Kunang-kunang Di Tengah Semarak Sastra Juni 2015

STEVEELU.com - Awal Juni 2015, semua mata para pecinta sastra Indonesia tertuju ke event sastra berskala internasional yang digelar di Makassar. Ya, Makassar International Writers Festival (MIWF) digelar pada 3-6 Juni 2015. Sementara di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Komunitas Sastra Dusun Flobamora juga menggelar event sastra yang diberi nama Festival Sastra Santarang (FSS), 2-4 Juni 2015. Di MIWF, penulis-penulis muda berbakat asal Indonesia dan beberapa negara lain berkumpul untuk mengadakan diskusi dan pelatihan seputar literasi. Hal serupa juga terjadi di FSS, meski yang mengambil bagian di event ini adalah orang-orang muda penikmat, penulis, dan penggerak sastra di sekitar NTT.

Dua kegiatan inilah yang ingin saya acu sebagai “Semarak Sastra Juni 2015”. Mengapa? Karena setiap penulis dan pegiat sastra pasti berlomba-lomba ingin tahu apa yang sedang didiskusikan di kedua event itu; entah datang langsung atau melalui berita-berita yang beredar.

Di tengah hiruk-pikuk itu, saya bersyukur karena meskipun belum dapat kesempatan menghadiri kedua event itu, toh saya tetap mendapat kesempatan untuk mendiskusikan buku kumpulan puisi saya “Parinseja”, bersama teman-teman baik di Komunitas Pelangi Sastra Malang. Kegiatan kecil ini saya pandang sebagai kunang-kunang di tengah semarak sastra Juni 2015. (Cat.: di FSS “Parinseja” ikut diperbincangkan dengan Jemmy Piran sebagai penelaah).

Perkenalan saya dengan Komunitas Pelangi Sastra Malang bermula lewat adik kelas saya yang juga pegiat sastra di Malang, Felix K. Nesi. Lewat beliau saya bisa berkelanan dengan mas Denny Mizhar dan mas Alra Ramadhan. Bersama kedua sabahat ini, kami merancang dan merealisasikan diskusi buku saya di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang, Sabtu, 13 Juni 2015. Sementara Felix ikut menghadiri MIWF, setelah itu kembali ke Kefamenanu, NTT, karena kesehatannya yang tidak memungkinkan untuk kembali ke Malang.

Diskusi yang semula kami rencanakan pukul 10.00 WIB, baru berlansung pukul 12.00 WIB karena keterlambatan saya tiba di lokasi kegiatan. Meski demikian, beberapa teman baik tetap sabar menunggu, bahkan ikut ambil bagian dalam diskusi yang penuh kehangatan itu.

Aspek Lokalitas
Mahasiswa Sosiologi Universitas Brawijaya Malang, Ifan Aqib yang didaulat jadi pembedah buku saya menyampaikan gagasan-gagasannya yang sungguh menarik. Ada beberapa poin penting yang kiranya menjadi catatan bagi saya, saya beberkan di bawah ini.

Pertama, efek musikalisasi. Menurut Ifan, puisi-puisi saya sarat dengan muatan musikal. Hampir di semua puisi yang ada dalam buku kumpulan puisi “Parinseja” mengandung efek musikal sehingga memudahkan pembaca untuk memasuki dan merasakannya. “Meski puisi-puisi yang ditulis berbau lokal, tempat asal Steve dan kita sebagai pembaca mungkin hanya bisa meraba-raba apa yang sedang digambarkan oleh Steve, tetapi efek musikalnya tetap membuat nyaman orang untuk membacanya. Karena itu, puisi-puisi ini tetap menarik untuk dibaca oleh semakin banyak orang ‘di luar NTT’.

Kedua, pemilihan diksi yang lunak, enak, dan syarat akan muatan-muatan lokalitas. Sekali lagi, diksi semacam sawah, ombak, sunyi, debur, ladang, dll., mungkin saja kita sudah mendengar atau membacanya di beberapa puisi yang sudah ditulis oleh para penyair terdahulu. Tetapi Steve memberinya rasa baru karena dipadukan dengan efek musikal yang ia sertakan dan ciptakan bersama diksi-diksi itu.

Ketiga, rilis-subjektif. Ifan menemukan juga sisi lain bahwa puisi-puisi yang terhimpun dalam “Parinseja” adalah puisi-puisi rilis yang sangat subjektif menurut rasa budaya, gaya tutur, dan pola hidup masyarakat dari mana Steve berasal. Misalkan, puisi “Jagung Bose”, “Parinseja (1)”, “Rogare”, dan beberapa puisi lain, tetap disampaikan dengan gaya rilis tetapi dalam cara pandang dan tutur lokal NTT. Untuk alasan itu, ia punya aroma kebaruan dan tetap enak untuk dinikmati.

Keempat, modernitas vs lokalitas. Puisi-puisi dalam kumpulan ini ditulis Steve di Jakarta. Tapi nafas dan warna lokalitas NTT justru sangat kental di tiap baitnya. Di sini Steve berhasil mempertautkan antara kenyataan di mana ia menulis puisi yakni Jakarta sebagai ikon modernitas dan ingatan akan pengalaman masa kecil akan tanah kelahirannya di NTT sebagai warna lokalitas. Kedua konteks inilah yang coba diolah sedemikian rupa dan disajikan dalam bentuk puisi. Untuk bagian ini, Mas Denny Mizhar menilai bahwa puisi-puisi Steve merupakan suara-suara urban. Steve newakili suara masyarakat urban yang terjebak dalam keramaian dan akhirnya merasakan kehampaan dalam hati. Dalam keadaan ‘hampa’ itulah Steve menggali masa ‘lokalitas’nya untuk disajikan kembali dalam bentuk puisi. Selanjutnya, Ifan menjelaskan puisi-puisi dalam “Parinseja” dari sudut pandang fenomenologinya Hegel.

Kelima, mengacu pada pemikiran dan karya-karya penyair dan kritikus sastra asal Amerika, Ezra Loomis Pound, Ifan mengatakan bahwa puisi-puisi yang ada dalam kumpulan ini memakai bahasa dan diksi yang penuh makna dan kaya imagis. Hanya saja,  pada puisi “mata yang melayang-layang” dan “selamat datang” ada sedikit pembelokan. Pada puisi pertama, diksi yang digunakan “aku mencungkil kedua bola mataku” rasanya terlalu berlebihan. Sementara pada puisi kedua, khusus bait pertama, sangat rilis dan coraknya agak berbeda dengan puisi-puisi yang lain.

Selain itu, ada berbagai pertanyaan dari beberapa peserta terkait proses kreatif penulisan puisi dan kepada siapa puisi-puisi ini ditulis. Tentunya, berbagi pengalaman seputar bagaimana menulis puisi, konteks dan kondisi seperti apa saya menulis puisi, saya beberkan kepada teman-teman yang hari itu bersedia meluangkan waktu untuk menghadiri diskusi buku saya.

Terima Kasih
Kepada mereka semua yang sudah berkenan datang, kuanggap kalianlah orang-orang yang ingin memberi tempat istirahat yang nyaman, aman, dan damai bagi ‘Pariseja’. Kepada mas Asrofi yang sudah memoderatori acara diskusi ini, saya haturkan banyak terima kasih. Kalian adalah sahabat-sahabat baik yang meninggalkan kesan persahabatan mendalam di perjumpaan pertama kita.

Kepada Pak Djoko Suryono yang telah memberi tempat bagi terselenggaranya diskusi buku saya di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang, saya sampaikan juga terima kasih yang berlimpah. Undangan untuk mampir jika lewat atau berada di Malang, saya anggap sebagai ajakan untuk hadir dan mengadakan diskusi-diskusi sastra selanjutnya di Kafe Pustaka. Saya akan selalu haus akan kesempatan itu. Obrolan “mazab seminari” dalam rekam jejak sastra NTT memberi karangka pemikiran baru untuk karya-karya saya ke depan.

Sekali lagi terima kasih untuk semuanya. Kepada Dwi Ratih Ramadhany yang sudah bersedia memangku tugas ‘seles’ buku-buku KataBergerak selama diskusi, banyak terima kasih untukmu. Saya menunggu kabar “Pemilin Kematian”-mu. Saya sudah membaca “Pemilin Kematian” di buku “Suara-suara Pendatang” dan tak sabar ingin menulis ulasan versi saya. Semoga berkenan nantinya.

Steve Elu
Kos Bambu, 16 Juni 2015
Kunang-kunang Di Tengah Semarak Sastra Juni 2015 Kunang-kunang Di Tengah Semarak Sastra Juni 2015 Reviewed by Travel Blogger on 18:11:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.