Mencecap Kritik Sosial ala Djenar Mesa Ayu


STEVEELU.com - Selalu ada yang tak terkisahkan dalam sebuah perjalanan. Bahkan dalam sebuah kisah, selalu ada yang tak terceritakan.

Awal Januari 2014, media sosial banyak membincang seputar “SAIA”. SAIA adalah sebuah buku kumpulan cerpen yang ditulis oleh djenar maesa ayu (sengaja saya memakai huruf keceil untuk mengikuti apa yang tertulis di kofer buku SAIA). Apalagi, peluncuran buku ini, katanya unik karena bertepatan dengan ulang tahun Djenar yang ke-41, 14 Januari. Dilihat dari tanggalnya memang unik.

Sontak awal tahun 2014, para pecinta dan penikmat buku berburu buku SAIA. Mereka ingin membaca sajian manis apa yang hendak disampaikan Djenar melalui buku terbarunya itu. Mengapa demikian? Djenar adalah salah satu penulis yang sangat vulgar dalam menulis. Dunia intim dan wilayah sekitar selangkangan adalah lahan yang selalu disingkap Djenar melalui buku-bukunya.

Lantas, pertanyaannya adalah orang berburu buku karena buku itu menarik dari segi isi atau karena kevulgaran dan keselangkangan? Dunia sex memang selalu punya daya tarik yang tak akan pernah habis untuk diteguk.

Kirik Sosial
Semua orang yang sudah membaca kumpulan cerpen SAIA, pasti sepakat bahwa melalui cerita-cerita yang Djenar sajikan, ia ingin mengkritik situasi sosial yang kadang cenderung membekap (khususnya bagi perempuan) daripada membebaskan. Beragam praktik, mulai dari rumah tangga sebagai satuan masyarakat paling terkecil hingga ke lingkungan masyarakat luas serta merta mengungkung kebebasan yang seharusnya dirasakan kaum perempuan.

Hampir semua tokoh yang dipakai dalam cerpen-cerpen ini adalah tokoh perempuan. Mereka digambarkan bergulat dengan diri sendiri, suami, atasan di tempat kerja, bahkan anaknya sendiri. Potret ini sekiranya mewakili suasana hidup perempuan metropolit. Hal ini tergambar jelas dalam cerepen No-Dream Land. Dalam kisah itu dikatakan, Nayla berkejaran dengan waktu agar tidak terlambat masuk kantor karena ada rapat penting. Detik-detik waktu yang dirunut Djenar dengan ungkapan “tik-tok, tik-tok, tik-tok” terus membayang-bayangi Nayla yang berujung pada pemecatannya karena terlambat (hal. 17-40). Dari semua cerpen dalam kumpulan SAIA ini, cerpen ini adalah cerpen yang paling panjang. Sejenak, terkesan membosankan karena berhalaman-halaman ungkapan “tik-tok, tik-tok, tik-tok” terus diulang-ulang. Tapi, jika diikuti permainan emosinya yang hendak diciptakan Djenar, maka ada kesan mendalam yang akan menyeimbangkan antara sisi psikologis Nayla dan dentuman waktu yang ia kejar.

Seno Gumira Ajidarma pernah menulis, “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa."

Selain cerpen ini, cerpen SAIA yang dipilih menjadi judul kumpulan ini tak kalah seru menyampaikan protes. Dikisahkan seorang anak yang terus menerus mendapatkan siksaan dari kedua orangtuanya, meski hanya karena kesalahan kecil. Lagi, ia harus berulangkali berbohong mengenai lebam di mata dan bengkak di pergelangan kaki sehingga berjalan pincang kepada teman-temannya. Di situ, dua sisi perlakuan tak adil kepada anak tersaji sekaligus: diperlakukan kasar dan diajari berbohong (hal. 71-76).

Ada lagi satu cerpen yang bagi saya sangat singkat namun mengandung makna yang sangat dalam. Cerpen itu berjudul “Air Mata Hujan”. Cerpen ini hanya terdiri dari satu halaman (107) dan satu kalimat. Djenar mengawali cerpen ini dengan garis-garis kecil yang menyerupai tetes-tetes hujan, lalu di bagian akhir halaman itu ditulis: “Di ruang tunggu Klinik Dokter Kandungan, ia termenung sendirian.” Kalimat ini, dalam hemat saya, menjadi rangkuman atas garis-garis kecil yang diberi judul air mata hujan.

Sastra Wangi
Sisi lain yang perlu mendapat perhatian penting dari pembaca adalah awal dari kumpulan cerpen ini. Dalam cerpen pembuka kumpulan SAIA berjudul “AIR”, Djenar mengawali paragrafnya begini: “Air putih kental itu saya terima di dalam tubuh saya. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga lengket, liat sudah di indung telur yang tengah terjaga. Menerima. Membuahinya. Ada perubahan di tubuh saya selanjutnya. Rasa mual merajalela. Pun mulai membukit perut saya. Ketika saya ke dokter kandungan untuk memeriksakannya, sudah satu bulan setengah usia janinnya.”

Kisah ini menggambarkan proses kehidupan manusia. Djenar menggambarkan sebuah proses yang akan diakhiri dengan ketidak-bertanggungjawabnya si laki-laki. Secara sosial, kisah ini sering kita temui. Namun, penyebutan alat vital perempuan di awal tulisan sekaligus membuka tulisan selalu memuat kesan yang berbeda.

Namun, bukan itu yang hendak saya telusuri. Yang ingin saya sajikan di sini adalah semangat apa yang hendak ditunjukkan Djenar melalui gaya penyajian seperti ini? Karena, di sepanjang kumpulan ini saya selalu menemukan kisah-kisah serupa: vulgar dan “panas”.

Di Indonesia dikenal istilah Sastra Wangi. Sastra wangi adalah sebuah istilah yang dipakai untuk menyebut karya sastra yang ditulis oleh seorang perempuan dan karya sastra itu membahasakan dan membahas dunia sex secara terbuka dan terang benderang. Istilah ini pertama kali mucul setelah novel Ayu Utami “Zaman” (2008) muncul. Dalam Novel itu, Ayu Utami mengisahkan secara gamblang seputar lingkup persetubuhan meski titik fokusnya adalah perampasan lahan pertanian masyarakat jelata untuk perkebunan kelapa sawit.

Secara ideologis, sastra wangi mengusung semangat perlawanan terhadap situasi dan kondisi yang menempatkan seorang perempuan, terutama tubuhnya, hanya sebagai tempat pemuas nafsu laki-laki. Dalam sastra wangi, perempuan tampil sebagai aktor utama yang berkuasa atas tubuhnya, dan ia bebas mempergunakan tubuhnya. Termasuk pula, membahas mengenai dunia selangkangan, dada, dan adegan-adegan vulgar yang di masa lalu menjadi sangat tabu untuk diperbicangkan secara terbuka.

Hingga hari ini, di Indonesia, para “penggiat” sastra wangi adalah Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Fira Basuki, dan Dewi Lestari. Keempat tokoh ini sangat getol mengusung sastra wangi yang tampak dalam tulisan-tulisan mereka.

Lantas, pertanyaan selanjutnya adalah apakah cerpen vulgar dalam kumpulan Djenar ini dan aliran sastra wangi yang dipelopri oleh penulis-penulis perempuan ternama itu layak dikonsumsi begitu saja tanpa sebuah cara pandang membaca dan sikap kritis atas gaya penyajian seperti itu? Daripada saya menggurui dan memang saya tak punya kapasitas untuk menggurui, tengoklah buku “Sastra, Perempuan, Seks” karya Katrin Bandel (Tebal: 166 halaman; Cetakan: 2006). Dalam buku itu, Katrin mengulas secara detail dan argumentatif mengenai sastra wangi, yang akhir-akhir ini dipadang sebagai gaya (menulis) sastra pendatang baru yang ingin mendobrak kemapanan kuasa maskulin.

Steve Elu
Mencecap Kritik Sosial ala Djenar Mesa Ayu Mencecap Kritik Sosial ala Djenar Mesa Ayu Reviewed by Travel Blogger on 20:01:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.