Suara Merdeka (1)


Puisi-puisi saya ini dimuat di Suara Merdeka, 29 September 2013, satu hari menjelang ulang tahunku. Selamat menikati!

burung nazar dan pesta lupa

dalam rinai sesal matamu
terbaca bintikbintik dengki
yang bakal racuni bahtera ini

karena itu, lebih bijak
kau rapikan dengki di pinggir pantai
makamkan di situ dengan ritus maaf
meski kematian yang sanggup akhiri segala
kenangan

lalu kita akan melepas layar ke laut jauh
menyisir angin dengan tawa

saat pelayaran ini tiba di pelabuhan
kita akan diam di situ sembari lantunkan siul
pada burung nazar untuk awali pesta lupa

kebon jeruk, 7 september 2013



sisa duka

aku adalah sisa duka
yang dibisikan pagi pada malam
setelah gairah perlawanan pupus

terakhir,
butir bedil itu mencabik akalku
untuk menahan gema rindu
setelah lumat melawan terempas

aku adalah sisa duka
yang tak pernah ingin lahir
dari ibu yang hilang gairah senggama
di malam tanpa roh

aku adalah sisa duka
: ibu.

kebon jeruk, 7 september 2013



melepas duka

dalam lelah penantianmu
kusimpan duka yang tak terbaca
untukku
untukmu
juga untuk janjijanji

dari pagi hingga petang
dari senja hingga subuh
dari bukit hingga laut
dari gunung hingga samudera
dari langit hingga dasar bumi
telah kutabur duka ini dengan gemas

sehingga saat kepergianku itu datang
kaya dukaku habis terzakat
dan aku pergi dengan riang gemuruh

kebon jeruk, 7 september 2013


sajak terakhir

jemputlah aku malam
tanpa bintangbintang, juga purnama
kunang-kunang pun tidak
yang aku ingin hanyalah gelap: gelap!

sebuah gelap tanpa kenangan
yang tergulung buih, entah

dari timur tak akan kusaksikan lagi
tarian pagi membunuh embun
dari tubuhku

dari barat tak akan kulihat lagi
nyanyian camar menggiring senja
dari tubuhku

kebon jeruk, 7 september 2013


Steve Agusta lahir di Oepoli, 30 September 1985. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta dan sekarang bekerja sebagai wartawan.
Suara Merdeka (1) Suara Merdeka (1) Reviewed by Travel Blogger on 10:49:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.