Masih Ada Harapan untuk Indonesia


STEVEELU.com - Dua hari yang lalu, 24 Juni 2014, saya diundang untuk ikut ambil bagian dalam sebuah acara di Pisa Café Mahakam Jl. Mahakam 1 No. 11, Blok M Jakarta Selatan. Acara itu adalah penganugerahan hadiah untuk pemenang sebuah lomba penulisan puisi.

Saya datang menghadiri penganugerahan yang bagi saya sangat istimewa itu. Meski hanya mendapat pemenang penggembira, toh saya tetap bisa menikmatinya.

Usai acara, saya langsung pulang. Dan di situlah kejadian yang ingin saya namai 'Masih Ada Harapan untuk Indonesia'. Ketika saya pulang, handphone saya tertinggal. Saya tidak menyadari peristiwa ini. Keesokan harinya, saat mau berangkat ke kantor, barulah saya menyadari kalau handphone saya tidak ada.

Saya gelisah. Berkali-kali saya menelpon ke nomor saya, panggilannya masuk namun tak dijawab. Saya mulai berpikir, jika handphone saya itu tertinggal dan hendak diambil orang lain, tidak mungkin nomor saya masih aktif. Tetap ini kok nomornya masih aktif. Permasalahannya adalah ketika saya menelpon, tidak ada yang mengangkat.

Berbekal tanya dan gelisah, saya mendatangi tempat acara itu dan menanyakan apakah ada orang menemukan handphone saya. Seorang karyawan di Pisa kafe meminta saya untuk meninggalkan nomor kontak saya. Supaya, jika ada yang menemukannya nanti, mereka langsung menghubungi saya.

Saya pulang dengan sedikit harapan bahwa saya akan mendapatkan kembali handphone saya itu. Pasalnya, dari pengalaman saya, jika kehilangan barang seperti itu, jangan terlalu banyak berharap bahwa akan ditemukan kembali.

Sekitar 16.30, sebuah telpon masuk ke handphone cadangan saya. Nomor baru. Saya mengakatnya, dan suara dari seberang itu mengkonfirmasi soal nama saya, kemudian kurang lebih kata-katanya seperti ini "Saya Eri dari Pisa Kafe. Saya ingin menginformasikan bahwa handphone bapak sudah ditemukan. Kapan saja, entah malam ini atau besok pagi, silakan datang mengambilnya."

Saya menarik napas lega. Gelisah yang saya tanggung sejak pagi tadi seolah terbang jauh. Badan terasa ringan. Sungguh luar biasa. Apa yang selama ini perlahan-lahan yakini bahwa tidak mungkin terjadi, ternyata masih terjadi. Orang masih ingin jujur mengatakan ini bukan milik saya, kembalikanlah kepada yang empunya.

Saya kemudian sedikit menganalisa bahwa kejujuran seperti ini bukanlah sebuah sikap yang instan. Sikap seperti ini sudah dinternalisasikan sejak lama. Jika ini terjadi dengan sebuah institusi, dalam hal ini Pisa Kafe, maka kejujuran ini bukan lagi sikap tapi sistem. Sistem yang mewajibkan setiap karyawan yang bekerja di situ untuk jujur. Sistem itu berjalan dan bersifat mengikat. Maka, setiap orang yang masuk dalam sistem itu, perlahan-lahan ia dibentuk.

Peristiwa inilah yang ingin saya katakan sebagai sebuah kemungkinan di tengah beribu ketidakmungkinan. Inilah yang akan membawa harapan bahwa di tengah hiruk pikuk dekadensi moral masyarakat saat ini, masih ada secercah harapan, yang kepadanya kita berpegang, bahkan yakin bahwa masih ada harapan. Di tengah gurun ketidakjujuran, kita masih tetap berharap bahwa akan muncul massa atau sesorang yang mencoba menyulut nyala harapan itu.

Syukur dan bangga bila kitalah penyulut nyala harapan itu. Suatu kebangaan bila saya dan Andalah orang yang sanggup meneteska kesegaran di tengah dahaga umat manusia untuk menemukan sesuatu yang baik. Marilah kita berlomba-lomba untuk menjadi orang pertama untuk hal ini.

Steve Elu
Masih Ada Harapan untuk Indonesia Masih Ada Harapan untuk Indonesia Reviewed by Travel Blogger on 16:43:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.