Menelisik Karya dan Pemikiran Utuy



Tentang Utuy
Utuy Tatang Sontani dilahirkan di Cianjur pada 1 Mei1920. Dramawan berdarah Sunda ini kelak dikenal sebagai salah seorang sastrawan Angkatan 45 terkemuka. Karyanya yang pertama adalah Tambera (versi bahasa Sunda 1937), sebuah novel sejarah yang berlangsung di Kepulauan Maluku pada abad ke-17.

Novel ini pertama kali dimuat dalam koran daerah berbahasa Sunda Sipatahoenan dan Sinar Pasundan pada tahun yang sama. Setelah itu Utuy menerbitkan kumpulan cerita pendeknya, Orang-orang Sial (1951), yang diikuti oleh karya-karya lakonnya yang membuatnya menjadi terkenal. Lakon pertamanya (Suling dan Bunga Rumah makan, 1948) ditulis sebagaimana cerpen-cerpen sebelumnya yakni terkesan ‘sederhana’ dengan bobot karakter yang belum mendalam, tetapi selanjutnya ia menemukan cara menulis lakon yang unik, yang bentuknya seperti cerita pendek sehinga terasa enak untuk dibaca. Di antara lakon-lakonnya terkenal yang kemudian lahir sebagai buah tangannya adalah Awal dan Mira (1952), Sajang Ada Orang Lain (1954), Di Langit Ada Bintang (1955), Sang Kuriang (1955), Selamat Djalan Anak Kufur (1956), Si Kabajan (1959), dan Tak Pernah Mendjadi Tua (1963).

Dalam perjalanan kreatifnya, Utuy pernah diutus oleh pemerintah pada 1958 sebagai salah seorang wakil Indonesia dalam Konferensi Pengarang Asia-Afrika di Tashkent, Uzbekistan. Ketika hubungan politik Indonesia-Uni Soviet semakin dekat, banyak karya pengarang Indonesia yang diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam bahasa Rusia, termasuk karya Utuy, Tambera, yang dianggap mencerminkan semangat revolusi dan perjuangan rakyat. Sementara itu, Orang-Orang Sial, hanya terbit di Tallin, dalam bahasa Estonia, karena dianggap terlalu pesimistik dan hanya mengungkapkan sisi gelap revolusi.

Karya-karya Utuy sejak awal memang selau mencerminkan kecenderungan pikiran-pikirannya yang sangat rasional (penganut paham materialisme), menolak kekolotan dan menentang ‘idealisme-idealisme’ yang tidak realistis. Namun, ia juga dikenal sebagai penulis yang humanis. Dalam beberapa karya (seperti Sayang Ada Orang Lain, Awal dan Mira, Bunga Rumah Makan) selain mencibir moralitas dan dogma agama, yang dimunculkan lewat tokoh-tokoh ustad. Utuy juga menentang dan melakukan pembelaan terhadap tokoh-tokoh yang mengalami eksploitasi secara stratifikasi sosial dan mereka yang menjadi korban ketidakadilan (manusia-manusia marjinal) yang dilakukan oleh orang-orang kaya. Lakon-lakon tersebut tidak hanya mengarisbawahi dampak-dampak psikologis orang-orang marjinal tersebut akibat tekanan dan himpitan materi tetapi di sisi lain, juga menegaskan pentingnya harkat kemanusiaan. Kesadaran inilah yang kelak mempengaruhi pilihan politik Utuy dan mendorongnya untuk bergabung dengan organisasi LEKRA (Lembaga Kesenian Rakyat), salah satu ormas underbow PKI (Partai komunis Indonesia)

Pada 1 Oktober1965 Utuy bersama sejumlah pengarang dan wartawan Indonesia menghadiri perayaan ‘1 Oktober’ di Beijing atas undangan pemerintah Tiongkok. Pecahnya G-30-S pada 1965 di Indonesia membuat mereka terlunta-lunta di tanah asing. Kembali ke Indonesia berarti ditangkap dan dituduh terlibat G-30-S, seperti yang dialami oleh begitu banyak kawan mereka. Situasi mereka semakin sulit ketika di RRC sendiri pecah Revolusi Kebudayaan pada 1966. Sebagian orang Indonesia yang terdampar di Tiongkok akhirnya memutuskan untuk meninggalkan negara itu dan pergi ke Eropa Barat dengan menumpang kereta api Trans Siberia. Sebagian dari penumpang ini berhenti di Moskwa, termasuk Utuy dan sejumlah kawannya, Kuslan Budiman, Rusdi Hermain, dan Soerjana, wartawan Harian Rakyat.

Kedatangan Utuy di Moskwa pada 1971 disambut hangat oleh pemerintah Uni Soviet dan masyarakat ilmiah di sana, terutama karena nama Utuy sudah dikenal luas lewat karya-karyanya dan kehadirannya dalam Konferensi Pengarang Asia-Afrika pada 1958. Utuy diminta mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di Moskwa dan sempat pula menghasilkan sejumlah karya tulis. Ia menyusun sekurang-kurangnya empat buah novel dan tiga otobiografi hingga ia wafat pada 1979 di Moskwa.

Salah satu novelnya yang ditulisnya dan diterbitkan di Moskwa adalah Kolot Kolotok. Novel ini hanya dicetak terbatas untuk bahan studi di Jurusan Indonesia, Universitas Negara Moskwa. Di Bawah Langit Tak Berbintang adalah memoar dan otobiografinya yang mengisahkan pengalamannya hidup di pengasingan di RRT dan di Rusia. Ketika ia meninggal, ia mendapatkan penghormatan karena nisannya ditempatkan sebagai nisan pertama di pemakaman Islam di Moskwa. Untuk lebih jelas karya- tulis Utuy Tatang Sontani sebagai brikut :

    Tambera (1948)
    Orang-orang Sial: sekumpulan tjerita tahun 1948-1950 (1951)
    Selamat Djalan Anak Kufur (1956)
    Si Kampeng (1964)
    Si Sapar: sebuah novelette tentang kehidupan penarik betjak di Djakarta (1964)
    Kolot Kolotok
    Di bawah langit tak berbintang (2001)
    Menuju Kamar Durhaka - kumpulan cerpen (2002)

    Suling (1948)
    Bunga Rumah Makan: pertundjukan watak dalam satu babak (1948)
    Awal dan Mira: drama satu babak (1952)
    Sajang Ada Orang Lain (1954)
    Di Langit Ada Bintang (1955)
    Sang Kuriang: opera dua babak (1955)
    Si Kabajan: komedi dua babak (1959)
    Tak Pernah Mendjadi Tua (1963)
    Manusia Kota: empat buah drama (1961)

Selain ke dalam bahasa Rusia dan Estonia, karya-karya Utuy juga diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain, seperti bahasa Inggris, Mandarin, dan Tagalog. Di masa Orde Baru, sama seperti para penulis yang mendapatkan stigma komunis, karya-karya Utuy dilarang beredar oleh pemerintah.

Sudut Pandang
Karya-karya Utuy sejak awal memang selalu mencerminkan kecenderungan pikiran-pikirannya yang sangat rasional (penganut paham materialisme), menolak kekolotan dan menentang ‘idealisme-idealisme’ yang tidak realistis tetapi juga dikenal sebagai penulis yang humanis. Dalam beberapa karya-karya (seperti Sayang Ada Orang Lain, Awal dan Mira, Bunga Rumah Makan) selain mencibir moralitas dan dogma agama, yang dimunculkan lewat tokoh-tokoh ustad. Utuy juga menentang dan melakukan pembelaan terhadap tokoh-tokoh yang mengalami eksploitasi secara stratifikasi sosial dan mereka yang menjadi korban ketidakadilan (manusia-manusia marjinal) yang dilakukan oleh orang-orang kaya. Lakon-lakon tersebut mengarisbawahi dampak-dampak psikologis orang-orang marjinal tersebut akibat tekanan dan himpitan materi tetapi di sisi lain, juga menegaskan pentingnya harkat kemanusiaan. Kesadaran inilah yang kelak mempengaruhi pilihan politik.

Sinopsis
Lakon Bunga Rumah Makan karya Utuy Tatang Sontani menceritakan serangkaian kejadian di sebuah rumah makan. Lakon ini diawali dengan kehadiran beberapa pengunjung di rumah makan ‘Sembara” yang nampaknya datang hanya untuk menjadikan kebutuhan belanjanya sebagai kedok agar dapat mendekati pelayan rumah makan tersebut yang bernama Ani. Dalam perjalanannya, Ani ternyata hanya jatuh cinta pada seorang perwira tentara yang bernama kapten Suherman.

Ani juga sering menerima kemarahan majikannya (Sudarma) karena ketelodorannya dalam bekerja. Hal tersebut dikarenakan ulah seorang pengemis dan seorang gelandangan yang seringkali mendatangi rumah makan tersebut. Sudarma menganggap Ani terlalu lunak pada pengemis dan gelandangan tersebut, padahal merekalah yang menurut Sudarma telah menyebakan berkurangnya pengunjung di rumah makannya.

Pada bagian lain, Karnaen, anak Sudarma, tenyata juga jatuh cinta pada Ani. Hal tersebut terungkap ketika Ani menolong Karnaen, sesaat setelah berkelahi dengan Iskandar, seorang gelandangan yang sering mengganggu dan menghina Ani. Melihat kejadian tersebut, Usman, adik Sudarma, yang juga seorang ustad menasehati Ani agar segera kawin dengan Karnaen. Ani bergeming karena cintanya memang hanya untuk Kapten Suherman. Di akhir cerita, Ani akhirnya memilih meningalkan rumah makan ‘Sembara’ bersama Iskandar, seorang gelandangan yang selama ini selalu menghinanya dengan perkataan keji: bahwa Ani adalah pelayan yang telah sengaja menjajakan kecantikannya demi memikat para pengunjung rumah makan tersebut. Terlebih lagi setelah ia tahu bahwa kapten Suherman ternyata juga tidak pernah serius untuk mencintainya. Ani justru menjadi semakin sadar akan kejujuran Iskandar. Kepergian Ani bersama Iskandar tersebut membuat Sudarma dan Usman tersentak. Terlebih bagi Karnaen, kepergian Ani bersama Iskandar adalah ‘pukulah telak’ dalam hidupnya.

Analisis Stuktur
 
Alur atau PlotProgresi dramatik sebuah lakon tercipta oleh adanya kejadian demi kejadian yang membentuk jalinan. Setiap kejadian muncul karena serangkaian dialog yang menimbulkan progresi emosi dan perubahan suasana. Pada akhirnya jalinan kejadian (peristiwa) itulah yang kemudian membentuk alur cerita atau plot. Plot sebagai jalinan peristiwa dalam karya sastra (termasuk sastra drama) yang bertujuan untuk mencapai efek tertentu, terkait denga hubungan temporal (waktu) dan hubungan kausal (sebab akibat). Rangkaian peristiwa dalam alur dijalin dengan seksama melalui pergerakan cerita yang mengalami perumitan (komplikasi) kearah klimaks dan penyelesaian.

Berdasarkan hubungan temporal atau waktu, alur bisa berwujud alur maju (alur yang bergerak kedepan) dan alur mundur (gaya penceritaan yang kembali kebelakang atau di mulai datri peristiwa sebelumnya). Dua wujud alur tersebut menandakan bahwa alur bisa bergerak menanjak atau menurun dalam bentuk episodik dan tidak terpisahkan. Merujuk penjelasan tersebut maka lakon karya Utui Tatang Sontani memiliki alur maju dan bergerak secara linier.

Plot yang merupakan rangkaian kejadian membentuk jalinan yang terbagi dalam lima tahap, yaitu eksposisi (pelukisan), komplikasi (perumitan masalah atau peristiwa), klimaks (puncak peristiwa), resolusi (peleraian) dan konklusi (penyelesaian). Hal di atas adalah alur yang diteorikan oleh Aristoteles, yang biasa disebut sebagai alur konvensional.

Alur dalam naskah Bunga Rumah Makan karya Utuy Tatang Sontani terbentuk melalui dinamika yang diakibatkan oleh perubahan emosi para tokohnya. Perubahan emosi itu memiliki progresi karena respon terhadap prilaku masing-masing tokoh yang berinteraksi dalam rumah makan Sembara tersebut. Progresi emosi itulah yang kemudian melahirkan perjalanan alur dari permulaan yang terlihat sederhana menuju pada kondisi yang lebih kritis. alur yang berjalan itu maka naskah Bunga Rumah Makan karya Utuy Tatang Sontani menggunkan pendekatan alur yang konvensional (linier). Tahap-tahap alur (konvensional) tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

Eksposisi : Adalah bagian awal atau pembukaan dari sebuah cerita yang memberikan penjelasan dan keterangan mengenai tokoh-tokoh cerita,masalah-masalah yang sedang dilakoni, tempat dan waktu ketika cerita berlangsung.dalam naskah Bunga Rumah makan eksposisiDimulai saat ani kedatangan dua orang tamu yang berkunjung kerumah makan,mereka hannya menggoda ani.setelah itu iskandar mengalihkan perhatian mereka,sesaat kemudian datanglah kapten suherman ternyata dia adalah kekasih ani.untuk lebih jelas dapat di lihat dari petikan dialog : (105-197)

Komplikasi : adalah ketegangan yang merupakan kelanjutan dan peningkatan dari eksposisi,pada bagian ini salah seseorang mengambil prakarsa untuk mencapai tujuan tertentu.walaupun dibayang-bayang oleh ketidak pastian,keteguhan sikap sang tokoh tidak mennyurutkan niatnya.timbulah komflik-komflik yang saling bertabrakan dengan tokoh lainnya, Pertentangan ini terjadi setelah masing-masing menceritakan jati dirinya sehingga

ngga konflik mulai terlihat. Konflik terjadi ketika pertengkaran ani dengan Iskandar lalu muncul Kurnaen mencuba melerai tapi Iskandar memarahi kurnaen yang ahirnya terjadi perkelahian. Untuk lebih jelas dapat dilihat petikan dialog (233-290).

Klimaks : Adalah tahapan peristiwa dramatik yang telah di bangun oleh komflik puncak dari peristiwa. Tahapan ini melibatkan pihak-pihak yang berlawanan untuk saling berhadapan dalam situasi yang menegangkan,ketegangan tersebut mempertaruhkan nasip, juga merupakan momen yang paling menentukan bagi mereka untuk eksis atau tersingkir. Naskah Bunga Rumah Makan ini kelimaks terjadi pada saat Ani dimarahi majikannya karna melalaikan nama penelpon rumah makan Sambarasituasi semakin rumit ketka suherman datang untuk bersenang-senang tetapi justru dinasehati oleh usman untuk segera menikahi Ani,membuat suherman marah dan menuduh usman mencampuri urusan pribadinya dan ia memutuskan hubungan dengan ani. Untuk lebih jelas dapat dilihat dari petikan dialog : (371-406)

Resolusi   : Adalah bagian struktur dramatik yang mempertemukan masalah-masalah yang di timbulkan oleh para tokoh dengan tujuan untuk mendapatkan selusi atau pemecahan masalah.Resulusi dalam naskah bunga Rumah Makan dimulai saat Ani memutuskan untuk memaafkan iskandar yang telah menghinanya dan memutuskan untuk pergi bersama iskandar. Hal ini juga ditunjukan atas kesadaran ani terhadap perlakuan orang-orang yang berada disekelilingnya.untuk lebih jelas dapat dilihat dari petikan dialog : (428-472)

Penokohan atau Perwatakan
Penokohan merupakanpemaparan karakter tokoh menyangkut kualitas, ciri atau sifat-sifatnya sebagai hasil penafsiran dalam lakon. Pemahaman tokoh dengan demikian tidak sekedar melihat identifikasi tokoh tetapi juga menelusuri perkembangan watak yang didapat dari hubungannya dengan tokoh lain. Sudut pandang ini didasarkan pada kenyataan bahwa karakter tokoh tidak saja beranjak dari ciri-ciri tokoh tetapi sekaligus ciri psikologis dan ciri-ciri kehidupan sosial yang melekat di dalamnya.

Jenis jenis tokoh
Protagonis : Adalah tokoh utama yang menggrakkan plot (alur cerita) dari awal hingga akhir dan memiliki itikad, namun dihalangi oleh tokoh lain. naskah lakon Bunga Rumah Makan untuk peran protagonis ialah ani dan iskandar.
Antagonis : Adalah tokoh yang menentang keinginan dari tokoh protagonis.dalam naskah rumah makan untuk peran antagonis ialah sudarman dan suherman.
Tritagonis dan Confidante : Adalah tokoh yang dipercaya oleh tokoh protagonis dan antagonis. Naskah Bunga Rumah Makan untuk peran tritagonis ialah kurnaen,usman dan polisi.
Untility : Adalah tokoh pembantu dalam naskah Bunga Rumah amakan ialah rukayah, perempuan yang belanja, pengemis dan dua pegawai kantoran.
Flat character : Adalah tokoh yang di bekali karakterisasi oleh pengarang secara datar atau lebih bersifat hitam putih.dalam naskah rumah makan yang mewakili tokoh flat character iailah iskandar, sudarman, kurnaen, usaman, dan polisi.
Round character : Adalah tokoh yang kompleks.dalam naskah bunga rumah makan tokoh yang roun charakter diwakili oleh ani.

Bentuk tipe perwatakan
Ciri-ciri pisikologis
Tidak ada penggambaran khusus dan spesifik mengenai keadan fisik tokoh Ani dalam lakon. Walaupun begitu penamaan Ani dengan panggilan nona oleh beberapa pengunjungnya jelas memperlihatkan tokoh Ani sebagai perempuan yang masih muda. Begitu juga dengan daya tarik Ani yang berhasil memikat banyak pengunjung rumah makan (Pemuda 1, Pemuda 2, Karnaen, Iskandar dan Suherman) telah dengan tegas menunjukan bahwa Ani adalah perempuan berparas cantik dengan keadaan fisik yang terlihat ideal. Hal ini secara rinci dapat dilihat pada kutipan dialog (78-82)

Ciri-ciri Sosiologis
Tokoh Ani dalam lakon Bunga Rumah Makan tidak digambarkan secara tegas terkait asal-usul dan latar belakang kehidupannya tetapi merujuk profesinya sebagai pelayan rumah makan maka bisa dipastikan bahwa Ani tidak memiliki pengalaman pendidikan yang tinggi. Hal tersebut juga mengisyaratkan bahwa Ani besar kemungkinan berasal dari lingkungan masyarakat bawah. Bahkan dalam salah satu dialognya Ani adalah anak sebatang kara. Secara lebih jelas hal ini dapat dilihat dalam kutipan dialog (dialog 301-30) untuk Iskandar tak jauh berbeda dengan Ani, Cuma bedanya Iskandar bersahaja dan bersipat apa adanya jujur walaupun dia seorang pengangguran untk lebih jelas lihat petikan dialog : (462-475) Sudarman yang punnya rumah makan orangnya pelit dan suka marah-marah,hannya mementingkan usahanya saja, untuk lebih jelas lihat petikan dialog : (68-85) kurnaen anak sudarman yang punnya rumah makan orangnya baik sederhana tapi tertutup tidak mau berterus terang bahwa ia mencintai Ani. Lebih jelas bisa dilihat dari petikan dialog : (1-21) usman seorang kyai kawan sudarman yang selalu berfikir agamais, dan suka memberi nasehat untuk lebih jelas bisa dilihat dari dialog (346-358) sedang kan kapten Suherman orangnya berwibawa suka mempermainkan wanita dan tidak teguh pendirian dan juga kasar. Lebih jelas bisa dilihat dari petikan dialog : (378-399) untuk Polisi menjadi orang penengah baik dan taat hukum untuk lebih jelas dapat dilihat dari petikan dialog : (402-448)

Ciri-ciri Psikologis
Jika merujuk pada pernyataan-pernyataan Ani di awal adegan maka dapat disimpulkan bahwa karakter dasar Ani sebenarnya merupakan gadis lugu, dan polos. Hal ini dapat dilihat dari dialog Ani dan Rukayah saat membicarakan perasaan hatinya pada Suherman. Secara jelas hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan dialog di bawah ini : dialog ( 205-232)

Di awal adegan juga digambarkan bahwa Ani adalah gadis pemalu dan tidak suka mencari perhatian, meskipun tuntutan profesinya membuat dia harus bersikap ramah dan sedikit berani. Hal tersebut setidaknya dapat dilihat dari penilaian para pemuda yang mengunjungi rumah makan tempat Ani bekerja. Secara lebih jelas hal ini dapat dilihat pada kutipan dialog di bawah ini: (dialog 11-16)

Pada bagian akhir lakon tokoh Ani mengalami perkembangan emosi yang sangat dratis. Hal tersebut dikarenakan wujud kesadaran dirinya atas kebohongan dan tekanan lingkungan yang selama ini telah ia terima. Ani yang pemalu akhirnya memiliki keberanian untuk melawan (majikan) sekaligus menjatuhkan pilihan hidupnya secara tegas yakni pergi dari tempat ia mendapatkan nafkah untuk mengarungi hidup secara lebih jujur bersama seorang gelandangan (Iskandar). Hali ini dapat dilihat dalam petikan dialog ( 411-422)

Merujuk penjelasan di atas maka karakter Ani dapatlah digolongkan dalam karakter melingkar (round charackter) karena mengalami perubahan watak yang signifikan pada bagian akhir lakon. Hal ini berbeda dengan beberapa tokoh lain (Sudarma, Usman dan Kapten Suherman) yang memang sejak awal hingga akhir tidak mengalami perubahan watak sehingga tokoh-tokoh tersebut merupakan tokoh datar (flat charackter)

Iskandar kasar tapi jujur dengan perasaannya sendiri untuk lebih jalas dapat dilihat dari petikan dialog : (237-263) sudarman orangna kasar dan semenamena terhadap orang lain untuk lebih jelas dapat dilihat petikan dialog : (369-375) kurnaen baik dan perhatian untuk lebih jelas dapat dilihat dari petikan dialog : (1-20) Usman baik suka menasehati dan orang yang taat pada ajaran agama.untuk lebih jelas dapat diliahat dari petikan dialog : (340-382) Kapten Suherman suka menmanfaatkan kepolosan orang lain dan sombong. lebih jelas dapat dilihat petikan dialog : (397-406) Polisi orang yang berwibawa penegak hukum yang taat. Lebih jelas dapat dilihat dialog : (411-433)

Konflik
Konflik dalam lakon Bunga Rumah Makan berawal sekaligus bermuara pada daya tarik Ani. Seluruh pekembangan alur sesungguhnya berangkat dari perubahan emosi tokoh-tokoh lain akibat interaksinya dengan tokoh Ani. Kejelitaan sekaligus kepolosan Ani lah yang menyebabkan pertikaian antara Kapten Suherman, Karnaen, dan Iskandar. Sementara itu, dalam sudut pandang Ani, Kapten Suherman lah yang sebenarnya pantas dicintai. Selain karena penampilanya yang gagah dan tutur katanya yang manis dia adalah seorang perwira yang sudah pasti menjanjikan kemapanan masa depan.

Konflik pun merunyam karena kehadiran Iskandar. Dalam pandangan Ani, Iskandar adalah manusia yang menyebalkan dan tidak memiliki perasaan. Iskandar juga tak tahu adat sehingga setiap kali datang di rumah makan selalu bersikap tidak sopan dan menghina Ani dengan mengatainya sebagai penjual kecantikan dan pendusta. Sebaliknya, bagi Iskandar, Ani adalah wanita murahan yang sengaja memikat para pengunjung rumah makan dengan kecantikannya. Tetapi, di balik semua itu, Iskandar sesengguhnya selalu mendapati rasa sayang yang tersembunyi dalam hatinya. Rasa sayang yang tertutupi keangkuhannya. Sehingga di balik sikapnya yang posesif terhadap Ani, ia sebenarnya merindukan kehadiran Ani.

Pada bagian lain, Karnaen seperti tak pernah berhenti untuk mencintai Ani. Sayang sekali cintanya bertepuk sebelah tangan. Di mata Karnaen, Ani adalah wanita yang memiliki banyak kelebihan cantik, mandiri dan penuh pengabdian. Sayang sekali dia harus mengalah pada kapten Suherman, seseorang yang sebenarnya selalu menyuburkan perasaan iri hati dalam dirinya.

Ani pada akhirnya memang harus memilih. Dia tidak mungkin memilih Karnaen karena hatinya hanya menganggap Karnaen sebagai kakak sendiri. Lebih dari itu Ani terasa sulit mempercayai Karnaen karena ia menganggap karnaen pasti tak jauh dari perangai Ayahnya, Sudarma, yang egois dan selalu memanfatkan orang lain untuk mencari keuntungannya sendiri. Ia juga tidak mungkin memilih Kapten Suherman, karena laki-laki itu ternyata lebih mencintai diri sendiri.

Akhirnya, ia menjatuhkan pilihan pada Iskandar. Laki-laki yang semula dinilai oleh Ani sebagai gelandangan yang tak punya perasaan tersebut ternyata menyadarkan dirinya pada kebenaran sikap bahwa selama ini ia hanya di jadiakan ‘komoditas’ oleh Sudarma, dan bahwa Iskandar yang sering berkata kasar tersebut ternyata menyimpan kejujuran dan kepedulian yang mendalam pada nasib Ani. Bahwa antara dirinya dan Iskandar sebenarnya dihadapkan pada persoalan yang sama yakni rasa sendiri dalam menjalani hidup.

Latar Cerita
Latar cerita adalah berbagai persoalan yang terkait dengan hal-hal yang melandasi atau menjadi bagian dari peristiwa, tempat terjadinya peristiwa dan kurun waktu yang terjadi dalam lakon. Pemahaman latar cerita ini dimaksudkan untuk memahami keseluruhan cerita sebagai pijakan untuk diwujudkan dalam realitas panggung.

Latar Ruang Atau Tempat
Latar ruang dalam lakon Bunga Rumah Makan adalah sebuah interior rumah makan yang terkesan rapi meskipun tidak terlalu mewah. Gambaran detail mengenai rumah makan tersebut tidak didiskripsikan secara jelas dalam naskah. Naskah hanya menggambarkan sebuah rumah makan dengan tiga stel kursi, rak kaca tempat kue, meja tulis, telpon, radio dan lemari. Merujuk perwujudan pentas yang ditampilkan dengan pendekatan realisme (sesuai gaya atau aliran lakon) maka visualisai ruangan juga diwujudkan dalam konsep ruang tiga dimensional yang dibuat mendekati kenyataan dengan pengaturan perspektif yang mendukung arah hadap penonton. Impresi yang menonjol dari latar ruang ini adalah sebuah ruman makam kelas menengah atau sederhana yang tertata rapi dan solah-olah berlokasi di dekat jalan raya.

Latar Waktu
Sesuai rujukan konflik yang terjadi dalam lakon (mekipun ditulis pada tahun 1948), maka kurun waktu terjadinya peristiwa dalam lakon Bunga Rumah Makan bisa terjadi kapan saja. Artinya, situasi yang ditimbukan oleh interaksi antara pemilik, pelayan rumah makan dan para pengunjung adalah persoalan yang tetap kontekstual sampai kapanpun. Sedangkan untuk kisaran harinya maka bisa dipastikan bahwa kejadian di rumah makan Sembara terjadi pada pagi (menjelang siang) hingga siang hari. Hal ini dapat dibuktikan pada adegan awal lakon dimana para pemuda mendatangi rumah makan tersebut untuk sekedar minum meskipun waktunya sudah mendekati jam kerja. Jika dirujuk dari salah satu properti yang digunakan dalam ruangan rumah makan yakni bentuk telpon manual yang digunakan sebagai alat komunikasi maka latar waktu dalam lakon Bunga Rumah Makan dapat ditafsirkan berlangsung sebelum merebaknya penggunaan ponsel, yakni sebelum tahun 1990-an itu berdasarkan naskah, namun untuk latar waktu sutradara ingin menampilkan kejadian tahun 2000 an (kekinian)

Latar Suasana
Secara umum suasana lakon Bunga Rumah Makan dilatari oleh kehidupan masyarakat segmen menengah dengan beragam profesi. Kondisi yang melatari suasana konflik adalah suatu masyarakat yang memilki keragaman sudut pandang pada hidup. Ada pandangan yang tidak mementingkan kejujuran, pandangan yang menggangap pentingnya penghargaan pada orang lain tetapi juga pandangan pragmatis bahwa manusia harus diukur dari tampilan luarnya. Inilah kondisi yang acapkali menciptakan pertikaian antar manusia yang didasari rasa cemburu, kedengkian dan pertentangan satu sama lain. Dengan demikian suasana dominan yang melatari lakon ini adalah suasana emosianal akibat keinginan manusia untuk dapat memiliki (dicintai) orang lain.

Amanat
Amanat dalam naskah Bunga Rumah Makan kerya Utuy Tatang Sontani tergambar jelas oleh tokoh- tokoh dalam naskah tersebut. Iintinya kita tidak boleh menilai orang lain dari luarnya saja, kerna apa yang kita anggap baik belum tentu baik begitu juga yang kita lihat jahat belum tentu itu jahat. Jelasnya lagi kita harus mengenal orang dari luar dan dalam baru bisa kita   menyimpulkan orang itu jahat atau baik.

Tema
Lakon terbentuk dari sebuah gagasan dasar yang mengarahkan dan menopang seluruh unsur-unsur pembentuk lakon. Gagasan dasar itulah yang lazim disebut sebagai tema. Sudiro Satoto menyebut tema sebagai dasar pikiran utama dan sumber ide yang mengawali terbentuknya lakon. Sementara itu RMA Harymawan memahami tema dari sudut pandang watak manusia, yakni sebagai falsafah mendasar suatu obsesi yang fundamental.[1][1] Merujuk pendapat-pendapat tersebut, dapat dipahami bahwa tema merupakan unsur awal yang akan mengilhami unsur-unsur lain dalam lakon.

Panuti Sudjiman membagi tema menjadi dua jenis tema mayor dan tema minor. Tema mayor adalah tema yang menopang keseluruhan lakon, sedangkan tema minor adalah sub-sub tema yang dapat dipahami dari alur maupun penokohan yang ada.[2][2] Tema mayor dalam lakon Bunga Rumah Makan karya Utuy Tatang Sontani adalah sebuah ungkapan tentang nilai manusia yng ternyata tidak hanya cukup disimpulkan dari apa yang nampak. Bahwa kepribadian manusia tidak akan bisa dinilai hanya melalui apa yang terlihat di ‘permukaan’. Hati manusia terkadang justru berpijak dari kenyataan yang paradoks bahwa dalam kekasaran seringkali menyimpan kelembutan, bahwa dalam keangkuhan seringkali menyimpan kesungguhan, dan dalam tindakan atau ucapan yang menyakitkan terkadang justru menyimpan kejujuran dan ketulusan paling dalam. Lakon Bunga Rumah Makan dengan demikian menegaskan situasi yang dialami tokoh utamanya Ani, pada kenyataan paradoks yang ditemukan dalam kepribadian seorang Kapten Suherman, seorang Karnaen dan Seorang Iskandar.

Tema minor pada lakon Bunga Rumah Makan karya Utuy Tatang Sontani tercermin pada tokoh-tokoh yang berinteraksi di dalamnya. Tokoh-tokoh dalam lakon Bunga Rumah Makan karya Utuy Tatang Sontani ini memperlihatkan suatu pandangan yang beragam tentang kehidupan. Tokoh Sudarma menegaskan bahwa kehidupan merupakan pilihan-pilihan yang bersifat pragmatis, oleh karenanya setiap tindakan harus berpedoman pada keuntungan materi semata. Sementara itu, bagi Usman hidup pada dasarnya merupakan realisasi dari sikap keberagamaan, sehingga Usman selalu mempercayai Agama lah yang seharusnya menjadi solusi dalam kehidupan. Pada sisi lain, kehadiran Iskandar merupakan penegasan pentingnya manusia untuk bersikap apa-adanya dan selalu berlaku jujur pada dirinya sendiri. Hal ini berbeda dengan Kapten Suherman yang selalu berusaha ‘merekayasa’ penampilannya untuk memenuhi keinginan dan ambisinya.

Analisis Tekstur Lakon

Tekstur Lakon adalah unsur-unsur dalam lakon yang menjadi pijakan dalam penyusunan desain pementasan. Jika penjabaran dan analisa struktur lakon merupakan unsur yang bertujuan untuk menciptakan pemahaman maka tekstur lakon merupakan bagian dari proyeksi lakon yang sudah dapat dirasakan dan di raba. Adapun yang menjadi bagian dari tekstur lakon adalah: dialog, suasana dan spektakel. Penjabaran tekstur Bunga Rumah Makan selengkapnya adalah sebagai berikut:

Dialog
Dialog adalah percakapan yang terjadi antara tokoh satu dengan tokoh yang lain dalam sebuah lakon. Dialog selain berfungsi memberikan informasi tentang karakter tokoh, juga berperan dalam menciptakan alur cerita, menegaskan tema, latar cerita juga menentukan tempo atau irama permainan. lakon Bunga Rumah Makan karya Utuy Tatang Sontani, para tokoh-tokohnya tidak memiliki dialog-dialog yang terkesan simbolik. Dialog yang dominan adalah dialog yang bersifat keseharian meskipun sesekali terkesan sarkastis (blak-blakan). Selain hal di atas, meskipun nama-nama tokoh mencerminkan identitas etnik tertentu, namun secara keseluruhan dialog yang dipergunakan adalah dialog berbahasa nasional (Indonesia)

Moud / Rhytem
Yudiaryani dalam “ panggung Teater dunia” mengatakan bahwa irama kalimat, bunyi kata, dan gambaran tokoh yang kaya imajinasi membantu aktor untuk menghadirkan suasana atau Mood. Seorang sutradara harus dapat mendiskusikan gerakan – gerakan ritmis kepada aktor untuk memasuki nuansa kelembutan music. (2002:367)

Dalam naskah ini pencipta akan menyusun keterlibatan dari irama kalimat dari tokoh satu ke tokoh yang lain untuk menghadirkan suasana. Selain itu musik juga akan dihadirkan pencipta untuk memeberikan impuls agar aktor mampu memasuki suasana yang telah dicipta bersama.Moud dan rithem sangat penting dalam pementasan teater kerna berpungsi sebagai pembangun suasana dalam pementasan.

Spektakel
Spektakel (mise on scene) adalah perwujudan keseluruhan unsur-unsur pementasan yang bersifat audio visual. Spektakel meliputi unsur lakuan, tata artistik, tata cahaya, tata suara atau musik dan segenap pedukung pementasan yang lain. Merujuk gaya dan aliran realisme yang penyaji pilih dalam pementasan lakon Bunga Rumah Makan ini maka spektakel yang dihadirkan adalah spektakel realis di mana segala unsur-unsur pemangungan ditampilkan agar menyerupai kenyataan, selain juga berpedoman pada waktu kejadian yang dipilih yakni sebelum tahun tahun 2000 an

Tata Cahaya
Pencahayaan adalah cara menggunakan lampu untuk memberi penerangan dan melenyapkan gelap agar para penonton bisa melihat, kerna melihat dan mendengar bisa membantu penonton untuk memahami jalannya pementasan dan apa yang tidak dilihat oleh penonton dianggap tidak bisa didengar. Penataan cahaya juga berfungsi sebagai pendukung suasana atau peristiwa. Dan juga dapat dijadikan sebagai penanda waktu kapan terjadinya kejadian tersebut seperti pagi,siang, atau malam. penggunaan tata cahaya atau lighting harus membuat bagian-bagian panggung sesuai dengan keadaan dramatik lakon.

Kostum dan rias
Tata rias dan busana dirancang untuk memberikan penajaman karakter tokoh yang dimainkan para pemeran. tata busana juga sangat penting untuk menggambarkan kondisi sosial tokoh-tokoh dalam lakon. Tujuan kostum untuk membantu memperlihatkan adanya hubungan peran yang satu dengan yang lainnya, pungsi kostum yang paling penting untuk menghidupkan perwatakan pelaku.warna kostum juga dapat membedakan pemeran yang satu dengan pemeran yang lain dan dari seting serta latar belakang. memberi fasilitas dan membantu geraknya aktor sehingga aktor bisa melakukan busnees akting. Tipe-tipe kostum yang menjadi ukuran dalam sebuah pementasan kostum historis yaitu pereode-pereode spesifik dalam sejarah. Kostum moderen kostum yang dipakai sekarang, kostum nasional kostum yang melambangkan ciri khas negara serta kostum tradisional menunjukan krakter secara simbolis yang melambang kan sebuah daerah.

Musik
Musik yang baik dan tepat dapat membantu aktor membawakan warna dan emosi perannya dalam adegan. Musik juga dapat membantu penonton mennambah daya dan pengaruh imajinasinya serta memilih momen-momen ketika musik itu tidak di tiadakan,kerna beberapa drama dramatik ada jenis adegan yang harus sepi dari segala efek bunnyi. Karakter musik yang dipergunakan dalam Bunga Rumah Makan karya Utuy Tatang Sontani adalah jenis musik yang disesuaikan dengan perubahan suasana dan penekanan-penekanan (suspen) dalam perjalanan alurnya.

Penataan artistik
Visualisasi yang diwujudkan dalan lakon Bunga Rumah Makan adalah panggung yang di dekorasikan menjadi sebuah rumah makan sederhana yang rapi dan bersih. Yang meliputi beberapa buah meja saji lengkap dengan kursinya yang arah hadapnya disesuaikan dengan perspektif penonton, sementara disut kiri depan nya akan dihadirkan sebuah bofet yang bertulis Rumah Makan Sambara dan juga terdapat sebuah meja kasir disudut kanan nya. Diatas meja kasir terdapat sebuah telfon sebagai property

Bentuk Dan Gaya lakon

Bentuk Lakon
Perkembanghan teater yang di mulai dari perkembangan teater Yunani, telah menggolongkan bentuk teater dalam dua jenis, yaitu: lakon tragedi dan lakon komedi.[3][3] Jakob Sumardjo menggambarkan lakon tragedi sebagai lakon yang dipenuhi dengan pembunuhan, dendam dan penyesalan yang sering terjadi pada tokoh utamanya. Berbeda dengan lakon komedi yang selalu menggambarkan kegembiraan atau yang membuat penonton tertawa dan gembira.[4][4] Perkembangan selanjutnya muncul drama tragikomedi, yakni lakon yang menggambarkan tokoh utamanya dalam konflik atau peristiwa yang lucu atau konyol. Lakon drama tragikomedi, tokoh utamanya seringkali mengalami peristiwa menyedihkan, menegangkan atau menimbulkan rasa iba, prihatin dan simpati.

Bunga Rumah Makan Karya Utuy Tatang Sontani adalah lakon tragikomedi. Indikasi-indikasi yang dapat dijabarkan untuk menjawab kesimpulan di atas antara lain dapat di lihat dari dinamika emosi para tokoh di dalamnya yang seringkali melahirkan pertengkaran dan serapah-serapah yang sarat dengan situasi penuh kegetiran. Tetapi pada saat yang lain terdapat tokoh-tokoh (Usman dan Karnaen) yang melakukan tindakan naïf dan penuh kekonyolan (dapat dilihat dari penyesalan Karnaen di akhir cerita).

Gaya lakon
Gaya lakon adalah ekspresi penyampaian yang berasal dari kebiasaan atau spontanitas yang segaja diciptakan untuk mengungkapkan atau menyatakan diri terhadap lingkungan sekitarnya. Gaya di dalam teater adalah upaya mengekspresikan bentuk permainan tertentu tanpa mengaburkan atau mengubah substansi lakon. Perwujudan gaya tersebut merupakan keterpengaruhan munculnya aliran-aliran dalam perkembangan teater, seperti: klasik, realisme, naturalisme, realisme impresionis dan realisme ekspresionis. Persoalan gaya adalah persoalan sudut pandang dalam mementaskan naskah lakon oleh sutradara dengan berpedoman pada tema lakon.

Naskah Bunga Rumah Makan adalah lakon yang sebenarnya sangat jelas mengindikasikan suatu gaya dalam lakon. Jika ditilik dari sisi tematis, keseluruhan dialog-dialog yang masih terkesan keseharian dengan motif dialog (spine) yang sangat terlacak secara jelas, maka lakon ini merupakan lakon realisme. Begitu juga penanjakan alurnya yang dinamik dengan progresi alur yang terkesan sangat jelas. Juga perubahan emosi yang timbulkan oleh para tokoh yang memiliki "tensi" meningkat sehingga kausalitasnya yang dapat terbaca secara gamblang menempatkan lakon ini sebagai lakon bergaya realisme.

Merujuk penjelasan RMA Harymawan yang memaparkan ciri-ciri realisme psikologis dalam dua ciri yakni: pertama, permainan ditekankan pada peristiwa internal atau kejiwaan dan kedua, secara teknis segala perhatian diarahkan pada akting para pemeran,[5][5] maka lakon Bunga Rumah Makan Karya Utuy Tatang Sontani dapatlah digolongkan dalam lakon yang bergaya realisme psikologis.

                                                            

PERANCANGAN PENYUTRADARAAN

Konsep penyutradaraan

Perwujudan realisme yang pencipta pakai dalam pementasan ini yaitu paham naturalisme.   panggung Teater Dunia yudiaryani menyatakan seting panggung gaya naturalisme tampak sangat detil dan akurat, sehingga kehidupan keseharian mampu dihayati oleh penonton.

Rancangan ini penyutradaraan mewujudkan setting pentas naskah “ Bunga Rumah Makan sangat naturalisme menggambarkan rumah makan sederhana. Rancangan pentas dibuat detil untuk pencapaian penghayatan penonton terhadap latar tempat, waktu, dan kejadian dalam lakon.

Pencipta sebagai sutradara menginginkan aktor sebagai kreator yang peranannya cukup besar dalam proses penciptaan. Sutradara memberikan kebebasan dalam pencarian aktor terhadap karakter lalu mengarahkan sesuai dengan konsep yang pencipta rancang. Selain itu sutradara juga memberi impuls pada pencarian aktor agar lebih mudah mendapatkan karakter yang ingin sutradara transformasi. Teori penyutradaraan yang pencipta gunakan yaitu teori laissez faire.

Teori laissez faire, dalam teori ini aktor dan aktris adalah pencipta dalam teater. Merekalah seniman-seniwati yang memungkinkan penonton menikmati lakon. Tugas sutradara ialah membantu aktor dan aktris mengekspresikan dirinya dalam sebuah pementasan.

Segi akting yang pencipta gunakan yaitu konsep Stanislavsky “To be”, dimana pencipta mengharapkan aktor dapat memerankan tokoh dengan menghadirkan tokoh kedalam dirinya. Sutradara memposisikan dirinya untuk mengarahkan pencarian-pencarian actor lalu menyamakan persepsi untuk dapat mencapai konsep dan pencapaian dramatik naskah.

Pendekatan presentasi adalah pendekatan akting yang dipakai pencipta. Pendekatan ini mengutamakan identifikasi antara jiwa si aktor dengan jiwa si karakter, sambil memberi kesempatan kepada tingkah laku untuk berkembang. Tingkah laku yang berkembang ini berasal dari situasi-situasi yang diberikan si penulis naskah.

Pendekatan ini pencipta gunkan sebab tokoh dalam naskah jarang dijumpai dikehidupan, jadi naluri pemeran dalam mengekspresikan karakter tokoh dengan bantuan suasana yang diberikan pengarang naskah yang akan melahirkan ekspresi yang spontan ketika bertindak. Aksi ini disebut Stanislavsky dengan the magic if.

Visi Sutradara

Adapun visi pennyutradaraan ini ialah bagai mana sutradara memberi pemahaman kepada aktor tentang pemeranan persentatif lalu diaplikasikan diatas panggung.

Misi Sutradara
Adapun misi dalam penggarapan mennyadarkan penonton bahwa tak selama yang kita lihat baik akan selalu baik begitu juga sebaliknya yang di gambarkan dalam penggarapan ini.

Metode PenyutradaraanSetiap sutradara memiliki masing-masing metode dalam proses penciptaan yang dilakukan. Metode ini dilakukan untuk pencapaian pementasan dengan taret-target tertentu yang telah pencipta rancang. Adapun metode yang pencipta gunakan dalam proses penciptaan naskah Bunga Rumah Makan adalah :

ReadingReading merupakan latihan awal dalam perancangan untuk menjajaki penafsiran naskah. Orientasi lain dari reading adalah pencarian nada dasar vokal bagi kebutuhan peran. Pusat perhatian sutradara kemudian diarahkan pada diksi, intonasi dan artikulasi vokal. Selain mengantarkan pada pemahaman lakon, reading pada akhirnya difungsikan untuk menemukan karakter dan perubahan emosi setiap tokoh dalam lakon.

Wujud latihan ini diawali dengan latihan dasar olah vokal, yaitu latihan yang diformulasikan untuk merenggangkan alat pengucapan, pengaturan alat ucap bagi kebutuhan daya lontar dan penstabilan alat ucap dari pengendoran stamina. Latihan selanjutnya adalah dengan cara membaca naskah antara pemain satu dengan pemain yang lain, sesuai karakter tokoh yang diperankan. Selain hal di atas, maka pusat perhatian sutradara juga diarahkan pada penciptaan dinamika dialog, pengaturan tempo dialog, ketepatan dalam aksi dan reaksi verbal, juga keterlibatan emosi dalam kata demi kata. Dalam pementasan Bui karya Akhudiat, pelaksanaan reading dilakukan dalam delapan kali pertemuan.

Blocking Kasar
Bloking adalah teknik pengaturan langkah-langkah para pemain untuk membentuk pengelompokan dikarenakan perubahan suasana dalam lakon. Sebelum pencapaian bloking yang baku maka para pemain melakukan pencarian gesture dan Move secara acak dan seringkali masih berubah-ubah. Pencarian inilah yang kemudian disebut sebagai bloking kasar. Bloking kasar juga digunakan untuk mengukur kemampuan dramatik aktor-aktor yang terkait dengan kesadaran ruang dan elastisitas tubuh dalam mengukur kemampuan berucap yang disertai kemampuan gerak. Tahapan bloking kasar dalam perancangan pementasan Bui karya Akhudiat dilakukan secara intensif selama delapan kali latihan.

Posisi sutradara dalam tahapan bloking ini adalah menentukan gesture dan move yang telah dieksplorasi pemeran agar dapat terwujud bloking baku. Selain hal tersebut, satradara juga menyeleksi beberapa bloking yang telah di buat pemain dengan berpijak pada kebutuhan irama, dramatika, suasana dan komposisi panggung.

Blocking Halus
Bloking halus merupakan tahapan latihan yang bertitik tolak dari bloking kasar. Seluruh gerak dan gestur pemain yang membentuk blok, telah menjadi susunan pola lantai yang baku. Pada tahapan ini latihan lebih diarahkan pada penumbuhan motivasi passsda setiap move-move yang di buat. Pembakuan bloking juga dilandasi oleh tercapainya aksentuasi makna (spine) dalam dialog.

Kegiatan kongkret yang dilakukan dalam bloking halus ini adalah menyeleksi semua capaian-capain bloking kasar dengan mengamati bloking dan movement dalam adegan demi adegan. Pengurangan movement atau perombakan bloking dilakukan secara dialogis agar setiap bloking yang dibakukan dapat menghasilkan permainan yang meyakinkan.

Secara menyeluruh bloking halus bertujuan untuk mengembangkan penghayatan peran, menciptakan inner acting, dan mengembangkan permainan yang bersifat kolektif. Bloking halus dalam latihan pementasan Bunga Rumah Makan karya utuy Tatang Sontani dilakukan dalam enam kali pertemuan.

FinishingTahapan finishing merupakan tahapan pematangan dari bloking halus yang telah dicapai sebelumnya. Tahapan ini dilakukan untuk mengembangkan 'kekayaan' akting para pemeran dengan berbagi detail-detail permainan. Detail-detail permainan yang dimaksud adalah berbagai respon pemeran terhadap keberadaan elemen-elemen pementasan yang lain yang meliputi penataan set dekor, daya dukung ilustrasi musik, penggunaan properti, dan kostum yang dipakainya. Detail-detail permainan juga menyangkut penggunaan gertur-gestur kecil (bussines act) yang menyatu dengan keutuhan perannya. Pada tahap ini pemeran sudah harus mampu membangun penghayatan dirinya, sehingga setiap gerak dan ucapannya terkesan 'wajar'.

Dalam penataan artistik, maka para penata sudah harus melakukan penyelarasan akhir terhadap semua komponen artistik yang meliputi warna, letak set dekor yang diperlukan, perspektif tontonan, perubahan warna karena efek cahaya, daya dukung musik terhadap emosi dan suasana kejadian, kontekstualisasi pilihan instrumen terhadap latar cerita dan harmonisasi dengan seni peran yang akan disajikan.

Pementasan
Tahapan pementasan merupakan penyajian keseluruhan unsur pentas dalam suatu pertunjukan yang utuh. Masing-masing unsur merupakan kekuatan yang saling terkait dalam menciptakan harmoni dan unity.

Perancangan artistik
Set dekor dalam pementasan Lakon Bunga Rumah Makan ini berpedoman pada konsep perancangan secara keseluruhan yakni penghadiran lakon secara presentatif. Wujud kongkret dari perancangan secara presentatif tersebut adalah terjadinya kesesuaian antara Set dekor Bunga Rumah Makan dengan pilihan bentuk pementasan, yakni realisme. Secara menyeluruh visualisasi setting diwujudkan sesuai penekanan (emphasis) dalam perancangan yang di rujuk dari tema lakon. Gambaran setting dengan demikian tidak sekedar ditampilkan dalam kerangka untuk mendekati kenyataan, tetapi juga harus menghadirkan kesan sebuah keasrian rumah makan dengan pilihan latar waktu di akhir tahun 80-an. Merujuk hal tersebut penataan set dekor dalam pementasan Bunga Rumah Makan karya Utuy Tatang sontani meliputi: sebuah ruang rumah makan dengan tiga meja saji lengkap dengan masing-masing kursinya dengan arah hadap yang disesuaikan perspektif penonton, sementara pada sudut belakang akan dihadirkan suatu ruangan kecil tempat untuk meramu aneka minuman dan pada bagian tengahnya juga di hadirkan meja kerja pemilik rumah makan dengan sebuah telpon sebagi propertinya.

Adapun bahan-bahan yang digunakan untuk membuat setting ini meliputi: kertas pembungkus semen, kertas padang larang, kayu kerangka, cat sebagai pewarna dan penegas tekstur dinding, beberapa kayu untuk pembuatan jeruji dan pintu besi.

Penataan Cahaya
Secara mendasar cahaya dalam pementasan ini berfungsi sebagai pendukung suasana kejadian, penanda waktu dan spasi adegan. Pada konteks penanda waktu tata cahaya diarahkan kepada pengaturan intensitas yang disesuaikan dengan waktu kejadian dalam lakon. Dalam fungsinya sebagai pendukung suasana lakon, lampu di desain dalam penempatan maupun kombinasi warnanya. Sementara untuk awal dan akhir lakon di gunakan teknik black in out. Konsep black in out adalah memulai dan mengakhiri adegan dengan mematikan atau menghidupkan cahaya. Impresi yang ingin dicapai dari penataan lampu adalah penghadiran suasana ruangan yang ‘familier’. Adapun jenis lampu yang digunakan dalam pementasan Bunga Rumah Makan adalah fresnel dan zoom spot (elipsodal) yang akan di gunakan untuk membuat pose pada akhir lakon.

Penataan Musik
Karakter musik yang dipergunakan dalam Bunga Rumah Makan karya Utuy Tatang Sontani adalah jenis musik yang disesuaikan dengan perubahan suasana dan penekanan-penekanan (suspen) dalam perjalanan alurnya. Pembentukan accord maupun melodi musik didasarkan pada musik tema yang dicipta dengan bertolak pada suasana dominan dalam lakon. Musik yang digunakan adalah beberapa jenis intrumen akustik, antara lain gitar dan biola, conra bas dan vokal.

Pada bagian awal pementasan musik yang diperdengarkan adalah suatu ansemble bernuansa musik keroncong (sebagai musik yang masih ngetrend diakhir 1900-an) dengan pilihan melodi lagu-lagu keroncong metropolis (perkotaan). Di pilihnya musik nuansa keroncong selain bercorak kebudayaan urban di kota-kota besar (terutama di Jawa) juga musik tersebut dapat mewakilisegmentasi sosial menengah ke bawah.

Sedangkan musik yang dipergunakan untuk ilustrasi adalah beberapa jenis musik dengan melodi tertentu yang dimainkan secara solo. Irama, tempo dalam iringan dan nuansa lagu (melodi) yang di pilih disesuaikan dengan suasana dan ketegangan-ketegangan dalam lakon.

Penataan Rias dan Busana

Tata rias dan busana dirancang untuk memberikan penajaman karakter tokoh yang dimainkan para pemeran. Penegasan karakter tokoh itu meliputi penegasan secara fisikis dan sosial. Khusus untuk tata busana juga sangat penting untuk menggambarkan kondisi sosial tokoh-tokoh dalam lakon. Kondisi sosial yang dimaksud adalah kalangan karyawan perkantoran, Pemilik rumah makan, seorang pemuka Agama, seorang tentara dan seorang pelayan Rumah Makan. Sedangkan rias yang dipergunakan dalam pementasan Bunga Rumah makan Karya Utuy Tatang Sontani meliputi dua jenis rias, yakni rias korektif dan rias karakter. Rias korektif adalah rias yang bertujuan ‘mengoreksi’ setiap proporsi wajah dengan elemen-elemenya, sedangkan rias karakter adalah rias yang menegaskan karakter fisik, psikis dan sosiologis tokoh. Rias korektif ditampilkan pada tokoh Tokoh Ani dan Rukayah, Kapten Suherman, Iskandar dan Karnaen, sedangkan rias karakter digunakan pada tokoh Sudarma ,Usman dan Pengemis

Proses latihan penyutradaraan

Memilih pemain Casting (memilih dan menetukan pemain)Pada tahap ini sutradara mendapatkan sebuah tantangan, dimana seorang sutradara harus mampu untuk meng-casting aktor sesuai dengan karakter tokoh yang ada di dalam naskah. Ada banyak metode casting, diantaranya:

Casting by Ability
Berdasarkan yang terpandai dan terbaik dipilih untuk peran penting / utama dan kesulitan yang tinggi.

Casting to Emosional Temprament
Memilih seorang pemain berdasarkan hasil observasi hidup pribadinya, karena mempunyai banyak kesamaan atau kecocokan dengan peran yang dimainkannya (kesamaan emosi, temprament, kebiasaan dll).

Casting to Tipe
Pemilihan pemain berdasarkan kecocokan fisik sipemain (tinggi badan, berat badan, bentuk tubuh dll).

Antytipe Casting
Pemilihan yang bertentangan dengan watak atau fisik, ini menentang keumuman jenis perwatakan manusia secara konvensional, sering disebut Education Casting.

Therapeutic Casting
Menentukan seorang pemain atau pelaku yang bertentangan dengan watak aslinya dengan maksud dan tujuan untuk menyembuhkan atau mengurangi ketidak seimbangan jiwanya

KesimpulanProses kreatif dalam seni teater pada dasarnya menempatkan aspek peneranan sabagai bidang kerja yang penting. Seluruh jalinan materi-materi pemanggungan, baik yang bersifat visual maupun auditif sangat dipengarihi oleh 'sentuhan' pemeranan. Pemeran dengan sendirinya, tidak sekedar harus menguasai aspek-aspek pemanggungan (spektakel) tetapi juga harus mampu menerjemahkan secara tuntas gagasan-gagasan dasar yang tersirat dalam lakon sebagai titik tolak yang melandasi wujud pengemasan (gaya lakon).

Materi-materi pemanggungan diwujudkan dengan bertitik tolak pada penafsiran terhadap lakon. Keberadaan lakon, dengan demikian adalah ruang terhadap berbagai kemungkinan artistik (estetis) yang kemudian dipilih sutradara untuk merealisasikan keseluruhan imajinasinya. Imajinasi tersebut muncul melalui telaah terhadap naskah, yang dilakukan dengan menyeleksi kemungkinan-kemungkinan tafsir yang sudah didapatkan. Imajnasi-imajinasi itulah yang kemudian ditetapkan dalam rencana perancangan pementasan sesara keseluruhan, baik yang tercermin dalam seni peran maupun penataan artistiknya.

Lakon Bunga Rumah Makan karya Utuy Tatang Sontani adalah lakon yang dapat digolongkan sebagai lakon realisme. Secara umum kenyataan ini dapat dilihat dari gaya dialognya yang masih keseharian, kejelasan identitas tokoh yang terlibat konflik, ketegasan dalam penggambaran latar cerita, dan suspen-suspen pertujukan yang menunjukan kausalitas yang jelas.

Secara umum, lakon Bunga Rumah Makan karya Utuy Tatang Sontani juga mengetengahkan konflik yang dialami para pengunjung sebuah rumah makan. Para pengujung dan pekerja Rumah makan tersebut dihadapakan pada persaingan di antara mereka untuk mendapatkan cinta seorang pelayan yang bernama Ani. Kejelitaan sekaligus kepolosan Ani lah yang menyebabkan pertikaian antara Kapten Suherman, Karnaen, dan Iskandar. Lakon ini secara umum berusaha menegaskan bahwa kepribadian manusia tidak akan bisa dinilai hanya melalui apa yang terlihat di ‘permukaan’. Hati manusia terkadang justru berpijak dari kenyataan yang paradoks: bahwa dalam kekasaran seringkali menyimpan kelembutan, bahwa dalam keangkuhan seringkali menyimpan kesungguhan, dan dalam tindakan atau ucapan yang menyakitkan terkadang justru menyimpan kejujuran dan ketulusan paling dalam. Lakon Bunga Rumah Makan dengan demikian menegaskan situasi yang dialami tokoh utamanya Ani, pada kenyataan paradoks yang ditemukan dalam kepribadian seorang Kapten Suherman, seorang Karnaen dan Seorang Iskandar.

Inilah jalinan konflik yang kemudian akan dipaparkan dalam wujud pementasan dengan pendekatan presentasi (realisme). Pendekatan presentasi tersebut pada akhirnya akan membingkai konsep lakuan menjadi sebuah gaya pementasan yang presentatif pula. Merujuk hal tersebut maka mekanisme kerja pemeranan (tokoh Ani) masihlah mengarah pada upaya untuk memproyeksinya naskah ke dalam pementasan yang bergaya realisme.

Realisme adalah gaya ungkap dalam teater yang berusaha mewujudkan konflik dalam lakon lewat sudut pandang yang nyata atau sering terlihat dalam keseharian. Hal tersebut juga menegaskan bahwa realisme harus mampu "memindahkan" kenyataan sehari-hari ke dalam gambaran umum di atas panggung, bukan dalam bentuk penambahan (stilisasi) atau merusak (mendistorsi).

Penjabaran pendekatan presentatif tersebut, diwujudkan dalam optimalisai keaktoran sebagai pusat perhatian tontonan, dengan penggunaan dua gesture pemeranan, sebagai gesture yang dominan yang dipakai dalam pementasan. Gesture tersebut meliputi gesture empatik dan gestur indikatiff. Gesture empatik dipergunakan saat para tokoh tampil dalam situasi 'wajar', dan pada saat para tokoh didera kesedihan atau kemarahan, sedangkan gesture indikatif adalah gerakan yang menujukan tujuan-tujuan dan maksud tertentu ketika berinteraksi dengan tokoh lain. Dengan demikian penyajian lakon secara umum dihadirkan secara realis dengan pendekatan lakuan yang bergaya realisme pula..

Proses perwujudan pentas direalisasikan melalui suatu metode penciptaan peran. Tahapan penciptaan peran tersebut meliputi: relaksasi, konsentrasi, dan observasi, satuan dan sasaran, keyakinan terhadap kebenaran, emosi efektif dan bermain ensamble. Secara umum proyeksi lakuan yang harus dicapai dalam tahapan-tahapan tersebut adalah sebagaimana tahapan pencapaian peran yang pernah diteorikan Stanislavsky yang berintikan dua hal: yakni menghadirkan tokoh dalam batin dan memproyeksikan ‘kehadiran’ itu dalam instrumen lakuan yakni tubuh dan vokal.


DAFTAR PUSTAKA

Harymawan, RMA, Dramaturgi, Bandung: CV. Rosdakarya, 1988.

Yudiaryani, Panggung Teater Dunia, Yogyakarta: Pustaka Gondho Suli, 2002.

Rikrik El Saptaria, Acting hanbook, Jakarta, Rekayasa sains, 2006.

Diunduh, pukul 11.30, Senin, 2 September 2013.dari Website: Seni, Sastra, Budaya, dan Pengetahuan.

RMA Harymawan, Bandung: CV Rosda, 1988, p. 46.

RMA Harymawan, Op Cit., hal 25.

Sumber: Horison Online
Menelisik Karya dan Pemikiran Utuy Menelisik Karya dan Pemikiran Utuy Reviewed by Steve Elu on 12:04:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.