"sajak terakhir" sudah tiba



STEVEELU.com - Awal 2012 saya jatuh cinta pada puisi. Tanpa berpikir panjang lebar, saya terlibat di berbagai komunitas menulis on line dengan mulai menulis puisi, cerpen, dan esai. Saya masih ingat betul, dan harus saya katakan terus terang bahwa Komunitas Forum Aisiteru Menulis (FAM) adalah komunitas pertama yang memantik semangat saya menulis puisi. Bersama komunitas ini kami pernah menerbitkan buku puisi antologi bersama, semisal "kejora yang setia berpijar" (buku ini diproses pada pertengahan 2012, dan baru terbit awal 2013) "Bukittinggi Ambo di Siko", dan beberapa kumpulan cerpen. Setelah itu, saya juga masih terlibat dalam beberapa komunitas lain dan menulis buku secara bersama-sama.

Seiring kaki melangkah, tangan mengutak-atik dan otak berputar-putar, saya berniat ingin memiliki buku sendiri di pertengahan 2013. Maka, tulisan-tulisan saya, terutama puisi, mulai saya kumpulkan dan sortir berdasarkan beberapa tema yang sudah saya tetapkan. Saya ingin menerbitkan kumpulan puisi yang merangkum beberapa tema itu.

Selain niat ini, saya pun menyimpan cadangan harapan bahwa bila kumpulan puisi ini gagal terbit, maka saya menargetkan agar memiliki buku sendiri tepat di usia saya yang ke-30 (sudah tua ternyata).

Maka, dengan impian dan cadangan harapan itulah saya mulai mengolah puisi-puisi saya, mengeprintnya, membaca ulang tiap malam dan muali mengedit sana-sini. Termasuk, mengituk ulang puisi-puisi saya yang sudah mendekati 100 puisi karena laptop yang saya pakai untuk menyimpan file-nya rusak (jebol). Tidak ada jalan lain, selain mengetik ulang.

Semua proses itu kian menggeliat ketika awal 2014, saya menerima kabar yang paling pahit dalam hidup dan keluarga saya. Kabar pahit itu adalah berpulangnya ayah tercinta (Milikhior Elu) ke pangkuan Tuhan. Maka, bagai sudah tiba waktunya musim penghujan, semangat untuk segera menyelesaikan kumpulan puisi itu kian mengalir deras. Termasuk, menerobos tembok kemalasan dan sikap santai-santai untuk lekas menyelesaikannya.

Dan malam ini, Kamis, 10 Juli 2014, buku yang saya olah dengan peluh, isak, tawa, dan girang itu tiba di tangan saya. Tidak ada kebahagiaan yang kian membuncah yang sanggup membajiri seluruh diri saya malam ini. Seperti ketika malam mendatangi bumi, begitulah yang sanggup saya bahasakan dan ringkaskan kondisi hati saya malam ini.

Saya tahu dan sadar bahwa kehadiran fisik buku ini masih sangat jauh dari sempurna. Namun, apapun katamu, pikirmu, tak ada yang bisa menyurutkan kebahagiaan ini. Saya sungguh berlimpah kegirangan pada malam yang cukup gerah ini.

Maka, dengan kasih saya yang paling jauh dan cinta yang sungguh tak terukur, ingin saya sembahkan antologi puisi "sajak terkahir (untuk sang ayah)" kepada mendiang ayah saya: Milikhior Elu. Saya sungguh yakin dan seyakin-yakinnya bahwa dari tempat yang paling indah itu ia sedang tersenyum bangga untuk namanya yang masih aku sebutkan dalam buku ini, kenangan yang aku kisahkan dalam kumpulan ini, dan semangatnya yang masih aku kobarkan lewat barisan huruf-huruf dalam kumpulan ini.

"Bapa, kita sedang berdoa. Bapa berdoa dengan kata-katanya yang sungguh sunyi, saya berdoa dengan sajak terkahir. Ah, bapa yang asyik, sungguh kita mengalami malam yang maha asyik, malam ini, seperti waktu kita merayu dingin di tengah sawah lebih dari 10 tahun yang lalu."

Steve Elu
"sajak terakhir" sudah tiba "sajak terakhir" sudah tiba Reviewed by Travel Blogger on 01:48:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.