Hari Terakhir Di Pontianak dan Sovenir Khas Borneo

STEVEELU.com - Tidak terasa, petualangan saya di Pontianak, Kalimantan Barat selesai sudah. Malam nanti saya akan pulang ke Jakarta. Selama di Pontianak, saya tinggal di biara para Bruder MTB yang berada persis di belakang (atau boleh dikata satu kompleks) Gereja Katedral St Yosef Keuskupan Agung Pontianak.

Selama tujuh hari tinggal di sini, saya memperoleh pengalaman yang luar biasa. Meski saya tidak terlalu bisa mengarahkan tubuh saya mengikuti ritme harian mereka, toh saya tetap diterima dengan sangat terbuka. Contohnya, insomnia saya sering kumat sehingga saya tidak bisa tidur malam dan menyulitkan saya untuk bangun pagi. Sementara para bruder sudah melakukan doa pagi di pukul 04.45 WIB. Padahal di waktu itu saya baru mau pulas-pulasnya.

Maka hari terakhir ini, Bruder Maxi MTB dan Bruder Yohanes Vianey MTB mengajak saya untuk jalan-jalan mengunjungi salah satu komunitas mereka di Sintan, Pontianak. Untuk sampai ke sana, kami melewati Jembatan Kapuas I dan Jembatan Landak. Komunitas mereka ada di jalur menuju Tugu Khatuliswiwa atau arah ke Singkawang.

Tentu saja jamuan dan penerimaan ini meninggalkan kesan yang mendalam bagi saya. Bagaimana mereka menerima saya bukan sebagai tamu tetapi seolah-olah anggota komunitas mereka sendiri. Dan, tentu saja, bir dan tuak serta arak Kalimantan semakin menghangatkan obrolan hari terakhir kami itu.

Oh ya, sebetulnya saya juga ingin bercerita soal tempat pembelian oleh-oleh atau sovenir bagi para pelancong lokal yang datang ke Kota Pontianak ini. Di ujung Jl Patimura, yaitu jalan yang melintasi depan Gereja Katedral Pontianak, ada deretan toko yang menjual sovenir dengan khas Kalimantan Barat. Entah itu baju yang memakai motif dayak maupun batu akik yang lagi booming sekarang ini.

Tetapi karena saya memang tidak suka mengoleksi batu akik, maka saya mencari saja barang-barang lain yang menurut hemat saya menarik. Dari blusukan saya di sepanjang jejeran tokoh sekitar 500 meter itu, akhirnya saya bertemu barang yang bagi saya unik dan menarik untuk dimiliki.

Saya membeli sovenir replika tugu Khatulistiwa dan rumah adat dayak Kalimantan Barat. Di sepanjang toko-toko ini, selalu ada dua jenis sovenir ini, mulai dari ukuran yang paling kecil hingga yang paling besar setinggi sekitar 30 sentimeter. Yang ukuran sedang hingga besar kebanyakan sudah memakai lampu sehingga menarik mata jika lampunya dihidupkan.

Harganya pun berfariasi.Yang paling kecil berkisar Rp. 35.000 hingga yang paling besar sekitar Rp. 250.000. Kebetulan dana yang saya miliki terbatas, juka ingin yang sedang-sedang saja, maka saya membeli replika yang ukuran sedang seharga Rp. 85.000.

Selain itu, masih ada aneka ragam sovenir. Misalnya kain dan baju dengan bahan tenun dan motif dayak atau kaus oblong dengan sablon dayak yang dijual Rp. 30.000. Juga, seorang penjual yang saya kunjungi tokonya sempat menawarkan pedang atau golok khas Pontianak. Yang paling murah, artinya bilah goloknya tipis diberi harga sekitar Rp. 100.000.

Sementara satu pedang yang sempat saya lihat, tebal bilahnya sekitar dua sentimeter, dijual dengan harga Rp. 250.000. Namun sayang sekali saya tidak bisa membelinya karena saya tidak bisa membawa masuk ke dalam pesawat. Sebab barang bawaan saya hanya sedikit dan tidak memungkinkan saya untuk menggunakan jasa bagasi pesawat.

Ya seperti inilah kurang lebih pengalaman saya selama seminggu bertualang di salah satu bidang dari Bumi Borneo ini. Mungkin kalau ada teman atau siapapun yang akan datang jalan-jalan ke Pontianak, jangan lupa mampir beli sovenir di sini.

Pontianak, 10 Maret 2015
Hari Terakhir Di Pontianak dan Sovenir Khas Borneo Hari Terakhir Di Pontianak dan Sovenir Khas Borneo Reviewed by Steve Elu on 01:09:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.