Kok Judul Kumpulan Puisinya: Parinseja?


STEVEELU.com - Katika buku kumpulan puisi saya yang kedua "parinseja" mucul, banyak orang yang bertanya, apa itu "parinseja"? Ya! Anda memang perlu bertanya karena kata parinseja tidak ada dalam kosa kata bahasa Indonesia. Lantas, dari mana saya menemukan kata itu?

Parinseja adalah judul dari sebuah dongeng yang berkembang di kalangan masyarakat Dawan di Provinsi Nusa Tenggara Timur, khususnya suku Kase Metan - suku dari ibu saya. Dongeng ini bercerita tentang seorang anak perempuan yang kelahirannya tidak diterima oleh ayahnya. Sebab, ketika istrinya sedang mengandung, yang diharapkan dari sang suami wkatu lahir nanti adalah anak laki-laki.

(Dalam suku Kase Metan, juga kebanyakan di Timor (salah satu pulau di NTT), laki-laki adalah ahli waris dalam rumah. Ia tidak hanya mewariskan harta orangtua, tetapi juga mewariskan marga. Maka kehadiran seorang anak laki-laki dalam sebuah keluarga bukan hanya sebatas pemberian Tuhan, tapi sesuatu yang diharapkan dengan sungguh, bahkan diperjuangkan.)

Tapi kenyataannya, yang lahir adalah anak peremuan yaitu Parinseja. Maka jelas bahwa ia bukanlah harapan sang ayah. Karena itu, ayahnya tidak mau menerima si Parinseja sebagai anggota keluarga. Untuk menyelamatkan hidupnya, sang ibu membuatkan sebauh 'rumah' sederhana di atas pohon kapuk di depan rumah. Parinseja kemudian menjalani hidupnya di atas pohon itu. Untuk makan dan minum, ibunya mencuri waktu mengantarkan atau memanggilanya untuk makan di antara pagi dan sore saat ayahnya sedang tidak ada di rumah. Kurang lebih, inilah ringkasan dongeng Parinseja.

Mengapa saya memilih kisah ini sebagai benang merah untuk kumpulan puisi saya yang kedua ini? Bagi saya, setiap kebudayaan selalu terwariskan dalam aneka cara. Ada dalam bentuk pola hidup dan laku, ada pula dalam bentuk dongeng, cerita lisan, lagu, jenis musik, dll.

Meski parinseja hanya sebatas dongeng, hemat saya, ia perlu diberi tempat penting dalam kumpulan puisi ini. Sebab, ia bagai representasi dari paham patriarkal yang masih sangat kental dalam suku ibu saya, juga dalam masyarakat NTT pada umumnya sampai hari ini. Selanjutnya pula ia akan menjadi cermin bagaimana laki-laki dan perempuan NTT membangun hubungan hingga pada keputusan berumah tangga.

Sampai pada titik ini, saya mau mengatakan bahwa kita masing-masing punya kewajiban untuk melestarikan budaya yang kita miliki. Tapi, kita tidak harus menutup mata bahwa warisan budaya dalam macam-macam rupa yang saya sebutkan di atas tadi tidak semuanya membawa pesan positif. Jika tidak ingin mengatakan bahwa itu salah, maka saya memakai istilah 'benar pada zamannya'.

Maka parinseja yang menjadi judul kumpulan saya ini memiliki dua wajah. Pertama, ia tampil sebagai pengkisahan ulang dalam bentuk 'kisah padat' atau puisi. Dengan demikian, tugas ahli waris dalam diri saya untuk melestarikan budaya yang telah saya terima dari ibu saya terjaga. Kedua, ia tampil sebagai korektor. Buku kumpulan puisi ini hadir sebagai koreksi bahwa semua warisan budaya tidak selamanya yang baik-baik saja. Ada unsur yang rasa-rasanya tidak tepat lagi untuk dihayati dan dilakonkan pada masa sekarang. Sebagai ahli waris, saya merasa perlu memberi koreksi. Pandangan patriarkat yang menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua dalam keluarga dan tatanan kehidupan bermasyarakat adalah ketimpangan besar yang perlu dikikis hari demi hari hingga habis.

Dalam kumpulan ini, memang tidak semua puisi membicarakan parinseja. Tetapi mereka hadir sebagai pertalian yang mewajah dalam bentuk relasi personal dengan orangtua, alam dan Tuhan. Juga, banyak puisi yang mengangkat kisah seputar peran seorang ibu dan anak perempuan dalam relasi manusia. Nah, di situlah benang merah yang berayun seimbang antara sisi yang satu dengan sisi yang lain: pelestari dan pengkorektor. Di langkah kanan ia melestarikan, di langah kiri ia mengoreksi. Atau pun sebaliknya.

Ke-80 puisi yang ada dalam kumpulan ini juga bukanlah "puisi berat" yang butuh waktu untuk ditafsirkan atau butuh energi sastra tertentu untuk menyelaminya. Puisi-puisi saya hanyalah 'narasi penuh rasa' yang coba saya hadirkan kembali suasananya, serupa seorang ibu yang sedang berdongeng kepada anaknya jelang tidur. Puisi-puisi saya adalah kata-kata yang memilih jujur pada dirinya sendiri. Mereka hadir dalam pikiran saya ketika saya berada di kos, kantor, bahkan di jalan, dan di saat seperti itulah saya menuliskan mereka.

Perjalanan mereka hingga 'satu-padu' dalam kumpulan ini sebetulnya mewakili kesibukan-kesibukan saya bekerja dan kekalutan-kekalutan saya merindukan suara ayah-ibu untuk berdongeng seperti masa kecil dulu. Maka kalau Anda berkenan memilikinya, saya sangat mengharapkan agar Anda tidak membacanya untuk mengerti 'apa sih' yang mau disampaikan lewat puisi-puisi 'jalanan' ini, tetapi rasakan dan resapi kata demi kata hingga ke titik di mana kita bisa bertemu dan sepakat bahwa suara ibu-ayah adalah musik paling terindah yang pernah ada. Saya sudah dekat ke titik itu. Kalau nanti Anda sudah sampai, mari kita berjabat tangan erat. Erat sekali.

Kos Bambu, 21 Maret 2015






Kok Judul Kumpulan Puisinya: Parinseja? Kok Judul Kumpulan Puisinya: Parinseja? Reviewed by Steve Elu on 03:01:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.