Psike, Si Wanita Cantik dan Seksi

STEVEELU.com - Pukul 06.00 di awal Minggu itu, Psike mengeluarkan mobilnya dari garasi. Setelah sesaat bertukar pandang dengan bayangannya pada cermin kecil yang selalu ia bawa ke mana-mana dalam tasnya, ia pun memacu mobilnya meninggalkan rumah. Jalanan masih sepi. Suara bising dan hiruk pikuk kota masih jauh dari telinga. Mentari pagi tampil malu-malu di balik awan.

Dari belakang stir mobilnya, Psike memandangi pohon-pohon yang berjejer di tepi jalan. Daun-daunnya menghijau selepas dicumbui embun malam. Pintu-pintu toko dan perkantoran masih tertutup rapat. Psike sengaja membiarkan kaca mobilnya terbuka. Udara pagi yang segar membelai wajahnya. Rambut yang dilepas sebahu cukup menambah aura cantik Psike pagi itu. Sejenak ia merenung, “Jika tiap pagi aku berangkat lebih pagi seperti ini, mungkin aku hanya butuh waktu empat puluh lima menit untuk sampai ke kantor”.

Sejak dua puluh tahun yang lalu, Psike merintis kariernya di PT Kesdari, sebuah perusahaan kosmetik yang berkantor di Sudirman. Waktu itu, PT Kesdari memang baru berumur setahun, tapi memiliki prospek pasar yang sangat menjanjikan. Psike mengawali kariernya sebagai asisten pribadi Pak Primus, General Director PT Kesdari. Berbekal ilmu dan keterampilan yang ia peroleh di bangku kuliah, lambat laun karier Psike semakin menanjak. Hingga dua tahun lalu, setelah Pak Primus pensiun, ia langsung didaulat untuk menggantikannya. Jabatan itu sungguh menambah kesibukan Psike. Saban hari, Psike harus memikirkan masa depan perusahaan, membaca mobilitas pasar, hingga mengamati dan mengevaluasi kinerja karyawannya. Belum lagi soal rapat. Dalam seminggu, Psike harus memimpin ataupun menghadiri rapat lima hingga enam kali.

Jurus utama yang dapat membantu Psike tetap tampil prima meladeni seribu satu kesibukan itu ialah menjaga kebugaran tubuh. Baik lewat makan yang cukup, istirahat, maupun olahraga teratur. Renang adalah salah satu olahraga kesukaan Psike. Setiap weekend, ia tak pernah melewatkannya tanpa berenang. Bila Erros, suaminya dan Odyssea, puteri satu-satunya sedang rehat dari kesibukan, mereka pun diajak untuk turut serta.

Kebiasaan menjaga kebugaran tubuh dengan renang memang sudah dimulai Psike sejak masih di bangku kuliah. Waktu itu, Erros yang pertama kali mengenalkannya pada olahraga ini. Erros jugalah yang mengajarinya renang. Kata Erros, “Renang membuat seorang wanita lebih seksi dan elegan”.

Rutinitas kebersamaan itu rupanya perlahan merangkai sebuah jembatan cinta di antara mereka. Awal kisah cinta Psike dan Erros bak pepatah klasik yang berbunyi: Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Psike tak hanya jatuh cinta pada renang, tapi juga pada sang guru, Erros.

Motivasi Erros untuk Psike berlatih renang memang terbukti jitu. Sejak aktif renang, tubuh Psike tampak makin sehat dan seksi. Tak heran, banyak lelaki di kampus yang mengidolakannya. Apalagi, sifat ekspresif dan selalu bersemangat dalam mengikuti hampir sebagian besar kegiatan kampus, menempatkan Psike sebagai objek perhatian teman-temannya. Dalam beberapa acara besar, Psike selalu dipercaya menjadi master of ceremony (MC). Selain itu, dalam acara-acara tertentu, ia pun mengambil peran sebagai peraga busana rancangan teman-temannya sendiri.

Tiga tahun setelah merampungkan kuliah, Psike dan Erros memutuskan untuk meresmikan hubungan mereka. Dari sentuhan cinta mereka, lahir Odyssea, sang buah hati yang saat ini duduk di bangku kelas tiga SMA.

Kontras dengan ibunya, Odyssea tidak banyak bicara. Bercanda pun seadanya. Di sekolah, temannya hanya itu-itu saja. Tak banyak kegiatan ektrakulikuler yang dikuti Odyssea, selain yang benar-benar diwajibkan oleh guru. Ia selalu menghabiskan waktunya dengan membaca. Jika sedang di rumah pun, ia lebih suka tinggal berlama-lama di kamar. Terkadang, kalau ibu dan ayahnya hendak mengikuti acara di luar rumah, Odyssea malah memilih tinggal di rumah. Membaca dan menulis buku harian adalah kegiatan rutin yang tak pernah tergantikan.

***


Psike memasuki lahan parkir. Setelah merapikan rambut, ia pun beranjak ke kantornya. Saat memasuki ruangan rapat, para kepala bagian sudah siap di tempatnya masing-masing. Rupanya mereka hanya menunggu kedatangannya. Sebuah senyum tersungging dari wajah Psike yang tampak kemerahan. Serempak sejumlah senyuman pun menyambutnya.

“Wah, ibu hari ini tampak lebih cantik”, celetuk salah satu karyawannya dari ujung meja.

“Terima kasih,” jawab Psike.

“Seperti baru berumur 17 tahun ya Bu,” sambung salah satunya lagi.

Psike menarik napas lebih dalam dengan senyum panjang terurai dari bibirnya. “Terima kasih ya,” ungkapnya dengan nada manja.

“Hari ini kita akan mengevaluasi kinerja kita selama tiga bulan yang sudah kita lalui. Setalah itu, kita akan membuat rencana kerja jangka pendek untuk tiga bulan ke depan. Silakan!”

Empat jam kemudian, rapat usai. Psike masih menyisakan waktu untuk bercengkerama dengan beberapa karyawannya. Obrolan akrab bersama karyawan memang sudah menjadi kebiasaan Psike. Bahkan, jika ada waktu senggang ia selalu mengajak makan bareng karyawannya satu per satu secara bergilir.

Dalam obrolan santai saat makan, biasanya Psike menyisipkan beberapa pertanyaan untuk mendapatkan kesan mereka tentang dirinya. Sebagian besar dari mereka mempunyai kesan bahwa Psike adalah pemimpin yang baik, cantik, dan seksi. Hal itu tertanam betul dalam benak Psike, sekaligus terus memotivasinya untuk merawat tubuhnya.

Malam itu, dalam keletihan tubuh setelah dimangsa rapat dan pemeriksaan laporan kerja sepanjang hari, Psike pulang ke rumah. Ia baru tiba pukul 22.00. Erros masih mengetik di meja kerjanya. Sementara Odyssea sedang menonton siaran langsung konser NOAH di televisi.

“Odys, kamu dan ayah udah makan?” tanya Psike.

“Sudah Mi,” jawab Odyssea tanpa berpaling.

Di sofa panjang ruang tamu, Psike meluruskan lengan dan kakinya tanpa sepatah kata pun. Sesaat kemudian ia membuka kulkas, meneguk satu teh botol lalu melangkah ke kamar mandi. Aliran air hangat dari shower membahasahi sekujur tubuhnya. Psike berdiri tenang, pasrah pada air yang membelai wajahnya dan mengalir hingga ke mata kakinya. Usai mandi, Psike merasa lebih segar. Diambilnya segelas air putih dan duduk di tepi kolam renang di belakang rumah. Susana hening. Riak air kolam berkilau diterangi cahaya temaram lampu taman menjadi lawan bicaranya. Pandangannya lurus ke depan. Pikirannya melayang ke aktivitas rapat yang baru saja ia selesaikan siang tadi.

“Ah, lupakan saja. Itu pekerjaan kantor. Masih ada hari esok untuk memikirkannya. Aku ingin menikmati hangatnya udara malam ini,” desahnya dalam hati.

Perlahan lamunan menuntunnya pada sapaan dua karyawannya saat ia memasuki ruangan rapat pagi tadi. Hatinya berbunga-bunga saat pujian itu kembali menyentuh khayalannya.  Psike merasa tersanjung dengan pujian itu. “Mudah-mudahan pujian itu benar-benar keluar dari hati mereka. Tapi memang aku cantik. Meski umurku sudah menginjak kepala lima pun aku masih terlihat seksi. Aku tidak mengada-ada atau sedang menghibur diri. Ini pengakuan dari beberapa karyawan, ketika aku menanyakan kesan mereka tentang aku. Belum lama ini, Erros juga mengatakan hal yang sama, saat kami hendak tidur malam. Rasanya Odyssea juga punya kesan yang sama”.

Sejumlah keyakinan berbingkai kebanggaan berkecamuk dalam pikiran Psike. Sesekali ia tersenyum saat pikirannya mendapati dirinya sendiri masih cantik dan seksi. “Mudah-mudahan kesan yang sama masih muncul lagi sepuluh tahun yang akan datang. Aku tak rela wajah dan kulit ini dikatakan keriput. Aku tak ingin mereka menyebut aku tua,” keluh Psike mengakhiri lamunan malam itu. Di kamar tidur yang teduh, Psike terbaring pulas dalam pelukan Erros.

***


            Seminggu lagi bulan puasa tiba. Mengantisipasi melonjaknya harga sembako, Psike merencanakan akan mengajak Erros dan Odyssia berbelanja. Senin di awal pekan itu, Psike sengaja pulang lebih awal. Ketika tiba rumah, ia mendapati Erros masih duduk di meja kerjanya dengan setumpuk buku di hadapannya. Pandangannya tak teralihkan dari buku yang sedang digenggamnya saat disapa Psike.

Psike pun sadar. Mungkin esok Erros harus ngajar. Makanya ia sibuk mempersiapkan bahan. Baik kalau ia tidak diajak. Biar persiapan bahan ajarnya cepat selesai sehingga ia bisa istirahat. Psike mengetuk pintu kamar Odyssea, mengajaknya untuk berbelanja. Tanpa sepatah kata pun Odyssea mengikuti langkah ibunya menuju mobil.

“Pak, lift-nya ­nggak jalan ya?”

“Mohon maaf Bu. Sedang ada sedikit gangguan di instalasi listrik. Petugas kami sedang memperbaikinya, mudah-mudahan cepat selesai. Di ujung sebelah selatan ada tangga. Untuk sementara bisa dipakai. Sekali lagi mohon maaf”.

“Ah, tau kayak gini, mending belanja di tempat lain,” umpat Psike sembari melangkah ke arah tangga mati.

Odyssea dengan lincah menaiki anak tangga itu. Bahkan, sekali melangkah dua anak tangga terlampaui. Sementara Psike harus menaikinya satu per satu. Napasnya pun terengah-engah ketika kakinya menyentuh tangga terakhir. Odyssea sudah berdiri tegap di sana. Dengan posisi menghadap langsung ke ibunya dan sedikit tersenyum, Odyssea berujar, “Ternyata ibu sudah cukup tua. Naik tangga aja udah ga bisa”.

Sejenak langkah Psike terhenti. Dipandangi anaknya dengan wajah merona merah. Butiran keringat sedikit membasahi keningnya. Napasnya belum kembali normal. Psike terdiam dengan pandangan seolah tak percaya pada ungkapan yang baru saja mencuat dari mulut anaknya. “Ternyata ibu sudah cukup tua”. Ungkapan kecil itu terus terngiang di telinga Psike. Ia berusaha mengusirnya jauh-jauh, tapi ketika matanya dan mata Odyssea beradu pandang, kalimat itu kembali menghampirinya.

Sepulang belanja, Psike kembali duduk di kursi tepi kolam renang. Ia duduk seorang diri. Barang belanjaan diletakkan begitu saja di dapur. Ia masih tak tenang dengan ungkapan Odyssea tadi. Sesekali tangannya membelai wajahnya sendiri. Di bawah cahaya lampu taman, Psike memandangi kakinya, kedua telapak tangannya, dan kulit lengannya. Sejuta sanggahan tercecer dari benaknya. Apakah kulit yang aku rawat bertahun-tahun ini akan menjadi keriput? Apakah biaya satu juta per bulan di Salon Adam hanya menghasilkan kulit keriput? Tapi, kok orang-orang di kantor masih mengatakan bahwa aku cantik dan seksi? Mengapa Odyssea malah menilai aku sudah cukup tua? Apa memang aku sudah tua? Apa wajah cantik yang aku banggakan semenjak kuliah ini akan segera keriput?” Tangan Psike menggenggam erat-erat gelas yang ada di tangannya, tatkala pertanyaan-pertanyaan itu terus menghujam pikiran dan hatinya.

Dengan langkah panjang Psike mendatangi cermin rias di kamarnya. Erros telah tertidur pulas. Dilepasnya semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Nanar matanya yang tajam menjelajahi lekuk tubuhnya. Apakah sudah ada tanda-tanda keriput di sana? Beberapa kali kedua tangannya mengelus-elus wajahnya. “Sudah keriputkah wajahku ini?” Ia mendekati cermin, kemudian menjauhinya lagi. Membelakangi, kemudian menghadap cermin lagi. Akhirnya Psike pun lelah. “Ternyata ibu sudah cukup tua”. Ungkapan itu terus terngiang di telinganya, hingga merebahkan Psike ke alam mimpi.

Sebulan telah berlalu. Pertanyaan “Apakah kulitku akan segera keriput, dan aku akan menjadi tua?” masih meremas-remas benak Psike. Hingga suatu malam, di hadapan cermin rias di mana ia mulai menilai tubuhnya dengan cermat, Psike sadar akan proses kehidupan manusia.

“Manusia lahir sebagai seorang bayi. Bermain-main sebagai seorang anak. Bertingkah sebagai seorang remaja. Berpikir bijak sebagai seorang dewasa. Memberi petuah sebagai orangtua. Menikmati keringat sebagai pensiunan. Dan akhirnya kembali menjadi tanah, bahan yang darinya ia terbentuk”.

Kesadaran ini sudah cukup membuat Psike tenang. Dipandanginya lagi tubuhnya, dan dalam nada setengah pasrah ia mendesah, “Terima kasih! Engkau telah membawa aku terbang melewati sebagian besar babak dalam siklus kehidupanku. Sekarang, keriputlah engkau dan nikmatilah masa pensiunanmu, sebelum engkau kembali ke tanah”.

Minggu-minggu berikutnya, Psike lebih banyak menyediakan waktu bersama Odyssea dan Eros, suaminya. Ia selalu meminta Odyssea agar mengajak teman-teman sekolahnya untuk berkunjung ke rumah. Di sana, mereka bercerita dan tertawa sepuasnya. Psike pun selalu menyisihkan waktu untuk memasak makanan yang paling enak buat Odyssea dan teman-temannya.

Hari berganti, bulan pun berlalu. Odyssea menghabiskan hari-harinya dengan tawa ceria dan senyum bahagia. Odyssea berubah menjadi seorang remaja periang. Ia memiliki banyak teman. Oleh teman-temannya ia diajak untuk ikut aktif dalam beberapa kegiatan ekstrakulikuler di sekolah. Ia tidak minder atau malu-malu lagi. Bahkan Odyssea meraih aktris terbaik dalam sebuah lomba teater di sekolahnya. Ternyata Odyssea butuh kasih sayang seorang ibu. Kasih ibulah yang memampukannya menuai sukacita di masa remajanya.

[caption id="attachment_1216" align="alignnone" width="150"]Foto: Steve Elu Foto: Steve Elu[/caption]

Steve Elu
Psike, Si Wanita Cantik dan Seksi Psike, Si Wanita Cantik dan Seksi Reviewed by Travel Blogger on 02:47:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.