Sajak Terakhir: Oase di Tengah Kegaduhan Pilpres



STEVEELU.com - “Ia (penulis) meramu modernitas dan tradisi dengan ringan dan terampil tanpa memperlihatkan adanya kegamangan," tegas Dosen FIB Universitas Indonesia Manneke Budiman Ph.D.

JAKARTA, Jaringnews.com - Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah di Jakarta dan hiruk-pikuk politik Indonesia tak menyurutkan antusiasme pemerhati dan pegiat sastra di Jakarta untuk menghadiri peluncuran antologi puisi "Sajak Terakhir" karya penyair muda kelahiran Oepoli, 30 september 1985, Steve Elu di Pustaka Obor Indonesia Jakarta, Sabtu (12/7) sore.

Sajak Terakhir (untuk sang ayah) adalah sebuah buku kumpulan puisi yang ditulis berdasarkan pengalaman nyata penulis dalam menginternalisasikan dan menghidupi nilai-nilai budaya dalam kesehariannya. Karena itu, situasi, sosiasialitas, etnisitas, dan lokalitas yang pernah dialami dan disaksikan penulis sangat kental terasa dalam puisi-puisi ini.

“Puisi-puisi ini saya tulis berdasarkan pengalaman pergulatan saya dalam menghidupi nilai dan relasi sosial di sekitar lingkungan hidup saya. Ada kalanya saya terlampau jauh melangkah dari apa yang sedang dihidupi masyarakat atau pula terlambat menginternalisasikan nilai-nilai baru yang ditawarkan masyarakat,” aku Steve pada Jaringnews.com.

Ia menandaskan puisi-puisi dalam buku ini adalah bentuk kegelisahan yang sedang dihidupi oleh anak-anak muda sekarang ini. Puisi-puisi ini ingin menggelitik kaum muda untuk mulai cermat pada kehidupan, lingkungan, dan budaya yang terkadang mengikat dari pada lepas bebas.

“Ia (penulis) meramu modernitas dan tradisi dengan ringan dan terampil tanpa memperlihatkan adanya kegamangan. Padahal, menurut saya, inilah tantangan terbesar yang dihadapi para penyair di Indonesia yang harus bekerja dengan peranti yang disediakan oleh tradisi luar sembari harus mencoba untuk membumikannya sebagai bagian dari yang lokal," ulas Dosen FIB Universitas Indonesia Manneke Budiman Ph.D.

Manneke menegaskan bahwa penulis mampu merangkai kata dan gagasan dengan kehalusan perasaan, tetapi kita juga dengan kuat bisa merasakan adanya determinasi. Inilah hal yang pertama kali menyentak pada saat kita mulai menekuni sajak-sajaknya pada awal kumpulan ini.

Pembedah buku ini, Remmy Novaris DM mengatakan kemampuan seorang penyair dalam menulis dan merangkai kata menjadi puisi merupakan implementasi dari latar belakang pendidikan serta bacaan yang sudah ia geluti.

“Ketika saya berkenalan dengan Steve, saya melihat bahwa ia memiliki kemampuan untuk itu. Latar belakang pendidikan filsafat turut membentuknya untuk menghasilkan puisi dalam kumpulan ini,” kata Remmy merujuk pada latar belakang pendidikan penulis di STF Driyarkara Jakarta.

Remmy mengakui unsur budaya lokal penulis sangat terasa. Lewat puisi-puisinya, kita tidak hanya diajak melayang-layang, tapi juga bisa merasakan suatu model kehidupan desa penulis.

Johannes Sutanto de Britto
Sajak Terakhir: Oase di Tengah Kegaduhan Pilpres Sajak Terakhir: Oase di Tengah Kegaduhan Pilpres Reviewed by Travel Blogger on 09:16:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.