Sifat Bahasa: Mengakomodasi Imajinasi Kenyataan



STEVEELU.com - Akhir-akhir ini beberapa orang mulai bertanya, mengapa dalam puisi-puisi saya kata ulang tidak dipisah dengan tanda penghubung sebagaimana biasanya. Misalkan, kata buah-buah, melayang-layang, dsb. Dalam menulis puisi, kata ulang selalu saya jadikan satu (tanpa tanda hubung/pemisah). Merujuk pada dua contoh di atas, maka saya sering menulisnya: buahbuah atau melayanglayang. Banyak orang menilai bahwa apa yang saya lakukan ini melanggar kaidah-kaidah Ejaan yang Disempurnakan (EYD) dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Secara sadar, tau, dan mau, saya ingin mengatakan ya. Saya melanggar aturan atau norma yang telah ditetapkan dalam EYD dan KBBI. Namun, bukan berarti saya melanggarnya tanpa alasan atau sekadar suka. Saya punya pertimbangan sendiri.

Saya berimajinasi bahwa kata ulang dipakai untuk menunjuk pada kegiatan yang dilakukan lebih dari satu kali atau benda yang berjumlah lebih dari satu. Pada kenyataan (lahiriah), yang lebih dari satu identik dengan kerumunan atau ketertumpukkan. Satu kegiatan yang dilakukan lebih dari satu kali pun merujuk pada penjumlahan yaitu kegiatan menyatukan ‘yang beberapa’.

Kemudian saya membawa imajinasi itu ke dalam bahasa tulis. Lebih dari satu yang menunjuk pada kerumunan dan ketertumpukan itu ingin saya injeksikan dalam bahasa tulus dengan ‘mengerumunkan’ atau ‘menumpukan’. Dengan demikian tanpa penghubung atau pemisah saya sisihkan.

Lama saya berasumsi bahwa seharusnya bahasa tulis atau kata yang digunakan untuk membentuk kalimat selayaknya mengandung sifat imajinatif terhadap realitas atau kenyataan. Artinya, kata-kata yang akhirnya dibubuhkan seminimal mungkin sepadan dengan kenyataan yang ada dalam kontekstual masyarakat. Dengan demikian, bahasa bukanlah sekadar sesuatu yang asing dan jauh dari masyarakat sehingga mereka membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mempelajarinya, melainkan penghirupan terhadap jiwa dan realitas yang ada di sekitar mereka.

Tanda penghubung hanya membantu kenyamanan dalam membaca. Seorang teman mengatakan bahwa tanpa tanda pengubung “refleks, membacanya jadi lambat”. Saya setuju dengan pendapatnya. Namun saya berpikir bahwa itu hanya karena kita sudah sekian lama terbiasa dengannya. Maka, ketika ada perubahan kita menjadi lambat, bahkan gagap mengucapkannya.

Senadainya sejak semula kata ulang tidak disertai tanda pemisah, sampai hari ini pun kita akan membacanya dengan sangat nyaman tanpa gagap. Asumsi saya, ini hanya soal kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang, dirasakan baik, lantas diciptakanlah norma yang mengatur tentangnya, sekaligus mengarahkan orang untuk mematuhinya.

Akan tetapi, jangan lupa bahwa bahasa adalah jiwa dari masyarakat yang menggunakannya. Bahasa membantu masyarakat untuk berimajinasi sekaligus aplikatif terhadap jalinan imajinasi pada kenyaan. Dengan demikian bahasa bukanlah sesuatu yang kaku namun jembatan ulang-alik antara imajinasi kenyataan dan imajinasi ciptaan pasca penghayatan bahasa. 
Sifat Bahasa: Mengakomodasi Imajinasi Kenyataan Sifat Bahasa: Mengakomodasi Imajinasi Kenyataan Reviewed by Travel Blogger on 14:39:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.