Desa Kenangan

STEVEELU.com - “Saudara-saudari, kehidupan yang damai berasal dari lingkungan yang damai pula. Karena itu, sudah selayaknya kita menjaga lingkungan kita agar ia menjadi rumah yang aman bagi tubuh dan anak cucu kita.” Demikian kata Pak Muerto mengawali pidatonya di senja itu.

Pak Muerto baru saja terpilih lagi untuk mengepalai Desa Kusir. Ia terpilih dalam sebuah masyawarah desa yang jujur. Tidak ada neko-neko di sana. Sejak dulu, Desa Kusir memang memiliki rekam jejak yang bersih dalam proses pemilihan para pemimpinnya. Warganya pun hidup damai, tak saling membunuh. Mungkin karena mereka tak beragama.

Karena alasan-alasan ini, Pak Muerto juga yang baru saja terpilih ini menginginkan kehidupan yang layak bagi warganya. Beragam inovasi ia rencanakan agar warganya merasa aman dan nyaman tinggal di Desa Kusir. Maka, jangan heran kalau halaman-laman rumah desa itu selalu bersih. Rumput di taman dipotong pendek. Pohon-pohon ditanam di sisi luar batas-batas desa. Sementara di tengah desa, hanya satu atau dua saja. Ada beberapa orang yang bertugas membersihkan desa. Saat lebaran atau ada masyarakat sekitar yang meninggal, mereka bertugas sebagai penerima tamu.
Suatu hari, orang-orang berjubel memadati jalan-jalan di depan Desa Kusir. Pak Muerto bertanya kepada para petugas taman.

“Ada apa ini? Kok siang-siang ada banyak orang datang ke sini?”
“Oh, itu Pak Desa. Ada seseorang yang mau pindah ke desa kita. Ia mau tinggal di sini. Sebenarnya kami sudah diberitau soal kepindahannya. Tapi kami belum sempat menyampaikannya kepada Pak Desa. Lagian, kata tetangga-tetangga desa, orangnya aneh,” ujar seorang petugas.
“Lho, memangnya kenapa? Ciri-ciri orangnya seperti apa?”
“Kurus, tinggi. Berambut panjang. Jenggotnya juga panjang.”
“Mmmmm. Oke! Terima saja dia. Lalu sampaikan undangan ke penduduk desa bahwa malam ini kita akan adakan perkumpulan raya untuk menyambut penduduk baru itu.”

Pak Muerto mulai merenung. Dalam hatinya ia bertanya, “siapa gerangan orang ini? Jangan-jangan ia seroang penjahat kelas kakap? Atau, seorang yang suci? Tapi dalam tradisi, desa ini memang menjadi rumah bagi siapapun. Orang jahat, orang suci, kecil, besar, tua, muda bisa tinggal di sini. Dan, selama ini Desa Kusir aman-aman saja. Ya sudahlah! Saya akan menemui orang ini di perkumpulan raya malam nanti.”

Ketika malam mulai menyelimuti desa, semua penduduk Desa Kusir sudah berkumpul. Mereka duduk di tempatnya masing-masing. Orang yang baru saja pindah ke Desa Kusir juga sudah hadir. Ia duduk di barisan paling belakang. Dari muka sampai ke kakinya dipenuhi tulisan. Semua tulisan itu tak jelas terbaca, kecuali yang ada di jidanya. Di situ tertulis: “Kenangan”.

“Selamat malam saudara-saudari. Seperti biasa, sebelum seseorang resmi menjadi warga Desa Kusir ini, kita akan menyambutnya dengan mengadakan perkumpulan raya. Dalam perkumpulan ini, kita berkenalan dan ia juga harus menjelaskan kegiatan-kegiatan apa saja yang sudah dan akan ia lakukan di sini. Karena itu, saya persilakan warga yang baru datang tadi siang untuk manju ke depan.”

“Perkenalkan! Naman saya, Penyair. Saya berada di sini karena memang sudah waktunya saya ada di sini. Saya datang ke sini dengan tidak membawa harta apapun selain rumah saya: Kenangan.”

Tuturnya sembari menunjuk jidatnya. Ia berhenti sejenak. Semua warga diam. Mata mereka tertuju kepada Penyair. Ada raut bingung terpancar di wajah mereka. Pak Muerto juga diam. Setelah memandang sekelilingnya, Penyair melanjutkan.

“Bahan dasar rumah saya ini saya kumpulkan selama bertahun-tahun ketika saya berkelana ke desa-desa. Saya menghimpunnya dari bunyi yang tak mau didengar oleh penduduk desa-desa. Saya memungutnya sari sepi yang tak mau dirasakan oleh penduduk desa-desa. Serpihan-serpihan kata yang tercecer dari para pemuka desa saya rangkul. Lembar-lembar rasa yang terabaikan dalam relasi manusia dan alam semesta saya himpun. Saya ingin bersekutu dengan ramahku-Kenangan. Sebab kita semua hidup, betumbuh, dan mati dalam rumah bernama Kenangan.”

“Hei Penyair,” sanggah Pak Muerto. “Kau harus ingat baik-baik. Seorang yang ingin datang dan tinggal di desa ini tidak boleh membawa harta apapun. Sebab harta itu akan memberatkan jiwanya. Lihatlah! Penduduk desa ini, termasuk saya, tidak mengenakan baju, celana, cincin, sepatu, topi atau apapun. Di sini kami hidup bebas, tanpa materia, karena kami memang sudah terlepas dari dunia.”

“Mohon maaf Pak Muerto. Kenangan bukan hal materia, seperti yang Bapak dan penduduk di sini bayangkan. Ia adalah kata-kata yang menyatu pada jiwa yang mau mendengarkan. Selama ini saya membuka lebar-lebar jiwa saya untuk mendengarnya dan meresapinya. Ia tidak lahir dari kata-kata para pemimpin desa, bukan juga dari gosip yang beredar di masyarakat. Ia dikandung oleh sunyi dan senyap. Karena itu, hanya jiwa yang sunyi, senyap dan tenang, dan bersedia membuka dirinya akan mendengarkan Kenangan. Dalam sunyi dan senyap tercatat Kenangan sahih. Sementara kata-kata, seperti yang ada di tubuhku ini hanya materia yang mengejawantahkan Kenangan.”

“Kau harus ingat, Penyair. Ini Desa Kusir. Atau, orang-orang di desa-desa lain sering menyebutnya, Tanah Kusir. Desa ini tidak sama seperti desa-desa yang pernah kau tinggali atau kau singgahi.”

“Tentu saya tahu itu Pak Muerto. Tapi, bukankah setiap penduduk dari desa-desa lain entah sadar atau tidak berkunjung ke desa ini kerena alasan Kenangan? Tidak ada alasan lain, selain Kenangan yang membawa mereka ke desa ini. Kenangan tak mengenal tempat di mana kita tinggal. Entah di dunia atau di alam kematian. Setiap kata yang pernah tertulis dan terucap adalah Kenangan yang selalu menemani saya, Anda, semua penduduk desa ini, dan orang-orang yang ada di luar sana-yang masih hidup di dunia.”

Dengan nada bergetar Penyair melanjutkan, “Tidak ada relasi materia antara kita dengan mereka yang ada di luar sana. Hanya relasi Kenangan yang mewujud lewat kata-kata. Entah yang pernah tertulis ataupun yang hanya terucap. Saya ingin, pada suatu hari nanti setiap orang yang memasuki gerbang desa ini, memasuki juga gerbang Kenangan. Sebab di dunia Kenangan inilah, kita dan mereka saling bersua. Di dunia Kenangan inilah, kita tetap ada untuk mereka dan mereka juga akan selalau ada untuk kita.”

Pak Muerto dan penduduk desa tertegun. Mereka tak menduga, orang yang tidak diterima di desa-desa lain itu mampu membuka tabir yang selama ini tak mereka lihat untuk berjumpa dengan orang-orang yang pernah bersama mereka. Mereka dapat saling menyapa dalam dunia Kenangan.
“Mulai hari ini nama Desa (Tanah) Kusir akan diganti dengan nama Desa Kenangan”. Demikian Pak Muerto menutup perkumpulan raya malam itu.

Korelasi “Desa Kenangan” dan Puisi “Pada Suatu Hari Nanti”
Bagi saya, kerangka dari puisi “Pada Suatu Hari Nanti” karya Sapardi Djoko Damono ini adalah keinginan akan ketakterpisahan. Hal ini terdapat dalam dua baris terakhir dalam setiap bait. Dalam bait pertama, dua baris terkahir berbunyi “tapi dalam bait-bait sajak ini/kau tak akan kurelakan sendiri”. Dalam bait kedua, dua baris terakhir berbunyi “tapi di antara larik-larik sajak ini/kau akan tetap kusiasati. Dan dalam bait ketiga, dua baris terkahir berbunyi, “namun di sela-sela huruf ini/kau tak akan letih-letihnya kucari.”

Sepintas, enam baris dalam puisi ini dapat memberikan gambaran bahwa puisi ini adalah puisi cinta, dimana “aku lirik” ingin selalu dekat dengan orang yang ia cintai. Keterpisahan tak ingin hadir dalam relasi mereka. Bahkan “aku lirik” tetap menginginkan kesatuan itu setelah ia mati. Atau, dapat juga menjadi sebuah janji sebelum ajal menjemput.

Namun, saya tidak ingin hanya sebatas melihat keinginan “aku lirik” untuk selalu bersama orang yang dicintai, tetapi mencoba menemukan medium apa yang akan bisa mempertemukan mereka. Medium ini akan berfungsi mempertemukan mereka yang masih berada di dunia nyata dan alam kematian.
Maka dalam interpretasi saya, medium perjumpaan itu adalah kenangan. Kenangan yang dimaksud bukan sekedar mengingat, tetapi menghadirkan kembali peristiwa atau kata-kata. Kata-kata itu berupa yang tertulis ataupun yang terucap.

Katika seseorang membuka hati lebar-lebar untuk mengenang orang yang dicintai, maka meski sudah mati ataupun jauh, rasanya ia selalu dekat. Meski ia sudah mati, ia seoah-olah selalu hadir. Itulah juga yang menjadi alasan mengapa dalam tradisinya hingga saat ini orang-orang Indonesia berziarah ke makan leluhurnya.

kebon jeruk, 19 Agustus 2013

Steve Elu
Desa Kenangan Desa Kenangan Reviewed by Travel Blogger on 10:25:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.