Mencari Tuhan yang Merdu



STEVEELU.com - Tubuh pria ini kurus. Namun, dari tubuh itu mengalir daya kreativitas dan gunungan pesan yang ia ringkas dalam alunan puisi-puisi aktual dan reflektif. Membaca puisi-puisinya serasa sedang bertamasya rohani.

SUBUH yang sunyi tanpa bebunyi riuh. Kecuali kicau burung yang merdu dari pohon-pohon di sudut desa yang tenang. Itulah waktu dan tempat yang menginspirasi penyair Philipus Joko Pinurbo atau yang biasa disapa Jokpin untuk menulis puisi. Jokpin seperti sedang menyingkir ke tempat yang sunyi untuk berdoa. Kemerduan subuh di awal hari sering menggerakan hatinya untuk menulis puisi.

Tuhan yang merdu, terimalah kicau burung, dalam kepalaku. Demikian penggalan puisi yang lahir dari kesunyian itu bertajuk “Doa Malam”. Melalui puisi ini, Jokpin ingin menggambarkan Tuhan yang di dalam diri-Nya terkandung segala kemerduan. Dalam kemerduan pula, Dia mendengarkan doa manusia, seperti kicau burung. “Doa selayaknya tulus seperti kicau burung menjelang pagi. Tanpa mau ini atau itu,” kata Jokpin saat ditemui di rumahnya di kawasan Wirobrajan, Yogyakarta, awal Maret lalu.

Menurut Jokpin, bagaikan burung, manusia harus mempercayakan seluruh hidup kepada Tuhan. Burung yang tak pandai menabur, tak pandai mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun tidak tersirat kekhawatiran dalam kicauannya.

Inspirasi
Jokpin mengaku, puisi “Doa Malam” ini terispirasi tulisan-tulisan RP Anthony de Mello SJ dalam buku “Burung Berkicau”. Yesus juga menjadi sosok yang sangat menginspirasi perjalanan kepenyairan Jokpin. “Dalam karya dan pewartaan-Nya, Yesus membangkitkan harapan hidup bagi orang kecil. Puisi saya banyak bercerita mengenai orang-orang kecil, seperti tukang becak, tukang ojek, buruh, dan yang lain,” ujarnya.

Jokpin juga merasa terlecut oleh puisi “Nyanyian Angsa” karya W.S. Rendra dan “Duka-Mu Abadi” karya Sapardi Djoko Damono. “Puisi Sapardi itu, puisi yang luar biasa. Meski ia tidak menyebut sosok Yesus dalam puisi itu, namun saya menafsirkan sebagai ungkapan atas peristiwa penyaliban Yesus,” kata Jokpin.

Nah, terkait peristiwa penyaliban Yesus, Jokpin juga punya puisi berjudul

“Celana Ibu”.

Maria sangat sedih menyaksikan anaknya
mati di kayu salib tanpa celana
dan hanya berbalutkan sobekan jubah
yang berlumuran darah.
Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit
dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang
ke kubur anaknya itu, membawakan celana
yang dijahitnya sendiri dan meminta
Yesus untuk mencobanya.
“Paskah?” tanya Maria.
“Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira.
Mengenakan celana buatan ibunya,Yesus naik ke surga.

Melalui puisi ini, Jokpin berhasil menjinakkan peristiwa Paskah yang penuh misteri ke dalam ungkapan yang sederhana. “Sebaiknya, kotbah pastor juga harus seperti itu. Umat sudah lelah dengan banyak pikiran dan pekerjaan di rumah dan di tempat kerja. Ketika ia datang ke gereja, ajaran iman yang disampaikan lewat kotbah harus segar, menggelitik, dan selalu menghadirkan pesona baru,” harap Jokpin.

Metafor domestik
Dalam goresan-goresan puisinya, Jokpin banyak menggunakan metafor domestik, seperti rumah, kamar mandi, jendela, ranjang, dan sebagainya. Ia juga seringkali mengemukakan pola hubungan ibu-anak, anak-ayah, dan ayah-ibu. Menurutnya, pola hubungan yang ia sasar dalam puisi bisa diperluas, misal hubungan Gereja dengan umat, negara dengan masyarakat, atau yang lain.

“Seharusnya, kita bisa melihat Gereja atau negara seperti sebuah rumah. Ia harus memberi kenyamanan. Gereja dan negara ibarat seorang ibu yang duduk di bawah jendela dan menanti penghuni rumah pulang. Artinya, memberi harapan,” ungkap Tokoh Sastra pilihan Majalah Tempo 2001 ini.
Selain itu, Jokpin juga sering memakai metafora mandi. Menurutnya, kegiatan mandi mengingatkan kita akan pembaptisan. Melalui pembaptisan, umat dibersihkan dari dosa. “Melalui mandi, kita diingatkan akan makna membersihkan diri, menanggalkan yang kurang baik untuk berbuat baik, seperti juga kita ingin tampil menawan sesudah mandi,” ujarnya.

Dari kamar mandi
Seperti puisinya yang ditulis dengan narasi sederhana, tapi berluber makna, begitu pula pribadi Jokpin. Sore itu, ketika ditemui di rumahnya, ia sedang duduk santai di ruang tamu. Ia hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong, ditemani segelas teh dan sebatang rokok.
Para tetangga di sekitar rumahnya tidak mengenal Jokpin sebagai penyair. Seorang warga mengenal Jokpin sebagai “Mas Joko yang kurus kecil dan sebagian rambutnya putih.”

“Ya, saya biasa saja. Di lingkungan ini saya tidak memperkenalkan diri sebagai penyair. Bahkan, mereka juga nggak tau kalau saya nulis puisi. Saya bergaul seperti biasa, ikut kegiatan lingkungan seperti biasa. Hari Minggu, ya, saya datang ke gereja seperti umat yang lain,” tutur umat Paroki Hati Kudus Yesus Pugeran, Yogyakarta ini.
Akhirnya, “Dari kamar mandi yang jauh dan sunyi, saya ucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puisi.” Tulis Jokpin dalam puisi berjudul “Puasa”.

Stefanus P. Elu

BIOGRAFI SINGKAT

Philipus Joko Pinurbo

TTL : Sukabumi, 11 Mei 1962
Istri : Nurnaeni Amperawati Firmina
Anak : Paskasius Wahyu Wibisono dan Maria Azalea Anggraeni

Pendidikan :
• SD Mardi Yuana Warung Kiara, Sukabumi (1973)
• SMP Sanjaya Babadan, Sleman (1976)
• Seminari St Petrus Kanisius Mertoyudan, Magelang (1981)
• IKIP Sanata Darma (sekarang Universitas Sanata Dharma) Yogyakarta (1987)

Buku kumpulan puisinya:
• Celana (1999)
• Di Bawah Kibaran Sarung (2001)
• Pacarkecilku (2002)
• Trouser Doll (terjemahan Celana; 2002)
• Telepon Genggam (2003)
• Kekasihku (2004, cetak ulang 2010)
• Pacar Senja (Seratus Puisi Pilihan; 2005)
• Kepada Cium (2007)
• Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (cetak ulang tiga kumpulan puisi, 2007)
• Tahilalat (2012), dan
• Baju Bulan - Seuntai Puisi Pilihan (2013)

Penghargaan yang telah diterimanya:
• Penghargaan Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2001
• Hadiah Sastra Lontar 2001
• Sih Award 2001
• Tokoh Sastra Pilihan Tempo 2001
• Penghargaan Sastra Pusat Bahasa 2002
• Khatulistiwa Literary Award 2005
• Karya Sastra Pilihan Tempo 2012

Steve Elu

Tulisan ini dimuat di Majalah HIDUP, Edisi 13, 30 Maret 2014
Mencari Tuhan yang Merdu Mencari Tuhan yang Merdu Reviewed by Steve Elu on 18:19:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.