Mempelai Naga (Buku Satu)



STEVEELU.com - Cen Cu seorang gadis sederhana hidup bersama ibu tirinya yang tak segan-segan memperlakukannya secara kasar. Pekerjaan harian Cen Cu adalah memberi makan ternak babi peliharaan keluarganya. Untuk menambah penghasilan, Cen Cu menanam sayur sawi. Di sea-sela menjaga tugas utamanya itu ia masih harus mengantar serta menjemput adik tirinya ke sekolah.

Suatu ketika, babi peliharaanya terlepas dari kandang dan masuk ke hutan. Cen Cu harus mencari babi ke hutan. Di tengah hutan ia berjumpa dengan seorang laki-laki aneh. Perjumaan pertama berlalu, lalu tibalah perjumpaan berikut. Mereka kemudian berkenalan. Cen Cu akhirnya juga tahu kalau sosok laki-laki itu adalah seekor naga. Tanpa Cen Cu ketahui, naga itu telah memilihnya sebagai mempelai yang akan mengandung anaknya. Berita ini tentu saja tak sedap untuk didengar. Ibu tirinya menyiasati agar aib ini menjauh dari rumah. Jadilah Cen Cu dititipkan kepada seorang pemulung tua.

Bersama dengan itu, Hartanto, si pemilik pabrik kayu di kampung itu mencari Cen Cu untuk membunuhnya. Pasalnya, lewat bantuan dukun Datuk Itam, Hartanto tahu bahwa keberadaan naga itu mengancam kehidupan keluarganya. Tidak hanya itu. Parbrik kayu itu juga menuai pro kontra karena diduga dibangun di atas sebuah situs purbakala di Kemingking.

Rigel, seorang wartawati, berusaha membongkar konspirasi di baliknya, tetapi usahanya digagalkan secara tragis.
Ia pun akhirnya harus mengalami nasib serupa seperti Cen Cu: hamil bersama putera Hartanto di luar nikah. Belum sempat melahirkan, putera Hartanto juga meninggal dunia. Sementara Cen Cu pun meninggal saat melahirkan anak dari sang naga. Ketika ia meninggal, raga itu diambil dan dibawa pergi oleh sang naga.

Membaca buku "Mempelai Naga" ini selah sedang memasuki suatu dunia penuh teka-teki. Bagi Anda yang hidup dalam budaya tutur lisan atau cerita dongen yang masih kental, sungguh akan menikmati buku ini. Meiliana K. Tansari berhasil menggiring pembaca untuk terus beranjak dari satu halaman satu ke halaman lain karena saat membaca sekaligus kiga bisa merasakan bahwa seseorang sedang bercerita.

Mungkin perlu dibayangkan seperti ini. Malam pekat. Anda dan ayah atau ibu duduk mengelilingi perapian. Udara dingin. Suara kodok bersahut-sahutan. Debur ombang datang samar-samar dari jauh, menyelip di antara belaian hawa dingin yang menjilat-jilat kulit. Telinga masih terpaku pada kisah yang tertabur sedikit demi sedikit dari mulut ayah. Cerita itu adalah dongeng tentang "Mempelai Naga". Ah, sungguh nikmat. Selamat membaca, bila Anda sudah sungguh berada dalam dunia seperti itu. Anda tak akan merasa puas bahwa Meiliana K. Tansari hanyalah "pecundang sialan" yang selalu membuat Anda lapar dan harus untuk terus mendengar (-membaca) dongeng ini.

Steve Elu
Mempelai Naga (Buku Satu) Mempelai Naga (Buku Satu) Reviewed by Travel Blogger on 17:06:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.