Jejak Gerson dalam Puisi-puisinya


STEVEELU.com - Nama Gerson Poyk sebetulnya tidak asing di dunia sastra Indonesia. Bagi para penikmat sastra koran, khususnya, harian Kompas, tentu beberapa kali menemukan nama Gerson tertera di rubrik cerpen terbitan hari Minggu. Terakhir, cerpen Gerson dimuat di harian Kompas, Minggu, 21 Juli 2013, berjudul “Pengacara Pikun”. Meski Gerson sudah lama menulis, saya baru pertama membaca karyanya justru pada cerpen ini. Setelahnya, barulah saya mulai mencari-cari informasi di “tuan google” soal biografi dan karya Gerson. Syukur bahwa nama Gerson sangat familiar di mesin pencari jenius ini, sehingga saya dengan mudah menemukan rekam perjalanan dan karya-karya Gerson. Selanjutnya, saya lebih banyak membaca Gerson sebagai penulis cerpen dari pada sebagai penulis puisi atau sajak.

Baru pada pertengahan Oktober 2014 yang lalu, saya bertemu dengan seorang kenalan dan dia bercerita bahwa dia sedang memproses penerbitan kumpulan puisi Gerson Poyk. Katanya, puisi-puisi itu ditulisnya di tahun 1950an. Tiga minggu kemudian, saat kami berjumpa lagi, dia “menghadiahkan” saya kumpulan puisi Gerson itu, yang ia cetak dengan judul “DARI ROTE KE IOWA”. Setelah kurang lebih seminggu bergulat dengan kumpulan puisi ini, maka kini saya menuliskan sudut pandang dan telaah saya mengenai puisi-puisi Gerson.

Kumpulan puisi “DARI ROTE KE IOWA” memuat 79 puisi yang ditulis Gerson sejak 1950-an (Pengatar, ix). Di lembar berikut tertulis “Puisi Pembuka”. Bunyinya:

Sepinya mercu menyala di keping tanah pulau
Menyalalah dalam bulatanmu

Kalau hanya secercah menyala, sepinya menyala bagi keluasan
Pengelana telah lama ditelan keluasan

Kedip mercumu hidup bicaralah tentang gejolak sepi pulau
Dan suara ria memeluk cahaya dipeluk cahaya

Berakhirpun hidup dalam keluasan
Hati ingin sibak mengisi keluasan

Pada bait pertama, Gerson membuka puisinya dengan kalimat “sepinya mercu menyala di keping tanah pulau”. Kemudian “nyala mercu” ini dipertentangkan dengan kata “keluasan”. Dan pada bait kedua baris pertama, Gerson menulis “Kedip mercumu hidup bicaralah tentang gejolak sepi pulau”. Di sini Gerson mengajak “nyala mercu” itu untuk bicara pada “sepi pulau”. Lalu pada dua baris di bait terkhir berisi keinginan dan harapan.

Dari isi puisi dan penempatan puisi ini sebagai puisi pembuka, dalam hemat saya, mempunyai suatu kisah unik sekaligus menghadirkan pesan mendalam. Terutama pada frasa-frasa ini: “nyala mercu”, “tanah pulau”, dan “keluasan”.

Setelah saya membaca beberapa sumber di “tuan google”, ada yang menyebutkan bahwa Gerson dilahirkan di Namodale, Baa, 16 Juni 1931. Rumah tempat Gerson dilahirkan letaknya tak jauh dari mercusuar. Itulah satu-satunya mercusuar di Pulau Rote pada masa itu. Rupa-rupanya mercusuar yang letaknya dekat rumah kelahiran Gerson inilah yang ia maksud ketika menyebut mercu dalam “Puisi Pembuka” ini.

Selanjutnya, saya menangkap bahwa maksud “keluasan” dalam puisi ini adalah rekam jejak Gerson sendiri. Dalam puisi-puisi selanjutnya ditemukan bawah “anak mercu dari pulau sepi” ini berkeliling hampir ke semua belahan Nusantara, bahkan hingga ke Amerika dan India.

Sebagai Rekam Perjalanan
Puisi-puisi Gerson tidak hanya ingin menyuarakan atau menyampaikan sesuatu tetapi dalam dirinya sendiri memuat rekam perjalanan penulisnya sendiri. Mengapa demikian? Karena, puisi-puisi yang ia tulis selalu memakai diksi dan simbol yang ada di sekitar tempat saat ia berada. Jadi, Gerson memberi ruang yang cukup untuk melibatkan simbol ataupun nama tempat yang menjadi tempat ia menelurkan puisi itu. Dengan demikian, puisi yang dia tulis memberi petunjuk atas nama dirinya sendiri soal tempat, kondisi alam, serta realitas sosial yang ada di tempat itu, pada masa itu.

Puisi-puisi yang saya maksud misalnya, “Siul Kereta” (halaman 4). Dari judul puisi ini, pembaca dengan pasti bisa mengatakan bahwa puisi ini tidak ditulis di Rote atau NTT karena di sana tidak ada kereta. Bayangan serupa melintas dalam benak saya ketika membaca puisi ini. Benar saja, di sudut kanan bawah puisi ini tertulis “Banyuwangi, April 1956.” Selain puisi ini, masih ada puisi-puisi lain dengan muatan serupa yaitu “Kenangan Maluku” (hal. 21), “Dari Pameran Seni Istana Di New York” (hal. 37), “Berlayar Ke Jampang Kulon” (hal. 43), “Penis Di Patung Asmat” (hal. 48), “Selamat Tinggal, San Francisco” (hal. 65), “Boston” (hal. 72-73), “Timor” (hal. 78), “Terminal Kampung Rambutan” (hal. 82), “Jakarta” (hal. 85), “India” (hal. 94), “Musim Dingin Di Iowa” (hal.106), dan “Sebuah Villa Di Puncak” (hal. 109-110).

Puisi-puisi yang saya sebut di atas saya pilah berdasarkan kesan tempat yang bisa langsung ditangkap dari judul. Sementara puisi-puisi lain tetap memuat keterangan tempat, namun Gerson tidak meletakkannya di judul namun ada di badan puisi.

Dari kejelian menelaah puisi-puisi dalam kumpulan ini saja, pembaca sudah bisa menangkap bawah Gerson memiliki rekam jejak yang panjang dalam dunia tulis menulis, khusunya puisi. Di mana saja tempat ia berada, ada saja puisi yang lahir. Dan dari situ pula, pembaca bisa mendapat lukisan akan sebuah tempat pada masa puisi itu ditulis Gerson. Ini salah satu kekayaan Gerson yang bila diperhatikan serius oleh para peneliti akan sangat membantu untuk memahami kodisi sosial suatu tempat pada suatu masa. Karena sejarah mempunyai tugas merekam kronolgis sebuah peristiwa, sementara puisi (dan karya sastra lainnya) mengungkap suasana dan kondisi suatu peristiwa.

Mengangkat Lokalitas
Selain sebagai rekam jejak, unsur lokalitas sangat kental dalam puisi-puisi Gerson. Dalam beberapa puisinya, Gerson bahkan sangat jelas ingin mengangkat dimensi lokalitas Rote (dan NTT) sebagai tanah kelahirannya. Misalnya pada puisi “Anak Karang” (hal.1). Pada bait pertama Gerson menulis:

Bea!
di tepi sini gubuk dan karang
sekali pernah mama bilang
cerita beta cerita kau
bertulis di tanah berselang karang

Di sini, Gerson mengungkap secara eksplisit perihal situasi rumah dan struktur tanah di tempat kelahirannnya. Kita tahu, Rote adalah sebuah pulau kecil yang berada di ujung Pulau Timor. Gerson memakai diksi “gubuk” untuk mencatat bahwa rumah pada masa Gerson lahir bukalah gedung mewah atau “rumah batu” (rumah tembok) seperti yang banyak kita temukan saat ini di NTT. Rumah pada masa itu adalah rumah yang sangat sederhana: beratap daun, berdinding bebak, dan berlantai tanah. Dan, di situlah biasanya anak-anak duduk mendengarkan cerita dongeng dari orangtuanya di malam hari, di dekat tungku.

Sementara diski “karang”, dipakai Gerson untuk melukiskan struktur tanah di Rote yang lebih banyak berbatu dari pada tanah isi. Atau, di lain sisi, Gerson ingin juga mengatakan bahwa letak “gubuk” itu tidak jauh dari pantai. Saat air laut surut di pagi atau sore hari, karang-karang akan menampakkan punggungnya. Pemandangan seperti ini sangat lazim bagi anak-anak NTT bahkan hingga saat ini.

Selain puisi ini, masih ada puisi lain yang mengambil sudut pandang serupa. Hampir bisa dipastikan bahwa hal ini memang disengaja oleh Gerson karena Gerson mempunyai konsentrasi besar untuk mengangkat isu-isu lokalitas NTT ke panggung nasional.

Yohanes Sehandi, dalam tulisannya di Victory News, Sabtu, 15 Juni 2013, mengatakan hal serupa. Ia mengutip pernyataan yang disampaikan Gerson saat menghadiri sebuah seminar di Kupang demikian: “Pada kearifan lokallah yang mendorong penataan relasi sosial. Kearifan lokal mencegah orang terpikat pada materialisme, misalnya mencegahnya dengan mitos, sastra, cerita rakyat, seni tari, dan lain-lain.” Sementara di kesempatan yang berbeda, Gerson mengatakan, “Negeri kita ini kaya. Kaki di bumi subur, tangan di laut kaya, tapi otak di padang pasir. Kita harus sadar bahwa bumi kita subur. Kerena itu, pembangunan harus dilakukan dengan transmigrasi modern. Pemerintah perlu mengembangkan desa budaya. Maka kita tidak akan lapar lagi. Orang desa punya piring raksasa, yakni tanah yang subur.” (Kompas, 9 Juni 2013).

Maka, kumpulan puisi “DARI ROTE KE IOWA” ini mesti dibaca dalam terang anak mercu yang menjelma seroang penulis yang kini berusia 83 tahun dan sumbangsih lokalitas sepi tanah pulau (karang) bagi budaya nusantara dan dunia.
Jejak Gerson dalam Puisi-puisinya Jejak Gerson dalam Puisi-puisinya Reviewed by Steve Elu on 03:16:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.