Sepenggal Catatan untuk Novel "surat untuk ruth"

SETEVEELU.com - Sektiar awal tahun 2014, saya menemukan bahwa nama Bernard Batubara banyak diperbincangkan di media sosial, khusus di antara para pencinta puisi, cerpen, dan novel. Saya cukup yakin bahwa saya telat "mendengar" dan "melihat" Bernard. Ia sudah dikenal oleh khayalak pencinta buku tiga sampai lima tahun sebelumnya. Mengenal yang saya maksud di sini adalah perihal biografi dan karya-karyanya. Sementara perjumpaan langsung, belum pernah, termasuk ketika saya membuat catatan ini.

Perkenalan itu membawa saya untuk mencari-cari di mbah google perihal siapa Bernard Batubara. Bertemulah saya dengan blognya, bisikanbusuk.com. Di situlah saya mulai intens membaca puisi-puisi Bernard, kemudian cerpen dan novel-novelnya. Termasuk mengamati resensi beberapa pembaca tentang novel "surat untuk ruth".

Ketika melihat sampul novelnya, saya sangat tertarik. Sederhana dan menyenangkan. Ada keteduhan di sampul novel itu. Namun ketertarikan saya pada sampul tidak diiringi dengan kerja keras untuk mendapatkan novel itu dan membacanya. (Mungkin ini yang selalu menjadi kelemahan saya karena tidak ingin cepat-cepat bertindak kepada hal-hal yang hanya bersifat ketertarikan sesaat).

Baru setelah setahun, awal 2015, saya benar-benar ingin memiliki novel Bernard, "surat untuk ruth". Ketika saya membelinya, orang-orang malah sudah beralih memperbincangkan kumpulan cerpen terbarunya "Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri". Tetapi saya tetap berniat membelinya.

Saya menghabiskan satu minggu lebih sedikit tanpa henti untuk membaca novel ini. Bahkan, novel terbaru Paulo Coelho "Selingkuh" kalah pamor di tangan saya. (Saya membeli "selingkuh" bersama-sama dengan "surat untuk ruth", namun berhenti membacanya ketika baru sampai di halaman 30).

Kesan spontan yang muncul ketika membaca "surat untuk ruth" adalah jenius. Mengapa saya mengatakan demikian? Bernard menempatkan cerita seperti potongan-potongan yang ia tabur di setiap bab. Sehingga  bab yang satu seolah memanggil dan bab yang lain menjawab. Dan, di beberapa kesempatan, ia memberi jeda pada jawab itu dan baru muncul di bab-bab yang kemudian, di saat pembaca sudah beralih ke tempat dan suasana yang baru (seting atau lokasi novel). Artinya, antara panggil dan jawab tidak langsung tersambung.

Misalnya, soal becak darah pada sketsa yang dibuat oleh Ruth, mulai diperbincangkan di bab yang berjudul 'Keindahan yang Misterius' (hal. 30-45). Di bab berikut setelah bab ini, bercak itu hilang dari perbicangan. Yang muncul malah foto Ruth yang ada di laptop Abimayu. Praktis perhatian orang mulai beralih ke hubungan Ruth dan Abimayu.

Namun, saat pembaca atau saya lebih tepatnya, sedang panasaran untuk menemukan alasan keberadaan foto itu, Bernard menghadirkan kisah lain: perihal mimpi misteriusnya di kereta dalam perjalanan Surabaya-Yoyakarta. Setelah itu, kisah ini terpotong, dan beralih ke urusan kerjaan dan rencana perayaan ulang tahun LANSKAP.

Perihal jawaban untuk bercak darah itu baru muncul di bab "Rahasia" (hal. 131-137). Demikianpun mengenai jawaban soal siapa Abimayu dan bagaimana sehingga dia menyimpan foto Ruth di laptopnya baru terjawab ketika Are (si penulis surat) dan Ruth berada di "Ada yang Luput di Keheningan Ubud" (hal. 100-106).

Bagi saya, yang masih sangat pemula dan masih harus bekerja keras untuk memahami unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik sebuah novel, penyebaran potongan cerita ini menghadirkan rasa penasaran yang luar biasa, termasuk hati yang menggebu-gebu untuk melahab habis novel ini hingga tuntas. Dari sisi inilah saya menyimpulakan bahwa Bernard sangat jenius merancang novel ini. Dan saya tertarik untuk meraba-raba bagian persiapan Bernard saat merancang dan menulis novel ini.

Imajinasi dari saya perihal proses kerja novel ini adalah, Bernard membuat babak-babak (bagan) novel lalu menempatkan setiap potongan cerita, karakter, dan seting pada setiap bagan. Kemudian ia menarik garus lurus melewati bagan ini dan menggantungkan setiap bagian (bab) yang sudah ia rancang pada garis lurus itu. Kemudian, ia membuat garis lain untuk menghubungkan tiap bab tetapi tentu saja dengan hubungan yang tidak berututan. Tapi semua memiliki misi yang sama untuk tetap mengakar pada garis lurus yang pertama dan mengarah ke ujung garis lurus itu.

Imajinasi ini, bagi saya, sangat membantu saya untuk memahami proses Bernard merancang novel ini. Namun, bukan berarti imajinasi ini benar dan tepat. Metode yang dipakai penulis bisa saja berbeda. Namun hasil membacaan dan penelusuran proses saya pada novel ini setidaknya demikian. Hal ini sangat penting bagi saya, karena dengan semikian keseluruhan potongan kisah dalam novel tadi mengalir dengan lebih teratur dalam imajinasi saya. Sehingga, di suatu waktu, bahkan jauh setelah memabaca novel ini, bangunan cerita tetap melekat dalam ingatan saya karena justru saya menangkap persis dari akar, batang hingga daun-daun ceritanya.

Kesan lain setelah membaca novel ini adalah Bernard menyebar kutipan-kutipan bijaknya, jika hendak disebut demikian, di halaman-halaman novel dengan sangat tenang dan elegan. Mereka diletakkan hampir sebagai pengikat untuk setiap kisah. Tentu jumlahnya sangat banyak dan saya tidak mungkin menulisnya satu per satu di sini.  Hanya beberapa yang ingin saya cantumkan di sini.

Pertama, "Cinta, menurutku, adalah hasrat untuk memiliki. Sementara, sayang adalah keinginan untuk menjaga. Pada kondisi yang tidak bisa kujelaskan, sayang berada pada pengertian yang lebih serius daripada cinta. Cinta sesaat, sayang selamanya."

Kedua, "Aku mungkin bisa memeluk dan mencium bibir seseorang tanpa perasaan, namun aku tidak bisa menggenggam tangan seseorang tanpa merasakan apa-apa."

Ketiga, "Kenangan itu keparat, Ruth. Ia tidak akan berhenti menyerang kepalamu, bahkan semakin beringas tepat pada saat kamu berusaha melupakannya."

Ketiga kutipan di atas hanya sebagian kecil dari sekian banyak kutipan bijak yang sudah saya tandai di novel ini sebagai "Quot Bernard Batubara". Kehadiran mereka sangat penting dan anggun. Aha, saya menemukan lagi satu kata untuk membubuhkannya pada novel ini: ANGGUN. Dan, saya merasan sungguh-sungguh anggun karena telah membaca novelmu yang sangat menarik ini, Bernard.

Masih banyak hal dan pujian yang hendak saya tulis usai membaca buku ini, tapi baiklah saya mengakhirinya sebab pagi sebentar lagi akan datang. Semoga meraka yang sudah dan akan membacanya, merasa "anggun" seperti saya menyambut pagi dengan anggun bersama "surat untuk ruth".

kos bambu, 5 februari 2015
Sepenggal Catatan untuk Novel "surat untuk ruth" Sepenggal Catatan untuk Novel "surat untuk ruth" Reviewed by Steve Elu on 00:25:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.