Iman Termanifestasi Lewat Puisi

STEVEELU.com - Banyak simbol yang bertebaran dalam puisinya. Lewat simbol, ia ingin mengajak pembacanya untuk menemukan roh di balik hal-hal yang lahiriah.

DOROTHEA Rosa Herliany, seorang penyair perempuan Katolik yang masih aktif menulis puisi sampai hari ini. Saat ditemui di kawasan Cikini, Jakarta, Senin, 17/6, perempuan yang tengah mengurus visanya untuk bertandang ke Jerman ini berkenan membagikan pengalamannya selama puluhan tahun menggeluti dunia puisi. Menurut umat Paroki St Petrus Borobudur, Magelang, Jawa Tengah ini, roh yang terkandung dalam setiap puisi yang ia sajikan adalah iman. Sebab, baginya iman adalah suara hati yang tidak dapat dimanipulasi, bahkan dipenjara hukum dan larangan.

“Puisi saya menyuarakan hal itu. Namun, jangan lupa, puisi itu sastra, dan sastra adalah sesuatu yang indah. Ia tidak semata-mata menuliskan sesuatu sebagaimana adanya, namun ia selalu mengandung konotasi,” tutur istri dari Andreas Darmanto ini.

Lewat simbol

Dorothea bercerita bahwa iman yang ia utarakan dalam puisinya bermanifestasi lewat simbol-simbol. “Maksudnya, puisi saya menyuarakan hal-hal yang berkaitan dengan dunia roh atau ‘dunia dalam’ yang pengungkapannya memakai simbol-simbol,” katanya.

Di sisi lain, simbol yang ada dalam puisinya itu memberi ruang kepada pembaca untuk menafsirkan sesuai keperluan masing-masing. Dalam hematnya, sebuah puisi yang baik adalah puisi yang tidak menggurui dan tidak menuntut pembacanya untuk masuk dalam satu tafsir pemaknaan saja.

Sebuah puisi sudah selesai, ketika ia selesai ditulis oleh panyairnya. Sesudah itu, puisi tersebut akan hidup dengan dirinya sendiri. Dalam mengarungi kehidupannya sendiri, bisa saja puisi itu terdampar ke pembaca yang tidak terbuka hatinya dan menganggap puisi itu tidak berguna.

Singkatnya, puisi bagi peraih Buku Puisi Terbaik untuk Buku “Mimpi Gugur Daun Zaitun” dari Dewan Kesenian Jakarta 2000 ini adalah dunia terbuka yang menyuarakan nilai-nilai positif. Namun, setelah selesai dituliskan puisi itu membuka diri untuk penafsiran baru dan untuk sebuah realitas baru bagi pembacanya.

Mencerahkan pembaca

Ibu dua anak ini selalu berharap agar puisi-puisinya mampu mengantar pembaca pada sesuatu hal yang bersifat mencerahkan. Misalnya, ketika ia selesai membacakan puisi berjudul “Perempuan Itu Bernama Ibu” di Tasmania, sebuah negara bagian Australia, ia didekati seorang perempuan yang adalah pendamping para perempuan Suku Aborigin. Perempuan itu mengatakan bahwa gambaran dalam puisi Dorothea persis sama dengan realita yang ia lihat sehari-hari dalam masyarakat Aborigin. Perempuan itu merasa mendapat teman baru.

Atau, baru-baru ini, ketika ia membacakan puisinya “Sampah Kata-Kata” di Zimbabwe, Afrika Selatan. Para pendengarnya merasa terwakili ketika ia mengatakan bahwa sekarang orang terlalu banyak bicara, tapi sedikit yang mau berbuat. “Penonton yang mendengarkan puisi saya itu mengamini yang saya ungkapkan melalui puisi,” tutur penerima anugerah Seni dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata 2004 ini.

Menurut Dorothea, suara pada puisi itu seperti memberi peneguhan iman dan dorongan baginya untuk terus mendampingi kaum perempuan di sana. Misi yang ingin dicapai melalui puisi-puisinya ialah mengedepankan nilai kemanusiaan. “Terkadang orang menilai bahwa kata-kata saya terlalu keras dan berani. Tapi, bagi saya, kalau dengan cara halus tidak didengar, ya harus dengan kata-kata yang keras,” tegasnya.

Bagi Dotothea, puisi itu mengangkat nilai-nilai, terutama dalam kehidupan manusia. Puisi memiliki bahasa yang terkadang mengandung kekuatan sugestif. “Jadi, dari pengalaman saya, ketika saya membaca puisi dengan baik, saya bisa merasa larut dalam wawasan nilai-nilai positif dalam puisi itu,” ungkap Direktur Rumah Buku “Dunia Tera” yang berada di Borobudur ini.

Lewat puisi dan karya-karya lain yang ia hasilkan, Dorothea ingin mengajak pembaca agar tidak hanya terpukau pada hal-hal fisik, tetapi lebih dalam dari itu. “Jangan mau disilaukan oleh sesuatu hal yang bersifat materi, kulit, dan di permukaan. Lebihlah melihat segala sesuatu yang lebih dalam. Kulit bisa rusak atau busuk, namun yang lebih di dalam (roh) tidak bisa rusak atau dirusakkan oleh apa pun. Ia selalu abadi.”

Dorothea Rosa Herliany

TTL : Magelang, 20 Oktober 1963
Suami : Andreas Darmanto
Anak : Regina Redaning dan Sabina Kencana Arimanintan

Pendidikan:
• SD Tarakanita Magelang
• SMP Pendowo Magelang
• SMA Stella Duce Yogyakarta
• Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Karya:
• Sebuah Radio Kumatikan, Kill The Radio, 2001
• Para Pembunuh Waktu, 2002
• Life Sentences, 2004
• Santa Rosa, 2005.
• Schenk mir alles, was die Männer nicht besitzen. doch schenk mir nicht das Himmelreich/Beri Aku Semua Yang Dibutuhkan Lelaki, Tapi Bukan Surga (buku puisi dalam bahasa Indonesia-Jerman), 2009.
• Cuma Tubuh Cuma Tubuh (A Body Only A Body), 2013
• Morphology of Desire, 2013.

Penghargaan:
• Sastrawan Terbaik Dari Persatuan Wartawan Jawa Tengah (1995)
• Buku Puisi Terbaik untuk buku “Mimpi Gugur Daun Zaitun”, dari Dewan Kesenian Jakarta (2000).
• Khatulistiwa Literary Award (2006) untuk buku “Santa Rosa”.
• Grant Awards dari Heinrich Böll Stiftung, dan tinggal di Heinrich Böll Haus Langenbroich, Köln. (April-July 2009).
• Cempaka Award sebagai perempuan inspiratif Jawa Tengah, 2011.
• Grant Awards dari DAAD (Deutscher Akademischer Austausch Dienst), Jerman dan tinggal di Jerman selama setahun (Juni 2014-Juni 2015).

Steve Elu

Tulisan ini dimuat di Majalah HIDUP, Edisi 28, 14 Juli 2013
Iman Termanifestasi Lewat Puisi Iman Termanifestasi Lewat Puisi Reviewed by Steve Elu on 18:58:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.