Widji Tukul: Penentang Rezim Orde Baru



STEVEELU.com - Tubuhnya kecil dan kurus. Giginya agak mancung keluar. Bola matanya besar. Mungkin banyak orang tak suka melihat rupanya. Namun, di balik rupa yang oleh banyak orang tak diperhitungkan itu tersimpan jiwa perjuangan yang tak kenal lelah. Itulah gambaran singkat Widji Tukul.

Di kalangan sastrawan, terutama di kalangan dunia penyair, siapa yang tak kenal Widji Tukul? Pria kelahiran Sorogenen, Solo, Jawa Tengah, 26 Agustus 1963 ini sangat terkenal dengan puisi-puisinya yang menentang, bahkan menantang, pemerintah Indonesia di masanya, terutama rezim Orde Baru. Tak heran, banyak orang menyematkan jiwa revolusi pada dirinya yang merujuk pada sajak-sajak yang ditulisnya.

Pemerintah Orde baru yang cenderung meredam rakyat coba ditentang Widji Tukul melalui karya-karyanya. Entah itu tampil membacakan puisi atau dampil dalam pentas teater, Widji Tukul selalu mengkitik kebijakan pemerintah dengan keras dan tajam. Ia begitu agresif memperingatkan pemerintah agar mengedepankan sikap mengayomi daripada menekan dan membungkam.

Lantas, pertanyaannya ialah siapakah Widji Tukul atau apa latar belakang pendidikannya sehingga ia begitu lantang menentang pemerintah Indonesia?

Widji Tukul lahir dari keluarga pengayuh becak. Sejak kecil ia diberi nama Widji Widodo. Ketertarikannya pada dunia kepenyairan muali terlihat sejak ia masih di bangku SD. Ia lalu belajar menulis puisi saat itu juga. Ketika masuk SMP, ia mulai tertarik ke dunia teater. Bersama kelompok Teater Jagat, ia pernah ngamen puisi keluar-masuk kampung dan kota. Karena berasal dari keluarga tak mampu, untuk menyambung hidup, ia sempat berjualan koran, jadi calo karcis bioskop, dan menjadi tukang pelitur di sebuah perusahaan mebel.

Perjalanan riwayat pendidikannya tak begitu mulus. Pendidikannya yang paling tinggi adlah Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI), jurusan tari. Itu pun hanya sampai kelas dua, lantaran kesulitan uang untuk melanjutkan pendidikannya. Kendati hidup sulit, ia aktif menyelenggarakan kegiatan teater dan melukis dengan anak-anak kampung disekitar tempat ia tinggal.

Meski hanya bermodal kemampuan menulis puisi Widji Tukul akhirnya mempersunting Siti Dyah atau yang kenal dengan nama Mbak Sipon, rekannya satu teater pada 23 Oktober 1988. Buah cinta yang tidak lahir dari kekayaan dan tingkat pendidikan, namun dari ketulusan menyuarakan kepentingan rakyat lewat puisi. Dari pernikahan itu Widji Tukul dan Sipon dikarunia dua buah hati: Hitri Nganthi Wani dan Fajar Merah.

Berkat kepiawaiannya menulis dan membaca puisi, ia diundang untuk tampil di berbagai kota di Indonesia maupun di luar negeri. Ia pernah diundang membaca puisi di Kedutaan besar Jerman Jakarta oleh Goethe Institut pada 1989, mengikuti 3rd Asia-Pacific Trainer’s Workshop on Cultural Action di Korea Selatan pada 1990, tampil ngamen puisi pada pasar malam puisi di Erasmus Huis, Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta pada 1991.

Salah satu puisinya yang sangat terkenal dan dibacakan berulang-ulang hingga saat ini adalah:

Peringatan

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat sembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat tidak berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: LAWAN!

(Solo,1986)

Widji Tukul juga pernah meraih Wertheim Encourage Award dari Wertheim Stichting, Belanda, bersama WS Rendra pada 1991. Di tahun 1992, ia membacakan sajaknya di beberapa kota di Australia. Ia dianugerahi penghargaan Yap Thiam Hien Award pada 2002.

Namun sayang, pejuang suara rakyat ini sampai saat ini tidak diketahui nasibnya, apakah ia sudah meninggal atau bersembunyi di suatu tempat. Ia tidak pernah terlihat lagi sejak peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996 di Jakarta. Sejak peristiwa itu, ia selalu diburu aparat kepolisian dan tentara karena melalui puisi dan karya-karyanya dianggap melakukan tindakan subversif. Pada 2000, ia ditetapkan sebagai salah satu dalam daftar orang hilang.

Steve Elu
Widji Tukul: Penentang Rezim Orde Baru Widji Tukul: Penentang Rezim Orde Baru Reviewed by Travel Blogger on 01:21:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.