Cinta Rasa Konflik Agama dalam Novel Maryam



STEVEELU.com - Saat perhelatan Asian Literary Festival 2015 di awal Maret lalu, banyak sekali buku yang dipamerankan di halaman depan Gedung Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta. Sebagai orang yang sangat menyukai dunia sastra, acara seperti ini sudah pasti saya datangi. Selain ingin belajar, banyak penulis karya sastra yang berkeliaran di sana dan dengan mudah bisa ditemui untuk berbagi cerita, dan tentu saja mengenalkan juga karya yang saya miliki. (Maklum pemain pemula. Hehehehe).

Dari berbagi jenis dan judul buku yang dipamerankan dalam perhelatan ini, novel “Maryam” karya Okky Mardasari adalah salah satu novel yang menyita perhatian saya. Kebetulan saja penulisnya juga adalah penanggung jawab Asian Literary Festival dan saya mengenalnya. Jadilah saya membeli novel ini untuk saya baca.

Namun karena ada juga beberapa buku yang sudah saya beli sebelumnya dan harus saya baca terlebih dahulu, jadilah novel “Maryam” harus saya letakan di tempat yang aman untuk menunggu giliran dibaca. Minggu kedua Mei yang lalu, tibalah waktunya untuk “Maryam”. Dua minggu. Itulah rentang waktu yang sudah saya lewati untuk melahap “Maryam”.

Membaca novel “Maryam”, sejauh pengalaman saya selama dua minggu itu, seperti sedang pergi rekreasi. Ada beberapa hal yang sangat membantu saya untuk menyimpulkan demikian. Pertama, kualitas Okky sebagai novelis tentu tidak diragukan lagi. Dengan gaya cerita, deskripsi, narasi, eksplorasi dan menggiring pemcaba untuk keluar-masuk ke dalam pola cerita yang sedang ia bangun, terasa sangat enak. Baru di halaman-halaman awal, saya sudah merasa sangat nyaman untuk membaca “Maryam”.

Kedua, bahasa yang digunakan oleh Okky sangat menarik. Gaya tutur yang sangat sederhana dengan menyebar unsur “rasa bahasa” hampir di tiap halamannya membuat saya gemar sekali untuk melahap kalimat-kalimatnya.

Ketiga, sepintas, membaca “Maryam” yang minim dialog akan membuat kita lelah. Tetapi karena cerita yang penulis sajikan sangat luwes, teratur, dan terukur, rasa lelah itu tak ‘kan berarti sama sekali. Sebab kita akan selalu penasaran, di paragraf berikut akan terjadi apa, di halaman berikut tokoh yang ini akan pergi ke mana atau jadi seperti apa.

Dari segi konten novel, sebetulnya novel ini boleh dibilang novel berat. Ia bercerita bagaimana umat Muslim yang beraliran Amadiyah tidak diterima dan dimusuhi di Mataram, juga di beberapa kota lain seperti Surabaya dan Jakarta. (Dua kota ini juga sempat menjadi setting dalam cerita). Di tengah aksi kekerasan untuk menolak kehadiran Ahmadiyah, negara sebagai pengayom masyarakat tidak berdaya apa-apa.

Akan tetapi, daripada serasa sedang membaca undang-undang atau aturan normative tentang peran negara, Okky menciptakan bingkai untuk persoalan sensitif ini (Di Indonesia, persoalan agama lebih sensitif daripada persoalan kemanusiaan). Bingkai yang saya maksud adalah ia menghadirkan tokoh Maryam yang semula taat berubah menjadi orang yang menentang nasihat orangtua, dan akhirnya kembali ke orangtua. Pesolan cinta dan pernikahan Maryam, dalam hemat saya, adalah unsur yang hadir untuk menjinakkan persoalan sensitif agama tadi.

Maryam sebagai seorang perempuan yang berpendidikan dan punya pekerjaan mapan, ingin melepaskan diri dari kungkungan agama. Maka ketika ia harus menikah dengan pertaruhan menanggalan atribut dan juga cap “sesat” terhadap agama (Ahmadiyah) yang sudah ia kenakan sejak lahir, ia bersedia melakukannya. Meski jauh di dasar hatinya masih tersimpan pertanyaan, “mengapa orang lebih meributkan soal agama daripada mengurusi hidup yang nyata-nyata butuh makan, sehat, dan aman?”

Ketika akhirnya bahtera rumah tangganya kandas dan Maryam kembali ke rumah orangtuanya pergulatan serupa masih saja terus terjadi. Pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai apa fungsi negara di hadapan tindakan pengrusakan terhadap tempat tinggal pengenut agama tertentu saya pikir tidak pernah lenyap dalam pikiran Maryam, juga segelintir masyarakat Indonesia saat ini.

Maka dalam kaca mata lain, novel “Maryam” tidak hanya hadir sebagai karya fiksi tetapi sekaligus sebagai pertanyaan dasariah soal peran negara dalam negara itu sendiri. Jangan sampai alih-alih mengutamakan kepentingan bersama, malah persoalan-persoalan yang ada dalam satuan terkecil masyarakat menjadi terlupakan, apalagi dengan sengaja diabaikan.

Nah, meski novel “Maryam” sudah terbit dan beredar di pasar sejak tiga tahun lalu, bagi anda yang belum membacanya, saya pikir layak menyisihkan uang jajan anda unuk membeli dan membaca buku ini. Mari kita belajar dari hal-hal yang terjadi di sekitar kita atau juga di tempat lain agar kita tidak mengulangi hal serupa atau membawa tindakan buruk itu ke lingkuntan terdekat kita. Selamat menikmati novel “Maryam”.
Cinta Rasa Konflik Agama dalam Novel Maryam Cinta Rasa Konflik Agama dalam Novel Maryam Reviewed by Travel Blogger on 21:24:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.