Krisis Intarsubejektivitas

[caption id="attachment_1174" align="alignnone" width="150"]Foto: Steve Elu Foto: Steve Elu[/caption]

Saya adalah seorang perantau. Saya datang ke Jakarta pada 2005 dengan tujuan melanjutkan pendidikan. Di Jakarta, saya tinggal di asrama. Hampir seluruh fasilitas terkait kehidupan pribadi, termasuk transportasi ke kampus, tersedia.
Pertengahan 2010, saya keluar dari asrama. Kuliah saya tinggal setahun lagi. Untuk menyelesaikannya, saya mencari kerja. Boleh dibiling, saya memasuki sebuah fase hidup dimana segala sesuatu harus saya sediakan sendiri. Kalau dulu di asrama semua tersedia, kini semua memang masih tersedia, tapi di warung, mall, atau toko-toko swalayan. Kalau saya ingin memilikinya, tidak ada jalan lain, selain membeli. Maka, uang menjadi mediator utama.
Uang yang saya peroleh dari bekerja, dan juga sedikit kiraman dari orangtua, harus saya alokasikan untuk membayar kos, kuliah, makan, kebutuhan sehari-hari lain, dan transportasi saya ke tempat kerja.
Selain itu, pada masa-masa akhir kuliah ini saya juga sedang mempersiapkan skripsi dan ujian akhir. Setiap malam, saya harus menyisihkan waktu untuk datang ke kampus dan berdiskusi dengan teman-teman. Jika diskuisinya panjang, maka saya baru pulang kos lewat tengah malam. Karena saya kekurangan uang, maka tidak jarang saya harus berjalan kaki hingga empat kilometer, entah saat datang ke kampus atau pulang diskusi.
Dalam perjalanan di malam yang semakin malam itu, saya melihat orang-orang yang masih juga melintas, entah memakai mobil atau motor. Dalam kondisi diliputi lelah, pikiran membawa saya kembali ke kampung. Di sana, kalau jalan malam seperti ini, jika ada warga lain yang melintas dengan motor, pasti menawari tumpangan. Terkadang, lewat tawaran tumpangan itulah orang saling mengenal, tahu letak rumahnya, juga siapa keluarganya. Saya merindukan suasana keakraban itu.
Sepintas, memang terkesan naif. Mengharapkan orang menawarkan tumpangan kepada saya, sementara kami tidak saling mengenal. Tapi, sekali lagi, saya pikir, bagaimana saling mengenal, kalu sekadar saling menyapa di jalan seperti Jakarta ini saja susah.
Dua tahun belakangan, ketika pekerjaan saya sudah semakin baik, saya membeli sebuah sepeda motor yang saya rasa dapat memudahkan saya untuk berangkat kerja atau bepergian ke mana-mana.
Bersama dengan itu, pikiran untuk menawarkan tumpangan kembali berkecamuk. Kadang, kalau pulang tengah malam, masih ada saja orang yang berjalan kaki sendirian. Apalagi dia seorang perempuan. Saya membatin, mungkin ia sama seperti saya dulu. Nasipnya belum seberuntung saya yang sudah bisa membeli motor. Beberapa kali saya menawarkan tumpangan. Tapi hampir semuanya ditolak. Dari wajah mereka terbaca kecurigaan atas tawaran saya itu.
Berhadapan dengan kondisi ini, saya mulai berpikir, mengapa orang selalu menaruh rasa curiga terhadap orang lain? Mungkinkah benaknya dipengaruhi oleh berita penculikan, perampokan, pemerkosaan, dan tindak kekerasan lainnya yang marak terjadi di Jakarta?
Terlepas dari alasan ini, saya pikir, baik orang-orang Jakarta maupun orang-orang di kota besar lainnya sedang mengalami apa yang disebut krisis intarsubejektivias. Artinya, hubungan subjek-sujek, yaitu manusia, sedang terganggu. Antara subjek yang satu dengan subjek yang lain tidak lagi saling percaya akan adanya kebaikan-kebaikan. Pikiran subjek-subjek dibangun berdasarkan tindakan-tindakan kekerasan yang selalu menjejali pikirannya saban hari.
Tampak sederhana, tapi mengerikan. Bayangkan saja, kalau hidup manusia didasari pada rasa saling curiga, apalah artinya slogan homo homini socius: manusia adalah teman atau rekan bagi sesamanya yang lain? Bagaimana kita membangun relasi antarmanusia atas asas kecurigaan?
Martin Buber (1878-1965), seorang filsuf Jerman, membagi relasi intersubjektivitas ini menjadi dua: aku-engaku (I-Thou) dan aku-benda (I-It). Relasi ‘aku-engkau’ termanifestasi dalam relasi subejek-subjek. Sementara ‘aku-benda’ termanifestasi dalam relasi subjek-objek.
Dalam relasi subjek-subjek, manusia melibatkan keseluruhan eksistensinya. Manusia tidak mengalami sesamanya, subjek yang lain, sebagai pemilik sifat-sifat spesifik yang terpisah, melainkan mengikutsertakan keseluruhan eksistensi sesamanya dalam relasi itu. Bersamaan dengan itu, manusia tidak bisa menjadikan sesamanya sebagai objek.
Sementara dalam relasi subjek-objek, manusia dapat menguasai objek karena objek (benda) itu tidak bereksistensi. Buber menyebutnya sebagai suatu relasi separasi atau pelepasan.
Dalam kaitan dengan krisis intersubjektivitas yang saya sebutkan di atas, dalam membangun relasi, manusia Jakarta, bahkan pada umumnya, berusaha mengarahkan relasi subjek-subjek ke relasi subjek-objek. Manusia menjadikan sesamanya sebagai objek yang bisa dikuasai dan diperlakukan ‘semau gue’. Di situlah rasa curiga mendapatkan pegangan. Rasa curiga mendapatkan pijak untuk menguasai pikiran manusia. Sikap saling menerima, dan menawarkan bantuan selalu didahului oleh rasa curiga. Ingilah yang saya sebut sangat mengerikan.
Karena itu, kesadaran untuk menerima sesama yang lain sebagaimana ada dirinya menjadi patokan dalam relasi intersubjektivitas ini. Jika yang lain dipandang sebagaimana aku memandang diriku, maka curiga hanya soal rasa yang bisa dikikis, sekaligus diubah menjadi kekuatan untuk saling menerima antara satu dengan yang lain. Dengan demikian, relasi intersubjektivitas itu menjadi penghubung sekaligus penopang untuk kita dapat hidup berdampingan, tolong menolong, dan berkesistensi sebagai manusia yang utuh.


Steve Elu
Krisis Intarsubejektivitas Krisis Intarsubejektivitas Reviewed by Steve Elu on 11:41:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.