Perjalanan Buku Kedua: Parinseja


STEVEELU.com - Sekitar November 2014, saya merampungkan kegiatan mengumpulkan dan menyortir puisi-puisi saya, yang saya tulis sesudah buku kumpulan puisi pertama, "sajak terkahir". Untuk kumpulan puisi yang kedua ini saya memberi judul "parinseja".

Parinseja adalah sebuah kisah dongeng dari suku asal mama saya, yaitu suku Kase Metan di Oepoli, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dongeng ini diceritakan oleh nenek dan mama saya ketika saya masih kecil. Secara ringkas, dongeng ini berkisah tentang kelahiran seorang anak perempuan yang tidak diterima oleh ayahnya. Sejak sang itrti hamil sang suami sangat berharap agar anak yang lahir nanti adalah seorang laki-laki. Sebab kepadanyalah segala harta akan diwariskan. 

Tapi, harapan itu tak terpenuhi. Bayi itu lahir perempuan. Maka sang ayah tidak menginginkan agar si bayi itu berlama-lama ada di rumah. Untuk menyelamatkannya, ibunya membuatkan tempat tinggal di atas pohon kapuk di depan rumah. Si puteri itu menghabiskan hari-harinya di atas pohon itu. Soal makan dan minum ia baru bisa memperolehnya saat sang ayah tidak ada di rumah. Yang menjadi unik adalah cara komunikasi antara sang ibu dan si puteri selalu menggunakan lagu. Jadi mereka sering berbicara melalui nyanyian. Bahasa yang digunakan pun serupa pantun.

Nah, bagi saya, dongeng ini menarik kerena punya nilai plus-minus. Cara pandang ibu dan ayah mewakili dua masab kebudayaan yang berbeda. Jika keputusan sang ayah mencerminkan kebudayaan patriarkat, maka sikap si ibu mencerminkan kebudayaan feminis yang mengusung pandangan bahwa laki-laki dan perempuan punya kedudukan yang sama. Sebagian besar puisi-puisi saya berada di antara dua pandangan ini. Saya berusaha mengkomunikasikannya agar setiap pembaca mengkritisi dan akhirnya mau mengikuti yang mana (membuat pilihan).

Puisi-puisi itu berserakan di laptop, facebook, hanphone, juga blog ini. Saya memang sering memanfaatkan media atau alat-alat seperti yang saya sebut sebelumnya untuk mencatat puisi-puisi saya. Sebab, seturut pengalaman saya, puisi-puisi yang saya tulis tidak lahir dari sebuah permenungan di tempat yang paling sunyi, tapi justru di sela-sela kesibukan saya bekerja atau bepergian. Tidah heran juga, ada puisi yang saya tulis ketika sedang berada di jalan. (Berhenti di tepi jalan lalu menuliskannya di handphone).

Setelah "sajak terakhir" lahir, saya memang mempunyai niat untuk menerbitkan lagi sebuah kumpulan puisi. Selain sebagai sarana berbagi kepada orang lain, saya juga merasa bahwa itulah salah satu jalan untuk mengapresiasi diri saya sendiri yaitu menghargai kerja keras saya yang sudah mau berkorban segalanya untuk belajar menulis puisi.

Setelah melalui proses lebih dari tiga bulan, akhirnya naskah itu siap. (Ya di November tadi). Lalu saya timbang-timbang, apakah kumpulan puisi ini akan saya terbitkan secara indie? Saya mulai mencari-cari penerbit yang bisa membantu. Bertemulah saya dengan Motion Publishing (KataBergerak) yang menurut informasi yang saya dengar bersedia menerbitkan buku-buku kumpulan puisi.

Dengan penuh yakin saya mengirimkan naskah saya, ditambah pengantar basa-basi, yang sebenarnya adalah berharap supaya Motion Publishing mau menerbitkan kumpulan puisi itu. Dua hari kemudian saya mendapat respon bahwa mereka sudah menerima naskahnya dan akan membacanya. 

Awal Desember 2014, mereka mengundang saya datang ke Kemang, Jakarta Selatan, dalam sebuah acara. Di sana saya mendapat informasi bahwa pada prinsipnya, naskah itu sedang dipertimbangkan untuk diterbitkan. "Silakan baca lagi sekaligus mengeditnya sehingga naskah yang akan diterbitkan nanti sudah benar-benar final," kata pihak penerbit.

Satu hari penuh di pertengahan Desember 2014, saya duduk di Perpustakaan Freedom untuk mengedit kumpulan itu. Lalu saya kembali mengirimkannya ke pihak penerbit. Diskusi via email dan Whatsapp dengan penerbit perihal berbagai pertimbangan terus berjalan. Di sana-sini harus ditambal, dihapus, diubah, dan segala macam. 

Terakhir, akhir Januari 2015, saya mendapat informasi bahwa buku sedang proses layout kemudian akan dilanjutkan dengan proses cetak. Mudah-mudahan perjalanan "parinseja" lancar. Jika tidak ada halangan, awal Maret 2015 nanti buku kumpulan itu sudah bisa dinikmati. Bagi mereka yang sudah menantinya, kuucapkan 'Selamat Merindu'.

freedom, 11 Februari 2015
Perjalanan Buku Kedua: Parinseja Perjalanan Buku Kedua: Parinseja Reviewed by Travel Blogger on 19:13:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.