Biarkan Aku Pergi

Mata Musdah belum juga terkatup. Pandangannya membentur plafon ruangan. Pikirannya melayang ke dunia seberang. Sebuah dunia tanpa tidur. Dunia tanpa sakit. Dunia tanpa saling caci maki. Dunia tanpa tulisan dan berita angkara. Intinya, Musah mendambakan dunia yang penuh damai. Bahagia jadi santapan utama dalam pesta, dengan minuman sukacita.

“Aku mendambakan sebuah kehidupan yang penuh ketenangan,” gumam Musdah.

Berkali-kali kerinduan itu menghantuinya. Seolah tak ada hal lain yang bisa singgah di benaknya. Sudah dua bulan Musdah terpenjara di ruangan itu. Tak ada hiburan lain. Kecuali para pasien yang saling memandang saban hari. Sesekali mereka berkisah tentang penyakitnya. Kadang hanya berupa keluhan. Sesekali ada tawa saat sanak keluarga berkunjung.

“Musdah, sudah pukul 03.00 pagi. Mengapa belum tidur?” tegur Suster Marry.

“Belum bisa tidur Suster,” jawab Musdah dengan seyum khasnya.

“Sudah tengah malam. Sebaiknya tidur saja dulu. Soal pemeriksaan, mungkin besok sudah bisa dilakukan. Mudah-mudahan dokter ahlinya sudah masuk.”

“Baik suster,” jawab Musah sembari menutup matanya.

Musdah sudah tidur di kamar itu sejak tiga bulan lalu. Saban hari ia mengikuti anjuran suster untuk tidur dan makan secukupnya. Sejumlah obat tablet dan suntik sudah bersarang di tubuhnya. Meski begitu, panyakit Musdah belum terdeteksi. Beberapa dokter sudah membolak-balikan tubuh anak 15 tahun itu. Tapi tak satupun berhasil mendiagnosa penyakitnya. Berbagai alat, entah ditempel dari depan atau belakang, sudah mampir ke tubuhnya. Tapi, tetap saja tak ada hasil.

Terkadang terpancar rasa lelah dari wajah Musdah. Tapi ia tetap tenang. Senyumnya terurai pada sipa saja yang menghampiri tempat tidurnya. Atau, orang-orang yang masuk ke ruangan itu pasti disambut senyum Mudah. Sekilas Musdah tampak sehat. Ia bisa berjalan sendiri. Makan juga sendiri. Hanya, pada saat tertentu, kepalanya terasa pening. Pusing. Beberapa kali jatuh dari tempat tidur atau kursi dan tak sadarkan diri. Jika sudah demikian hidung dan bulutnya penuh darah. Kejadian ini sudah dialami Musdah sejak enam bulan lalu. Tapi, baru dua bulan terakhir ia masuk rumah sakit. Maksud hati, ia ingin memeriksakan dirinya. Kalau ada penyakit, segeralah diambil dari tubuhnya. Tapi apa yang hendak dikata. Para dokter belum bisa mendeteksi apa penyakitnya.

“Nak, ibu membawakan buah. Kamu makan yang banyak ya. Hari ini ibu mau ke sekolah Chris untuk ambil rapornya,” kata ibunya ketika Musdah baru saja membuka mata.

“Baik bu. Mudah-mudahan Chris juara kelas ya.”

“Iya. Ibu juga berharap begitu. Tadi pagi ayah sudah berangkat ke pasar. Mudah-mudahan kuenya laku terjual. Kalau masih sisa, ibu akan bawakan buat kamu.”

“Wah, kayaknya nggak bakalan laku semua bu. Pembelinya pasti ingat Musdah,” seloroh Musdah dihiasi senyum kembang.

“Ah, kamu ini…. Istirahat yang banyak ya,” pesan ibunya.

Waktu terus berganti. Musdah melewati hari-harinya di tempat tidur dan ruangan dominasi warnah putih itu. Tak terasa, kini sudah bulan ketiga. Belum juga ada tanda-tanda kebaikan. Musdah mulai gelisah.

Di akhir pekan dalam Minggu ketiga bulan itu, Musdah berpikir, “Lebih baik aku pulang ke rumah saja. Aku akan meyakinkan ibu dan ayah bahwa aku sehat-sehat saja. Mereka pasti percaya padaku, dan aku bisa pulang ke rumah.”

“Bu, Chris sedang apa tadi?”

“Tadi pagi ia berangkat sama ayah ke pasar. Mumpung lagi libur, biar bisa bantu ayah jualan.”

“Bu, boleh ya Musdah pulang ke rumah. Musdah sudah sehat. Di sini Musdah tidak bisa buat apa-apa. Kalau di rumah, kan bisa bantu ibu membuat kue. Atau, bisa juga jualan di pasar”.

“Musdah, kamu itu masih sakit. Kamu di sini saja. Sehingga kalau dokter spesialisnya sudah masuk, kamu langsung diperiksa. Biar ibu dan ayah yang kerja. Sayang kalau tiap hari kamu harus ke sini untuk cek dokternya”.

“Aku sudah lelah menunggu di sini bu. Tiap hari pemandangannya sama terus. Semuanya putih. Tidak ada warna lain.”

“Ya, namanya juga rumah sakit. Di sini ada pasien-pasien yang lain. Kamu bisa ajak mereka cerita. Daripada di rumah, capek sedikit hidung dan mulutmu berdarah.”

“Ya sudah. Mudah-mudahan dokter spesialisnya cepat datang. Doakan aku ya bu.”

“Tentu Musdah. Tiap hari aku berdoa untuk kesembuhanmu.”

“Musdah, ini makan malamnya. Ada bubur ayam dan telur,” sapa Suster Marry memutus percakapn mereka.

“Terima kasih suster. Wah, enak benar nih.”

“Itu hidangan spesial dariku buat kamu, Musdah. Tetap semangat dan kuat ya.”

Suster Marry meninggalkan ruangan. Ibunya masih duduk di sana. Ia memandang Musdah dalam-dalam. Musdah asyik menyantap burur pemberian Suster Marry. Sesekali ia memandang wajah ibunya diiringi tawa manja.

“Musdah, ibu dan ayah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Kamu di sini menunggu dokter ya.”

“Maksudnya apa bu?”

Ibunya tak menjawab. Ia hanya mencium kening Musdah lalu pamit meninggalkan rumah sakit. Musdah terdiam. “Ibu dan ayah tak bisa berbuat apa-apa lagi”. Kalimat itu mengganggu pikiran Musdah. Ia mulai kebingungan. Ia gelisah membayangkan kata-kata itu.

“Aku sakit apa ya? Jangan-jangan ibu dan ayah sudah tahu penyakitku? Ah, tidak mungkin. Ibu dan ayah baik. Mereka tidak pernah menyembunyikan apapun dari aku dan Chris. Kalau kami tak punya uang untuk beli beras pun ibu dan ayah tak pernah sungkan untuk mengatakan itu kepada kami. Pikiranku yang terlalu berlebihan. Ibu dan ayah tidak mungkin sejahat itu.”

“Musdah, kok belum tidur? Sudah pukul 03.00 pagi,” sapa Suster Marry.

“Belum bisa suster.”

“Kamu harus banyak istirahat,” kata Suster Marry sembari menghampiri tempat tidur Musdah.

“Suster, aku mau tanya. Sampai sekarang dokter spesialiasnya belum masuk ya? Sekarang sudah tiga bulan saya di sini. Dokternya lagi sakit atau ke luar negeri?”

Suster Marry hanya memandangnya. Ia diam seribu bahasa. Musdah juga diam. Ia memandang mata Suster Marry dalam-dalam. Perlahan butiran bening meleleh dari mata Suster Marry.

“Kenapa suster? Kok malah menangis? Ada apa suster?”

Suster Marry masih tak menjawab. Dirangkulnya tubuh Musdah erat-erat. Tangisan Suster Marry semakin terisak. Musdah pun ikut menangis. Meski ia tak tahu kenapa ia menangis.

Setelah keduanya tenggelam dalam tangisan panjang, Suster Marry pun berbisik. “Musdah. Maafkan aku, para perawat, dan dokter di sini. Ketika memandang wajahmu malam ini, aku tak bisa lagi menahan diri untuk menceritakan yang sebenarnya. Kami sudah tahu penyakitmu. Kamu sakit leukemia. Tapi ibu dan ayahmu melarang kami untuk mengatakannya kepadamu. Mereka tak punya uang untuk membiayai berobatmu. Kami sudah minta keringanan ke pihak rumah sakit, tapi dananya belum cukup. Kami masih terus berusaha. Bila dananya sudah cukup terkumpul, kamu akan segera dioperasi. Kamu tetap kuat dan sabar ya. Maafkan kami,” tutup Suster Marry dalam tangis yang tak tertahankan.

Musdah pun ikut menangis. Ia tersedu-sedu membayangkan apa yang sudah dibuat ibu dan ayahnya. “Tidak apa-apa suster. Tidak usah merasa bersalah. Aku iklas menerima ini. Ibu dan ayah memang tak punya uang lagi. Selama ini saja, untang mereka sudah mendekati 20 juta.”

Suster Marry pun pergi meninggalkan Musdah seorang diri. Ia tidur telentang di tempat tidur yang putih. Di kamar yang putih. Dalam pandangan yang hampa. Dalam pikiran yang kosong. Musah membayangkan wajah ibunya, ayahnya, juga adiknya, Chris.

“Mudah, bangun. Makanannya sudah dingin. Ini ada apel. Hari ini ibu tak datang sendiri. Ayah dan Chris juga ikut. Ayolah Mudah, bangun,” panggil ibunya sembari mengguncang-guncang tubuh Musah.

Musdah tak bergerak sedikit pun. Tubuhnya kaku. Bibirnya telah memutih, seputih seprai dan tembok ruangan itu. Di balik bantal hanya terdapat secarik kertas tertulis,
Terima kasih ibu, ayah, Chris, dan Suster Marry. Kalian telah menemani aku di hari-hari terakhir hidupku. Aku bangga memiliki keluarga seperti kalian. Ibu dan ayah, aku sudah tahu penyakitku. Sebenarnya aku ingin menunggu kalian sampai pagi nanti untuk mengucap terima kasih, sebelum aku pergi. Tapi semalam aku mengalami pendarahan hebat di kamar mandi. Dan aku yakin, cepat atau lambat aku akan pergi. Aku sudah berjuang sekuat tanaga mengusir penyakit ini pergi dari tubuhku dengan senyumku, dengan keramahanku pada semua orang di ruangan ini. Tapi rupanya ia lebih membutuhkan uang jutaan rupiah. Rasanya kita tak bisa penuhi keinginan penyakit ini. Biarkan aku pergi. AKU SAYANG KALIAN SEMUA.”

Steve Elu
Biarkan Aku Pergi Biarkan Aku Pergi Reviewed by Steve Elu on 19:02:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.