Rasa Gurih Timor dalam Kumpulan Puisi Parinseja



STEVEELU.com - Karya sastra tidak lahir dalam kekosongan budaya (Teeuw, 1991:56). Berangkat dari pandangan ini, pengarang dalam menulis sebuah karya sastra tidak pernah terlepas dengan lingkungan penciptaannya.

Puisi sebagai salah satu genre sastra, juga turut mengungkapkan fenomena pada sebuah lingkungan. Tentu sekali, fenomena ini telah mengalami proses penghayatan yang dalam oleh penyair sebelum pada akhirnya menghasilkan puisi itu sendiri. Penghayatan yang dalam akan menghasilkan puisi-puisi yang jernih. Puisi lahir dari keheningan, diungkapkan dengan keseluruhan perasaan, dengan kesadaran yang dalam dan tanpa serta-merta karena proses penghayatan sampai pada penulisan ada daya kekuatan atau energi yang menggerakkan penyair untuk memberikan yang terbaik.

Salah satu penyair Nusa Tenggara Timur, yang mengangkat fenomena budaya: dogeng, suanggi, bercocok tanam, lumbung, ritual doa meminta hujan, kemisikinan dan lain-lain cukup baik dalam puisi-puisinya adalah Steve Elu. Steve lahir di Oepoli, 30 September 1985. Ia mengeyam pendidikan  di Seminari St Maria Immaulata Lalian Atambua (2001-2005), STF Driyarkara Jakarta (2007-2011). Sejak 2011 bekerja sebagai wartawan di Majalah Hidup. Ia aktif menulis puisi dan cerpen, dan sudah dimuat di beberapa media lokal dan media online, seperti Suara Merdeka, Jurnal Sastra SANTARANG (Sabana Lontar Karang), diterbitkan pula dalam beberapa antologi bersama. Dan jejak kepenulisannya bisa ditemukan di blog pribadinya: www.steveelu.com.  Ia juga menggagas berdirinya www.kupasbuku.com, media ini mengemban tugas misi menjadi mediator antara pembaca dan penulis dengan peranti resensi buku.

Menarik memang membaca puisi-puisi yang ditulis Steve yang terhimpun dalam buku PARINSEJA karena selain memberikan hiburan berkualitas, pembaca akan disuguhkan dengan kejujuran Steve terhadap realita di lingkungan daerahnya. Selain itu, wawasan pembaca sepertinya sedikit demi sedikit dibuka untuk melihat betapa kayanya Nusa Tenggara Timur dengan kebudayaannya. Tanah Timor menjadi objek sasaran yang digarap oleh Steve dalam karyanya, walaupun tidak semua puisi dalam buku ini bernafaskan lokalitas. Tetapi setidaknya, Steve sudah berhasil karena ia menyuguhkan sesuatu yang baru, yang menurut saya, sebagian dari kita belum tahu menahu soal timor dengan kebudayaannya yang kompleks.

aku mencintaimu
dengan gelisah paling piatu
dalam kisah dongeng parinseja
yang berserah hidup pada fajar dan senja

bagiku, perjalanan ke hatimu
ialah ziarah paling suci
untuk mendengar debur bisik  jiwamu
saat kau merindukan ibu di dahan-dahan harapan

dan kini, sepanjang jalan ke pohonmu
aku menengadah. semoga kau masih menyimpan
jejak-jejak detak cita-cita ibu

Ini salah satu contoh puisi yang terhimpun dalam buku PARINSEJA  yang berjudul parinseja (2). Puisi yang berusaha mengungkapkan kerinduan tokoh aku untuk mencintai dongeng yang ada di tanah Timor, khususnya dongeng Parinseja itu sendiri. Saya tidak ingin mengatakan bahwa tokoh aku di sini adalah penyair atau Steve, tetapi tokoh aku itu adalah kita semua yang ada di sini. Dongeng itu milik kita bersama. Secara pribadi saya membatasi diri untuk tidak memberi pemaknaan yang lebih jauh karena tentu sekali akan lebih bermakna jika kita masing-masing membaca dan memberi penghayatan sendiri. Untuk lebih memahami seperti apa dongeng Parinseja itu kita harus membaca juga puisi Parinseja (1). Yang tentunya kesemuanya dapat kita jumpai dalam buku ini.

Masih banyak hal tentang tanah Timor yang diangkat penulis buku ini. Sekali lagi saya membatasi diri untuk tidak berbicara tentang puisi perpuisi tetapi hanya sepintas lalu, yang menurut saya, sekiranya dapat memberi gambaran umum terhadap buku ini.

Lalu, bagaimana dengan puisi-puisi umum yang diangkat oleh penyair? Saya pikir, Steve berhasil karena saat membaca puisi umum tersebut saya disuguhkan dengan cara pandang yang berbeda dari perspektif penulis, yang oleh saya “berbahaya”. Steve berhasil mengaduk perasaan, mengasah kepekaan, saya dapat menyaksikan adengan-adengan dalam potongan-potongan puisi, bagaimana saya harus masuk dalam sebuah labirin kesunyian lalu kembali dengan jiwa yang  sedikit banyaknya telah dimurnikan.

Bagaimana puisi umum yang ditulis oleh Steve? Menurut saya, kebanyakan puisi yang terhimpun dalam buku ini menghadirkan imaji penglihatan. Saya berani mengatakan demikian karena yang abstrak disederhanakan sehingga mudah dipahami dan tetap memerhatikan kualitas. Bagaimana penulis berbicara kerinduan yang abstrak?

di stasiun

kau melambai dari tengah dengung
bel kereta. matamu menghujam tepat
pada getar dada. aku mulai sendiri

sembari gemetar, samar kubaca ujung  jarimu:
“esok aku bakal kembali”

ah… itu cukup untuk meringankan beban kelopak mata
menahan rindu yang sayup disapu bel kereta tua?

Memang puisi ini berbicara tantang perpisahan tetapi bukankah perpisahan akan melahirkan kerinduan? Masih banyak puisi-puisi umum yang ketika membaca akan melahirkan pertanyaan-pertanyaan perenungan tentang kehidupan ini.

Mungkin muncul pertanyaan di benak kita, apa yang menjadi kekurangan dari buku ini? Saya tidak bisa berbicara banyak karena tentu kita mempunyai pandangan tersendiri terhadap buku ini. Silakan menemukannya sendiri.

Akhir kata, puisi yang terhimpun dalam buku PARINSEJA bukan lagi milik Steve Elu, tidak juga milik para kaum akademi, tidak juga milik para penyair tetapi milik kita semua karena puisi berbicara tentang kita. Dongeng parinseja bukan lagi milik orang Timor tetapi milik kita semua. Mari, kita membangun sebuah kesadaran untuk mencintai buku.

Sekian dan Terima Kasih

Jemmy Piran (Penyair Muda asal NTT)
       
* Ulasan ini dibawakan oleh Jemmy Piran dalam acara Festival Sastra Santarang yang belangsung di Kupang, Nusa Tenggara Timur, 2-4 Juni 2015.
Rasa Gurih Timor dalam Kumpulan Puisi Parinseja Rasa Gurih Timor dalam Kumpulan Puisi Parinseja Reviewed by Travel Blogger on 00:06:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.