Sully Prudhomme: Peraih Nobel Sastra Pertama Dunia

STEVEELU.com - Sully Prudhomme adalah peraih Nobel Sastra pertama ketika hadiah bergengsi di bidang sastra tingkat dunia itu pertama digelar pada 1901. Pemilik nama lengkap René François Armand SullyPrudhomme ini lahir di Paris Prancis pada 16 Maret 1839.

Keputusan untuk menetapkan Sully Prudhomme sebagai peraih nobel sastra sempat menimbulkan banyak debat karena Sully Prudhomme tak lagi menghasilkan puisi-puisi yang sangat terkenal di dunia luas setelah 1888. Puisi-puisi yang ia tulis setelah tahun itu juga tak banyak dibaca di Perancis, negara asalnya.

Masa Kecil

Saat masih berusia dua tahun Sully Prudhomme kehilangan ayahnya. Setelah peristiwa menyedihkan itu, ia dan ibunya tinggal dengan pamannya. Ketika ia mulai bersekolah, tampak bahwa ia sangat tertarik dengan sastra klasik dan matematika. Namun kerusakan mata yang serius membuatnya meninggalkan cita-citanya untuk menjadi seorang ahli teknik.

Mula-mula ia sempat ingin masuk Ordo Dominican.Tapi akhirnya ia berbelot dan belajar di Lycée Bonaparte. Semasa mengenyam pendidikan di sekolah ini, ia menjadi koresponden pabrik di perusahaan Schneider-Creuzot. Selepas dari situ, Sully Prudhomme belajar hukum, dan dari 1860 ia bekerja di sebuah kantor notaris di Perancis.

Meski terbilang sukses dalam pekerjaan, Sully Prudhomme memutuskan untuk membujang seumur hidup. Ia aktif belajar filsafat di malam hari dan menulis puisi. Keberhasilannya dalam belajar filsafat dan menulis puisi tidak terlepas dari kontribusi penyair Leconte de Lisle. Ialah yang terus mendorong Sully Prudhomme untuk menulis puisi, walau ia tahu bahwa anak didiknya ini tak setia pada cita-cita Parnassia: pada kemewahan klasik. Ia lebih cenderung menggambarkan perasaan terdalamnya sendiri lewat sajak-sajaknya.

Buku pertama Sully Prudhomme yang berjudul Stances et Poèmes, terbit saat berusia 26 tahun. Di luar dugaan, kumpulan sajak yang sangat kental dengan nuansa melankolis ini diterima oleh pembacanya. Dalam buku ini pula memuat puisi terbaiknya, Le vase brisé. Berikut kutipannya:

Le vase où meurt cette vervaine
D'un coup d'éventail fut fêlé;
Le coup dut l'effleurer à peine,
Aucun bruit ne l'a révélé


Menulis Puisi hingga Akhir

Sembari terus menulis puisi, Sully Prudhomme ingin memperbaiki standar klasik kemewahan dalam puisi. Ia banyak membaca dan mendalami puisi-puisi karya penyair dan filsuf Romawi, Lucretius (99-55 SM), yang akhirnya berpengaruh sangat besar dalam puisi-puisinya. Kekagumannya pada karya-karya Lucretius ditunjukkan dengan berhasil menerjemahkan dan menerbitkan jilid I Lucretius De Rerum Natura(On the Nature of Things).

Dalam buku terjemahannya ini ia memuat juga pemikiran Lucretius yang menyatakan bahwa “orang harus memandu hidupnya dengan prinsip yang benar. Kekayaan terbesar manusia ialah hidup dalam kesederhanaan dengan pikirannya untuk terus berpendapat; dengannya ia tak kekuarangan.”

Pernyataan ini sangat membuai pikiran Sully Prudhomme. Lantas ia pun tertarik untuk mengekspresikan pemikiran filosofisnya lewat puisi-puisinya, yang kadang-kadang mungkin sulit dimengerti. Terkadang puisi-puisinya menghadirkan penggunaan gambaran didaktis, yang dengan sengaja ia biarkan agar pembaca menafsirkannya sendiri.

Saat Perang Perancis-Prusia atau yang dikenal juga dengan sebutan Perang 1870 (19 Juli 1870 – 10 Mei 1871) meletus, Sully Prudhomme mendaftarkan diri ke militer dan menulis Impressions de la guerre pada 1870. Bersamaan dengan itu, ibu, paman, dan bibinya meninggal dunia. Ia pun terkena stroke, yang hampir melumpuhkan seluruh tubuhnya, keadaan di mana ia harus berjuang untuk tidak banyak beraktivitas seperti sebelumnya.

Dalam keadaan terbatas seperti itu, cita-cita Sully Prudhomme untuk menulis puisi masih tetap tak terbendung. Kerja kerasnya mengatasi keterbatasan fisik itu pun membuahkan hasil dengan menerbitkan buku Les vaines tendressess (1875) dan La justice (1878).

Di antara karya-karya Sully Prudhomme, yang paling terkenal adalah epik 4.000 baris Le bonheur (1888). Dalam karya ini ia melukiskan pencarian Faustian akan cinta dan pengetahuan. Lewat karya ini, Sully Prudhomme terlihat sangat ambisius untuk menghasilkan syair filsafat ilmiah.

Di tahun terakhir hidupnya, Sully Prudhomme sungguh-sungguh dibuat tak berdaya oleh kelumpuhan. Ia meninggal di villanya yang terletak Châtenay-Malabry dekat Paris, pada 7 September 1907. Uang dari Penghargaan Nobelnya ia sumbangkan untuk asosiasi penulis Perancis untuk menolong para penyair yang memiliki cita-cita tinggi dengan penerbitan buku pertama mereka.

Sully Prudhomme dinilai layak menerima nobel sastra karena komposisi puitisnya, yang memberikan bukti idealisme tinggi, kesempurnaan artistik dan kombinasi langka dari kualitas baik hati dan pikiran.

Karya Sully Prudhomme

Puisi
1. Stances et poèmes, 1865.
2. Les épreuves, 1866.
3. Les solitudes: poésies, A. Lemerre (Paris), 1869.
4. Les destins, 1872.
5. La France, 1874.
6. Les vaines tendresses, 1875.
7. Le zénith (puisi), published in journal Revue des deux mondes, 1876.
8. La justice (puisi), 1878.
9. Poésie, 1865-88, A. Lemerre, 1883-88.
10. Le prisme, poésies diverses, A. Lemerre (Paris), 1886.
11. Le bonheur (puisi), 1888.
12. Épaves, A. Lemerre, 1908.


Prosa
1. Œuvres de Sully Prudhomme (poetry and prose), 8 volumes, A. Lemerre, 1883-1908.
2. Que sais-je? (philosophy), 1896.
3. Testament poétique (essays), 1901.
4. La vraie religion selon Pascal (essays), 1905.
5. Journal intime: lettres-pensée (diary), A. Lemerre, 1922.


Steve Elu
Sully Prudhomme: Peraih Nobel Sastra Pertama Dunia Sully Prudhomme: Peraih Nobel Sastra Pertama Dunia Reviewed by Travel Blogger on 02:57:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.