100 Tahun Ismail Marzuki


STEVEELU.com - Tahun ini panggung sastra Indonesia merayakan 100 tahun Ismail Marsuki. Beragam kegiatan sastra digelar, baik dalam bentuk lukisan, konser, teater, maupun kegiatan-kigiatan padanannya. Kegiatan-kegiatan itu hanya ingin berlabuh pada satu dermaga merayakan 100 Tahun Ismail Marsuki.

Namun, sebelum melangkah terlampau jauh atau malah jatuh pada hingar-bingar perayaan semata, perlulah pula mengenal siapa Ismail Marsuki. Ismail Marsuki adalah seorang tokoh seniman besar yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Ia lahir di Kwitang, Jakarta (dulu Batavia), 11 Mei 1914. Semasa hidupnya ia banyak bergelut di dunia musik. Maka tak heran, julukan komponis besar Indonesia disematkan pada namanya. Ismail Marzuki meninggal pada usianya yang masih relatif muda, 44 tahun. Persisnya, di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta, 25 Mei 1958. Untuk menghormati jasanya dalam mengembangkan blantika musik Nusantara, namanya diabadikan sebagai pusat kesenian dan sastra yakni Taman Ismail Marsuki Jakarta, yang dibuka pada 1968. Pada 2004, ia dinobatkan menjadi tokoh pahlawan Indonesia.

Ismail Marsuki lahir dan dibesarkan di tengah budaya Betawi. Pada masa itu, Jakarta (Batavia) masih menjadi hunian mayoritas orang-orang Betawi. Maka tak heran, bila etnik musik Betawi sungguh berpengaruh dalam karya-karyanya. Lagu ciptaan Ismail Marsuki yang masih populer hingga hari ini adalah Rayuan Pulau Kelapa. Dari lirik lagu ini, kita menemukan bahwa Ismail Marsuki memiliki wawasan yang sangat luas dalam memandang Nusantara.

Ditilik dari lagu ini - sebagai karya yang paling populer dari Ismail Marsuki - patutlah kita menimba semangat kebangsaan yang diwariskan olehnya. Bayangkan saja, di masa itu, Indonesia (belum ada) masih dibawah penguasaan Belanda, dan komunikasi atarpulau masih sangat terbatas. Namun, Ismail Marsuki sudah sanggup menangkap keindahan Nusantara untuk dijadikan lirik dalam lagunya. Seandainya itu hanya imajinasi, toh dapat diverifikasi bahwa Indonesia memang merupakan tanah yang indah.

Sisi lain yang bisa ditimba dari sosok Ismail Marsuki lewat lagunya ini adalah indikasi akan cinta pada keberagaman. Karena itu, peringatan 100 tahun Ismail Marsuki, hendaknya bukanlah sebuah serimonial semata, namun perayaan kesadaran akan keberagaman ini. Indonesia yang terdiri dari beribu pulau, memiliki pula ratusan budaya dan bahasa. Merayakan 100 tahun Ismail Marsuki adalah juga merayakan keberagaman ini.

Panggung sastra hendaklah pula dipenuhi hingar bingar perayaan akan keberagaman. Lagu yang indah, lukisan yang bagus, tampilan teater atau baca puisi yang memukau hendaklah mencerminkan keberagaman ini. Sastra dan segala aktivitasnya yang minggu-minggu sedang ramai digelar di Taman Ismail Marsuki (TIM) perlu menjadi suara maupun corong untuk menyerukan Cinta Indonesia-Cinta keberagaman.

nyiur masih berbisik
melambai pulang hati yang sesat
ke pangkuan bunyi tutstuts organ
cipta birama-simfoni
Indonesia Satu

Steve Elu

Puisi terbaru - steve elu
100 Tahun Ismail Marzuki 100 Tahun Ismail Marzuki Reviewed by Steve Elu on 17:44:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.