Dari Kesulitan Menulis hingga Begal Motor

STEVEELU.com - Malam ini saya benar-benar kesulitan menemukan ide untuk saya tulis jadi puisi. Saya berusaha membaca status beberapa teman di facebook, membuka beberapa buku, membuka pintu kos lebar-lebar, tapi tetap saja ide untuk menulis tidak muncul juga. Di saat-saat seperti ini saya biasanya sangat stres dan tidak bisa tidur. Jadilah insomnia makin lama mulai mengakar.

Tiba-tiba saya ingat beberapa teman yang pernah bercerita kepada saya tentang hal seperti yang saya alami saat ini. Teman yang pertama, kami pernah bersama-sama di satu tempat kerja sekitar dua tahun yang lalu, pernah bercerita kepada saya bahwa ia sedang menulis sebuah novel tapi akhirnya berhenti karena tidak menemukan ide untuk menulis lagi. Rasanya mentok sama sekali. “Saya pengen ketemu orang atau ikut diskusi-diskusi sastra lagi supaya dapat ide untuk melanjutkan novel ini,” katanya waktu itu.

Ynag kedua, sekitar sebulan yang lalu, seorang teman baik saya, mengirim kabar apresiasi terhadap buku kumpulan puisi saya yang kedua, yang sebentar lagi akan terbit dengan judul “parinseja”. Katanya, “hebat ya mas. Bisa konsisten dan produktif.”

Setelah basa-basi sebentar, saya bertanya tentang rencananya menulis novel. Karena saya tahu bahwa ia pernah bercerita kepada saya bahwa ia sedang menulis sebuah novel. Sudah dua halaman. Ketika saya bertanya, ia mengatakan bahwa tulisannya berhenti di halaman ke delapan. Ia masih merasa ragu apakah novel ini akan bagus atau tidak. Ia merasa idenya tidak jalan. Lantas saya memotivasinya agar segera menyelesaikan novel itu. Soal bagus atau tidak, itu belakangan. Yang penting tulis dulu. Kami berdiskusi cukup panjang, meski hanya lewat BBM. “Saya tunggu ya. Akhir tahun ini (2015) saya ingin membaca novelmu yang sudah terbit,” tantang saya waktu itu. Dia menyanggupi.

Maka malam ini, ketika saya sukar sekali menemukan ide untuk menulis puisi, sontak ingatan saya mengarah ke kedua teman saya tadi. Mereka pernah mengalami masa-masa sulit untuk melanjutkan tulisan yang sudah mereka mulai. Sementara saya lebih parah. Belum mulai saja sudah mentok.

Ernest Hemingway, sastrawan pemenang Nobel Sastra 1954, punya jawaban untuk mereka yang mau menulis tapi tidak punya ide. Ia mengatakan, “Kalau Anda punya kesulitan untuk menemukan ide saat menulis, buka saja jendela lebar-lebar. Lihat ke luar sejauh mungkin. Dunia dan seisinya adalah sumber cerita dan setiap peristiwa adalah sebuah keajaiban.”

Saya terkagum-kagum akan ungkapan ini. Bagi Ernest Hamingway, menulis adalah mengalihkan pandangan mata ke bahasa tulis. Menulis puisi, atau karya sastra lainnya, bukan hanya melulu imajinasi fiktif belaka. Tapi ia memadukan antara kejadian dunia dan jangkauan bahasa dalam pikiran si penulis. Bahasa puitis dan imajinatif hanyalah baju dan celana yang dipakaikan oleh penulis kepada realita/peristiwa tertentu atau ingatan penulis akan peristiwa di masa lalu. Dan itu adalah fakta.

Masalahnya adalah sekarang jam 02.00 WIB dini hari Bung Hamingway. Di luar gelap sekali. Kalau saya membuka jendela ini untuk melihat ke luar dan menulis apa yang ada di seberang sana, jelas tidak mungkin karena di luar gelap sekali. Belum lagi, saat buka daun jendela pasti mentok ke tembok rumah tetangga. Juga, begal motor akhir-akhir ini makin banyak di Jakarta bung Hamingway. Siapa tahu mereka sudah tidak tertarik lagi merampok motor tapi merampok rumah. Matilah saya nanti. Kasian dong laptop tua saya ini harus mereka bawa pergi, meski kalau mereka berhasil menjualnya paling harganya sebanding dengan dua atau tiga bungkus rokok.


Ah iya, saya akan merampok kisah tentang para begal itu. Kisah mereka saja ambil sebagai bahan untuk menulis. Bagus, satu ide akhirnya saya temukan. Sudah saya catat dan saya akan menulis sesuatu, keculai status di facebook, tentang begal motor yang marak di Jakarta, atau Indonesia lebih tepatnya akhir-akhir ini.
Dari Kesulitan Menulis hingga Begal Motor Dari Kesulitan Menulis hingga Begal Motor Reviewed by Travel Blogger on 02:25:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.