tanya Sumiyarsi dari Platungan

aku Sumiyarsi [1],
yang terjamah narasi hitam Orde Baru
ingin lantumkan nyanyian tanya
yang masih tersisa dari beranda kematianku

awali dengan tanya
senja yang tiba di tiga belas oktober enam lima
terlukis memerah di tepi barat
dan aku rengkuh biasnya di kaca mobil
ingin kubenamkan di beranda rumah
dan tiga anakku adalah saksi matanya

namun tibatiba aku terperanjat
saat mata temui rumah di jauh
porakporanda di genggaman segerombolan orang[2]
bajubaju berkejaran di halaman
disaksikan perabot rumah yang letih di tangan kecamuk
seonggok kebencian hampa memaksa mereka untuk berdiam
di tempat yang seharusnya tak mereka tinggali

rupanya para kekasih Suharto sedang mencariku
mengendus jejakjejak keterlibatanku
dalam narasi kelam PKI ciptaannya

niat mengubur senja terkurung sudah
bersamaan dengan haluan mobilku
yang bergegas mencari persembunyian
untuk tenangkan takut yang kian meninggi

daun jendela tetangga membuka diri
memanggilku untuk sembunyikan tubuh di situ
meski harus kuakui getar dada masih mendebar
hingga kubawa lari ke rumah Suprapto[3]

lalu angin memberiku kabar
bahwa rumah Suprapto sedang diincar pasukan Orde Baru
aku segera berkemas sembari memacu waktu lariku
yang kian singkat

di Hotel Indonesia
Konferensi Asia, Afrika, Oceania sedang berlangsung
aku putuskan bertandang ke situ[4]
untuk berlindung dari kejaran maut itu
meski hanya dalam hitungan waktu

setelahnya, aku memasuki kisah petualanganku
sebagai seorang buron. ya buronan polisi enam lima[5]
meski belum sempat kuingat
kapan dan di mana aku membunuh,
atau mengambil uang rakyat untuk menangkan proyek ini-itu?

: apa salahku sehingga aku hendak ditangkap?

berpindahpindah

tibatiba pagi membangunkanku
dengan gebrakan pintu di muka ranjang
segerombolan orang yang tergabung dalam
Operasi Djaring AKRI Jawa Barat, berasimilasi dengan
Komando Reserse AKRI Sukabumi, menghampiriku
: aku ditangkap[6]

buron yang selama ini kupanggul lecut di situ
rontok bersama yakinku akan tak bersalah

takut bergetar di segala penjuru nadi
saat lukisan halaman penjara dan penyiksaannya
mengintai imajiku
penjara yang selama ini dinarasikan surat kabar
kugenggam kini di pelupuk mata

ingin rasanya menjerit pada waktu
untuk tunjukkan kapan dan di mana
aku memanjatkan hujatan pada Garuda atau Merah-Putih

atau kisahkan bukti tarian erotis harum bunga
di hadapan para jenderal di Lubang Buaya
seperti yang dituduhkan kepada Gerwani
dan para aktivis permpuan[7]

tapi percuma. ruang kantor polisi itu memijitmijit tangisku
yang jatuh ke pangkuan sendiri
ketika bayangan akan anakanak dan suami
mengendapendap di sudut pikiran

asaku terkungkung di rumah tahanan Sukabumi
entah untuk asalan apa, dan mengapa begitu,

mei enam tujuh,
aku dibawa ke markas polisi di Jl Braga, Bandung

tubuhku menjerit ketika di mobil itu
kutemui suamiku, yang juga diborgol
kulayangkan desah padanya,
“,,, anakanak ,,,?”

ia merangkulku dengan diam, tak sepatah kata pun
jatuh dari bibirnya. hanya urat wajahnya tak putusputus
mendaraskan doa: ‘semoga anakanak selalu sehat
dalam rangkulan keluaga’
dan narasi perjumpaan lara itu pun berakhir di bandung[8]

setelah dua bulan di Bandung, aku dipulangkan ke Jakarta
sebuah rumah tahanan di Jl Panglima Polim Kebayoran Baru
jadi rumah berikutku, hingga ke Rumah Tahanan Pesing,
dan berikutnya lagi ...[9]

di bukit duri[10]

tiga hari menjelang ulang tahun kemerdekaan RI, 1968
aku memasuki gerbang Penjara Bukit Duri
sebuah rumah yang terkenal
sebagai pusat mendekamnya para tahanan politik di sekitar Jakarta.

harihariku yang bergelimang rindu akan anakanak dan suami
kuceritakan lewat merawat sesama tahanan
meski dalam dada selalu kugendong derita
“apa salahku sehingga Bukit Duri mengungkungku?”

aku biasakan raga dan imaji
untuk akui tempat ini sebagai rumah terindah
perjumpaan dengan sesama tahanan sebagai kesempatan
untuk berkebajikan. tiada kesempatan terindah selain sekarang
untuk tunjukkan pada negara bahwa aku layak
diperlakukan baik dan adil di tanah pertiwi
yang aku kasihi di setiap pembuluh darah dan hembusan napasku

perempuan terbuang

suatu hari di bulan April sembilan belas tujuh satu
kabar menemuiku di kamar bahwa
para tahanan wanita akan dikirim ke Platungan[11]

sebuah protes keras mendobrakdobrak pikiranku
lantaran nama tempat itu yang selalu mengondisikan orang
untuk terima nasip sebagai orang terbuang,
tak layak ada di tengah dengan khalayak[12]

dasah deritaku kian bergairah
di hadapan pembuanganku yang berdiri tegak
seutas senang yang kemarin kusematkan di tubuh
putus di muka kabar itu
sementara di beranda telinga bermainmain desah:
“aku perempuan yang terbuang di negeri yang merdeka”

jelang detikdetik ‘pembuangan’ ke Platungan
waktu mengizinkanku menemui keluarga
getar dadaku memandang anak pertamaku

saat jemarinya menjamah kedua lenganku,
tegar keibuanku runtuk berantakan dalam
tangis yang bercakapcakap mesra

sebungkus kado rindu yang mereka bawa dengan bulat hati
kusambut dengan sehelai sapu tangan ibu
yang kusulam dari hatiku

lalu ibu yang datang membawa pincang di kakinya
tuturkan desah di rangkulannya:
“jangan menangis”
tubuhku kian berdebar oleh tangis yang meronta
sementara barisbaris duka muncrat dari kelopak mata

dalam tatapan lirihnya ia memesan waktuku:
“di mana pun kita berada,
selalu bada di tangan Yang Maha Kuasa,
jangan pernah putus asa.
jika sekirannya aku tidak mendapatkan kesempatan dari-Nya
sampai pada pembebasanmu, aku ikhlas.
aku selalu berdoa untukmu,
mudah-mudahan kamu diberi kesabaran”.[13]

rintihanku kian menganak suangai
basahi waktu besut yang tiba di titik akhir
dengan mata yang kuyup oleh sedih
kupangangi mereka yang perlahan disembunyikan senja

pukul 24.00, aku bersama tahanan lain meninggalkan bilik tahanan
berbaris menggenggam perpisahan yang tertera di telapak tangan kami
sekali lagi isak bergelayut di tepian mata
tempiaskan malam dingin yang berkunangkunang gelisah

pukul empat dini hari,
dua bus beiringan meninggalkan Bukit Duri
keluarga yang masih betahkan rindu di muka Lapas
lambaikan doa yang dicatat di telapak tangan

di Platungan

gerbang Platungan menganga
di beranda unit jauh itu para tahahan bariskan mata
iringi petualangan baru yang coba aku sematkan di mata kaki
sembari rayui hati agar tak kehabisan asa
seperti ibuku yang tak kehilangan rindu nantikan pulanganku

kantukku di malam pertama
dicumbui nyanyian hantu di seberang sepi
sementara dingin bercepakcepak di ranting pohon
bisikan kalut yang buncahkan nurani

pukul empat pagi sadarku temui fajar
bersama kabut yang berkejaran di pucukpucuk rumput
lalu retetan aktivitas temani waktuku
jinakkan duka yang tak lelah menghukum raga
untuk ilusi kebebasan sebagai warga Indonesia yang merdeka

kujerang tangis jadi tawa di kamarku
kueram derita jadi senyum di beranda perjumpaan
agar aku dan sesama tahanan menjauhkan mati
yang kadang datang membesuk

obati warga

di penjara racikan para tahanan kaum hawa itu[14]
aku dipercaya sebagai kepala poliklinik
untuk mengusir sakit para tahanan dengan naluri ibu
yang kukumpulkan dari sajaksajak rindu akan keluarga
sebab alatalat rawat jauh dari layak

suatu ketika, di pertengahan sembilan belas tujuh empat
kolera dan tifus menyerang para tahanan
nalar dan kreativitas keibuanku buntu
saksikan derita para tahanan yang tak jua reda

restu pimpinan tahanan kupinta
agar ia ajukan permohonan ke Rumah Sakit Sukarejo
untuk imunisasi penghuni kamp

syukur kebaikan masih berpihak
sehingga banyak nyawa menjauhi ajal[15]

lambat laun kreativitasku menangani pasien
terbawa angin hingga ke seberang tembok
banyak warga menemuiku sembari menggenggam keluh
agar aku rela mengusir derita mereka
meski aku hampir kehabisan akal
untuk berdamai dengan daritaku sendiri

bahkan, suatu hari, entah yang keberapa
dalam niat baik yang masih tersisa di hati
aku menemui seorang pasien:
“Dokter, saya minta tolong,
Saya hanya mau ditolong oleh dokter Sumiyarsi”[16]

air putih segelas yang kuberi
sanggup bangkitkan sehatnya
seuntai senyum yang terbit di balik peluhnya
sirami kering yang lama mengungkung hati ini

perlahan keyakinan bangkit
bahwa aku masih berguna, mampu berbuat baik
-dan memang aku seperti itu dari dulu-
meski terkadang oleh niatku yang baik
aku harus berpindah ke unit “tahanan babi”
karena dianggap memberontak[17]

akhiri dengan tanya

tiga belas tahun masa pembuangan itu pun berakhir
kutinggalkan ‘rumah Orde Baru’ itu dengan kepala tegak
meski aku tahu bahwa kapasitas kewarganegaraanku
tetap minus oleh ET yang merias akhir namaku[18]

kugantung kepingkeping harapanku pada waktu
bagai fatamorgana yang kukejar dengan gairah memuncak
di sisa usiaku yang beranjak uzur

pemakaman sebagian waktu hidupku berakhir di situ
meski akalku tak pernah lelah ajukan tanya
: apa salahku sehingga aku dibuang ke penjara?[19]


steve elu

(tanya yang sama masih kunyanyikan di beranda kematianku)




[1] Nama lengkapnya Dr Sumiyarsi Siwirini Caropeboka. Ia lahir di Solo, 20 November 1925. Pendidikan terakhir di Fakultas Kedokteran Unversitas Gajah  Mada (UGM), lulus pada 19 November 1959. Tahun 1956-1959 sebagai asisten dosen pada Fakultas Kedokteran UGM, bagian Penyakit Anak-anak. Selepas lulus kuliah, Dr Sumiyarsi bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Kotapraja Jakarta. Dr Sumiyarasi kemudian bergabung juga menjadi aktivis Himpunan Sarjana Indonesia (HSI). Sebelum Peristiwa 30 September 1965, Dr Sumiyarsi baru saja terpilih sebagai anggota Dewan Eksekutif HSI. Amurwani Dwi Lestariningsih, 2011, GERWANI. Kisah Tapol Wanita di Kamp Platungan, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, hal. 99. Sejak 11 Oktober 1965, penguasa militer mulai melancarkan propaganda hitam terhadap Gerwani melalui surat-surat kabar yang dikelolanya (sejak 1 Oktober, hanya Pepelrada Jaya melarang terbit media massa kecuali seizin mereka). Mereka menyatakan bahwa aktivis-aktivis Gerwani menyiksa – melakukan ritual cabul, mencungkil mata, dan memotong kemaluan – para perwira AD yang diculik sebelum membunuh mereka. Pernyataan itu bertentangan dengan hasil otopsi para dokter RSPAD Gatot Soebroto yang dilakukan pada 4 dan 5 Oktober, yang menyatakan bahwa tubuh para perwira tersebut utuh, dan bahwa mereka seluruhnya tewas akibat tembakan. Selama berbulan-bulan sesudahnya, seluruh surat-surat kabar yang masih boleh terbit dipenuhi berita-berita bohong tentang kebejatan dan kekejaman Gerwani. Sejak saat itulah pengejaran dan penangkapan terhadap anggota Gerwani dan semua perempuan yang terlibat dalam aktivitas PKI dimulai. Sejumlah litetarur sejarah  menyebut  sekitar satu juta nyawa melayang dan sekitar 1,6 juta  orang lagi ditahan tanpa proses pengadilan. http://spirit-indonesia.blogspot.com/2006/10/ plantungan-potongan-tragedi-1965.html, diakses pada  Selasa, 13 Agustus 2013, pukul 13.25 WIB.

[2]Saat mengobrak-abrik rumahnya, para gerobolan orang itu menemukan secarik dokumen dari Sekretarsi Comite Seski (CS) PKI setempat. Dokumen itu berisi permintaan Sekretaris Comite kepada Dr Sumiyarsi untuk menuliskan surat keterangan libur bagi orang-orang PKI yang akan berlatih dalam rangka Dwikora. Temuan atas dokumen itu kiranya cukup bagi pihak militer untuk mengecapnya sebagai “dokter Lubang Buaya”. Ibid., Hal. 100. Ia juda dianggap sebagai dokter Committee Central Partai Komunis Indonesia pada zaman Orde Baru. http://www.goodreads.com/book/show/10801178-plantungan, diakses 25 Agustus 2013, pukul 19.00WIB.

[3]  Suprapto adalah seorang profesor, seorang pengacara, dan anggota pimpinan HIS Pusat. Ia juga akhirnya dimasukkan di Inrehab Pulau Buru. Ibid., hal. 101.

[4]Ketika itu Sumiyarsi menjabat Bendahara Pimpinan Pusat Himpunan Sarjana Indonesia HSI. Karena itu ketika ia datang ke situ ia mendapat akeses masuk dengan cukup mudah. Bahkan seorang ketua departemen dari panitia di HSI kemudian menyerahkan kamarnya kepadanya. Suasana begitu mencekam karena saat itu banyak orang yang tidak tahu tempat yang nyaman untuk berlindung. Banyak intel yang berseliweran di dalam dan sekitar hotel. Ibid.

[5] Hal serupa juga dialami oleh Putmainah, Ketua Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Ia juga anggota Fraksi Partai Komunis Indonesia. http://news.okezone.com/read/2011/10/01/340/509376 /ini-kisah-ketua-gerwani-kabupaten-blitar, diakses, Selasa, 13 Agustus 2013, pukul 13.15 WIB.

[6]Setelah kegiatan konferensi selesai, Sumiyarsi segera berkemas. Berbekal uang honor sebagai panitia konferensi, ia memuali petualangannya sebagai buron. Dalam kebingungannya, seorang temannya menawarkan tempat persembunyian di Kota Semarang. Ia pun berangkat ke sana dan menginap di Hotel Du Pavillion. Namun di situ hanya dua minggu. Lalu aku berpindah ke Salatiga selama satu bulan. Karena seituasi mulai memanas di Salatiga, ia balik ke Semarang, lalu ke Surabaya, dan akhirnya ke Bandung berkat kebaikan seorang temannya. Selama ia bersembunyi di Bandung, keluarganya sempat mengunjunginya sehingga ia mendapatkan tambahan bekal untuk dapat menghindar dari kejarang petugas. Sumiyarsi akhirnya pindah ke Sukabumi atas ajakan seorang temannya pada Februari 1967. Menurut pengakuannya, ia tinggal di rumah seorang mantri kesehatan yang jauh dari keramaian. Namun, di tempat itulah ia ditangkap. Op.Cit., hal.101-104.

[7]http://www.merdeka.com/peristiwa/gerwani-dan-propaganda-tari-harum-bunga-yang-erotis.html, diakses pada Jumat, 23 Agusutus 2013, pukul 00.30 WIB



[8]Pada Mei 1967, Sumiyarsi dibawa dari Sukabumi ke Bandung. Ia dibawa bersama suaminya yang juga ditangkap di Sukabumi dalam satu mobil. Ketika di Bandung, kedua suami istri itu berpisah. Sumiyarsi dibawa ke Jl Braga, sementara suaminya dibawa ke stasiun. Sumiyarsi kemudian dimasukan ke dalam kamar berukuran 3x4 meter bersama tahanan lain. Ibid.

[9] Pada 27 Juli 1967, Sumiyarsi dipindahkan dari Kebayoran Baru ke Rumah Tahanan Pesing. Sepuluh bulan ia tinggal di situ. Pada April 1968, Sumiyarsi dipindahkan lagi ke sebuah rumah tahanan di Gunung Sahari. Baru dia bulang di situ, ia kembali dipindahkan ke Lidikus, Lapangan Banteng Selatan. Kemudian, pada 14 Agustus 1968, Sumiyarsi menuju Penjara Bukit Duri. Tempat ini menjadi rumah terakhir petualangannya selama masa tahanan di Jakarta. Ibid., hal. 107-108.

[10]Sejak tahun 1984, Penjara Wanita Bukit Duri sudah dibongkar. Penjara ini dulu pernah sesak dengan tahanan politik tahun 1968 hingga 1979. Para anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) dan tokoh-tokoh PKI pernah dipenjara di sini. Lokasi di dekat Kampung Melayu ini dulu merupakan benteng pertahanan kolonial Belanda tahun 1600-an. Pagar berduri dibangun di sepanjang tepi sungai Ciliwung. Letak benteng itu memang agak tinggi sehingga menyerupai sebuah bukit kecil jika dilihat dari seberang sungai. Inilah asal nama Bukit Duri. Kini, bangunan penjara sudah berganti dengan Ruko Bukit Duri Plaza. Sementara bengkel senjata di sampingnya menjadi Komplek Bukit Duri Permai. Wartawan merdeka.com, Ramadhian Fadillah dan Islahudin mendatangi lokasi ini pekan lalu. Sri Sulistyawati (71), adalah seorang wartawati Warta Buana yang sebelas tahun dipenjara di Bukit Duri. Sri menjadi tahanan politik karena dianggap pembela Soekarno. Alasan lain, Sri pernah membantu mendirikan Gerwani cabang Jakarta. Selain itu suami Sri adalah Ketua Pemuda Rakyat Sukatno yang menjadi underbouw PKI. Tanpa pengadilan Sri dijebloskan ke penjara. http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-pelarian-tiga-gerwani-dari-penjara-bukit-duri.html, diakses, Selasa 13 Agustus 2013, pukul 13.25 WIB.

[11]Platungan adalah nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Platungan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Desa ini berada di bawah kaki Gunung Prahu yang diapit oleh Gunung Butak dan Kemulan di jajaran Pegunungan Dieng, yang terkenal dengan Plateau (Dataran Tinggi) Dieng dengan gas belerangnya. Secara administratif, Desa Platungan merupakan daerah perbatasan yang berada di ujung paling selatan kota Kendal. Sebelah utara dan timur Platungan berbatasan dengan Kabupaten Batang yang dipisahkan oleh Kali Lampir. Bagian Barat berbatasan dengan Kabupaten Pekalongan. Jarak Desa Platungan dengan kota kecamatan kurang lebih dua kilometer ke arah barat daya. Kota kecamatan terdekat adalah Sukarejo berjarak sekitar 15 kilometer dari Kamp Platungan.  Nama “Platungan” atau “Pelatungan” berasal dari kata latung atau lantung karena di daerah ini terdapat tanah liat hitam yang oleh orang Jawa disebut lantung. Amurwani Dwi Lestariningsih, ibid., hal. 2-4.

[12]Dulunya, di Platungan ini dibangun sebuah rumah sakit khusus untuk orang-orang yang menderita penyakit kusta. Para penderita penyakie menular ini memang sengaja ‘dibuang’ ke tempat ini agar tidak menular ke masyarakat. Kompleks Rumah Sakit Lepra ini dibangun pada 1848 oleh pemerintah Hindia Belanda untuk rumah sakit militer. Sekitar Maret 1886, penyakit lepra mulai melanda penduduk Eropa. Orang-orang Eropa yang saat itu terserang penyakit lepra mulai dirawat di Rumah Sakit Militer Platungan. Dengan berjalannya waktu, jumlah pasien semakin bertambah. Maka,  pada 1871, saat bengunan semua sudah diganti dengan bangunan parmanen, rumah sakit ini beralih menjadi Rumah Sakit Lepratorium. Ibid., hal. 6-25.

[13]Ibid., hal. 170

[14]Taman itu selalu dikagumi oleh para tahanan politik. Selain tampak indah, juga menambah pemandangan. Taman itu kemudian diberi nama Agusta oleh pemimpin kamp, Mayor Pr. Pemberian nama itu berkaitan dengan pembuatan taman pada bulan Agustus. Untuk memperindah taman, beberapa batu diletakkan untuk menghindarkan rumput agar tidak diinjak. Ibid., hal. 202.

[15]Ibid.

[16] Ibid., hal. 103.

[17]Dalam bukunya Platungan: Pembuangan Tapol Perempuan, Sumiyarsi melukiskan sambutan teman-temannya di “tahanan babi” demikian: “Selamat datang di pig pen, maksudnya kandang babi. Mba Karti nyeletuk, “Dari kandang ternak ke kandang babi. Terima kasih untuk nama yang artistik itu.” Semua tertawa dan bertepuk”.

[18] ET adalah akronim dari ‘Eks Tapol’ (Tahanan Politik). Semasa Orde Baru akronim ini selalu tertera di akhir nama mereka yang menjadi tahanan politik. Meski sudah bebas dari penjara, mereka diwajibkan terus melaporkan diri di pihak yang berwajib di mana mereka tinggal. Selain itu juga akses mereka untuk mencari pekerjaan sangat dibatasi oleh karena perlakuan diskriminatif warga atau pemerintah. Baru pada 2003, stempel di belakang nama itu dihapus. Dengan bagitu, mereka yang merupakan eks tahanan politik lebih bisa bebas. Kemudian, lambat laun perlakuan diskrimintif itu perlahan-lahan berkurang, meski belum hilang secara total. http://news.okezone.com/read/2011/10/01/340/509376/ini-kisah-ketua-gerwani-kabupaten-blitar, diakses, Selasa, 13 Agustus 2013, pukul 13.15 WIB.

[19] Sumiyarsi meninggal pada 17 Juli 2003 di Rumah Sakit Pertamina Jakarta Selatan karena sakit stroke. Op.Cit., hal. 99.
tanya Sumiyarsi dari Platungan tanya Sumiyarsi dari Platungan Reviewed by Steve Elu on 03:01:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.