Sastra Etnik




STEVEELU.com - Kira-kira seminggu yang lalu, saya menghadiri peluncuran buku Perempuan Langit di Perpustakaan Nasional Indonesia. Semula saya seperti orang asing karena memang saya tak diundang khusus untuk menghadiri acara itu. Namun, karena saya ingin belajar, maka acara-acara yang berbau sastra seperti itu, jika ada kesempatan, saya pasti sempatkan untuk hadir.

Di depan pintu masuk, saya menahan langkah. Saya bisa melihat aktivitas di dalam ruangan itu karena dinding terbuat dari kaca bening. Sebagian dari orang-orang yang sedang mondar-mandir di situ sebetulnya saya kenal. Tapi apalah arti perkenalan lewat media maya Facebook? Kita bisa saling mengomentari status, saling berbagi status, dll, tapi bila jumpa rasa canggung tetap saja menguasai sepenuhnya. "Jangan-jangan dia tidak mengenal saya atau sudah lupa sama saya!" Begitulah kira-kira ungkapan yang akhirnya menahan langkah saya untuk memasuki ruangan itu.

Selang beberapa menit kemudian, sesosok lelaki, kira-kira berumur 60-an awal, keluar dari dalam ruangan itu. Dengan sedikit membungkuk - bisa ditebak kalau orang ini adalah orang Jawa - ia menyapa saya. Seperti biasa, ia bertanya soal nama, asal, dan sekarang tinggal di mana. Kemudian, ia hendak mengajak saya masuk ke ruangan. Akhirnya saya bisa bernapas lega karena punya teman ngobrol, meskipun baru kenalan saat itu.

Ajakan untuk masuk ke ruangan saya tangguhkan sebentar karena saya ingin merokok. Ia pun menyetujui, bahkan ambil bagian dalam ritual pengasapan itu. Cerita kami berlanjut soal perkerjaan, kesibukan sehari-hari, dan minat yang sedang kami kembangkan masing-masing.

Ternyata sosok lelaki itu, yang memperkenalkan namanya sebagai Arieyoko, adalah seorang mantan wartawan salah satu surat kabar di Jakarta, dan sekarang mengisi masa pensiunnya dengan menulis puisi. Obrolan kami makin menjalar ke mana-mana karena saya juga suka menulis puisi. Di tengah obrolan itu, ia bertanya kepada saya: "Kamu suka menulis puisi dengan gendre seperti apa?" Dengan sedikit malu-malu saya menjelaskan bahwa saya sedang belajar menulis puisi dan mencoba berbagai hal.

Ia langsung menyambutnya dengan ungkapan: tulislah puisi dengan nuansa, bahasa, dan citarasa Kupang. (Kebetulan saya berasal dari Kupang, NTT). Menurut Arieyoko, di Nusantara ada sekitar 400-an budaya dan suku bangsa. Karena itu, kehadiran sastra dengan citarasa lokalitas sangat penting. Dengan itu kita semakin memperkaya khasanah bahasa dan sastra Indonesia. "Sayang sekali kalau budaya dan bahasa yang beragam itu punah. Ini kekayaan Indonesia yang tidak bisa ditemukan di tempat lain," tegasnya.

Bahkan Arieyoko "memaksa" saya agar pulang dari acara itu segera menulis puisi dengan menggunakan atau menyelipkan bahasa Kupang dan dengan citarasa Kupang. Saya pun dengan mantap menjawab, "Oke pak. Pulang dari sini akan segera saya lakukan."

Sepanjang acara peluncuran buku dan sepulang dari acara itu, saya terus merenungkan tawaran Arieyoko itu. Bahasa setempat layak diperkenalkan karena akan menghadirkan citarasa yang sungguh jauh berbeda dengan sastra dari daerah lain. Sambil memperkenalkan budaya sendiri, kita pun belajar dari budaya dan bahasa orang lain. Dunia sastra adalah dunia tempat berjumpa orang-orang yang ingin saling belajar dan menghargai budaya orang lain. Dunia sastra adalah panggung apresiasi keragaman budaya dan bahasa Nusantara.

Hasil permenungan saya akan anjuran Arieyoko, teman baru saya itu, adalah puisi berjudul "sane").

Steve Elu
Sastra Etnik Sastra Etnik Reviewed by Travel Blogger on 19:04:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.