Pablo Neruda : Peraih Nobel Sastra 1971

steveelu.com - Sebuah puisi yang sangat terkenal dari Pablo Neruda berjudul 'Kelahiran'. Di puisi ini, ia mengisahkan kelahirannya. Begini kutipan selengkapnya:

Seorang manusia telah lahir di dunia
di antara banyak
manusia yang dilahirkan
dia hidup membaur  dengan mereka
yang telah ada sebelumnya,
dan tak menggenggam sejarah
hanya pertiwi,
Chile bagai pusar bumi, di mana
gudang minuman anggur mengkerutkan rambut kehijauan
buah anggur dipintal cahaya
minuman anggur lolos dikonsumsi warga
Parral nama tempat itu
di situ aku dilahirkan
pada musim dingin

Hujan dan Angsa
Sepenggal puisi Pablo Neruda di atas berjudul "Kelahiran" dari sebuah buku "Pablo Neruda, Memorial von Isla Negra". Parral, sebuah desa di Cile selatan, adalah tempat Pablo Neruda dilahirkan. Di desa itu terdapat hamparan tanaman anggur yang menggunung. Pasangan José del Carmen yang berprofesi sebagai masinis kereta api dan Rosa Neftali Basoalto, seorang guru sekolah dasar, telah melahirkan seorang penyair terkenal pada tanggal 12 Juli 1904. Bayi itu diberi nama Neftali Ricardo Reyes y Basoalto.

Ketika bayi itu masih berusia enam minggu, ibunya meninggal karena penyakit tuberkulosis. Sedangkan kakek bayi itu, yang bernama Don José Angel Reyes, hanyalah seorang petani kecil yang memiliki sepetak kebun, tapi punya anak banyak. Kemudian, Jose del Carmen pada tahun 1906 berpindah ke kota Temuco dan kawin lagi dengan Dona Trinidad Candia Marverde. Ketika penyair muda ini menginjak usia 14 tahun, dia mulai liar membaca buku-buku dengan melompat-lompat. Bacaannya mulai dari buku Jules Verne hingga buku-buku Vargas Vila, Strindberg, Gorki, Felipe Trigo, Diderot, Rimbaud, Lautréamont, Whitman, Majakowski, Aragon, Breton, Apollinaire, dan Trakl.

Pada tahun 1920 dia tamat dari sekolah menengah atas.  Pada bulan Oktober tahun yang sama dia terpaksa harus mengubah nama aslinya, Neftali Ricardo Reyes y Basoalto, menjadi nama samaran, Pablo Neruda. Alasannya karena kecurigaan ayahnya pada puisi-puisinya yang dimuat di media. Secara tak sengaja dia mengambil nama seorang sastrawan Cheko, Jan Nepomuk Neruda (1834-1891).

Kemudian Neruda terpilih sebagai pimpinan media sastra "Ateneo Literario". Pada usia 16 tahun dia telah memenangkan lomba menulis puisi dan mendapat penghargaan tertinggi. Neruda menceritakan, betapa dia merasa malu dan takut bertemu Gabriela Mistral, seorang kepala sekolah perempuan. Mistral memberi Neruda hadiah buku-buku sastrawan Rusia antara lain karangan Tolstoi, Dostojewski dan Chekow. Belakangan justru ketiga penulis Rusia itu menjadi bacaan favoritnya.

Setelah itu Neruda melanjutkan belajar ke Santiago de Cile. Pada buku berjudul "Aku mengakui bernama NERUDA, aku telah hidup" (Ich bekenne NERUDA ich habe gelebt) dikisahkan masa kecil Neruda yang suka berkelahi, namun lemah dan kurang cerdik. Masih pada buku itu disebutkan bahwa salah satu kenangan masa kecilnya yang tak pernah dilupakan adalah pada hujan. Hujan yang sebulan penuh, bahkan setahun tanpa henti. Neruda mengintip dari jendela rumahnya. Jalan di depan rumahnya digambarkan berubah menjadi lautan lumpur. Rumah-rumah penduduk miskin terendam banjir dan terapung seperti kapal. Gunung api Llaima bangkit dan bumi bergetar.

Kepekaan Neruda bukan hanya pada alam, tapi juga pada unggas. Di masa kecilnya dia merasa tidak pernah belajar menulis puisi. Akan tetapi, ketika dia berada di danau Budi dekat laut Puerto Saavedra, tiba-tiba dia diberi seekor angsa yang hampir mati oleh seorang pemburu. Angsa itu dia rawat lukanya dan disuapi dengan roti dan tumbukan ikan. Berkali-kali dalam sehari dia membawa angsa itu ke sungai lewat lorong yang sempit dan dibawa pulang ke rumahnya lagi. Angsa itu sebesar tubuhnya sendiri.

Setelah 20 hari, angsa itu sembuh dan bisa berenang bersama-sama. Neruda menunjukkan dasar sungai yang berbatu dan berpasir serta menunjukkan ikan yang tubuhnya mengkilat seperti perak. Angsa itu mengira Neruda sebagai temannya sendiri.  Angsa dengan leher yang hitam, diibaratkan seperti kain sutera. Paruhnya berwana oranye serta matanya merah. Sungguh seekor angsa yang indah. Namun matanya tetap sedih menunggu ajal. Kegelisahan Neruda memuncak dan mendorongnya untuk membuat coretan-coretan tangan.

Dia mengakui hasil coretan-coretannya menjadi terasa asing dan berbeda dengan bahasa sehari-hari. Itulah puisi awal Neruda. Dia menulis dengan perasaan was-was yang dalam, antara rasa takut dan kesedihan. Setiap hari dia mampu menulis antara dua sampai lima puisi. Biasanya dia menulis menjelang malam, ketika matahari akan terbenam. Dia menulis di teras rumah. Oleh sebab itu, buku pertamanya tahun 1923 terbit dengan judul "Fajar dan Senja" (Crepusculario).

Dia menjual mebel satu-satunya yang dimiliki dan menggadaikan jam pemberian ayahnya. Uang itu dia gunakan untuk membiayai penerbitan buku perdananya. Sering kali dia bertengkar dengan penerbitnya. Penerbitnya keras hati, tak boleh satu eksemplar pun dibawa, sebelum lunas semua. Tapi, Neruda cukup gembira. Pada tahun 1924 disusul karya keduanya yang berjudul "Dua Puluh Puisi Cinta dan Sebuah Lagu Kebimbangan" (Veinte poemas de amor y una cancion desesperada).

Di Batavia

Antara tahun 1927 - 1932 Neruda bertugas sebagai konsul Cile di Asia, antara lain Rangun, Colombo, Batavia, dan Singapura. Kedatangan Neruda pertama kali  di Batavia menyimpan kisah konyol dengan pelayan hotel. Ketika itu dia hendak menulis telegram untuk pemerintahnya di Cile karena kedatangannya ditolak oleh pejabat Belanda. Tiba-tiba tintanya habis. Neruda memanggil seorang pelayan hotel untuk meminta tinta dengan memperagakan sebuah pensil di tangan sembari berkata,"Ink, ink." Pelayan hotel berseragam putih tanpa alas kaki itu hanya bengong, tidak mengerti arti bahasa Inggris "Ink". Maka, ada tujuh atau delapan pelayan hotel berdatangan. Ketika Neruda mengulangi berkata,"This, this." Kontan seperti suara kor mereka berucap ramah,"Tinta! Tinta." Akhirnya Neruda baru sadar, ternyata bahasa Spanyol "Tinta," juga sama dengan bahasa Melayu.

Tak lama tinggal di hotel, Neruda berpindah ke rumah barunya di jalan Probolinggo. Dia bertugas sebagai konsul baru  negeri Cile dan merasa berakhirlah petualangannya mengelilingi dunia. Setelah dia berkenalan dengan Maria Antonieta Agenaar, gadis blasteran Belanda-Melayu kelahiran Jawa. Pada tahun 1930 gadis itu akhirnya resmi menjadi istri Neruda.

Pada film berjudul "Porträt des südamerikanischen Dichters" ditayangkan figur Maria Antonieta Agenaar ini sebagai wanita yang tinggi dan cantik. Di film itu juga disebutkan, kalau Neruda sempat beberapa bulan tinggal di Batavia tanpa kegiatan berarti dan hanya membaca buku Proust berulang-ulang selama empat kali. Perkawinannya juga dia kabarkan kepada bekas pacarnya, Albertina Rosa, yang punya nama muda Angel Cruchaga Santa Maria. Pada buku "Surat-Surat Cinta Pablo Neruda pada Albertina Rosa" (Pablo Neruda Liebesbriefe an Albertina Rosa) terdapat tiga surat yang ditulis dari Batavia. Salah satu surat itu seperti berikut:                                                         

Batavia, Jawa, 26 Januari 1931

Angel sayangku, terima kasih atas bukumu yang indah dan lengkap serta suratmu. Aku tulis sesuatu untukmu, yang akan aku kirim ke media sastra "Atenea". Aku sudah kawin. Demi aku, sebarkanlah persembahan foto istriku yang cantik ini kepada media "Zig-Zag". Di kalangan pertemanan di Cile mungkin aku dinilai negatif. Harus kukatakan, bukan karena apa, tetapi karena sebuah rasa kecintaan. Istriku tentu sudah kenal sekali denganmu. Wajahmu meyakinkan di rumah itu. Bila sudah terbit, kirimkanlah untukku dua eksemplar media "Zig-Zag." Tetapi jangan lupa, bahwa kamu bisa merusak sebuah keluarga yang damai !Marahkah kamu? Pablo Neruda.

Tahun 1934 Neruda beserta istrinya berpindah tugas ke Barcelona dan di Spanyol mereka dikaruniai seorang anak perempuan bernama Malva Marina. Pada waktu yang sama Neruda berkenalan dengan Delia del Carril, seorang perempuan asal Argentina. Kedatangan Neruda ke Spanyol sebetulnya tanpa memberitahukan siapapun. Namun, Federico Garcia Lorca, sahabatnya, tiba-tiba sudah menjemputnya di stasiun kereta api sambil membawa karangan bunga. Persahabatan kedua penyair itu makin akrab. Mereka sering berjalan-jalan ke sebuah taman. Dan mereka bermain sandiwara di taman itu. Neruda mengakui banyak belajar dari Lorca.

Tahun 1936 pecah perang saudara di Spanyol. Neruda menyaksikan banyak peristiwa tragis dan dia mengkritik rezim fasis Franco. Akhirnya Neruda ditarik dari jabatan sebagai konsul Cile di Spanyol. Pada saat yang sama dia bercerai dengan istrinya yang berasal dari Indonesia.

Tiga tahun kemudian, tepatnya tahun 1939 dia bertugas sebagai konsul Cile di Paris. Di Paris dia mengorganisasi pengungsi Spanyol untuk diberangkatkan ke Cile dengan kapal barang "Winnipeg".

Kemudian, Neruda diangkat sebagai konsul jenderal di Meksiko. Tak berapa lama kemudian anak perempuan Neruda yang sering sakit-sakitan meninggal pada usia delapan tahun. Pada tahun 1945 Neruda resmi masuk partai komunis Cile. Dia pertama kali bertemu perempuan bernama Matilda Urruti. Sebagai penganut marxisme dia sempat bertemu Fidel Castro, namun hanya berangkulan akrab. Castro menolak untuk berfoto bersamanya.

Neruda sungguh tak mengerti akan sikap Castro itu. Dia membandingkan sikap Castro itu dengan sikap Che Guevara yang dinilainya cukup akrab dan suka berkelakar. Bahkan, Neruda terharu mendengarkan cerita Che, kalau salah satu karyanya dibacakan Che kepada para gerilya di Sierra Maestra di Kuba. Beberapa tahun kemudian Neruda gemetar mendengar Che meninggal. Apalagi dia diberitahu oleh Regis Debray bahwa di dalam ransel Che di hutan Bolivia hanya terdapat dua buku: buku Aritmatika dan buku karya Neruda.

Nasib buruk menimpa Neruda, partai komunis dilarang di Cile tahun 1948. Neruda bereksil ke Amerika, Eropa dan Asia (India dan RRC) dari tahun 1949 sampai 1952. Neruda sempat tinggal di pulau Capri, Italia bersama Matilda Urruti. Berkat kedatangannya di pulau Capri tersebut, belakangan muncullah sebuah film yang sangat terkenal di kalangan penyair, yakni berjudul "Il Postino." Pulau Capri di seberang kota Napoli itu pernah dipakai sebagai tempat eksil oleh Maxim Gorki antara tahun 1907-1913. Pada awal eksilnya, tahun 1949, Neruda mendapat undangan ke Rusia untuk menghadiri ulang tahun ke-150 penyair Puschkin. Tahun 1952 Neruda kembali ke Cile dari masa pengasingannya dan membawa 6000 buku. Lalu, buku-buku itu disumbangkan pada universitas Santiago de Cile. Tahun 1955 dia berpisah dengan pasangannya, Delia del Carril. Akhirnya, Neruda kawin lagi dengan Matilda Urutti pada tahun 1966. Selama kurun waktu itu sudah banyak karya Neruda dihasilkan dan diterbitkan. Sementara itu terjadi perubahan politik di Cile. Salvador Allende menjadi presiden Cile pada tahun 1970.

Pro-Kontra Nobel Sastra

Pada tanggal 21 Oktober 1971, Karl-Ragnar Gierow, sekretaris akademi Swedia, mengumumkan peraih nobel sastra bernama Neftali Ricardo Reyes y Basoalto, yang bertugas sebagai duta besar Cile di Paris. Sesaat para wartawan dan juru foto bingung, mereka tak pernah mendengar nama sastrawan tersebut. Tak berapa lama pidato diteruskan, ternyata nama samaran sastrawan itu adalah Pablo Neruda.

Selama 15 tahun Neruda dicadangkan sebagai peraih nobel sastra. Pertama kali pada tahun 1956, yang direkomendasikan oleh seorang profesor di fakultas sastra di Aix-en Provence, Prancis.  Neruda tercatat sebagai peraih nobel sastra ketiga dari kawasan Amerika Latin, setelah Gabriela Mistral dari Cile (tahun 1945) dan Miguel Asturias dari Guatemala (tahun 1967).

Keputusan akademi Swedia sering mengundang pendapat pro dan kontra di berbagai negara. Buku "Nobelpreis für Literatur" mengutip berbagai media, antara lain "Le Monde" di Prancis yang menyambut gembira. Koran nasional Swiss "Neue Zürcher Zeitung" menurunkan berita bahwa kinilah saatnya pemerhati karya Neruda memetik hasilnya. Di Inggris "The Guardian" menulis, sebuah humanisme murni, yang peka terhadap perang saudara di Spanyol dan tanggap terhadap kemiskinan.

Di Mailand koran "Corriere della Sera" mempercayai keputusan akademi Swedia tanpa kritik. Sebaliknya ada beberapa media yang mengkritik, antara lain "Le Figaro".  Media borjuis liberal di Prancis ini mengatakan bahwa politik kepenyairan kadang ikut berperan. Sebuah koran katholik "La Croix" di Prancis berkomentar bahwa nobel sastra adalah sebuah fenomena politik. Media ekstrem kanan Prancis "L`Aurore" menuduh peraihan nobel sastra oleh Neruda adalah sebuah kemenangan komunis internasional.

Lepas dari banyaknya pendapat yang berseberangan, Neruda dan Matilda menikmati masa-masa tuanya di sebuah bangunan rumah berarsitektur kapal di pinggir pantai pasifik. Rumah itu dia namakan "Isla Negra" (Pulau Hitam). Tiga bangunan yang langsung menghadap pantai menambah kedamaian hidup mereka. Mereka ditemani dua ekor anjing yang dibawa Neruda dari Cina. Kedua anjing itu diberi nama Panda dan Tschu Tu. Pada hari-hari akhir hidupnya Neruda mengatakan,"Aku selalu mengerjakan hal yang sama. Aku tak pernah akan berhenti melakukan hal itu, menulis puisi. Menulis bagiku seperti pekerjaan tukang sepatu, yang tidak makin baik atau makin buruk."

Neruda menganggap membaca dan menulis merupakan pekerjaan yang sama pentingnya. Akan tetapi, dia sangat tidak suka mencari definisi dan etiket pada sebuah karya. Apalagi membicarakan estetika yang  menurutnya sangat membosankan. Dia juga tak mau membandingkan karya atau pun menganggap rendah karya lain. Dia hanya merasa lahirnya sebuah karya sama asingnya dengan hasil karya itu sendiri. Neruda menyitir ungkapan dari Walt Whitman, "Aku tidak ingin pengaruh luar menguasaiku."

Pada tanggal 11 September 1973 Allende dibunuh di istana. Pergantian kekuasaan dengan cara kudeta oleh jenderal Augusto Pinochet sempat didengar oleh Neruda melalui radio di pagi hari. Dua belas hari berikutnya, tepatnya tanggal 23 September menjelang pukul sebelas malam, Neruda meninggal di Santiago de Cile, karena menderita penyakit kanker. Neruda dikuburkan di dekat rumahnya "Isla Negra."

Sumber: Kabar Indonesia
Pablo Neruda : Peraih Nobel Sastra 1971 Pablo Neruda : Peraih Nobel Sastra 1971 Reviewed by Travel Blogger on 16:30:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.