Benang Merah: Bangku Panjang Dua Peradaban



STEVEELU.com - Ketika memilih kata “peradaban” untuk saya semat sebagai judul tulisan ini, saya sempat mengecek arti kata “peradaban” di situs artikata.com. (Ya, saya sering memakai situs ini untuk mencari atau belajar arti sebuah kata dalam bahasa Indonesia). Di situ terdapat penjelasan bahwa “peradaban” memiliki dua arti. Pertama, kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin: bangsa-bangsa di dunia ini tidak sama tingkatnya. Kedua, hal yg menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa. Lantas arti atau makna ini meyakinkan saya untuk saya letak sebagai konteks besar pembacaan saya terhadap novel “Benang Merah”.

Saya memilih kata “peradaban” sebagai bangku panjang untuk menduduk-sampingkan dua kota yang menjadi tempat penggarapan novel “Benang Merah” karya Unu Ruben Paineon. Dua kota yang dimaksud adalah Yogyakarta dan Kefamenanu (Timor). Mengapa saya memilih sebuah bangku panjang untuk menduduk-sampingkan kedua kota ini? Hemat saya, juga latar yang bisa kita temukan dalam novel ini adalah kisah seputar aktivitas di dua kota tersebut. Mereka berada di satu bangku, namun jauh berbeda dalam konteks peradaban. Yogyakarta sangat berbeda dengan Kefamenanu, meski mereka ada dalam satu bangku panjang yaitu Indonesia. Cara bertutur, bahasa, dan pola laku orang yang lahir-besar di Yogyakarta sungguh jauh berbeda dengan orang-orang yang lahir-besar di Kefamenanu. Tak sedikit pula kita sering berasumsi bahwa Yogyakarta lebih maju dari Kefamenanu. (Saya menyebutnya asumsi karena masih bisa diperdebatkan).

Saya juga sempat menduga bahwa mungkin Unu Ruben ingin membuat pembedaan dari segi bahasa komunikatif antara dua kota ini. Hal yang paling saya rasakan adalah di tiap pembuka bab atau bagian, Unu Ruben memakai gaya bicara yang ‘Jogja’. Jenis kata yang langsung bisa ditunjuk adalah “aku” sebagai pengganti subjek cerita (Kolo). Namun, ketika masuk ke percakapan harian Kolo bersama rekan-rekan kosnya, Unu Ruben malah memakai gaya tutur Kefamenanu (Timor) dan sedikit Papua saat menghadirkan komunikasi antara Kolo dan Meshak.

Sebetulnya saya merasa terganggu dengan dua pendekatan ini. Jika memang Unu Ruben ingin bercerita soal Kolo dan segala keotentikannya, mengapa tidak sekaligus memakai gaya tutur Kefamenanu (Timor) sejak awal. Toh, semua rekan Kolo yang menjadi tokoh dalam novel ini adalah orang-orang yang berasal dari rumpun tutur yang hampir serupa.

Dugaan saya selanjutnya adalah Unu Ruben ingin mempertahankan lokalitas Kolo (asal) dan Yogyakarta sebagai tempat Kolo menuntut ilmu (tanah rantau). Jika hendak mempertahankan konteks lokalitas ini, saya pikir cerpenis berbakat Cristian Dicky Senda sudah melakukannya dengan sangat baik. Dalam cerpen-cerpennya, ia benar-berar memadukan konteks lokalitas dengan gaya tutur ‘nasional’ yang mudah memberi rasa aman bagi pembaca di luar konteks lokalitas itu.

Potret Kedaerahan
Hal penting yang saya pikir menjadi bingkai keseluruhan novel ini adalah portet kedaerahan. Konteks masa lalu Kolo di Kefamenanu (bahkan Pulau Timor) sangat kental dan hampir menyebar di seluruh bab novel. Sementara potret Yogyakarta hanya terdapat di bagian satu dan dua. Memang benar, bahwa kisah keberadaan Kolo di Yogyakarta selalu terasa di awal tiap bab. Hanya saja, kisah masa lalu Kolo, Meshak, Niko dan rekan-rekannya yang lain selalu membawa imajinasi pembaca untuk kembali ke daerah asal mereka. Sehingga, boleh jadi, yang akan terekam baik di benak pembaca novel “Benang Merah” ini adalah konteks kedaerahan dari masing-masing tokoh. Yogyakarta hanya sebatas penjelas kerberadaan Kolo dan teman-temannya.

Unu Ruben juga menggunakan istilah atau aneka permainan yang sangat khas Timor. Saya sungguh tertarik pada bagian ini. Meski tidak berbanding lurus, menarik untuk mencermati apa yang menjadi pilihan permainan masa kecil Kolo dan masa ‘sekarang’ Kolo. Di Kefamenanu, Kolo menghabiskan masa kecilnya dengan memainkan permainan-permainan yang langsung bersentuhan dengan alam. Sikanolo (perosotan) dan tune nise (kelereng) adalah cuplikan permainan khas anak-anak Timor. Belum lagi ditambah lagu “Hit Nuakit Fe Liana”. Sementara ketika sudah di Yogyakarta, permainan Kolo saat mengalami kejenuhan di kos dan kampus adalah jalan-jalan ke Mall, tempat-tempat nongkorng dan tempat pelacuran. Dalam bahasa Unu Ruben tempat terakhir ia sebut dengan istilah ‘Pasar Kembang’.

Dari sini saya melihat bahwa Unu Ruben sengaja menampilkan dua sisi yang berlainan, dua potret kebudayaan atau peradaban dari dua tempat yang sangat berbeda dan turut membentuk orang-orang yang hidup dan tinggal di situ. Dan, sekali lagi keduanya tetap berada di satu bangku panjang yaitu Indonesia. Maka bagi saya, novel ‘Benang Merah’ bukan hanya sebatas karya fiksi tetapi perihal kebudayaan di suatu tempat yang dikisahkan dalam bentuk karya prosa.

Belum Selesai
Di akhir pembacaan saya atas ‘Benang Merah’ ini, saya merasakan masih ada yang kurang. Tentu saja ini murni sudut pandang saya. Ada beberapa hal yang menjadi dasar acuan saya. Pertama, kisah perjumpaan Kolo dengan Mega tak terbahas tuntas, apakah akhirnya mereka benar-benar menjalin hubungan serius ke tingkat yang lebih tinggi. Malah pada bagian ini terselib lagi satu asumsi saya. Mega berasal dari keluarga campuran: ayah Flores – ibu Yogyakarta. Apakah ini hanya bumbu yang ingin diselibkan Unu Ruben dalam novel ‘Benang Merah’? Jika Unu Ruben memang ingin konsisten menggambarkan dua perbedaan peradaban antara Timor dan Jawa, baik kalau Mega yang membuat hati Kolo menggebu-gebu itu adalah murni orang Jawa: ayah-ibu berasal dari peradaban Jawa. Maka, jika hubungan keduanya berlanjut ke jenjang yang lebih serius, hal ini bisa jadi acuan tempat realisasinya kebhinekaan Indonesia. Cinta tidak tunduk pada perbedaan suku, agama, ras, budaya, bahkan peradaban tertentu.

Kedua, perihal kematian ayah Kolo masih menyisakan pergulatan panjang. Apakah memang ayahnya mati dibunuh karena ia adalah pencuri atau adanya unsur penyingkiran untuk tujuan tertentu? Di bagian akhir novel, halaman 198-200, sempat terbersit cerita larangan ibu agar Kolo tidak lagi menjalin hubungan dengan Arini. Khusus di halaman 199, Unu Ruben sempat mengisahkan bahwa dendam Kolo terhadap larangan itu masih menyesakan dadanya. Nah, pertanyaannya adalah apakah karena keluarga Arini tidak merestui hubungan anaknya dengan Kolo, dan Kolo tetap nekat sehingga jadi penyebab pembunuhan terhadap ayah Kolo sebagai jalan pintas memisahkan dua pasangan ini? Saya hanya menduga-duga karena Kolo sendiri dalam novel tidak pernah tahu siapa pembunuh, alasan ayahnya di bunuh, dan apa yang dicuri ayahnya.

Ketiga, konteks Meshak, si anak asal Papua itu, yang melancarkan protes secara tegas akan pengerukan hasil alam tanah Papua dan dibawa ke Jawa atau ke negara lain menjadi kisah yang menarik untuk diurai lebih lanjut. Dari cara menyajikannya, Unu Ruben membuka ruang yang sangat besar untuk penceritaan lebih lanjut mengenai hal ini. Sejurus dengan itu, penyebab kematian ayah dan ibu Meshak di tempat tambang emas dan tidak ada pihak yang bertanggung jawab pun tetap menjadi kisah yang bisa dikembangkan. Karena bagi saya, kisah-kisah seperti ini adalah potret lokalitas dan persoalan-persoalannya yang tidak pernah selesai atau tuntas diurus negara. Lantas yang menjadi korban adalah Kolo dan Meshak yang rela menahan lapar dan berderai keringat di tengah himpitan keterbatasan untuk menyelesaikan kuliah.

Akhirnya, apakah kisah nanggung  ini merupakan salah satu kekurangan novel ‘Benang Merah’? Saya tidak tertarik untuk melihatnya demikian. Saya lebih melihatnya sebagai kemungkinan untuk lahirnya novel lanjutan sebagai sambung lidah, khusus problematika lokalitas dengan segala atribut kebudayaannya, dari novel ini. Kita tunggu semoga Unu Ruben masih punya energi yang cukup untuk melahirkan karya lanjutan dari novel ‘Benang Merah’ ini.

Steve Elu
Benang Merah: Bangku Panjang Dua Peradaban Benang Merah: Bangku Panjang Dua Peradaban Reviewed by Travel Blogger on 19:15:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.