Membaca Afrika dalam Sajak Okot p'Bitek



STEVEELU.com - Afrika yang Resah. Begitulah sebuah buku kecil yang saya dapatkan ketika suatu kali saya berkunjung ke Pustaka Obor Indonesia. Sepintas, buku ini mungkin tidak akan menarik perhatian bila dipajang di rak buku. Sebab, ukurannya cukup kecil (11x17 cm), covernya biasa-biasa saja, dan tentu saja kalah mentereng dengan buku-buku tenlit yang kovernya selalu terang benderang.

Namun, apakah isinya pula seminim ukurannya? Tentu saja tidak. Bagaimana bisa dibayangkan bahwa buku ini berkisah tentang "Afrika yang Resah" - sebuah negeri yang saya pun belum pernah menyentuhnya secara langsung - tapi ia "Diterjemahkan dan Diberi Kata Pengantar oleh Sapardi Djoko Damono".

Nah, kalau sudah menyebut nama ini saya merasa sangat dekat dengan orangnya. Pasalnya Sapardi Djoko Damono (SDD) adalah orang Indonesia, sama seperti saya, dan saban kali sajak-sajaknya yang menggigit itu menggigilkan malam-malam saya. Saya sungguh tergiur untuk secepatnya menyusup ke halaman-halaman buku kecil ini karena saya yakin SDD punay kompetensi untuk menjembatani saya sehingga saya bisa tiba dengan kagum yang riuh akan saja dalam buku ini.

Dan, yang lebih seru lagi adalah Prakata buku ini ditulis oleh Mochtar Lubis. Na lho,,, lebih sadis lagi sekarang. Dengan dua nama yang membubuhkan tintanya di awal buku ini saja, sudah menunjukan bahwa mereka sudah meluluskan buku ini untuk sampai ke tangan saya. Jembatan itu sudah sangat kokoh dan saya harus memutuskan untuk menyebrang untuk lekas tiba dan membiarkan tubuh dan pikiran dimandikan sajak-sajak buku ini atau malah menarik diri? Semua tergantung keputusan saya.

Saya lekas menyeberang. Saat membaca prakata Mochtar dan pengantar SDD, saya langsung mendapatkan gambaran bahwa buku ini berkisah tentang kebudayaan dan pola hidup orang-orang Afrika. Sajak-sajaknya memang sangat panjang. Menurut SDD, sajak-sajak ini adalah adaptasi dari lagu-lagu tradisional yang ada dalam budaya dan lingkungan penulis.

Singkatnya, sajak-sajak ini adalah corong penulis untuk mengemukakan kegelisahannya akan perbuhan nilai dan tatanan kehidupan yang terus menimpa negerinya. Pola hidup dunia barat kian merangsek masuk ke Afrika dan serta merta menyinkirkan nilai-nilai kehidupan yang sebelumnya menjadi kekhasan orang-orang Afrika.

Mochtar menilai bahwa sastra yang baik selalu merupakan sebuah cermin masyrakat. Sastra memang bukan tulisan sejarah dan tidak dapat dipergunakan sebagai sumber penelitian sejarah. Akan tetapi sastrawan yang baik akan selalu berhasil melukiskan dan mencerminkan zaman dan masyarakatnya, serta anggota masyarakatnya. Sastrawan yang baik akan dapat menampilkan pengalaman manusia dalam situasi dan konsisi yang berlaku dalam masyarakatnya.

Dalam hal ini, Okot p'Bitek berhasil melukiskan situasi dan kondisi masyarakatnya dengan sangat bagus. Dalam sajak pertama yang diberi judul "Nyanyian Lawino", ia membangun sebuah komunikasi antara istri dan suami. Istri memiliki karakter lokal (Afrika) sementara suami adalah orang lokal yang sudah meninggalkan kebudayaannya dan mengadopsi budaya Barat. Sang istri mempertanyakan praktik-praktik suaminya yang tidak dapat diterima oleh pola pikir dan budayanya. Misalnya, sang istri mengisahkan bahwa bagaiamana mungkin laki-laki maupun perempuan berada dalam satu ruangan dengan musik yang sangat keras dan dipenuhi asap rokok? Itu tidak bisa diterima akal sang istri.

Tulisannya sangat sederhana namun memberi gambaran yang cukup jelas bagaimana orang Afrika menghidupi budayanya. Dengan gaya sajian seperti lagi, sajak-sajak ini tampil sebagai sebuah narasi budaya. Ia sanggup menggetarkan hati pembaca untuk bertanya bagaimana saya menghidupi budaya saya? Apakah keprihatinan ini sama juga sendang beredar di masyarakat saya? Apapun jawaban dan kondisinya, saatnya Anda memasuki ziarah "Afrika yang Resah".

Steve Elu
Membaca Afrika dalam Sajak Okot p'Bitek Membaca Afrika dalam Sajak Okot p'Bitek Reviewed by Steve Elu on 13:40:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.