Steve Elu, "Anak dari Tuan dan Nyonya Puisi"

Oleh Veronica B. Vonny

"tuan puisi selalu membawakan saya puah, manus, dan aob, karena ia telah menganggap saya saudaranya, sesamanya, bahkan dirinya. ia senantiasa membelah tabirnya untuk saya selami, hingga ke sulur-sulurnya."

STEVEELU.com - Kalimat awal "Pengantar" dari sang penulis ini terasa sangat menjanjikan sesuatu: bahwa ini bukan buku puisi kacangan. Nyatanya memang, setelah membaca dari halaman pertama hingga terakhir, terasa bahwa itu bukan sekadar janji. Bagi Steve, sebagaimana diungkapkannya lebih lanjut dalam "Pengantar" tersebut, puisi adalah puah (pinang), manus (sirih), dan aob (kapur)---tiga benda yang sangat dipentingkan dalam acara-upacara adat di Timor, khususnya Suku Dawan, tempat kelahirannya. Mereka datang kapan saja "untuk saya kunyah, selami rasanya, dan akhirnya meludahkannya sebagai kata. Kata-kata yang lahir dari kunyah-selami itulah yang sekarang ada di tangan Anda.". Mereka juga "tidak datang dari pengalaman puncak (peak experience)", tapi "dari pengalaman jatuh, pengalaman kehilangan, dan pengalaman ketiadaan", khususnya kehilangan sang ayah, yang wafat awal Januari lalu.

Maka, begitulah. Ia menghadirkan puisi-puisinya terutama sebagai persembahan bagi sang ayah, juga ibu, dua manusia yang telah melahirkan dan membesarkannya. Dalam (mungkin) setengah dari seluruh puisi yang ada, tergambar jelas tentang ayah dan ibunya yang begitu bersahaja dan penuh cinta, juga sangat religius dan telah menempanya menjadi seorang pribadi yang berkarakter kuat, meskipun keduanya hanya sepasang petani sederhana. Alam dan tradisi leluhur di mana ia lahir dan dibesarkan juga tergambar kuat. Ia banyak menyoroti kondisi desanya yang tak lagi subur, tradisi leluhurnya yang makin tergerus zaman, dan keprihatinan tentang kondisi sosial lainnya, dengan gaya tutur khasnya yang mengalir tenang tanpa emosi meluap, dibalut diksi-diksi yang teramat "alam", seperti angin, hujan, awan, air, sungai, tanah, bulan, matahari, fajar, ombak, dan semacamnya. Puisi-puisi lainnya bicara tentang makna rumah dan kepulangan, ketiadaan, perpisahan, refleksi diri, religi, juga tentang cinta dan gadis-gadis 'lokal', seperti puisi "gadis bakul", "gadis pembaca malam", "gadis tenun", dan "gadis Timor".

Sepakat dengan Manneke Budiman, dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, yang memberikan kata pengantar di bagian akhir buku, bahwa pemuisi muda ini berhasil "meramu modernitas dan tradisi dengan ringan dan terampil tanpa memperlihatkan adanya kegamangan" (hlm. 79). Untuk ini, lima jempol buat Steve, yang mengaku baru pertengahan 2012 mengakrabkan diri dengan puisi dan sebelumnya belum pernah menulis puisi! Cukup mencengangkan, karena puisi-puisinya---yang selalu ditulisnya tanpa huruf kapital satu pun (kecuali untuk kata-kata yang merujuk nama Tuhan)---sejak awal ia mengikuti Galeri Puisi PEDAS di PRP II, jelas sudah menunjukkan kematangannya berpuisi. Sepertinya benar, latar belakang pendidikan seminari dan filsafatnyalah yang mematangkan dan mewarnai alam pikirnya, seperti juga dikatakan Remmy Novaris DM, penyair senior yang menjadi pembicara dalam acara peluncuran buku sajak terakhir (untuk sang ayah), 12 Juli lalu, yang kebetulan juga menjadi penerbit buku ini.

Sepakat juga dengan Pak Manneke bahwa kekuatan Steve jelas tidak terletak pada sajak-sajak sentimental, yang secara filosofis nyaris tidak menawarkan pemiki(r)an ataupun permenungan apa-apa" (hlm. 82). Ya, walaupun sama sekali tak terbesit kesan "galau yang cengeng" dalam sajak-sajak cinta Steve, tak terasa kesan yang khusus dan mendalam dari sana. Barangkali juga, ini disebabkan Steve seakan masih membangun jarak antara dirinya dan ungkapan hatinya, sehingga kita tak mampu menyelami secara dalam apa yang sebenar ia rasakan atau alami dalam perjalanan cintanya.

Mengamati fisik buku, kovernya yang berwarna cokelat dengan gambar seorang bapak, sangat mendukung isi buku. Bagian dalamnya, boleh dibilang sangat biasa, seluruhnya dihiasi font Franklin Gothic Medium Cond (kecuali halaman iii yang sepertinya "kecelakaan", font-nya beda sendiri: Times New Roman!). Cukup jelas dan cukup enak dibaca. Entah sengaja entah tidak, sajian yang sederhana ini memang "mendukung" kesederhanaan yang diusung puisi-puisi Steve.

Dari segi EYD, sayang sekali masih cukup banyak typo yang harus dikoreksi. Bahkan, dalam kover belakang yang berisi nukilan pengantar Manneke Budiman pun terdapat typo: "yag" (seharusnya "yang"), juga dalam kalimat yang terkutip di atas "pemikian" (seharusnya "pemikiran"). Pun dalam judul dan isi karya, ada kata "koyakan hatimu" (seharusnya "koyakkan") "generasai" (seharusnya "generasi"), dll, lalu: kau+verba tak berawalan yang ditulis berspasi padahal seharusnya tanpa spasi, ketidakkonsistenan penulisan kata ulang (mayoritas kata ulang ditulis Steve tanpa tanda hubung, tapi ada juga yang ditulis dengan tanda hubung---dalam puisi yang sama). Mungkin dalih karena "buku ini diterbitkan terburu-buru demi mengejar acara peluncuran buku yang telanjur dijadwalkan tanggal 12 Juli, bahkan sampai 'menyalip' buku seorang penyair asal Sulawesi yang mestinya terbit duluan" (sehingga tidak sempat diedit lagi)---seperti dikatakan Om Remmy, cukup berterima bagi sebagian pembaca. Namun, bagi aku pribadi, sebagai pengusung EYD, pesanku cuma satu: Steve harus lebih banyak belajar EYD dan sering-sering mengecek penulisan kata-kata baku di KBBI! :)

Satu eksperimen diksi yang mungkin malah terkesan "konyol", adalah pendwipurwaan nama-nama binatang seperti "sesapi" untuk "sapi-sapi" dan "kekambing" untuk "kambing-kambing". Well, sedikit buka kartu, adanya diksi "kekambing" dan 'hujan' dwipurwa lainnya dalam puisi "si bocah sunyi" (hlm. 58), adalah sebab puisi ini---yang rupanya pernah diikutsertakan dalam Galeri Puisi PEDAS bertema gambar gembala beberapa waktu lalu---gagal dimenangkan, meskipun sebenarnya isinya cukup berisi! Wkwkwk.....

Akhirnya, kembali ke pembahasan awal. Ayah, bagi Steve, adalah "tuan puisi" dan ibunya adalah "nyonya puisi", meskipun mungkin---senyatanya---mereka tak pernah menulis sebuah puisi pun sepanjang hidup. Ruh "tuan dan nyonya puisi" itu diungkap sang "anak puisi" dengan metafora liris yang begitu indah dan penuh makna, dalam puisi ke-74 (hlm. 74) di bawah ini. Dan, memang, Steve sungguh seorang "anak puisi" yang di kemudian hari akan menjadi "ayah puisi"! (y)

tuan dan nyonya puisi

aku memanen malam yang ditinggalkan ibu
dekat pondok. lalu kusimpan dekat tungku
agar ia hangat tidurnya, lalu kami pulang ke rumah

di jalan ibu bercerita tentang masa lalu
di pondok. katanya: "ayahmu seorang puisi.
setiap kali ia menulis kata, segerombolan padi
siap menari-nari di pematang, setiap kali
ia menutur kata, segala perkara bermuara tuntas."

aku butuh waktu seteguk untuk membedakan
mana ayah, mana puisi. tapi ibu berceloteh lagi
"kau lahir dari puisi yang ditanam ayah di pondok"

aku semakin bingung. "ya sudahlah. mungkin aku
adalah anak dari tuan dan nyonya puisi." Amin.

gajayana, 24 februari 2014
Steve Elu, "Anak dari Tuan dan Nyonya Puisi" Steve Elu, "Anak dari Tuan dan Nyonya Puisi" Reviewed by Steve Elu on 11:55:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.