suka-duka masa kecil




STEVEELU.com - Sebagai anak laki-lagi yang dirindukannya sejak lama, tentu saya mendapat perhatian besar dari kedua orangtua. Apalagi, menurut cerita ayah dan ibu, saya bukanlah bayi yang sehat dan segar bugar di masa-masa bayi. Katika saya baru berumur setahun lebih, saya pernah jatuh dari tempat tidur.

Kata ibu, itu ulah dari bapaknya yang sudah meninggal. Ia ingin saya mengenakan namanya sebagai nama panggilan saya. Makanya ia menurunkan saya dari tempat tidur ke tanah. Waktu kejadian itu saya tidak menangis sehingga tidak diketahui oleh ibu yang sedang memasak di dapaur. Sebagai tanggapan atas "permintaan" ba'i (kakek atau ayah dari ibu) saya memakai mananya: "Luis". Di kemudian hari, nama ini sangat jarang saya gunakan. Yang saya gunakan hanyalah nama dari ba'i dari pihak ayah, yakni "Poto". Di sama saya kecil, kedua nama ini sering dipadukan, sehingga terkadang saya dipanggil "Pot-Luis".

Lagi-lagi keyakinan orangtua saya, seperti juga orang-orang Oepoli pada umumnya pada masa itu, sekitar 1985 (-hingga sekarang), akan paham animisme (juga dinamisme) masih terasa kuat. Namun, itu bukan berarti selalu negatif. Dari praktik yang saya ketahui, dengan menggunakan nama dari leluhur yang sudah meninggal, orang-orang di Oepoli ingin tetap melanggengkan relasi antara orang yang masih hidup dan orang yang sudah meninggal; keluarga yang masih hidup dengan keluarga yang sudah meninggal. Hal ini tentu mempunyai makna sangat positif karena orang (anak) yang menggunakan nama leluhur tertentu akan selalu mengingat untuk mendoakan keselamatan bagi leluhur itu.

Kira-kira saat saya berumur dua tahun, saya terserang sebuah penyakit yang sangat aneh di mata orangtua saya. Kaki dan sekujur tubuh saya terkena bisul yang sangat banyak jumlahnya. Dengan keadaan kampung yang masih terisolir, jalan satu-satunya untuk mengatasi penyakit ini adalah dengan menggunakan "maol meto" (obat kampung/tradisional). Obat kampung adalah ramuan yang terdiri dari dedaunan dan sejenisnya yang biasanya diambil dari hutan.

Suatu ketika, ayah saya pergi ke hutan untuk mencari obat kampung yang direferensikan oleh orang-orang kampung. Di hutan, sebelum menemukan semua jenis obat yang dicari, ayah malah berjumpa dengan seekor kera kecil yang tersesat dinggal induknya. Ayah menangkap kera itu dan dengan semangat ia membawa kera itu pulang ke rumah. Ayah berniat untuk merawat dan membesarkannya.

Setibanya di rumah, ayah malah dimarahi oleh ibu karena tidak membawa obat, tapi malah membawa anak kera. Kemarahan ibu meledak-ledak karena ia menilai ayah tidak peduli pada anak laki-laki tunggalnya yang sakit, tetapi lebih peduli pada anak kera yang tersesat. Ibu bersikukuh untuk melampiaskan kemarahannya kepada ayah dengan tidak mau memberi makan kera itu. Akhirnya, dua hari kemudian, kera itu mati.

Entah bagaimana caranya, akhirnya ayah dan ibu berhasil menyelamatkan saya dari penyakit itu. Saya bertumbuh baik layaknya anak-anak sekampung. Ketika saya berumur enam tahun, saya masuk ke Sekolah Dasar. Di kampung tidak ada Taman Kanak-Kanak (TKK) seperti sekarang. Tetapi, karena kaki saya kurang tinggi, saya diterima oleh Wali Kelas I SDK Bokos waktu itu, Pak Nale, sebagai murid pendengar. Dari orangtua, saya mendapat penjelasan bahwa menjadi murid pendengar tidak akan naik kelas (ke Kelas II). Tahun depan masih mengulang di kelas yang sama.

Mendengar itu saya memutuskan untuk berhenti. Lebih baik saya ikut ayah ke sawah atau ke hutan untuk mencari sapi dari pada saya ke sekolah tapi nanti tidak naik kelas, pikir saya waktu itu. Jadilah saya tidak lagi ke sekolah meski dipaksa ibu berkali-kali. Saya memilih ikut ayah ke sawah. Salah satunya, setiap kali saya lelah di jalan, ayah akan selalu menggendong saya. Itu kenangan yang sangat indah bersama sang ayah yang tak pernah akan saya lupakan.

Ketika saya genap berumur tujuh tahun, barulah saya kembali ke sekolah. Di masa-masa awal, saya tidak mengalami kesulitan untuk mengikuti pelajaran di sekolah, meski orangtua, terlebih ibu, sangat kuatir dengan saya karena tidak pernah mau belajar. Setiap malam kalau disuruh belajar, saya lebih memilih tidur. Di satu sisi, ibu sangat mengkuatirkan masa depan saya. Di sisi lain, ayah cenderung membela. Kalau saya malas ke sekolah dan mau ikut bersamanya kemana pun ia pergi (lebih banyak ke sawah karena ia seorang petani sejati), toh ia tetap mengiyakan.

Petaka kembali menimpa saat saya di Kelas III SD. Saya jauh sakit yang lumayan berat selama tiga bulan. Orangtua saya sangat kutir bahwa saya akan meninggal waktu itu. Segala cara sudah ditempuh, namaun penyembuhan saya berjalan sangat lamban. Sampai saat ini, saya tidak tahu persis penyakitnya apa, tapi menurut keterangan ibu, saya sakit karena pernah jatuh.

Betul. Saya pernah jauh dari kuda dalam sebuah perjalanan ke kampung ayah saya. Transportasi perjalanan antarkampung waktu itu hanya bisa jalan kaki atau menunggang kuda. Waktu itu saya bepergian dengan ayah ke kampungnya. Di pintu gerbang mau masuk ke kampungnya ada pintu setinggi sekitar 30 cm yang harus dilalui. Ayah saya berjalan di depan sambil menuntun kuda yang saya tunggangi. Perkiraan ayah, karena pagar pintu itu tidak terlalu tinggi, sang kuda akan melangkah seperti biasa. Ternyata ia melonpat. Saya tak ada persiapan. Jadilah saya terjun bebas dari atas kuda itu dan dada saya menimpa batu yang ada di sisi kiri kami.

Sepulang dari kampung ayah, saya merasa baik-baik saja. Ayah juga, sepertinya janggung, ia hanya bercerita seadanya kepada ibu soal kejadian itu. Tentu saja ibu mulai menggerutu karena anak lelakinya tidak diperhatikan dengan baik selama dibawa pergi. Ah, biasalah... seorang ibu selalu akan seperti itu.

Karena sakit itu, orangtua saya, juga beberapa teman kelas mengira bahwa saya tidak akan naik kelas. Pasalnya, saya sudah ketinggalan bahan pelajaran. Ujian Caturwulan (waktu itu masih memakai sistem kurikulum Caturwulan, bukan semesteran seperti sekarang ini) juga tak saya ikuti. Saya hanya mengikuti ujian susulan setelah sembuh. Di luar dugaan, saya bisa menyelesaikan ujian dengan baik dan ikut naik kelas bersama teman-teman yang lain dengan nilai yang tidak jelek-jelek amat.

Sembari itu, keinginan saya untuk selalu ikut ke mana pun ayah pergi masih terawat dengan baik. Dari ayah pula saya belajar membuat katapel untuk menembak burung, juga membuat beragam model jerat burung. Semua aktivitas itu saya lakukan ketika bersama ayah (atau juga ibu) di sawah. Jadi masa kecil saya antara umur 2 tahun sampai 12 tahun, saya habiskan di sawah. Masa-masa penuh kekaguman dan keindahan.

Steve Elu
suka-duka masa kecil suka-duka masa kecil Reviewed by Travel Blogger on 15:07:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.