Dunia Kerja dalam Kegelisahan Orang Muda NTT


STEVEELU.com - Saya tergelitik ketika membaca sebuah status seorang teman di Facebook. Demi originalitas dan hak cipta, saya mengutip status yang saya maksud sesuai aslinya meski saya tidak ingin menyebut nama pemiliknya. Bunyinya begini: “Terima kasih Tuhan Yesus, Bunda Maria dan Santu Yosef. Atas segala berkat dan karunia yang saya peroleh. Hari ini saya dinyatakan lulus CPNSD..”

Dari bunyi status ini, saya menangkap sebuah aroma syukur dari hati yang paling dalam dari si pemilik status karena berhasil lulus tes (atau mungkin juga audisi) Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah (CPNSD). Hampir dipastikan juga bahwa si pemilik status ini adalah seorang anak muda Nusa Tenggara Timur (NTT) dan pemeluk agama Katolik tulen, yang tampak pada penyebutan sosok Tuhan Yesus, Bunda Maria dan Santu Yosef. Sangat komplit.

Tersirat pula embusan lega karena sebuah perjuangan akhirnya membuahkan hasil baik dan sebuah penantian akhirnya terpenuhi. Pekerjaan sebagai PNS memang selalu dinantikan oleh banyak orang. Paling tidak tiap bulan terima gaji meski kualitas kerja selalu bisa diperdebatkan.

Akan tetapi, bagi saya, embusan rasa lega dan syukur ini menyiratkan sebuah kegelisahan panjang yang beberapa bulan terakhir sungguh mendera hati dan pikiran saya. Saya benar-benar merasa gelisah bahwa status ini boleh jadi menghimpun sedemikian opini pembacanya, khususnya teman-teman yang sedang kuliah, untuk menjadikan PNS sebagai target satu-satunya usai kuliah. Sebab pada kenyataannya, banyak lulusan sarjana di NTT mengimpikan PNS sebagai lahan empuk untuk memperbaiki nasib.

Badan Pusat Statistik Indonesia merilis jumlah PNS di NTT pada 2007 adalah 105.647 orang dengan rincian 66.142 laki-laki dan 39.505 perempuan. Pada 2013, jumlah ini meningkat menjadi 68.838 laki-laki dan 55.002 perempuan; total 123.840 orang.

Merujuk pada data di atas saya semakin gelisah. Akan menjadi berapa ratus ribu lagi jumlah PNS di NTT pada 2015 ini? Mengingat seleksi PNS baru berlangsung beberapa waktu lalu. Kegelisahan ini bukan berdasar pada persoalan sirik atau iri hati karena saya bukanlah seorang PNS. Atau pula karena saya ikut tes bertahun-tahun tetapi tidak lulus-lulus. Ini murni kekuatiran akan masa depan NTT dengan kompleksitas persoalan yang terjadi akhir-akhir ini. Bahwa banyak lulusan yang tiap tahun berlomba-lomba untuk ikut tes PNS. Kalau tidak lulus tahun ini, kita tunggu tahun depan. Itu terjadi berulang-ulang. Selama menunggu tahun-tahun tes PNS bergulir, mereka adalah pengangguran yang gelisah dan hidup tanpa arah.

Urbanisasi
Sembari menunggu jatah tes PNS di tahun yang akan datang, tidak sedikit pula yang memilih berpindah ke kota. Ada yang akhirnya bekerja di kota, ada pula yang hanya menikmati liburan. Begitu jadwal tes PNS dibuka maka ramai-ramai pulang kampung.

Bayangan akan realitas ini mengingatkan saya ke sebuah cerpen Gerson Poyk berjudul “Pengacara Pikun” yang pernah dipublikasikan di Kompas, 21 Juli 2013. Dalam cerpen itu, Gerson mengisahkan Dewi bersama suami dan kedua anaknya yang masih kecil meninggalkan kampungnya dan berangkat ke kota untuk mencari kerja. Keduanya adalah lulusan sarjana hukum.

"Kami datang untuk cari kerja di sini, Opa. Sarjana hukum seperti kami berdua sukar dapat kerja di daerah.” Begitulah alasah Dewi dan suaminya ketika menjelaskan asalan mereka berpindah ke kota kepada kakeknya. Mereka pindah karena di daerah tidak ada pekerjaan yang sesuai dengang disiplin ilmu yang sudah mereka gumuli bertahun-tahun.

Tapi, hanya jelang satu paragraf, Gerson menghadirkan lagi cerita Dewi yang menurut saya adalah kritik atas dirinya sendiri. ”Oh, Opa, musim kemarau panjang menyebabkan tanaman di kebun kering. Untung masih ada pohon lontar, gewang, dan kelapa sehingga niranya bisa disadap. Setiap hari kami masak gula, minum nira dan gula cair dan lawar cuka dari daun pepaya, kelor dan rumput laut, bercampur ikan, kerang dan gurita yang diambil ketika laut surut dan tertampung di pematang batu yang dibuat oleh kakek buyut. Kami kenyang, kami tak menganggap ada musim paceklik karena makanan tak pernah putus, tetapi anak-anak kami selalu menangis minta nasi dan roti. Kami menipu anak-anak dengan membelah kelapa yang telah tumbuh berpucuk kecil. Di dalamnya ada tembolok berupa roti,” Dewi menjelaskan.

Inilah yang saya maksud dengan auto-kritik tadi. Dewi mengatakan bahwa di daerah tidak punya pekerjaan tetapi kekayaan alam melimpah. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa punya kekayaan alam melimpah tapi tidak diolah untuk menghasilkan uang malah berangkat ke kota untuk mencari kerja. Bukankah mengolah hasil alam di kampung juga bagian dari bekerja?

Menurut saya, kisah ini sengaja dihadirkan Gerson untuk membombardir orang-orang muda NTT yang setelah lulus kuliah malah ramai-ramai ke kota untuk mencari kerja dari pada mengolah kekayaan alam yang ada di kampung. Sejurus dengan itu, orang-orang muda yang rela menunggu bertahun-tahun untuk lulus PNS sehingga bisa kerja adalah sebuah kekonyolan yang sedang mengerdilkan masa depan para lulusan baru NTT.  Sebab lagi-lagi pertanyaannya adalah mengapa tidak memakai ilmu yang sudah diraih dengan keringat itu untuk mengolah kekayaan alam di desa, dengan itu menciptakan lapangan kerja, tapi malah mengantri minta pemerintah menyediakan kerja.

Cara Pandang

Hal lain yang menurut saya turut melegitimasi pemiskinan pandangan akan dunia kerja adalah soal penampilan. Anak-anak muda atau lebih tepatnya lulusan-lulusan muda NTT, memandang status sosial seseorang berdasarkan penampilan. Jadi, seseorang baru dibilang kerja apabila memakai kameja, celana kain, sepatu mengkilat, dan dasi; berangkat kerja pukul 07.00 WITA dan pulang kerja baru Pukul 15.00 WITA atau lebih. Atau, mengenakan seragam tertentu dan bekerjanya di kantor.

Susah bagi akal sehat anak NTT untuk menerima bahwa seorang lulusan sarjana hukum bekerja di sawah, meski tiap kali waktu panen tiba ia berhasil menjual lebih dari 50 ton beras. Belum disebut kerja bila seorang lulusan sarjana teknik hanya mandi oli kotor di bengkelnya yang kecil, meski omset tiap bulannya mencapai 50 juta. Tidak layaklah bagi seorang lulusan perawat mandi keringat di jalanan hanya untuk pergi wawancara narasumber demi menyiapkan tulisannya tentang peduli kesehatan ibu dan anak.

Bagi saya, cara pandang inilah yang menjadi salah satu kontributor penting bagi cap “NTT adalah salah satu provinsi terbelakang, baik di bidang pendidikan, ekonomi, maupun kesehatan”. Cara pandang ini yang menjadi biang keladi pemiskinan kreativitas orang-orang muda NTT karena memandang dunia kerja secara sempit, hanya terletak pada seragam dan kantor.

Sejurus dengan itu, saya pun tidak heran kalau banyak gadis yang hamil tiap tahun di sekitar perbatasan Timor Barat dan Timor Leste karena gagap terhadap para pemakai seragam yang menjaga perbatasan. Mereka dengan mudah memberi kehormatan dan harga dirinya karena yang mereka impikan adalah punya suami memakai seragam. (Itu pun kalau pada akhirnya dinikahi. Tapi yang biasa terjadi adalah ditinggal setelah masa tugas selesai).

Rekonstruksi Pandangan
Dengan analisa kecil ini, hal yang perlu dilakukan pada tempat pertama adalah perubahan pola pikir dan cara pandang terhadap dunia kerja. Bekerja berarti melakukan kegiatan yang bisa mendatangkan penghasilan. Bukan bekerja berarti memakain pakaian rapi dan berangkat kerja dan pulang di jam tertentu. Status sosial dalam tata kehidupan masyarakat bukan ditentukan oleh dasi dan sepatu mengkilat melainkan makan cukup dan kesehatan terjamin.

Selain itu perluasan cakupan cara pandang terhadap lapangan kerja merupakan kebutuhan urgen saat ini. Seorang lulusan teknik informatika dengan basis komputer, tidak harus lulus PNS untuk mengajar cara mengetik yang baik di sekolah. Ia bisa membuka toko komputer atau layanan komputer berbasis internet. Seorang lulusan bidan bisa bekerja sebagai wartawan dengan fokus utama pada tulisan mengenai bagaimana seoarang ibu memanfaatkan vitamin yang terkandung dalam ubi kayu dan daunnya untuk kesehatan ibu dan anak. Ia bisa menjalin kerja sama dengan lulusan farmasi dan analis untuk membuat penelitian itu. Seorang lulusan sarjana hukum menggunakan pengetahuan hukumnya untuk mengurus perizinan bagi hak paten beras yang diproduksi oleh para petani. Ia bisa bekerja sama dengan para lulusan sarjana pertanian untuk menganimasi petani sehingga menghasilkan beras dengan kualitas unggul.

Peluang-peluang seperti ini, menurut saya, belum digarap atau boleh dikata belum tersentuh sama sekali oleh para lulusan muda NTT. Padahal ia merupakan lahan yang bila digarap dengan serius dan maksimal, dalam jangka waktu 10-15 tahun NTT bisa menghasilkan sumber daya manusia dan kualitas karya yang tidak kalah bersaing di tingkat nasional dan internasional. Tentu kita tidak ingin menanggung beban malu terus menerus terhadap hasil survei tiap tahun yang selalu menempatkan NTT sebagai provinsi paling terbelakang bukan? Maka lakukanlah apa yang bisa Anda lakukan sekarang.

Steve Elu
Dunia Kerja dalam Kegelisahan Orang Muda NTT Dunia Kerja dalam Kegelisahan Orang Muda NTT Reviewed by Steve Elu on 17:05:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.