Dari Nietzsche ke “Wacana yang Menyerpih”


(Membaca Narasi-Narasi Kecil dalam Buku Puisi “Sajak Terakhir” karya Steve Elu)
Oleh Hans Hayon

“..karena kebenaran adalah milik dari kalimat-kalimat, dan karena kalimat bergantung keberadaannya pada kata-kata, dan karena kata-kata adalah buatan manusia, maka begitu pula dengan kebenaran…”. (Richard Rorty).
STEVEELU.com - Membaca Sajak Terakhir karya Steve Elu, pembaca diajak untuk melintasi sejarah. Sebuah masa yang tampak bukan sebagai si tua renta yang membosankan melainkan penuh passion dan jouissance. Hasrat yang memanggil-manggil sambil sesekali menikmati sensasi dari kombinasi puah, manus, dan aob. Dari situlah, masa lalu didekonstruksi, kisah-kisah kecil dipilin, dan revitalisasi menolak lupa dimungkinkan.

Friederich Nietzsche adalah salah seorang filsuf ateis yang memploklamirkan bahwa “Allah telah mati” sebagai konsekuensi dari “kematian narasi besar” dan kelahiran era fragmentaris.
Pada masa itu, bukan lagi narasi besar seperti kebenaran, ada, keadilan dan metafisika, melainkan narasi kecil seperti kearifan lokal yang perlahan mulai dieksplorasi. Pada saat yang sama, dalam dunia kesusasteraan, era tersebut membuat segala sesuatu terpenggal-penggal. Sulit bagi seorang pengarang mendominasi wacana publik karena dengan kemajuan teknologi virtual seperti televisi dan internet, perhatian publik terpecah belah.

Dengan kata lain, banyak sosok pendatang baru dalam dunia kepenyairan yang muncul dan surut dengan cepat tanpa pernah sempat meraih tempat yang layak di antara jajaran para penyair yang sudah malang-melintang terlebih dahulu (Bdk. “Mengintip Puitika Masa Depan Steve Elu” oleh Manneke Budiman dalam antologi ini, hlm. 79).

Alasannya sederhana: semua informasi yang datang bercapur-baur, tumpang-tindih, saling menggasak, dan silang-menyilang. Selain itu, hilangnya ruang kritis pembaca menjadikan masyarakat tidak lain sebagai sebuah kumpulan orang-orang yang bungkam.

Persis dalam konteks itulah, sesuatu dikatakan menarik jika dikemas dalam bungkusan yang menarik dan prestisius. Sebuah karya sastra seperti novel, komik, puisi, cerpen, seni rupa, seni performa dan apa pun bentuknya yang tidak membuat kening berkerut akan dengan mudah menyentuh publik. Semakin berpengaruh massa itu, semakin rendah tuntutan manusia pada karya seni.

Dan, saya pikir, hal ini disadari oleh Steve sebagai seorang penyair yang lahir dari zaman tersebut. Hemat saya, sebagaimana Nietzsche, Steve pun memiliki gagasan dan gaya yang sama ketika-dalam antologi ini-memandang wacana modernitas lewat respeknya terhadap kearifan lokal beserta kompleksitas wacannya yang menyerpih. Dalam analisis ini, saya berusaha “membaca” antologi ini dari kegelisahan yang persis sama pernah dialami oleh Nietzsche.

Agama Masuk Sastra

Bukan hal baru apabila tema tentang agama diulas dalam karya sastra. Sebut saja Sampar-nya Albert Camus, atau ketika Katrin Bandel menyoroti karya tiga pengarang perempuan Indonesia (masing-masing Dewi Lestari: Supernova; Clara Ng: Tujuh Musim Setahun; dan Ani Sekarningsih: Memburu Kalacakra) yang dikatakannya memberikan kritik yang pedas pada kehidupan keagamaan yang tertutup, yang mengklaim kebenarannya sendiri, sekaligus dengan itu, menawarkan pandangan keagamaan yang lebih moderat dan terbuka.

Penting dicatat bahwa agama di sini bukan suatu yang telah terlembaga, atau agama-agama semetik saja, tetapi menyangkut juga kepercayaan-kepercayaan lokal, agama-agama baru (new age), dan lain-lainnya.

Saya kira salah satu karya yang penting disoroti dalam arus semangat ini adalah Bilangan Fu (Gramedia, 2009) karya Ayu Utami. Barangkali bukan kebetulan, seperti ketiga karya perempuan yang disoroti Katrin di atas, karya ini juga ditulis oleh seorang pengarang perempuan. Seperti ketiga karya yang diamati Katrin di atas, Bilangan Fu pada keseluruhannya ditujukan dengan sangat kuat untuk melakukan kritik terhadap agama dan menawarkan suatu yang disebutnya sebagai “spiritualitas kritis”.

Selaras dengan hal ini, Steve dalam beberapa sajaknya menawarkan kemungkinan serupa. Dalam sajak “menuju taman” (hlm. 18), “kepergianku” (hlm. 21), “kabar air” (hlm. 5), “kiblat” (hlm. 38), dan “doa” (hlm. 47), untuk menyebut beberapa, dengan gamblang mengulas tiga kondisi esensial: padangan agama tentang Tuhan, manusia, dan kosmos.

Dewasa ini ketika realitas keagamaan menjadi kian dangkal dan permisif, oleh Steve, sebagai aku jalan ke taman,/entah kapan tiba (menuju taman), manusia bahkan lupa bagaimana caranya berdoa. Sungguhpun ketika kematian datang, aku menjawab Tuhan dalam diam/tanpa segelintir dosa sempat kusesali (kepergianku).

Selanjutnya, pengalaman situasi batas (dalam bahasanya filsuf eksistensialis Karl Jaspers sebagai Granzsituasionen) seperti kemiskinan, penderitaan dan kejahatan, menghantar manusia pada aksi pemberontakan iman akan janji keselamatan. Janji toh pada akhirnya selalu mengandung utang yang harus dilunaskan. Utang yang sama, dibahasakan oleh penyair Joko Pinurbo dalam Haduh, aku di-follow (2013) hlmn. 41, sebagai Dua orang koruptor/disalibkan di Jumat/sunyi. Di tengahnya/disalibkan pula/seorang pahlawan/antikorupsi.

Pada akhirnya kehidupan selalu menyimpan berlaksa pertanyaan yang tak terjawab. Manusia hanya sanggup mengenal dan memahami jawaban yang terpotong, fragmen yang tak final, konsep yang hipotetif dalam relasinya dengan ketiga unsur: diri sendiri, Tuhan, dan kosmos.

Relasi horisontal-bukan vertikal hierarkis-inilah yang dengan amat menarik dikemas oleh Steve dalam sajak “kabar air”. Sebuah kabar yang mengusung nilai ekologis tentunya, di samping krisis identitas seorang “aku” yang kehilangan spiritualitas hidup di tengah kecanggihan zaman (simbolisasi sumur bor, pipa, dasi, sepatu, rapat, makanmakan dan minumminum).

Menarik bagi saya ketika Steve dengan cermat serta tatapan dalam, menggunakan simbol yang sederhana untuk melukiskan sesuatu yang melampaui simbol itu. Bukankah manusia pada dasarnya bertahan hidup justru karena simbol-simbol seperti yang digagas oleh Ernest Cassier sebagai animal symbolicum?

Menyiasati Kebaruan yang Ditawarkan oleh Steve

Ada beberapa poin penting yang ingin saya paparkan di sini antara lain: Pertama, mengutamakan lantunan (parole). Mengutip pembahasan Manneke Budiman dalam antologi ini (hlmn. 80), “sajak-sajak yang membuka diri mereka untuk dilantunkan” merupakan pengamatan yang cerdas. Tidak banyak penyair yang mampu mengolah teknik kepenulisannya dari gaya tekstual kepada sebuah pembacaan yang ekspresif.

Tentang hal ini, saya teringat akan credonya Sutardji Calzoum Bachri (SCB) sebagai upaya pembebasan kata dari makna. Keduanya, baik Steve maupun SCB, berusaha menempatkan posisi bunyi (phone) sebagai pusat dalam studi lingusitik.

Hemat saya, upaya tersebut memiliki alasan mendasar bahwa ucapan lisan akan terus berkembang, sedangkan aksara cenderung relatif tetap. Selain itu, lantunan (istilah dari Saussure yang menegaskan netralitas bunyi) dapat menampilkan penutur sebagai subjek yang tentunya mengartikulasikan kehadiran penutur. Dengan kata lain, merupakan sebuah bentuk dari metafisika kehadiran (menolak teori Barthes bahwa pengarang telah mati).

Kedua, merombak sistem tatabahasa. Sekali lagi, mengutip Manneke dalam antologi ini (ibid), Steve melakukan perlawanan terhadap sistem bahasa yang baku (pernah dilakukan oleh SCB). Beberapa sajaknya antara lain “kematian kata” (hlmn. 35), “tentang puisi” (hlmn. 33), “untuknya” (hlmn. 75) dengan cukup baik melakukan pembalikan serius. Sebagai misal, pada “untuknya”, Steve mengganti kata benda pada kalimat dengan kata sifat: ke segala biru/ke semua hijau dari hubungan referensial pada kata benda samudera dan telaga.

Ketiga, menyelamatkan lokalitas dari wacana yang menyerpih. Saya yakin bahwa antologi Sajak Terakhir lahir rasa keprihatinan Steve terhadap lokalitas yang tak jarang menyusut. Kehadiran wacana global yang semakin mendominasi opini publik menyebabkan unsur-unsur lokalitas kehilangan daya tariknya dan cenderung dinilai “primitif”, antikebaruan.

Sebagai bentuk perlawanan intelektualnya, Steve menampilkan beberapa sajaknya yang dengan gamblang membahasakan kultur masyarakatnya (Timor). Dalam sajak “gadis bakul” (hlmn. 53), “gadis tenun” (hlmn. 55), “gadis timor” (hlmn. 56), dan “na’o” (hlmn. 71), untuk menyebut beberapa di antaranya, Steve mengajak pembaca untuk kembali kepada akar tradisi dan lokalitas yang terlupakan.

Sajak-sajak ini berbicara tentang kepekaan seorang wanita desa dalam membaca gejala-gelaja alam seperti malam, rerumputan, pelita, kemuning padi, tungku, dan angin. Sebab, ketika hidup semakin hiruk pikuk oleh mobilitas sosial, mengutip Goenawan Mohamad, nalar semakin majal dan sepi kian mahal.

Pada akhirnya, antologi Sajak Terakhir ini sangat kaya karena mengandung imaji, simbolisasi, dan hasrat untuk menggali akar tradisi. Seperti Nietzsche, Steve memberikan sebuah ruang di mana tak seorang pun memiliki kebenaran tetapi di mana setiap orang punya hak untuk dimengerti.

Dan saya pikir, demikianlah modernisme: suatu proses “memberi manusia kekuasaan untuk mengubah dunia yang pada gilirannya mengubah diri mereka sendiri”. Karena itulah Steve mengajak pembaca untuk melihat sejarah bahkan lebih remeh daripada puisi dan mitos. Yang pertama menguraikan peristiwa yang telah terjadi, sedangkan yang kedua apa yang mungkin terjadi. Puisi akan tampak sangat filosofis daripada sejarah karena puisi berbicara tentang apa yang universal, sedangkan sejarah apa yang partikular.

Dari pemahaman ini, semoga pembaca (khususnya masyarakat NTT) belajar untuk semakin mencintai puisi. Hanya melalui puisi-sekali lagi mengutip SCB-walau berbeda, yang tertusuk padamu, berdarah padaku.

Maumere, 24 Agustus 2014.
(Dimuat pada Flores Pos, Senin, 01 September 2014)
Dari Nietzsche ke “Wacana yang Menyerpih” Dari Nietzsche ke “Wacana yang Menyerpih” Reviewed by Travel Blogger on 22:12:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.