Mata itu…


STEVEELU.com - Soren masih mondar-mandir di kamarnya. Beberapa buku tergeletak di atas meja kerja. Laptop masih menyala. Lampu belajar di sudut kiri meja sengaja disetel redup. Di sudut kiri kamar ada beberapa kardus berisi buku. Tembok kamar yang bercat hijau muda itu tampak kosong. Hanya, di sudut kanan atas, sejajar dengan tempat tidurnya, ada sebuah gambar kepala manusia. Tapi gambar itu belum selesai dilukis. Pasalnya, yang paling bisa dilihat jelas hanya kedua bola matanya. Sementara rambut, telinga, hidung, mulut, dan dagu belum terbentuk sepenuhnya. Soren mengira-ngira, mungkin pemilik kamar sebelumnya yang membuat gambar itu.

Soren adalah penghuni baru kamar itu. Ia baru tiba siang tadi. Malam ini adalah malam pertamanya. Ia memang baru mendapat surat penugasan dari Uskup untuk memulai masa pastoralnya di paroki itu. Dan malam itu ia sedang mencari inspirasi untuk menyusun kotbah. Waktu sudah menunjukan pukul 24.00. Misa akan dimulai pukul 6.30. Ia belum tahu apa yang akan ia katakan dalam kotbah besok. Itulah yang membuatnya gelisah.

Soren kembali ke meja kerjanya setelah pulang mengambil air di kamar makan. Ditatapnya laptop yang masih menyala. Ia tertunduk diam. Ketika ia memalingkan kepala ke kanan, mata dalam gambar di tembok itu menatapnya. Soren terdiam. Ia menatap lekat mata gambar itu. “Mari kita saling mengadu pandang. Siapa tahu saya mendapat inspirasi untuk kotbah besok,” gumamnya dalam hati.
Lima belas menit berlalu. Soren belum juga mengalihkan pandangannya. Dalam tatapan jauh ke mata itu, pikirannya membawa dia ke rumahnya di desa. Itu ibu. Ia pulang dari kebun. Seikat kayu bakar dijunjung di kepalanya. Pakaiannya lusuh. Peluh mengalir di sela-sela kulitnya yang mulai kerut. Jalannya sedikit membungkuk. Tubuh termakan usia.

Sejurus kemudian, pikirannya beralih. Beaty. Siang tadi ia mengatakan bahwa hari Senin ia hendak mengajak saya ke rumahnya. Di rumahnya akan ada pertemuan lingkungan. Saya bisa berkenalan dengan umat lain di lingkungannya. “Rumahku memang sering dipakai untuk pertemuan linkungan,” katanya. Bagus Beaty. Kau ibu yang baik dan energik. Meski masih muda, tapi kau aktif di linkungan. Wajahmu ceria, penuh pesona. Saya ingin mengenal siapa kau sebenarnya.

Lupakan! Soren memalingkan matanya ke laptop. “Apa yang akan saya katakan dalam Misa nanti?” gumamnya sembari memegang erat-erat kepalanya.

“Berkotbahlah tentang mata itu.”
“Mata? Apa yang bisa saya katakan tentang mata?”
“Meski ia kecil, tapi ia menuntunmu untuk menemukan yang terlihat.”
“Yah tapi itu sangat biasa. Saya ingin mengatakan sesuatu yang luar biasa kepada umatku, sekaligus membawa kesadaran moral mereka kepada Allah.”

“Mata bisa membantu mereka. Allah adalah mata yang selalu memandang mereka. Dalam kesadaran bahwa mereka sedang dilihat Allah mereka akan bertindak sesuai kehendak-Nya. Seringkali mereka kehilangan kesadaran untuk bertindak baik karena lupa bahwa mata itu terus melihat mereka.”
“Itu terlalu abstrak. Umat saya susah diajak berpikir tentang hal-hal begitu. Mereka menginginkan kotbah yang sederhana dan ada unsur humornya. Itulah yang seringkali membuat saya kesulitan saat menyusun kotbah.”

“Kau harus menjelaskan hal itu kepada mereka. Mata Allah tidak pernah lelah memandang dan menuntun mereka sepanjang waktu. Mengapa hanya untuk lima belas menit saja memikirkan itu, mereka tidak bisa? Bukankah mereka datang ke gereja untuk kembali mengasah kesadarannya akan kehadiran Allah dalam hidup mereka? Unsur humor hanya tambahan, bukan yang utama.”
Soren menghentikan dialog dalam pikirannya sendiri. Ia bangkit dari kursinya. Didekatinya gambar mata di tembok itu. Jarak mereka kini tinggal semeter. Ditatapnya lekat-lekat gambar itu.
“Apa yang bisa kau katakan kepadaku? Kau ingin melihat tubuhku? Kau ingin menyaksikan lekak-lekuknya? Lihatah mataku!”

“Aku seorang anak desa. Lahir dari seorang janda miskin. Hanya saya sendiri, tanpa kakak atau adik. Lima belas tahun yang lalu saya memutuskan untuk menjadi imam. Saya rasa hanya dengan itu saya bisa menggapai pendidikan tinggi. Ibu tak bisa saya andalkan untuk biayai sekolahku. Tapi kini, setalah menjadi imam, saya kesulitan menyusun kotbah. Saya kesulitan mengajak umat saya memasrahkan hidupnya kepada Tuhan, seperti yang sudah saya lakukan sejauh ini. Mereka datang ke gereja untuk mencari kotbah yang lucu. Tapi saya tidak bisa melucu. Di tempat tugas saya sebelumnya, saya selalu dikritik karena cara berkotbah saya yang membosankan. Terlampau serius.”
Soren membaringkan diri di tempat tidur. Perlahan-lahan ia tutup matanya. Ia membiarkan telinganya menangkap desau angin yang berhembus masuk lewat jendela kamar yang masih terbuka. Malam tanpa bebunyi.

Tiba-tiba bel pastoran berbunyi. Soren membuka matanya. Ia melihat jam di handphone-nya. Pukul 2.00 dini hari. “Siapa yang datang bertamu dengan jam segini?” gumamnya. Bel kembali berbunyi. Soren segera keluar dari kamarnya. Saat ia membuka pintu utama pastoran, seorang lelaki paroh baya berdiri di hadapanaya.

“Mohon maaf Romo, saya mengganggu. Tolong berikan Sakramen Minyak Suci kepada ibu saya. Ia mengalami serangan jantung dan sedang sekarat.”
“Oke. Saya ganti pakaian dulu.”

Soren berdiri di samping tempat tidur. Ibu Beaty terbaring lemah, tak sadarkan diri. Soren menatap lekat wajah ibu yang siang kemarin mengajaknya untuk bertandang ke rumahnya. “Seorang ibu yang baik hati tak berdaya di hadapan penyakit,” pikir Soren.

Setelah memberikan sakramen pengurapan orang sakit kepada Beaty, Soren pulang ke pastoran. Pikirannya makin kacau lantaran ide untuk kotbah belum juga ketemu. Dibukanya pintu kamarnya. Sembari mengganti pakaian, matanya kembali memandang gambar mata itu. “Apa yang kau lihat? Singkirkan tatapanmu. Yang aku butuh hanyalah ide untuk kotbah. Ide kotbah yang menarik dan lucu. Meski tak ada isinya, yang penting lucu.”

Soren kembali merebahkan tubuhnya di kasur. Kali ini ia mengatur posisi tidurnya agar tak melihat gambar mata itu. “Sekarang saya ingin tidur tenang. Soal kotbah, esok pagi baru dipikirkan lagi.”
Tiba-tiba handphone-nya berdering. Tulisan “Ibu” tertera di layar handphone. “Nak Romo, segeralah pulang. Sebentar lagi saya akan pergi. Tak ada siapa-siapa di rumah. Saya rindu memelukmu, rindu tidur di pelukanmu,” terdengar suara parau ibunya di seberang telpon.

Soren bangkit dari tidurnya, segera mengemas pakaian. Soal kotbah tidak ia hiraukan lagi. “Biar Romo Rino yang menggantikan tugas saya. Toh, ia juga sudah lama bertugas di paroki ini. Mungkin umat lebih suka kotbanya daripada saya.”

Begitu fajar menyingsing, ia bergegas ke bandara. Di atas pesawat ia mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Membaca dalam perjalan sudah menjadi kebiasaan Soren sejak di bangku kuliah.
“Dalam kesadaran moral saya, mata Allah menatap saya, dan sejak itu, tak pernah dapat saya lupakan bahwa mata itu memandang saya (S. Kierkegaard).” Sebuah kalimat pembuka di halaman buku yang baru saja hendak ia baca.

“Mata Allah selalu memandang saya. Dalam tatapan-Nya terselib undangan bagiku untuk berbuat sesuatu terhadap Ibu Beaty di pukul 02.00 dini hari dan terhadap ibuku meski harus meninggalkan kotbah. Itulah isi kotbahku untuk umatku.”

Steve Elu
Mata itu… Mata itu… Reviewed by Travel Blogger on 12:19:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.