Kerinduan itu Terjawab

STEVEELU.com - Oepoli adalah sebuah desa kecil yang terletak di ujung timur Kabupaten Kupang, Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur. Akses ke desa ini bisa ditempuh melalui dua jalur, yakni jalur Kupang-Kefamenanu-Opoli atau jalur Kupang-Soliu-Naikliu-Oepoli. Orang-orang di desa ini sering menyebut jalur yang kedua ini sebagai "jalan barat". Waktu tempuh kedua jalur ini hampir sama: 8-10 jam perjalanan bus.

Di musim penghujan, kedua jalur ini hampir tak bisa dilalui. Jalan berlumpur dengan banyak tanjakan serta banyaknya sungai yang harus diseberangi karena tak ada jembatan. Suatu ketika, ada seorang yang baru berkunjung ke desa ini berkomentar, "baru pertama kali saya lihat bus masuk kali". Sementara di musim kemarau, debu sangat menyesakan napas saat bus atau truk melintas.

Di pertengahan tahun 1980-an, desa ini masih sangat terisolasi. Hutan masih sangat luas. Masyarakat hidup dari mengolah sawah dan menjadi nelayan. Sawah adalah olahan sawah tada hujan sementara nelayan, mereka menangkap dengan alat-alat seadanya seperti tufkai (jala), Nere (jala kecil) atau tanu (memancing). Makanan pokonya adalah nasi dan jagung. Namun, sebetulnya, yang menjadi bahan makanan pokok adalah puta (sagu). Puta ini adalah bahan makanan yang diolah dari isi pohon gewang. Pohon ini mempunyai dua fungsi bagi masyarakat saat itu. Pertama, daunnya dipakai sebagai atap rumah (fungsinya seperti seng atua genteng yang kita kenal saat ini). Kedua, isi batangnya diolah menjadi bahan dasar puta.

Dalam situasi masyarakat seperti itulah saya mengawali kehidupan saya. Saya lahir dari pasangan petani yang tidak kaya, juga tidak miskin. Pas-pasan. Orantua saya memiki sawah, kebun, dan beberapa ekor sapi. Saya adalah anak ketiga dari empat bersaudara.

Proses kelahiran saya boleh dibilang cukup unik. Waktu itu, ayah dan ibu, terutama ayah, sangat menginginkan memiliki anak laki-laki. Pasalnya, anak mereka yang pertama dan kedua adalah anak perempuan. Berbagai hal diusahakan. Di masa itu, tentu ayah dan ibu tidak memiliki pengetahun yang memadai bagaimana caranya agar mendapat anak laki-laki atau perempuan. Mereka sering pergi di tim doa atau "dukun kampung" agar membantu mereka meminta Tuhan mengaruniakan anak laki-laki bagi mereka. Rumah adat pun menjadi salah satu tempat menumpahkan pinta mereka akan seroang bayi laki-laki.

Di Oepoli juga ada sebuah gereja tua, yang oleh masyarakat asli oepoli, masyarakat Suku Kaesmetan, menyebutnya sebagai "Karei Ana". Secara etimologis "Karei Ana" berasal dari kata bahasa dawan lafal Kaesmetan yakni "Karei" berarti gereja; "Ana" berarti kecil. Jadi, bila diterjemahkan menjadi "Gereja Kecil".

Sejarah yang dapat menunjuk secara langsung bagaimana kisah kehadiran "Karei Ana" ini belum pasti hingga saat ini. Karena tidak ada sumber tertulis yang bisa diakses. Hanya, dari cerita lisan yang beredar, gereja ini adalah anak dari sebuah gereja tua yang ada di Citrana. Citrana adalah sebuah desa yang saat ini menjadi bagian dari Negara Timor Leste.

Konon, katanya, ada sebuah patung bernama "Santa Daliki" dibawa dari gereja Citrana dan disimpan di "Karei Ana" ini. patung itu adalah patung yang ditemukan di pinggir pantai. ada juga yang bercerita bahwa pada malam hari tertentu, patung itu bisa memancarkan sinar. Tapi, tetap saja belum bisa dibuktikan karena tidak ada sumber tertulis, atau juga, saya sendiri belum pernah melihatnya secara langsung. Saat ini, kunci rumah "Karei Ana" ini dipegang oleh seorang bapak yang meruapakan penduduk asli Oepoli berama Goris Parera.

Soal siapa yang boleh memegang kunci "Karei Ana" bisa dibayangkan seperti tradisi Yahudi di sinagoga pada zaman sebelum Yesus Kristus. Tidak semua orang bisa masuk dan membakar sesembahan di sinagoga. Hanya orang dari keturunan tertentu seperti Zakaraia-lah yang boleh mengantar dan membakar persembahan. Dalam praktiknya, "Karei Ana" mengadopsi praktik ini. Jadi, yang memiliki akses masuk ke dalam "Karei Ana" hanyalah Goris Parera. Jika nanti ia sudah meninggal, hanya orang-orang dari garis keturunan dialah yang akan menggantikannya.

Maka, berbekal berbagai referensi, ayah dan ibu datang ke "Kerei Ana" itu untuk memohon anak laki-laki kepada Tuhan. Orangtua saya adalah penganut Katolik sejati sejak nenek moyang mereka. Lantas, oleh penjaga "Karei Ana" mereka dianjurkan untuk membuat semacam nazar kepada Tuhan atas keinginan mereka itu.

Entah karena hasil nazar mereka atau apa, pada 30 September 1985 lahirlah saya sebagai anak ketiga dan juga laki-laki dalam keluarga. Bisa dibayangkan, betapa gembiranya ayah dan ibu saya mendapatkan bayi laki-laki sesuai impian mereka. Airmata dan tawa tumpah ruah ke kaki altar sebagai wujud syukur karena Tuhan berkenan mendengar keluh kesah mereka.

Steve Elu
Kerinduan itu Terjawab Kerinduan itu Terjawab Reviewed by Travel Blogger on 17:12:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.