Sapardi dalam Kancah Puisi dan Novel



STEVEELU.com - Bagaimana kau akan menulis sesuatu tentang buku yang baru selesai kau baca; ketika buku itu adalah karya seseorang yang sangat-sangat kau kagumi. Pertimbangan pertama yang muncul adalah paling isi tulisan hanya akan berupa puja-puji. Kedua, perasaan inferior dan tak layak untuk menuliskan sesuatu tentang karya itu.

Pergulatan macam itulah yang saya alami ketika hendak membuat tulisan atau lebih tepatnya curhat tentang novel “Hujan Bulan Juni” – selanjutnya disebut HJB – karya Sapardi Djoko Damono (SDD). Hanya butuh dua hari untuk melahap novel yang baru saja diterbitkan Gramedia ini. Tapi butuh setidaknya dua kali waktu tidur malam untuk memeras otak mencari pertimbangan yang pas untuk mengatakan sesuatu usai membaca novel ini.

Baiklah! Saya ingin segera memulainya. Meski hanya ‘curhat’ saya pikir tidak salah kalau saya mempertimbangkannya secara baik, tepat, dan logis sebelum membubuhkan isi hati saya di ini. Kita mulai sekarang.

Semua pencinta sastra pasti mengenal puisi yang tak lekang kagum segala jenis generasi yaitu “Aku Ingin”. Puisi “Aku Ingin” ditulis SDD pada 1989. Di tahun ketika SDD menulis puisi ini, saya masih sangat kecil dan belum mengenal tulisan. Supaya tidak meraba-raba seperti apa puisi itu bagi mereka yang belum pernah membacanya atau sudah membacanya tapi lupa, baiklah saya catumkan lagi di sini.

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu
Dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat
Diucapkan kayu kepada api
Yang menjadikannya abu..

Aku ingin mencintaimu
Dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat
Disampaikan awan kepada hujan
Yang menjadikannya tiada

(1989)


Saya kenal puisi ini baru beberapa tahun belakangan, ketika saya mulai menggandrungi dunia puisi. Bersamaan dengan itu, “Hujan Bulang Juni”, “Pada Suatu Pagi Hari” adalah puisi-puisi lain SDD yang hampir tiap kali saya rindu untuk membacanya, mendengarkan musikalisasinya, juga bergelut dalam dimensi dan aura kata-katanya.

Ketika informasi mulai beredar bahwa puisi “Hujan Bulan Juni” akan ‘dipanjangkan’ jadi novel, sebagai seorang ‘pemuja’ SDD, tentu tak sabar ingin membacanya. Karena saya belum punya duit untuk membelinya, kemurahan hati seorang teman untuk meminjamkannya adalah berkah yang luar biasa, apalagi di Bulan Puasa.

Sebagai Puisi

Ketika “Hujan Bulan Juni” disajikan SDD sebagai puisi, kata-katanya adalah demikian:

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu


Puisi ini pun sama dengan puisi “Aku Ingin”, ditulis SDD pada 1989. Kemudian ia dipilih jadi judul buku kumpulan puisi SDD yang diterbitkan Grasindo pada 1994. Kumpulan itu memuat puisi-puisi SDD yang ditulis antara 1964 sampai 1994. Selanjutnya, kumpulan ini beberapa kali mengalami cetak ulang dengan beberapa koreksi, penambahan puisi-puisi baru dan juga pengurangan. Terakhir, kumpulan “Hujan Bulan Juni” diterbitkan pada Oktober 2013 oleh Gramedia Pustaka Utama. Kumpulan yang sampai sekarang masih dengan mudah dapat kita temukan di toko atau gerai buku ini terdiri dari 120 halaman ini berisi 102 puisi dan ditulis SDD antara 1959 sampai 1994.

Sekarang, saya ingin merangsek masuk ke kamar ‘Hujan Bulan Juni’ dari kacamata saya. Bait pertama HBJ mengawinkan antara ‘bulan Juni’ dan “pohon berbunga itu’. Saya sependapat dengan para pengupas terdaulu puisi ini bahwa uangkapan yang dipilih oleh SDD pada keseluruhan ini (juga bait ini) adalah sebuah paradoks. Artinya, ia mengandung unsur kemustahilan atau nonsense. Namun sebagai diksi dalam sastra, ia mengandung aneka imajinasi yang tak pernah habis untuk dilahirkan. Mengapa?

Dalam konteks iklim Indonesia yang tropis-agraris, bulan Juni adalah waktu awal memasuki musim panas, atau musim panen. Karena itu, hujan turun di bulan Juni sangat jarang terjadi. Daun-daun pohon jati sebagai penanda musim panas pun mulai meranggas di sekitar bulan Juni. Serasa tidak cukup dengan ‘hujan di bulan Juni’, SDD kembali membubuhkan paradoks berikut pada baris tarakhir bait pertama, ‘pohon berbunga itu’. Bagaimana mungkin pohon bisa berbunga di awal musim panas?

Di negara-negara yang punya iklim empat musim: dingin (-hujan), semi, panas, dan gugur, awal bulan Juni adalah masa transisi dari musim dingin ke musim semi. Di musim inilah bunga dan pohon-pohon mulai berbunga.

Jadi, rasa-rasanya, SDD sedang ingin membidik masa transisi antara musim dingin (-hujan) dan awal musim semi dalam puisi ini. ‘Masa transisi’ ini kemudian ditarik ke dalam baris ‘tak yang lebih tabah’ dan ‘dirahasiakan rintik rindunya’. Nah, dengan perkawinan ini, SDD setidaknya ingin menggambarkan bahwa sesuatu yang tersemat dalam hati bisa hadir dalam dua wujud yakni sedih (hujan airmata) dan gembiara (berbunga-bunga). Sebab, sesuatu yang tercatat dalam hati atau dirindukan sering berselanjar di antara tawa dan airmata.

Hal yang sama kemudian diulang lagi oleh SDD pada bait kedua dan ketiga. Jejak-jejak kaki yang ragu-ragu dihapus oleh hujan bulan Juni. Dengan demikian ia akan terus melangkah karena ketabahan hatinya melampaui segala yang telah meluruhkan tangisnya. Juga, dalam bait ketiga, ‘dibiarkannya yang tak terucapkan/diserap akar pohon bunga itu’. Bahwa yang belum sempat mewujud kata-kata akan berubah jadi nutrisi yang menumbuhkan.

Sekilas pandang saya ini akan sangat bermanfaat untuk memasuki “Hujan Bulan Juni” sebagai novel. Konteks pemahaman setiap makna baris puisi dan pertautannya menjadi urgen karena novel ini berkembang dan bermain di antara singkapan makna baris-baris itu.

Sebagai Novel

Ketika “Hujan Bulan Juni” tersaji sebagai novel, SDD menghadrikan Sarwono dan Pingkan sebagai tokoh utama. Sementara tempat, SDD memilih Jakarta (Universtias Indonesia), Yogyakarta (Universitas Gadjah Mada), Makassar, dan Jepang. Tempat ini pun tidak terlepas dari dunia kampus. Rasanya, SDD yang berprofesi sebagai dosen di masa karya memberi kontribusi besar baik bagi pemilihan tempat maupun latar belakang novel ini.

Tapi di sini saya tidak ingin mengisahkan lagi apa yang diceritakan dalam HBJ. Saya hanya ingin mengambil sari-sari yang bisa saya tangkap dari novel HBJ. Bahwa Sarwono dan Pingkan yang berprofesi sebagai dosen terperangkap dalam permainan hati yang disebut jatuh cinta.

Orang sering mengatakan bahwa intensitas pertemuan dapat menelurkan benih cinta. Itulah yang bisa dilabelkan kepada Sarwono dan Pingkan. Dua-duanya yang bekerja sebagai asisten dosen di Universitas Indonesia memungkinkan mereka untuk berjumpa tiap hari. Dari situlah cikal bakal lahirnya rasa kagum dan akhirnya bermekar jadi cinta yang kait-mengait, tarik-menarik, dan cetar-menggetarkan.

Lantas,dimanakah konteks ketabahan HBJ, mengingat novel ini adalah perpanjangan dari puisi HBJ? Hemat saya, ketabahan itu muncul pada perbedaan asal Sarwono (Solo) dan Pingkan (Menado), yang kemudian berimbas ke kultur dan pola pikir. Agama yang dianut kedua tokoh; Sarwono (Islam) dan Pingkan (Katolik), juga ikut berkontribusi. Selain itu, ‘gangguan’ dari pihak ketiga yakni seorang dosen asal Jepang, tante dan keluarga besar Pingkan yang menginginkan Pingkan menikah dengan calon yang direkomendasikan mereka, flek di paru-paru Sarwono yang membuatnya sering batuk, serta keberangkatan Pingkan ke Jepang untuk melanjutkan studi adalah pernak-pernik lain yang turut menguji seberapa tabah cinta Sarwono dan Pingkan.

Ketika merangkaki halaman-halaman novel ini, pertanyaan besar saya adalah mengapa SDD yang mengambil sebagain besar latar belakang novel Indonesia tiba-tiba memasukkan Jepang sebagai sisi lain dalam pengujian ‘tak ada yang lebih tabah’ itu?

Saya menduga, SDD memilih mekarnya bunga sakura di Jepang, yang biasa diagung-agungkan hampir seantero masyarakat dunia, sebagai analagi mekar sekaligus tabahnya cinta Sarwono-Pingkan. Dan, bunga sakura memang mekar di sekitar awal bulan semi. Di elaborasi bagian puisi sebelumnya, saya sudah menyebutkan bahwa musim semi di negara-negara yang punya siklus empat musim dimulai antara akhir Mei sampai pertengahan Juni. Dalam rentang waktu itu masih memungkinkan turunnya hujan dan juga bunga dan pohon, salah satunya bunga sakura, mulai bermekaran.

Hal ini kemudian dipertegas ketika Pingkan benar-benar ada di Jepang. Ditemani seorang rekannya, Kyoto, Pingkin menghabiskan hari-harinya dengan menikmati awal musim semi, permulaan mekarnya bunga sakura. Tak henti-henti dalam whatsapp (WA), Pingkan mengirimkan foto selfi dengan bunga sakura, atau mengajak Sarwono untuk menyusulnya ke Jepang.

Tapi kemudian SDD berbelot dari eufornia mekarnya bunga sakura itu dengan memulangkan Pingkan ke Indonesia. Dan ketika ia tiba di Bandara Soekarno-Hatta barulah ia tahu bahwa Sarwono yang tidak membalas WA-nya sejak satu minggu terakhir sudah sekarat di rumah sakit di Solo. Pingkan, yang semula bertugas menjadi pemandu mahasiswa Jepang yang akan studi banding di Indonesia harus lekas-lekas mengejar kubang cintanya yang sudah sekarat itu.

Di bagian akhir novel, ini juga yang membuat saya ‘memaki-maki’ SDD usai membaca novel ini, Pingkan tidak berhasil menemui Sarwono kecuali ketiga sajak Sarwono yang pernah dimuat di Koran. SDD seolah membuat pembaca merana lantaran tidak tahu apakah Pingkan sempat bertemu Sarwono atau malah meninggal sebelum Pingkan tiba. Dari ibu Sarwono hanya diketahui bahwa Sarwono menitipkan koran (yang berisi tiga puisi Sarwono) untuk Pingkan.

Ketiga puisi itu saya kutip secara lengkap di sini karena bagi saya ia adalah bahasa paling sunyi dari kebatahan yang mau disampaikan SDD lewat puisi HBJ dan cinta Sarwono-Pingkan.

Tiga Sajak Kecil

/i/
bayang-bayang yang berhak setia
menyusul partitur ganjil
suaranya angin tumbang

agar bisa berpisah
tubuh ke tanah
jiwa ke angkasa
bayang-bayang ke serbamula

suaramu lorong kosong
sepanjang kenanganku
sepi itu, mata air itu

diammu ruang lapang
seluas angan-anganku

luka itu, muara itu

/ii/

di jantungku
sayup terdengar
debarmu hening

di langit-langit
tempurung kepalaku
terbit silau
cahayamu

dalam intiku
kau terbenam

/iii/

kita tak akan pernah bertemu:
aku dalam dirimu

tiadakah pilihan
kecuali di situ?

kau terpencil dalam diriku


Dalam gegap gempita kepiawaian SDD menarasikan ritmik ketabahan dalam HBJ, saya menilai ada yang masih kurang greget. Persis di bagian sesuatu yang akan mempertegas ketabahan cinta Sarwono-Pingkan. Bahwa konflik yang coba disemai SDD dalam novel ini, hemat saya, kurang maksimal. Perbedaan asal, agama, dan latar keluarga dikemukanan SDD tapi dalam konteks canda antara Sarwono-Pingkan. Ketika dua insan sedang jatuh cinta, ejek-ejekan adalah bumbu yang dapat membuat detak cinta di hati semakin berdentum. Tetapi ketika ia mau diletakan sebagai konflik untuk konteks penulisan sebuah kisah, ia malah sangat lemah.

Maka justru di sinilah saya menilai bahwa SDD kurang berhasil menggarap gaung ketabahan yang digadang-gadang sebagai bingkai besar puisi HBJ-nya. Sebab bercermin dari konteks Indonesia sebagai tempat fisik SDD menulis “Hujan Bulan Juni” adalah sebuah paradoks yang sungguh di luar jangkauan nalar normal; kalau bukan sebagai diksi atau sebuah paradoks. Apalagi oleh beberapa penelaah puisi HBJ, menyebutnya sebagai paradoks ekstrim, seekstrim puisi singkat Sitor Situmorang “Malam lebaran” (Malam Lebaran//Bulan di atas kuburan).
Sapardi dalam Kancah Puisi dan Novel Sapardi dalam Kancah Puisi dan Novel Reviewed by Travel Blogger on 11:12:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.