Positif, Bukan Akhir Segalanya

STEVEELU.com - Positif. Inilah novel yang sudah selesai saya baca sekitar seminggu yang lalu. Untuk membacanya, saya membutuhkan empat hari. Kurun waktu itu, bagi saya, termasuk yang paling singkat untuk kategori saya membaca sebuah novel.

Sebetulnya, saya tidak ingin membaca sebuah buku secepat itu. Karena, suatu ketika, seorang teman saya mengatakan bahwa cara membaca cepat itu adalah cara kurang bagus. Pasalnya, menurut dia, seorang penulis novel pasti membutuhkan lebih dari tiga bulan, atau bahkan satu dua tahun untuk menyelesaikan novelnya. Dan kita, dengan begitu sombongnya membaca novel tersebut hanya dalam hitungan hari.

Dalam konteks tertentu saya menyetujui pendapat ini. Tindakan membaca adalah sebuah bentuk apresiasi terhadap penulis. Karena itu, sudah sepantasnya kita mengambil waktu yang cukup untuk menyelam ke dunia idea yang hendak ditawarkan oleh penulis. Tapi tidak salah telak rasanya juga kalau saya membaca art novel "Positif" dalam empat hari karena memang ceritanya sangat menarik bagi saya.

Art Novel ini bercerita tentang seorang ibu dan anak bungsunya, perempuan, terinfeksi virus HIV. Ibu bernama Nada ini memiliki tiga anak. Dan, anak satu-satunya yang perempuan itu bernama Asa. Anak perempuan itu pula yang terinfeksi virus HIV, "warisan" dari ayahnya, Bobby. Maka, di judul novel diberi judul "Positif! Nada untuk Asa".

Penulis art novel ini, Ita Sembiring, memulainya dengan sangat indah. Istilahnya langsung tancap gas. Yaitu, mengawali novel ini dengan kisah kematian sang suami. Setelah pemakaman, barulah diketahui kalau suaminya meninggal karena terinfeksi virus HIV. Setelah itu, cerita langsung bermain di puncak. Artinya, perasaan pembaca mulai diaduk-aduk oleh penulis dalam wilayah garapan ini: sang janda yang akhirnya tau bahwa ia mendapat warisan penyakit dan puteri bungsunnya.

Dalam kisah selanjutnya penulis mengeksplorasi secara lengkap bagaimana kondisi Nada yang harus menerima kenyataan bahwa orangtuanya tak bisa menerima dia dalam keluarga karena ia mengidap virus "memalukan" itu. Tetangga-tetangga pun lain mencibir dan menjaga jarak. Ayahnya yang adalah seorang terpandang dan pandai pun menjauh. Tinggalah Nada seorang diri menanggung derita yang tiada bertara ini.

Saya akhirnya memahami bahwa cara pandang ini tepat. Karena, tujuan penulis adalah bukan soal siapa yang meninggal (dalam hal ini suami) karena virus HIV. Tapi, orientasinya adalah apa yang dialami oleh orang-orang yang masih hidup.

Pergulatan itu, kemudian sedikit mencair, ketika Asa akhirnya menemukan orang yang sanggup mencintai dia dengan menerima keadaannya. Kisah romatis dan cinta dihadirkan sedikit di bagian akhir yang berfungsi sebagai "penenang" setelah perasaan pembaca dijumpalitkan sejak awal novel. Ah, saya memang harus mengatakan bahwa Ita sebagai penulis sangat berhasil memainkan perasaan pemacanya.

Hanya saja, dan juga menjadi lebih baik bila saya tidak hanya memuja-muji, saya melihat celah lain sebagai evaluasi, meski sangat sedikit. Saya menemukan sebauah seting cerita dan komunikasi yang mengambil gaya sinetron Indonesia di bagian petermuan Asa dengan Wisnu di warung dekat kantor (halaman 121-128). Komunikasi mereka saat memesan makanan sama persis seperti seintron FTV yang biasanya ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta.

Mengapa saya mengatakan bahwa ini kurang? Karena di bagian akhir novel, Ita mengkritik televisi yang selama ini menayangkan sinetron-sinetron yang sangat minim nilai edukatifnya. Ita menyebut bahwa di situ para produser dan sutradara hanya mengejar komersil dan tayang. Nah, ini akan menjadi kontra produktif ketika model yang dikritik ternyata tetap dipakai juga.

Lebih dari itu semua, saya harus katakan bahwa saya sungguh bersyukur karena bisa membaca novel ini. Novel ini tidak pertama-tama bercerita tentang pengaruh virus HIV tetapi bagaimana kita mengatasi stigma yang biasanya diberikan masyarakat sekitar. Selamat membaca.

Steve Elu
Positif, Bukan Akhir Segalanya Positif, Bukan Akhir Segalanya Reviewed by Steve Elu on 15:08:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.