Rogare: Tradisi Doa Minta Hujan Di Oepoli

STEVEELU.com - Oepoli adalah sebuah perkampungan yang terletak di ujung Timur Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Wilayah berupa daratan rendah, persis di bawah kaki bukit sebelum ke bibir pantai. Masyarakat Oepoli menyebut pantai yang menyudahi perkampungan ini dengan nama faefnafu (bahasa Dawan). Terjemahan harafiahnya adalah “bulubabi”.

Di perkampungan ini hanya terdapat sebuah desa yakni Desa Netemnanu Utara. Sekitar 2010, Oepoli beberapa desa tetangganya, seperti Selatan, Netemnanu, Kifu, dan Nunuana, dimekarkan oleh pemerintah daerah Kabupaten Kupang menjadi satu kecamatan yakni Kecamatan Amfoang Timur.

Mata pencaharian masyarakat Oepoli adalah petani sawah dan berladang, berdasar pada struktur tanah yang merupakan dataran rendah. Berdasarkan religiositas, penduduk Oepoli memeluk dua agama besar yakni agama Katolik Roma sebagai mayoritas dan Kristen. Pada 2013, satu-satunya paroki yang ada di Desa Netemnanu Utara, Paroki St Maria Mater Dei Oepoli, merayakan satu abad kehadiran Gereja Katolik di daerah yang dihuni tiga suku besar ini, yakni Suku Kaesmetan, Suku Neten, dan Suku Timau. Ketiga suku ini adalah ranting dari suku besar yang ada di Timor yakni Suku Dawan.

Meskipun Oepoli merupakan sebuah perkampungan yang sangat kecil, namun ia menyimpan sebuah ritual kekatolikan yang sangat purba. Ritual itu disebut “rogare”. Pewaris tradisi ini adalah Suku Kaesmetan. Rogare ialah doa meminta hujan. Ritual suci ini biasanya digelar menjelang musim penghujan. Dalam doa rogare para peserta hanya memanjatkan satu ujud yakni memohon agar segera turun hujan sehingga masyarakat Oepoli bisa menanam. Atau, bisa juga untuk menyirami tanaman perkebunan mereka.

Rogare, atau oleh masyarakat setempat disebutnya sebagai “roga”, biasanya diawali dengan doa dan tapa selama tiga hari (senin-rabu) oleh penjaga Kapela Santu Reliqi Oepoli (sebuah gereja kecil yang letaknya di samping tempat pemakaman umum). Sedangkan umat lainnya melakukannya selama sembilan hari. Tidak setiap tahun tradisi ini dilakukan. Ia hanya digelar bila benar-benar hujan tidak turun, sekitar Januari atau Februari.

Dalam Doa Roga, tiap kutub memiliki pelindungnya masing-masing. Selatan adalah Nossa Senhora (Bunda Maria), Utara St Antonio Lagnio (St. Antonius Padua), Timur St Fransiskus Xaverius dan Barat St Don Louis IX.

Saat ini pemimpin ritual roga adalah Gregorius Parera, yang juga adalah cucu Albino Parera pemimpin sebelumnya. Keduanya adalah penjaga Kapela Santu Reliqi Oepoli. Saat roga berlangsung, peserta wanita memakai mahkota dari lingkaran batang dan daun anggur hutan atau orang Oepoli menyebutnya dengan nama “nonmeob”, dengan rambut dibiarkan tergerai.

Doa ini diakhiri dengan Romata (pembersihan diri). Pada hari ke-9, perarakan menuju barat dan berputar kembali ke Pantai Faifnafu di Oepoli. Ketika tiba di Pantai Faifnafu, mula-mula pemimpin roga membuka kain hitam yang menyelubungi salib. Kemudian ia mengibaskannya ke arah empat juru mata angin sambil menyebut nama Allah Tritunggal untuk berkenan menurunkan hujan dari langit. Kemudian semua peserta membuka perlengkapan yang dipakainya dan membuangnya ke laut.

Masyarakat Oepoli yakin bahwa pada hari ke-9 (hari penutupan novena) akan terjadi hujan yang sangat lebat. Dan ini sudah terjadi berulang kali.

Steve Elu
Rogare: Tradisi Doa Minta Hujan Di Oepoli Rogare: Tradisi Doa Minta Hujan Di Oepoli Reviewed by Steve Elu on 18:22:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.