadai dua musim panen sawah Emakmu untuk menggantinya,” bentak suami dari kakak perempuan Emak,” adalah salah satu penyebab kemuraman itu.

Tetapi, persis di satu paragraf setelahnya, Damhuri bercerita, “Saya lebih gembira dan berbahagia saat bergabung dengan teman-teman sesama penggembala kambing atau kawan-kawan sesama penggila adu ayam” (hal. 113). Dengan demikian saya berkesimpulan bahwa masa kecil Damhuri tidaklah seburuk bayangan saya ketika membaca paragraf awal epilog. Semua tergantung bagaimana cara pandang terhadap makna dan muatan dalam kata ‘kampung’.

Jika kampung ditinjau dari sudut pandang orang kota, maka ia tidak lebih dari label ndeso, teringgal, kolot, primitif, dan aneka bahasa kepurbakalaan lainnya. Itulah mengapa mobil sedan bisa menjadi biang kekelaman masa kecil Damhuri. Kedatangan mobil sedan di kampung memang menjadi daya tarik karena ia adalah salah satu simbol kemewahan – perkotaan. Dan saya pikir, tata pengelolaan Indonesia memakai sudut pandang ini. Orang-orang Jakarta misalnya, memandang wilayah-wilayah pedalaman dan terluar Indonesia sebagai kampung yang masih harus diperkotakan. Mall dan supermarket sebagai lambang kebesaran perkotaan mesti segara dibangun di sana.

Tapi, jika kampung ditinjau dari sudut pandang kualitas kampung-nya, maka ia tidak butuh mobil sedan, mall, supermarket, dan embel-embel perkotaan untuk menggapai kebahagiaan atau kegembiraan. Dalam kacamata inilah, saya boleh bilang bahwa kualitas kegembiraan Damhuri saat berada di tengah kambing peliharaan dan bermain dengan rekan-rekan anak kampung tetap merupakan kegembiraan yang tidak bisa tergantikan oleh kehadiran mobil sedan.

Sumber Inspirasi

Dari epilog ini pula saya bisa menebak bahwa sumber inspirasi cerpen-cerpen Damhuri yang ada dalam kumpulan ini adalah masa kecilnya. Ada beberapa cerpen yang langsung terkoneksi ke potongan-potongan babak yang terceritakan dalam epilog. Saya ingin menyebut beberapa.

Dalam cerpen “Kiduk Menggiring Bola” (hal. 79-86), Damhuri bercerita tentang Kiduk, si penggembala kambing, yang gemar bermain bola saban sore. Ia bercita-cita jadi pesepak bola terkenal suatu hari nanti. Tetapi cita-cita itu tidak kesampaian dan ia tetaplah seorang penggembala kambing yang ulet. Ketika membaca epilog, dimana Damhuri menceritakan bahwa dia gembira dan bahagia berada di tengah kambing kegembalaannya, saya kira Damhuri sedang menceritakan dirinya sendiri. Meski sekarang, Damhuri yang sudah tinggal di Depok, ia masih tetaplah seorang gembala; bukan penggembala kambing melainkan penggembala kata-kata.

Hal serupa juga terjadi pada cerpen “Bayang-bayang Tujuh” (hal. 87-94). Dalam cerpen ini Damhuri berkisah tentang pengalamannya menyabung ayam di kampung. Ia kemudian ‘memberikan mereka nyawa’ (hal. 119) untuk jadi hidangan kisah yang enak dan empuk untuk dibaca.

Sementara dalam cerpen “Rumah Amplop” (hal. 95-101), Damhuri mengisahkan dengan tokoh ‘aku’, punya ayah dan ibu seorang pegawai negeri sipil yang sangat haus harta. Proyek pemerintah yang dikerjakannya selalu disunat agar ia bisa mendapatkan uang yang lebih banyak untuk membeli mobil mewah dan menikmati kejayaan hidup. Suap dari mereka yang ingin memenangkan proyek adalah hal yang biasa. Itulah mengapa tokoh ‘aku’ mengenang rumahnya sebagai ‘rumah amplop’ karena hampir tiap hari ada saja amplop yang diterima ayahnya.

Dengan maksud tidak ingin berlebihan dalam menafsir, saya bisa menduga bahwa cerpen ini dipakai Damhuri untuk menyerang “suami dari kakak perempuan Emak” yang telah meninggalkan jurang kelam dalam masa kecil Damhuri. Lewat tokoh ‘aku’, Damhuri ingin menandaskan ‘mobil sedang yang kau agung-agungkan dan sombongkan itu adalah hasil curian, korupsi, dan isi amplop yang datang ke rumahmu.’

Cerpen lain yang menyita perhatian saya adalah “Orang-orang Larenjang” (hal. 71-78). Dalam cerpen ini, Damhuri menarasikan ‘kedurhakaan’ Bendara Gemuk. Dikisahkan bahwa Bendara Gemuk melanggar janji atau sumpah adat dengan mempersunting calon istri yang non- Larenjang. Ia sudah diingatkan berkali-kali untuk tidak melakukan hal itu, tapi ia tetap nekat. Bahkan ia rela dihapus dari garis silsilah orang-orang Larenjang. Di kemudian hari, kedua anaknya mati, istrinya pun sakit-sakitan dan mati, kemudian Bendara Gemuk sendiri. Ditengarai bahwa kemalangan yang dialami Bendara Gemuk dan keluarganya adalah akibat dari pilihan sikap melawan janji adat itu.

Mengapa cerpen ini jadi salah satu perhatian saya? Saya harus jujur bahwa saya adalah orang yang tidak mempercayai kutukan atau karma. Bagi saya, apapun yang akhirnya dialami oleh seseorang dalam hidupnya adalah akibat dari apa yang dia lakukan hari ini. Maka sangkut paut soal karma atau kutukan tidak ingin saya sematkan dalam garis hidup seseorang. Saya tidak sedang memaksa siapa pun untuk seyakin dengan saya, termasuk membantah cerpen Damhuri. Tapi ini murni keyakinan yang coba saya bangun sendiri dalam meniti cerita hidup saya. Mengapa?

Di tempat asal saya, orang-orang menjadi kaku dan ‘tidak berkembang’ karena merasa takut untuk menerobos kemapanan tradisi yang sebetulnya membebani daripada membebaskan. Semisal mas kawin atau mahar. Seorang laki-laki yang meminang istrinya tanpa mau memberi sejumlah uang atau barang atau binatang, jika dikemudian hari mengalami sakit atau musibah apa pun akan dihubungkan sebagai akibat dari tidak membayar mas kawin atau mahar tadi. Padahal mas kawin dan mahar terkadang mencapai jumlah puluhan hingga ratusan juta rupiah. Dalam sudut pandang saya, ia tidak lagi sebagai tradisi saling menghargai tetapi lebih sebagai lahan bisnis baru bagi keluarga pemilik anak perempuan.

Jika pembaca cerpen ini adalah orang-orang sekampung saya atau mereka yang memiliki tradisi serupa, maka kemalangan Bendara Gemuk dalam kisah ini bisa dijadikan tameng untuk melanggengkan ‘jual-beli’ itu. Dalam analisa beberapa pengamat dan pengkaji, mahar adalah salah satu penyebab tindak kekerasan terhadap kaum perempuan.

Sekali lagi, ini dua konteks tradisi – dalam cerpen dan mahar atau mas kawin – yang berbeda. Saya hanya ingin menyasar konteks ‘akibat dari melanggar tradisi’. Bahwa tradisi yang baik dalam sebuah suku bangsa mesti tetap dijaga kesakralan dan kualitasnya. Tetapi ia harus tetap membuka diri terhadap penyesuaian-penyesuaian yang lebih mengutamakan unsur kemanusiaan dan kemaslahatan bersama.

Kekayaan Bahasa Indonesia
Membaca kumpulan cerpen Damhuri, seolah kita sedang diajak untuk masuk ke dalam sebuah kampung (asal Damhuri) yang memiliki aneka kisah dan tradisi yang sungguh kaya. Ada kisah, pola hidup, daya berpikir, dan cara memandang sebuah persoalan dalam sebuah suku bangsa. Ia semacam puzzle dari gambar besar Indonesia. Ia akan tetap ada, tidak untuk dilupakan tetapi untuk disatukan demi menyempurnakan keutuhan gambar besar yang kita sebut Indonesia. Dan saya yakin, dalam tradisi suku bangsa manapun akan selalu ada sisi positif yang bisa menyumbang bagi kesempurnaan gambar besar Indonesia.

Maka, saya kira kekuatiran Damhuri dalam epilog bahwa “Dunia cerita yang saya rancang senantiasa bermula dari kenangan tentang kampung halaman. Mungkin itu sebabnya, dalam pergaulan dengan sejawat-sejawat pengarang, saya kerap disebut kampungan, lantaran cara berpikir saya yang udik, dan eksperimentasi teknik pengisahan yang saya tempuh, tak kunjung maju dari waktu ke waktu. Alih-alih bergerak maju dan gemilang, saya malah merasa semakin terbelakang, semakin ndeso, meski belum jatuh ke level kolot”, tetap bisa dikategorikan sebagai keunggulan. Karena dari ‘kampungan’ itulah muncul sari-sari kebajikan dan kearifal untuk bisa dinikmati dan diadaptasi sebagai kearifan bersama.

Hal terakhir yang tidak ingin saya lewatkan juga dalam tulisan sederhana ini adalah kekayaan kata, idiom, kata ulang, kata ulang berubah bunyi, dan analogi yang tersebar hampir di tiap cerpen dalam kumpulan ini. Dalam hal ini, saya sependapat dengan Joko Pinurbo bahwa bahasa Indonesia punya berjuta-juta kekayaan yang masih harus digali. Lewat sajian ini pula kita bisa temukan bahwa Damhuri punya bekal kata-kata bahasa Indonesia yang sangat mumpuni. Ini sangat mudah terlihat ketika ia ingin membendaharakan kata-kata yang sudah lazim digunakan khalayak.

Selain cerpen dan esai Damhuri yang dengan mudah dapat saya temukan di perpustakaan google, kumpulan “Anak-anak Masa Lalu” adalah buku pertama dari sekian buku Damhuri yang baru saya baca. Ini menyisakan tugas bagi saya untuk mulai menjelajahi buku-bukunya, selain untuk semakin mengenal karakter kepengarangan Damhuri, juga sebagai acuan untuk memperkaya kosa kata bahasa Indonesia. Kalau Anda punya misi yang sama, “Anak-anak Masa Lalu” adalah arena yang memadai untuk semakin mengkualitaskan keindonesiaan Anda.
Yang Masa Lalu dalam Pikiran Damhuri Yang Masa Lalu dalam Pikiran Damhuri Reviewed by Travel Blogger on 13:52:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.