Batu Akik Di Parinseja

STEVEELU.com - Kenangan adalah reproduksi segala peristiwa yang mengalir terbata-bata ataupun deras dalam gigil kehidupan manusia. Di sini, sudah pasti peristiwa mengenang berhubungan dengan menyentuh masa lalu, mengelus-elus dada, memukul-mukul tubuh, mendambakan masa depan dan lain sebagainya. Kenyataannya, mengenang jika dibawa dalam tas ransel perjalanan hidup, membantu menjadi pedoman. Maka, makna setiap kenang berurusan dengan setiap orang. Demikian, di dalam rumah kenangan, masing-masing telah disediakan kamar untuk mengurus peristiwa hidupnya.

Parinseja merupakan salah satu ‘hamparan’ dari menenun kenangan. Steve Elu (selanjutnya disingkat SE) berhadapan dengan bantaran semua peristiwa yang hilir mudik mengalir deras atau terbata dari hulu ke sulu kehidupan. SE dalam Parinseja keasyikan membawa ke dalam lingkaran petualang penuh mimpi nuraninya. SE sebagaimana selanjutnya dibawa untuk menyaksikan laut yang sudi, sawah yang purba, maut yang penuh cinta, dan tanah kelahiran yang menjanjikan.

Mengukir ‘akik’ masa
Setiap batu ‘akik’ peristiwa yang ditemukan di dalam masa-masa tertentu adalah jutaan harapan yang dipergandakan dari cerita. Cerita adalah alasan, karena dan musabab yang terbentuk melalui miliaran titik yang diterbangkan bersama angin. Cerita mengitari kita sepanjang hari. Cerita menimbulkan gairah untuk lanjut hidup walau usia. Cerita adalah ejaan yang menyodorkan kebenaran-kebenaran dan fakta dari setiap perjalanan. Hidup manusia betapa pun pendek justru masa, cerita hidupnya tetap berada di cela, detak dan hentakan makhluk lainnya.

Pada mulanya, SE dalam Sane berbicara tentang sebuah pondok di tengah-tengah sawah. Latin: casa; untuk menyebut tempat peristirahatan pada waktu tertentu dan karena kebutuhan tertentu. Sane bukanlah rumah permanent yang mampu menampung semua tamu melainkan dengan ukuran yang sangat sederhana Sane dibuat hanya untuk istirahat pada waktu lelah atau panas pada waktu bersawah.

Di wilayah Dawan (Timor, NTT) dan masyarakat NTT pada umumnya, Sane (Pondok: Bahasa Dawan) adalah satu tempat yang dipertimbangkan kegunaannya jika berladang maupun bersawah. Sane akan disesuaikan baik tempat maupun bentuknya. Umumnya, Sane ditempatkan di kepala sawah, dan berbentuk dua air. Dengan Sane yang demikian, diharapkan agar kondisi panas ketika di dalam sawah mampu dipulihkan ketika berada di dalamnya. Sehingga, kita akan menjumpai Sane dalam keadaan lapang, hanya empat tiang lalu atap dua lembar daun lontar ke bawah tanah. Perlu diakui, Sane terdapat berbagai bentuk. Akan tetapi bahwa tempat dan bentuknya sedapat mungkin memberi kesejukan dan kesegaran. Sane maksimal, kelebihannya adalah ketika angin sepoi- sepoi berhembus, orang yang di dalamnya seperti hendak kerja lagi karena tenaga yang terkuras pada waktu mengolah tanah ataupun tanaman sudah ditambahkan kembali.

Bahwa Sane ketika mengawali Parinseja, sejak itu SE menghampiri kita  dengan menyediakan berbagai ‘akik’. Pelintasan selanjutnya sungguh-sungguh ‘akik’ benaran. Bukan untuk lawan-tanding, ‘akik’ masa benaran itu. Misalnya,

ramadhan

bertahun-tahun berlalu
gerbang itu melebarkan sayapnya menyibak jalan menuju kenangan

dan kita tiba di situ
setelah menempuh perjalanan yang kita sebut ziarah
yaitu menysul Tuhan di ladang keinginan

marilah kita bersalam-salaman mengucap maaf lahir batin
sebelum garis gerbang itu terlangkahi

sebab, setelahnya, ialah sukacita

Adakah kerudung Parinseja? Tentu saja ada. Mitos milik Suku Kaesmetan di Oepoli, Kec. Amfoang Timur, Kab. Kupang menyiangi hari-hari perjalanan kalah seorang wanita-perempuan di depan laki-laki. Dalam hubungan sosial, sosok perempuan seperti daerah Dawan pada umumnya, termasuk Oepoli menegaskan keistimewaannya di urusan belakang yakni dapur, sumur dan tikar. Posisi yang diduakan bagi perempuan ini sampai hari ini dipandang tidak masalah. Tidak ada yang kemudian dikatakan direndahkan. Bahkan kerudung Parinseja justeru terletak di sini. Inilah sebenarnya mahkota perempuan. Inilah pula persembahan diri perempuan. SE sudah jauh memasuki kerudung dari Parinseja pada waktu mitos itu benar-benar diuji melalui logos. Coba kita ke

kedatangan puisi
:

kedatangan puisi
.  .  .  .
“pejamkan mata. Bertamasyalah ke taman puisi.
Ia sendiri yang akan menuliskannya untukmu”

Kerudung Parinseja adalah keselamatan di tengah-tengah himpitan. Adalah angin  segar ketika panas tegar. Adalah oase di tengah padang gurun. Adalah, adalah. Jadi, taksasi puitik yang dikumandangkan oleh SE benar-benar hasil dari Parinseja. Parinseja ketika itu adalah mitos, kini adalah permata dari seluruh diri, nurani dan kedalaman suasana batin. Itulah mutasi puitik, ransangan yang amat dasyat dari Parinseja. Ransangan yang memberikan trans baik transimaji maupun transliterasi. Untuk memahami dengan baik peristiwa trans yang ada, Parinseja cukup unik membahasakan imaji dengan literasi puisi yang padu. Misalnya, tidak mudah dan akan lekas kaku apabila peristiwa trans itu hanya:

untuk di kenang

dua utas rindu dalam nadi
bergegas cepat melintasi gunung-gunung
dan bukit-bukit yang tumbuh jauh di dalam jiwa keduanya mencari tanah yang subur
untuk menaburkan sabda dari mata gadis-gadis waktu agar sabda itu mekar jadi puisi
yang akan dikenang oleh anak-anakku suatu ketika,
dalam kitab ayah

Sekumpulan kesaksian
Parinseja juga merupakan sekumpulan kesaksian tentang kesaktian yakni suanggi, menuju sepe naek, ke bintang, wasiat kekasih dan melukis kekasih. Kesaksian (Lat: martir) dari kesaktian oleh SE dilihat dalam pertautan antara kenyataan dan keadaan. Dalam kehidupan, apa yang nyata tidak mesti ada; apa yang ada tidak harus nyata. Berhadapan dengan kenyataan dan keadaan seperti ini, sebagaimana kesaksian dari Parinseja, kita mesti menerima. Bukan pasrah rela melainkan ikhlas (legawa) dengan sisi lain kehidupan seperti itu sebab menduakannya adalah penolakan terhadap Parinseja itu sendiri, mitos itu sendiri termasuk diri kita sendiri.

Akhirnya, pada dasarnya, Parinseja yang dibawa dari seluruh remukan nurani adalah salah satu benang untuk dimasukkan ke dalam tenunan budaya Indonesia. Hal yang membanggakan kita pada waktu Parinseja bukan karya orang lain melainkan anak NTT. Salam.


*). Deodatus D. Parera lahir di Oepoli 25 Juni 1990. Anggota Komunitas Sastra Dusun Flobamora ini pernah mengikuti Temu Sastrawan Indonesia Timur (Larantuka, 2013) dam Temu Sastrawan NTT 1 (Kupang, 2014). Tulisannya tergaung dalam Antologi Cerpen Wanita Sepotong Kepala, Penfui, 2012. Tulisan Cerpen dan puisi-puisinya dapat dijumpai pada Majalah Sastra SANTARANG dan beberapa media lokal NTT. Sedang berpastoral di Yayasan Swastisari Kupang.

Batu Akik Di Parinseja Batu Akik Di Parinseja Reviewed by Travel Blogger on 14:44:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.